
Selamat membaca....
***
REIJI
Aku meyakinkan diriku jika Lia mungkin sedang PMS, atau mungkin akan mendapatkan tamu bulanannya hingga dirinya tampak aneh malam ini.
Lia nampak tak bersemangat. Selain ada kata-katanya yang terdengar seolah sedang menyindir ku.
Padahal tadi pagi, walau ada keketusan saat aku mengantarkannya pergi ke kantor, tapi sebelum itu Lia nampak biasa-biasa saja.
Dan keketusan Lia padaku, ia akui karena sedang ada masalah dalam pekerjaannya. Jadi mungkin itu yang membuat Lia nampak moody hari ini.
Atau ya itu karena sindrom PMS yang biasa dialami para wanita – Sindrom yang sedikit mengerikan bagiku.
Namun setelahnya, aku menemukan sebuah testpack di kamar mandi dengan satu garis merah. Negatif.
Hal yang aku ketahui jika garis pemeriksaan di testpack itu hanya satu saja. Dan Lia juga mengkonfirmasi tentang hasil pemeriksaan kehamilan yang ia lakukan dengan menggunakan testpack itu negatif.
Apa mungkin karena hal itu Lia jadi moody, tak bersemangat dan murung?.
Aku menyemangatinya kemudian. Mungkin Lia sudah berharap akan dapat segera diberi momongan, namun hasil pemeriksaan pada testpack membuatnya kecewa.
Dengan lesu Lia bilang jika ia menyadari dirinya terlambat datang bulan, makanya ia langsung membeli dan memeriksa kondisinya sendiri dengan testpack.
Namun nyatanya hasil pemeriksaan pada testpack negatif, dan Lia hanya terlambat datang bulan biasa.
Jadi aku berinisiatif untuk menghiburnya, dengan mengajak Lia keluar pada malam ini, walau waktu sudah agak larut.
Aku ingin membuat Lia merasa rileks.
Dan aku senang saat Lia setuju untuk keluar dimalam libur ini. Berharap mood Lia kembali bagus setelah kami menghabiskan waktu di Jum'at malam, sebagai pasangan yang... ya anggaplah sedang kencan.
Tapi pada kenyataannya Lia lebih banyak diam selama perjalanan, bahkan saat kami mampir di sebuah kedai makanan.
Tak biasanya Lia begini.
Setahuku Lia itu doyan jajan, dan dengan jajan plus dijajanin itu mood Lia bisa baik kembali, sesuai dengan pengalamanku dulu saat dia masih menjadi ade-ade-an-ku.
Anggaplah begitu.
Walau hal itu hanya sekali dua kali saja aku lakukan, mengingat aku tidak pernah terlalu dekat dengan Lia selain sebagai seorang Abang saja untuknya.
Lia yang aku kenal itu seringnya cerewet jika berhadapan denganku. Itupun hanya sampai dia SMA saja jika aku tidak salah.
Karena sejak Lia kuliah, aku dan dia mulai agak jauh, karena jarang sekali bertemu. Pun jika bertemu hanya sepintas lalu saja. Dan Lia nampak tidak lagi cerewet padaku, sejak kami dijodohkan.
Namun sikap dan sifat Lia yang pernah aku kenali dan rasakan dulu perlahan mulai kembali, sejak kami mulai hidup bersama sebagai suami dan istri di apartemen kami.
Suami dan istri yang sah secara agama dan hukum tentunya.
Dan dengan sikap Lia yang sedikit misterius malam ini, membuat kepalaku sedikit pening karena bertanya-tanya sendiri perihal sikap Lia ini.
Lia banyak diam, tak bicara jika aku tidak bertanya.
Pun jawaban yang aku dapat hanya ‘hem’, ‘ya’ dan ‘tidak’ saja.
Tapi aku biarkan, tak aku bahas untuk dipermasalahkan.
Ya itu, karena aku berpikir jika Lia sudahlah stress dengan pekerjaannya, ditambah harapannya yang berpikir jika ia sedang hamil itu pupus karena hasil pemeriksaan pada testpack negatif.
Aku biarkan Lia dengan sikapnya tersebut.
Mungkin Lia butuh ketenangan.
Sampai saat kami kembali ke apartemen pun Lia masih terlihat tak bersemangat.
Seperti sedang ada beban dalam pikirannya.
Aku memperhatikan sikap Lia itu.
Tak nyaman sebenarnya aku dengan sikap Lia yang aneh malam ini, namun ya sudah, aku berpikir untuk memberikan saja Lia ruang sementara waktu.
Lia yang langsung masuk kamar, bahkan tanpa melakukan ritual bersih-bersih yang rutin ia lakukan jika habis dari luar itu aku biarkan.
Lia hanya mengganti bajunya saja dengan piyama, lalu langsung berbaring menyamping, membelakangi sisi tempatku biasa tidur di atas ranjang kami.
Dan kubiarkan saja Lia, sementara aku pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan membersihkan mulutku.
Setelahnya, aku langsung kembali ke kamar dan bergabung dengan Lia ke atas tempat tidur.
Akupun tak menegur Lia, walau ia masih membelakangiku.
Aku ingin memberikan kecupan di kening Lia sebenarnya, seperti biasa jika kami akan tidur. Namun aku urungkan niatku itu, karena melihat Lia yang bergeming dalam posisinya saat aku pergi ke kamar mandi tadi, lalu mematikan lampu di area luar kamar kami.
Namun saat aku baru saja naik ke atas tempat tidur,
“Rei ...”
Lia memanggilku.
Tapi Lia masih juga bergeming dalam posisinya.
“Ya?”
Aku pun menyahut, sambil meneruskan diriku menaiki ranjang, membaringkan diriku.
“Kamu mencintai Shirly?”
Dan sebaris pertanyaan itu aku dengar keluar dari mulut Lia.
Apalagi ini Lia?.
Entah apa yang sedang berkemelut dalam diri Lia saat ini, yang jelas pertanyaan itu membuat aku urung untuk membaringkan tubuhku.
Aku menolah langsung ke arah Malia, yang aku lihat bangun dari posisinya dan menghadapku.
Kami saling bertatapan sejenak. Keningku kurasakan berkerut dengan spontan.
Apa karena Irly, mood Lia jadi tak karuan begini?. Karena aku mengantar sahabatku itu kemarin hingga pulang telat, jadi Lia berpikir macam-macam tentangku dan Irly?.
Tapi kenapa Lia tahu-tahu bertanya seperti itu jika permasalahannya adalah aku yang mengantar Irly ke rumah Om dan Tantenya?. Masa sahabat yang menolong sahabatnya sendiri diindikasikan karena aku mencintai Irly?.
Ya memang aku pernah punya perasaan cinta pada Irly.
Tapi itu kan dulu.
Tapi kenapa juga Lia sampai bertanya seperti itu?.
Apa Irly bercerita pada Lia jika dulu aku pernah memiliki rasa pada sahabatku itu bahkan pernah mengungkapkannya?.
Rasanya tidak mungkin.
“Atau Shirly yang mencintai kamu? ..”
__ADS_1
Lia bertanya lagi, saat aku hendak berbicara, untuk menanggapi pertanyaan Lia yang sebelumnya.
“Atau kalian sama-sama saling mencintai, tapi karena satu dan lain hal, kalian tidak bisa bersama?”
Satu pertanyaan lagi Lia lontarkan, sebelum aku sempat bersuara untuk menanggapi dua pertanyaan Lia sebelumnya.
Entah apa yang sedang ada dalam pikiran Lia saat ini, yang membuatku tak habis pikir sampai Lia bertanya seperti itu.
“Kamu kenapa sih Yang?. Hm?”
Bingung bagaimana harus menanggapi pertanyaan Lia, aku pun balik bertanya padanya.
“Jawab aja pertanyaan aku Rei....” Lia berucap sembari menatapku sedikit tajam.
“Ya, aku perlu tau kenapa tiba-tiba kamu bertanya begitu Yang---“
Aku masih menanggapi dengan santai sikap dan cecaran Lia, dan kulihat ia memiringkan tubuhnya, lalu membuka laci nakas yang ada disampingnya.
Lia mengeluarkan sesuatu dari sana, tanpa menutup kembali nakas tersebut.
“Ini...”
Aku mengernyit lagi, saat Lia menyodorkan sesuatu yang tadi ia ambil dan keluarkan dari laci nakas.
Sebuah foto.
Fotoku dan Irly.
Yang bahkan aku lupa jika foto tersebut pernah ada. Foto saat Irly berulang tahun yang ke-25.
Jadi karena foto ini Lia jadi uring-uringan tak karuan begini?.
Foto biasa aja, saat aku mendampingi Irly yang berulang tahun, dimana dia sedang berada dalam masa sulitnya kala itu.
Aku tidak hanya berdua dengan Irly saja saat itu.
Ada Abbas, dan dua sahabat kami yang lain.
Apa yang salah dari foto itu?.
Lagipun itu foto lama, kenapa harus Lia permasalahkan sekarang.
Aku menghela nafasku.
“Ini yang bikin kamu uring-uringan Yang?...”
Aku berucap seraya bertanya pada Lia.
“Jawab aja pertanyaan aku Rei....”
Lia kembali berucap kalimat yang sama seperti sebelumnya.
“Kalian pernah punya hubungan? .... pernah pacaran?” cetus Lia.
“Aku udah pernah bilang, aku ga pernah punya hubungan selain persahabatan dengan Irly---“
“Dia mencintai kamu?....”
Lia memotong kalimatku. Sedikit jengkel juga, jika kalimatku yang ingin menjelaskan pada Lia dipotong olehnya.
“Kenapa berpikir begitu?” tanyaku kemudian.
“Jawab aja.”
Lia berucap, sudah mulai ketus.
“Kamu mau denger penjelasan aku atau engga?. Kalau kamu nyerocos begini, aku diam.”
Aku berucap tegas.
Lia pun diam.
“Aku dan Irly, ga pernah punya hubungan apa-apa selain persahabatan ....” Sekali lagi aku menegaskan.
“Oh ya?....”
Kulihat senyuman remeh di wajah Lia.
“Terus maksud tulisan di belakang foto itu, apa? ....”
Aku pun langsung membalikkan foto yang tadi disodorkan Lia, dan masih aku pegang.
Dear you, My Man, Reiji Shakeel.. Thank you for always be there for me..
Ps: Kalo udah jadi Kapten, minta jadwal penerbangan yang sering-sering ke Australia biar bisa sering-sering nengokin gue.
Ada jejak kaki, tulisan tangan Irly di belakang foto yang sedang aku pegang ini. Yang baru aku ingat, kalau Irly memberikan foto ini sebagai kenang-kenangan saat aku dan para sahabat yang lain, akan kembali ke Indonesia, setelah memberikan kejutan di ulang tahun Irly, kala ia memutuskan untuk tinggal di Australia.
“Apa dia menyebut semua laki-laki yang termasuk dalam sahabatnya dengan sebutan ‘My Man’?”
Lia mulai mencecar ku.
“Kok diem?..”
Lia menyambung kalimatnya.
Aku diam bukan untuk mengelak, tapi bingung bagaimana menjelaskan pada Lia, darimana harus memulainya.
“Hanya ke aku,” ucapku pada akhirnya. “Hanya ke aku sebutan ‘My Man’ itu Irly sematkan---“ jujurku. Namun sebelum aku melanjutkan, kembali Lia memotong ucapanku.
“Jadi Shirly itu memang punya perasaan spesial sama kamu---“
“Ga!”
Aku yang kini memotong ucapan Lia, mematahkan dugaannya tentang perasaan Shirly padaku, hanya perkara sebutan ‘My Man’. Pria-ku.
Ada cerita, sebab kenapa dua kata itu Irly sematkan padaku.
“Yang, kamu ga perlu musingin note dibelakang foto ini. Ini hanya sekedar tulisan, ‘My Man’ dia sematkan ke aku, karena du-lu ....”
Aku tekankan kata ‘dulu’ itu agar Lia tanggap.
“Karena aku yang paling dekat dengan Irly saat itu, aku yang sering ada saat dia sedang sulit.“
Aku mulai menjelaskan.
“Bukan karena dia memiliki perasaan sama aku yang gimana-gimana...”
Aku menatap Lia dengan tegas, namun tanpa guratan emosi di wajahku, meskipun aku sedikit merasa tidak nyaman dengan cecaran Lia padaku.
“Jadi aku tekankan sekali lagi, jika aku dan Irly tidak pernah memiliki hubungan apapun diluar persahabatan,” tegasku. Dan kulihat Lia memiringkan tubuhnya lagi, mengambil sesuatu kembali dari dalam laci nakas.
“Jadi kamu yang mencintainya?...”
Sebuah foto lain Lia sodorkan kepadaku.
__ADS_1
Foto post-card Irly, foto yang dibelakangnya ada goresan lambang cinta.
Lambang cinta yang merupakan goresan tanganku.
Entah dimana Lia menemukan foto itu. Foto yang aku bahkan lupa pernah ada dan masih aku simpan seperti foto yang sebelumnya Lia sodorkan padaku.
Tapi dengan Lia menemukan foto ini, aku merasa sial sekali.
“Jadi benar, kalau kamu yang mencintainya?” cecar Lia. Dia menatapku seolah tak berkedip.
“Ya,” jujurku. Lia masih menatapku. “Tapi dia masa lalu.”
Aku langsung menyambung ucapanku, agar Lia tidak sampai terseret arus pikirannya yang liar.
“Tapi kamu masih mencintainya?...”
Lia menatapku tajam.
“Ga.”
Aku menjawab mantap.
“Kamu yang aku cintai sekarang.”
Aku mengatakan sebaris kalimat itu dengan menatap Lia lekat, agar dia dapat melihat pancaran dari mataku, jika aku jujur padanya soal itu.
“Yakin kamu cinta sama aku?” Namun Lia seolah tidak percaya dengan ucapanku.
Aku mengangguk.
“Ya!” Lagi, aku menyahut mantap.
“Lalu kenapa foto-foto ini masih kamu simpan—“
“Yang—“
Aku memotong ucapan Lia.
Tapi Lia memotong lagi ucapanku.
“Kamu simpan dan kamu bawa kesini...”
Aku menangkap kecurigaan di pusaran mata Lia yang tak putus menatapku.
“Kamu masih punya perasaan sama dia kan?”
Lia masih mencecar-ku.
“Karena kalo engga, kamu ga akan bawa semua ini ke tempat tinggal kita yang baru, di tempat kita memulai hidup baru. Ki-ta, Rei...”
Lia terlihat gusar.
“Seharusnya hanya tentang kita yang ada disini, bukan kamu yang membawa tentang seseorang yang pernah berarti dimasa lalu kamu, yang aku rasa kamu memang masih memiliki perasaan sama sahabat cewe kamu itu, dan kamu sengaja membawa semua foto yang punya cerita, atau entah barang-barang apa lagi yang berhubungan dengan dia, yang kamu bawa kesini agar kamu bisa mengenangnya...”
“Dia hanya masa laluku ---”
“Masa lalu yang terlalu indah untuk kamu lupakan?”
Lia lagi-lagi memotong ucapanku. Aku kini menghadapkan diriku benar-benar pada Lia.
“Yang, dengerin aku...”
Aku meraih bahu Lia, menatapnya lekat.
“Dia hanya seseorang yang ga perlu kita ributkan sekarang, atau nanti...”
Aku menegaskan tatapanku, arti kesungguhan ucapanku.
“Percaya aku, percaya kalo hati aku ini sekarang cuma buat kamu, Yang.”
“....”
“Tentang aku yang pernah mencintai dia itu ga perlu lagi kamu pikirkan. Cinta aku ke dia itu udah the end!”
Sekali lagi aku coba meyakinkan Lia, menegaskan padanya bahwa tidak seharusnya Lia memusingkan soal perasaan spesial-ku yang pernah ada pada Irly.
“Kalau udah the end, ga mungkin kamu membawa serta kenangan tentang dia sampai kesini Rei...” kata Lia.
Lia masih mencecar, namun suaranya aku dengar mulai melirih.
Aku menarik nafasku dalam-dalam. Aku tidak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran Lia saat ini.
“Dengarkan aku Yang...”
Aku melepaskan tanganku dari pundak Lia.
“Satu komitmen yang aku pegang teguh saat aku menerima perjodohan kita, adalah mencintai kamu---“
Dan kini aku menangkup kedua pipi Lia. Ingin mengatakan padanya apa yang ada di hatiku dengan sejujurnya.
Tapi lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya, Lia memotong ucapanku. Kini, selai suaranya yang melirih, tatapan Lia mulai nanar padaku.
“Aku ini cuma pelarian kamu ya?...”
Dan kalimatnya itu sungguh membuatku terperanjat.
“Perjodohan kita yang kamu terima tanpa berpikir panjang... pernikahan kita bukan semata-mata pengabdian kamu terhadap orang tua, melainkan pembuktian diri kamu sendiri yang bertarung dengan perasaan kamu ke Shirly yang masih kamu simpan itu. Dan dengan kamu yang mengundangnya datang ke pernikahan kita, untuk membuktikan entah ke dia atau ke diri kamu sendiri, bahwa kamu telah memenangkan pertarungan itu dengan menikahiku. Sebuah rekayasa, untuk menutupi perasaan kamu sendiri. Menjadikan aku piala kemenangan kamu...”
Pelarian... piala kemenangan...
Bagaimana Lia bisa memiliki kesimpulan seperti itu?.
Aku melepaskan tangkupan tanganku dari pipi Lia.
Aku tak lagi jengkel pada cecaran Lia, tapi ada rasa marah yang mulai bergemuruh dalam hatiku atas tuduhan Lia yang tak berdasar padaku itu.
“Buang jauh-jauh pikiran burukmu itu, Yang,” kataku, sembari bangkit dari ranjang. “Kamu jangan asal menyimpulkan,” sambungku. Dan kini aku telah berdiri membelakangi Lia. Semata-mata agar Lia tidak melihat jika rahangku telah mengeras.
Betapa marahnya aku atas tuduhan Lia padaku.
Namun aku tetap berucap dengan tenang, meski tak lagi menatap pada Lia. Mungkin aku akan keluar dulu dari kamar untuk menetralkan gemuruh amarah dalam hatiku ini.
“Aku ga tau harus bilang gimana lagi sama kamu, soal perasaan aku ke Irly yang udah ga ada bahkan dari sejak aku dijodohkan sama kamu.”
Aku hendak melangkah untuk keluar dari kamar dan membiarkan Lia sendiri agar dia dapat berpikir jernih, dan juga memberikan waktu untuk diriku sendiri untuk meredam amarahku ini, agar pertengkaranku dengan Lia tidak menjadi.
Namun...
“Mungkin, aku, kita, telah salah melangkah. Terlalu cepat mengiyakan untuk dijodohkan. Terlalu cepat memutuskan untuk menikah.”
Suara Lia yang lirih itu terdengar dingin.
“Aku tersadar, aku salah, kamu salah, dengan keputusan akan perjodohan kita ini. Perjodohan yang seharusnya tidak pernah kita terima...” sambung Lia. “Garis jodoh kita ini, terlalu dipaksakan...”
Dan aku membeku.
__ADS_1
**
Bersambung...