WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 267


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇


MALIA


“Yah, jika bukan karena tubuh istri lo tidak tahan dengan dosis obat perangsang yang mungkin diberikan dalam dosis yang tinggi, atau istri lo bukan penderita anemia akut yang tidak bisa sedikit saja keletihan ... Sehingga dia pingsan tiba – tiba.”


Kata – kata itu keluar dari mulut Ammar yang sedang mengatakan padaku dan Rei mengenai persepsinya atas aku yang sempat pingsan secara tiba – tiba selepas Rei menyelamatkanku, lalu aku melihat Rei hendak menembak Irsyad.


“Mungkin persepsi gue yang satu ini tepat adanya.” Ammar menambahkan ucapannya.


Dimana aku spontan saja langsung bersuara seraya bertanya pada Ammar. “Apa itu? ...”


Sambil aku lebih memposisikan diriku agar dapat lebih jelas melihat Ammar. Dan ia langsung tersenyum simpul selepas aku bertanya.


Lalu jawaban Ammar membuatku spontan menganga, sekaligus membelalakkan mata.


“Anda sedang berbadan dua, Nyonya Reiji Shakeel ...”


*****


“Hah?!” Tidak hanya Malia yang terkejut mendengar ucapan Ammar tersebut. Namun Reiji pun sama terkejutnya.


“Yah, itu sih hanya persepsi gue aja. Karena ada satu dua karyawati di kantor yang pernah macam istri lo, pingsan tiba – tiba. Dan kabar yang gue dengar setelahnya, mereka sedang hamil –“


“Kamu beneran lagi isi, Yang? ...” Reiji langsung saja menoleh ke Malia setelahnya.


“Aku ga tau, Rei ... aku ga ngerasain hal – hal yang mengarah kalo aku lagi hamil sih, perasaan.” Dan Malia pun langsung menanggapi ucapan Reiji yang bertanya padanya itu, setelah ia mengendikkan pelan bahunya.


“Seperti yang gue bilang, itu hanya persepsi gue aja. Untuk lebih pasti ya periksa nanti atau beli testpack. Makanya gue menyarankan lo dan istri menginap aja di sini, jadi gue bisa menghubungi temannya Tuan Alva agar mengirim stafnya ke sini -- guna memeriksa istri lo secara keseluruhan ... termasuk minta dibawakan testpack sekalian –“


*****


“Gimana, Yang?” Reiji tak lama beralih pada Malia selepas Ammar selesai bertutur. “Mau merubah rencana dan nginep barang semalem di sini, atau tetep mau balik aja ke Jakarta hari ini juga? ...” sambung Reiji yang bertanya pada Malia. Sambil Reiji juga mengelus lembut kepala Malia, dengan satu tangannya yang menggenggam salah satu tangan Malia dengan sama lembutnya.


Malia tidak langsung menjawab pertanyaan Reiji barusan – nampak berpikir.


“Kita balik ke Jakarta aja deh Rei. Aku kok juga rasanya ga enak kalo di sini lama – lama –“


“Tidak perlu sungkan, Nyonya –“


“Malia aja,” tukas Malia pada Ammar yang sebelumnya menyambar untuk bicara.


*****


“Aku kurang nyaman jika kamu memanggilku begitu, Pak Ammar ...” Malia lanjut berucap, dimana Ammar nampak mendengus geli.


“Saya akan memanggil anda sesuai dengan yang anda inginkan, asal anda pun tidak menambahkan embel – embel ‘Pak’ saat memanggil saya.”


Setelahnya Ammar berkata, dan gantian Malia yang mendengus geli.


“Iya, oke ...”


Kemudian Malia mengiyakan permintaan Ammar.


Sementara Reiji mengurai senyumnya saja saat dua orang yang berada di dekatnya itu tengah saling bicara.


*****


“Trus beneran kamu mau balik ke Jakarta hari ini aja, Yang? ...” Reiji kemudian mencetuskan pertanyaan pada Malia untuk memastikan.


“Iya deh Rei, balik aja –“


“Ya udah kalo gitu,” tukas Reiji. “Kami balik ke Jakarta hari ini juga aja, Am.”


“Well, terserah kalian saja.”


“Dan seperti yang gue bilang tadi, kalau memang lo dan itu orang – orang yang nemenin gue memang masih mau beristirahat di sini, gue dan Lia biar balik pake taksi online aja ...”


Ammar lalu tersenyum tipis setelah Reiji berujar barusan. “Santai lah –“


*****

__ADS_1


“Untuk akomodasi balik ke Jakarta ga perlu khawatir ...” Ammar lanjut berkata. “Semuanya akan selalu siap mengantar kemana kalian ingin. Lagipula gue juga akan kembali hari ini ke Jakarta.”


“Yeu, kalo emang gitu ngapain lo menawarkan gue sama Lia nginep di sini?” cetus Reiji.


“Gue memikirkan istri lo –“


“Jangan coba jadi calon bibit pebinor selanjutnya macem si bajingan bernama Irsyad itu.”


*****


Ammar sontak terkekeh geli selepas Reiji menukas ucapannya dengan kalimat yang bermakna cibiran.


“By the way, lo jam berapa mau balik ke Jakarta, Am?” tanya Reiji selepas Ammar selesai terkekeh, dimana ia sempat juga ikut terkekeh kecil bersama Ammar.


Sementara Malia hanya tersenyum simpul saja. Ada rasa yang tidak nyaman saat ia mendengar nama Irsyad dalam hatinya. Mengingat apa yang sudah pria itu lakukan padanya.


‘Gue bener – bener ga nyangka kalau Irsyad bisa berubah 360 derajat begitu dari Irsyad yang gue kenal selama ini. Atau Irsyad yang gue kenal sejak kuliah itu, hanyalah sebuah kamuflase dari sifat Irsyad yang sebenarnya?’


Monolog Malia dalam hatinya.


‘Gue kesal sih memang, sangat. Mungkin membencinya sekarang. Tapi di satu sisi, jika Irsyad jadi seperti orang gila begitu karena dia terobsesi sama gue atau memang benar dia sebegitunya cinta sama gue trus sampai menjadi orang yang seperti itu, jadinya gue kasihan juga sih. Sedikit banyak, gue jadi malah merasa bersalah sama Irsyad.’


Malia sedikit merasakan kemirisan pada Irsyad.


'Ah bodo ah! Biar gimana juga, dia hampir perkosa gue. Dan gue sulit memaafkan hal itu!'


*****


REIJI


Aku dan Lia – atas keinginan Lia.


Memutuskan untuk kembali ke Jakarta di hari ini juga.


Meskipun ucapan Ammar yang hanya menduga jika Lia sedang berbadan dua sedikit aku pikirkan atas dasar aku tidak ingin Lia menjadi kelelahan dan membuatnya tidak nyaman karena kehamilannya jika memang dugaan Ammar benar, namun karena Lia meminta untuk kembali ke Jakarta tanpa menunggu besok, jadi aku iyakan saja keinginannya.


Toh masih persepsi Ammar.


Dan Lia juga sempat mengatakan jika dia tidak merasa mengalami gejala layaknya orang hamil.


Jika tidak terjebak macet sih.


-----


Singkat kata, aku dan Lia pun bersiap – siap untuk segera kembali ke Jakarta, dan kembali ke kamar yang sebelumnya kami tempati untuk mengambil barang – barangku dan Lia yang masih ada di sana – yah tidak banyak sih.


Hanya pakaian kami dan ponselku saja yang aku tinggal kembali selepas aku berbicara dengan Lia karena pesan chat dari Irly. Selain Lia ingin mengecek isi tasnya yang sesaat sebelum aku dan Lia pergi ke kamar *penthous*e yang ternyata adalah kamar utama itu, dibawakan oleh salah seorang anak buah Ammar.


*****


“Kamu mau mandi dulu, Yang?”


Reiji bertanya pada Malia ketika mereka telah memasuki kamar penthouse milik salah seorang anggota keluarga yang mempekerjakan Reiji sebagai pilot pribadi itu.


“Pengennya sih. Tapi ga enak sama Ammar. Takut kelamaan nunggu,” jawab Malia, dimana Reiji langsung tersenyum.


“Engga kok, Yang. Santai ... Kan tadi juga Ammar bilang kalo dia mau bebersih diri juga sebelum kita jalan. Lagian kan kamu emang harus mandi dulu sebelum pergi.”


“Eum –“


“Aku juga harus mandi dulu,” tukas Reiji. “Kita berdua tuh harus mandi besar sebelum jalan. Pamali kalo engga, karena tuh tadi kita ngapain?” Reiji kemudian menunjuk ke arah ranjang yang kondisinya lumayan acak – acakan.


Dimana Malia langsung spontan menoleh ke arah ranjang, lalu mendengus geli kemudian.


Dan dengusan geli Malia itu kemudian diikuti oleh kekehan Reiji, yang setelahnya mengatakan hal yang membuat Malia mendelik kepada Reiji.


“Untuk mempersingkat waktu, mendingan kita mandi bareng deh, Yang.”


*****


Godaan Reiji yang mengajak Malia mandi bersama itu, dimana persepsi Malia adalah ucapan Reiji tersebut mengarah kepada sebuah kemesuman yang hakiki, nyatanya hanyalah sebuah godaan saja.


Karena Reiji mempersilahkan Malia mandi duluan, baru ia setelahnya. “Ngomong – ngomong Rei, ini seprei sama bed covernya mending kita bawa balik deh. Aku ga enak kalo ninggalin itu sementara pasti banyak ‘jejak’ kita di sana.”

__ADS_1


Paham maksud Malia, Reiji pun manggut – manggut sambil memandang ke arah ranjang yang lumayan berantakan itu. Dimana setelahnya Reiji berkata dengan agak menggumam. “Gimana bawanya, tapi?” sambil Reiji agak berpikir.


“Mungkin ada tas bed covernya di kamar ini? cek di walk in closet aja, siapa tahu ada tas bed cover yang disimpan? ... Kan pasti mereka bawa ke laundry ini bed cover sama sepreinya kalo pas diganti sama bed cover lain –“


“Ya udah coba aku cek,” tukas Reiji, dan sudah hendak melangkah menuju ke walk in closet kamar penthouse tersebut.


Namun langkah Reiji tertahan ketika Malia bersuara.


“Eh tapi mending kamu tanya Ammar atau emba yang ngurus ini penthouse deh Rei,” sergah Malia. “Ga enak kan kalo kita gratak lemari orang? Udahlah kita pake pakaian yang punya ini kamar, plus kamarnya yang aku yakin ini kamar utama mereka, masa kita gratak juga? Meskipun niatan cuma cari tas bed cover. Tapi takutnya itu emba tau tata letak setiap barang di kamar ini terus dia liat posisinya berubah, nanti malah dia mikir yang bukan – bukan lagi.”


“Iya juga sih ...”


*****


MALIA


“Ya udah aku ke bawah lagi. Kamu mandi aja dulu. Sambil aku nanyain ke Ammar atau pengurus ini penthouse soal tas bed cover. Sekalian aku mau pinjem tas buat bawa pakaian kita,” Yang Rei katakan setelah ia menanggapi cerocosanku soal bed cover yang aku tidak merasa enak meninggalkan dalam keadaan dimana jejak ‘panas’ ku dan Rei pastilah ada yang tercecer di sana.


“Iya –“


“Kalau cari handuk, ada di dalam salah satu laci di bawah wastafel –“


“Iya –“


“Ya udah, aku tinggal dulu.”


-----


Aku langsung masuk ke kamar mandi, selepas Rei melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar penthouse yang sedang kami gunakan ini.


Lalu saat aku melepaskan pakaian yang aku kenakan dan menaruhnya dengan rapih agar bisa aku pakai lagi setelah mandi nanti, pandanganku tertuju pada pakaian Rei yang terlipat di atas permukaan wastafel.


Dan ada ponsel Rei di atasnya.


Yang aku ingat, Rei meletakkannya di sana – sesaat setelah dia membaca pesan chat dari si bibit pelakor.


Kemudian Rei menenangkanku yang sempat merasa gusar karena isi pesan chat si bibit pelakor yang membuatku ambigu itu.


Hingga aku memiliki pemikiran negatif. Namun kemudian menguar setelah Rei berkata, “Kamu berpikir terlalu jauh, Yang. Ga ada hal macam itu. Aku memang pernah menjanjikan Irly sesuatu. Tapi bukan suatu pernikahan. Termasuk, jika kamu ingin tahu apakah Argan itu anakku atau bukan. Dan jawabannya bukan .....  Aku ga senista itu sampai menyembunyikan anakku sendiri selama bertahun – tahun tanpa memberikannya status yang jelas. Kalau masih sulit percaya, aku bisa meminta untuk melakukan tes DNA antara aku dan Argan .....”


Ucapan Rei itu cukup menenangkanku, meski aku masih tidak terima Rei sempat membohongi dan main kucing – kucingan denganku. Saat dia menemui si bibit pelakor itu karena anak lelakinya. Dan baru aku ingat tentang struk pembelian bunga dan coklat yang pernah aku temukan di mobil Rei, yang aku yakin dua benda tersebut dia berikan pada si bibit pelakor berkedok sahabat itu.


Huh!


Kesal aku mengingatnya.


Meski Rei juga rajin membawakanku sebuket bunga setiap dia pulang bertugas.


Termasuk juga coklat atau oleh – oleh lainnya.


Namun tetap saja aku tidak terima jika Rei memberikan bunga kepada itu si bibit pelakor.


Meskipun hanya sekedar sebagai penghiburan dari dan untuk seorang sahabat.


Dan aku jadi kesal lagi karenanya.


Ya pada Rei, juga pada si bibit pelakor bertopeng sahabat itu.


Yang mana membuatku meraih ponsel Rei, untuk memblok nomor baru yang digunakan oleh si bibit pelakor.


*****


Niatan Malia seperti itu ...


Memblok nomor baru Irly yang sempat mengirimkan chat pada Reiji hingga membuat Malia memiliki pemikiran buruk untuk yang kesekian kalinya pada Reiji.


Makanya yang Malia lakukan pertama kali adalah membuka ruang chat pribadi nomor barunya Irly itu, yang ada di dalam sebuah aplikasi. “Hah?!” dimana ternyata ada sebuah pesan baru dari Irly di dalam ruang chat pribadi tersebut.


Pesan chat yang membuat Malia tercengang bukan main.


‘300 juta? ... Rei kasih Irly uang 300 juta?! –‘


*********

__ADS_1


Bersambung ...


Makasih masih setia.


__ADS_2