WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 142


__ADS_3

Terima kasih masih setia...


***


Selamat membaca...


***


REIJI


Dua minggu, kurang lebihnya.


Hatiku sedang diliputi bahagia.


Benar-benar bahagia, sejak aku menjadi suami seorang Malia Leonard.


Karena dalam dua minggu belakangan ini, aku dan Malia layaknya suami istri yang menikah karena cinta, bukan karena perjodohan.


Tak ada lagi senyum ragu-ragu dari Lia saat kami sedang bersama di apartemen, atau rasa tidak nyaman lainnya yang dulu aku tangkap di raut wajahnya jika aku mengajaknya bermesraan.


Senyum ragu-ragu itu sudah berganti senyum ketulusan, bahkan Lia sudah sering tergelak jika kami sedang bercengkrama berdua, dan aku mengeluarkan gombalan receh.


Sejak dua minggu belakangan, jika Lia pulang lebih dulu dariku-terkecuali jika ia sedang di kamar mandi atau menyiapkan makanan di pantri, dia akan duduk menungguku di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang santai di unit apartemen kami. Lalu akan segera menghampiriku saat aku sudah sampai.


Menyalim takdzim, meraih navy bagku, yang kadang tidak aku berikan padanya. Bukan karena ada ‘apa-apa’ di dalamnya, tapi karena aku ingin Lia melingkarkan tangannya di leherku saat setelah menyalim takdzim punggung tangan kananku dan dia mengecup mesra bibirku.


Duh kalo inget betapa manis dan mesra sikap Lia padaku selama dua minggu belakangan, rasanya belum sejam aja udah kangen banget sama itu yayang istri.


Yang orangnya belum lama aku lepas berangkat kerja dengan mengemudikan sendiri mobilnya.


Nyesel juga kenapa aku ga memaksakan diri untuk mengantar Lia sampai kantor, karena kurang lebih empat hari aku tidak akan bertemu dengan istriku itu karena aku punya jadwal untuk menerbangkan pesawat ke daerah Eropa yang menghabiskan puluhan jam di udara pulang-pergi.



Sempat ragu pada Lia yang mengatakan telah mencintaiku.


Ya bukan ga bersyukur karena doaku di ijabah sama Tuhan Yang Maha Esa, hanya pengakuan Lia itu bersamaan dengan sandiwaraku yang mengancam laki-laki dari masa lalunya Lia itu lewat ponsel yang seolah aku sedang berbicara dengan temanku-padahal sebelum aku mengatakan ingin memberi pelajaran pada orang yang suka ganggu milik orang itu, aku sudah memutuskan sambungan telepon dengan teman seprofesiku yang sebelumnya aku hubungi.


Tapi aku tidak mau berpikiran negatif pada Lia, tidak juga sepenuhnya kelewat gede rasa dan besar kepala, kalau aku telah merajai hati Lia. Tapi sikap Lia yang berubah drastis membuatku meyakini jika ungkapan cintanya padaku memang benar adanya.


Malia Leonard telah mencintai seorang Reiji Shakeel dengan sebenar-benarnya.


“Rei udah dimana?... Lama banget sampenya.”


“Kangen banget apa sampe segitunya nelfonin tiap lima menit sekali?”


“Iya kangen banget! Puas?... Cepet ih, kemana dulu sih ditungguin dari tadi katanya udah dijalan tapi ga sampe-sampe?...”



“Kerja yang bener Rei! Jangan ganjen-ganjen!”


“Pulang langsung pulang.”



“Rei beneran kan kamu udah cinta bener-bener sama aku? –“


“Awas aja loh ya kalo cintanya masih setengah-setengah...”


“Jangan sia-siain cinta aku loh!”



“Rei, sampe Bandara terus nanti abis terbang kalo emang memungkinkan buat menghubungi aku, telfon ya, chat juga ga apa-apa.”


“Terus pas udah selesai kerja juga hubungi aku. Kasih tau, plus pas udah mau arah pulang—“

__ADS_1


“Terima konsekuensi bikin aku cinta sama kamu.”


“Tau rasa aku posesifin!”


Sudut bibirku selalu tertarik keatas secara otomatis jika mengingat ucapan-ucapan Lia itu selama beberapa waktu terakhir.


Belum lagi ekspresi wajahnya yang menggemaskan dengan bibir mengerucut. Lia yang dulu sudah kembali lagi.


Lia yang bawel, ceriwis, ceria yang aku kenal dulu telah muncul ke permukaan setelah lama ia hilang dalam pandanganku.


Ada tambahannya sekarang.


Lia yang mencintaiku layaknya seorang kekasih, bukan Lia yang menyayangiku sebatas abang.


Selain sudah menjadi istriku, milikku seutuhnya.


Yang orangnya sedang menghubungiku saat ini. “Assalamu’alaikum, bidadari surganya Abang Reiji.”


Dan balasan salam merdu terdengar dari seberang ponselku.


“Wa’alaikumsalam imamku yang suka lebay kadang-kadang—“


Membuatku terkekeh geli mendengar balasan salam Lia dengan selorohan yang menyertainya.


Setelahnya kami mengobrol santai, selepas Lia mengatakan jika dirinya telah sampai ke kantornya, lalu menanyakan apakah aku sudah berangkat atau belum.


Ketika aku hendak memutuskan panggilan setelah memastikan tidak ada lagi yang Lia ingin katakan atau obrolkan denganku, Lia menyergahku.


“Um Rei.”


Akupun menyahut ‘kenapa’.


“Uum.... itu.... Irsyad kirim pesan chat.”


“Hem....”


Sedikit agak kesal. Ngapain itu bibit pebinor mulai lagi hubungi Lia?....


Dan makin kesal, saat Lia bilang kala ia menjawab pertanyaanku tentang ‘bilang apa’ itu si bibit pebinor dalam chatnya.


“Uumm, dia ngajak aku ketemuan –“ jawab Lia yang terdengar entah ragu entah takut-takut mengatakannya padaku.


“Terus?” tanyaku lagi.


“Ya Cuma begitu aja bunyi pesennya Irs-“


Begitu jawab Lia.


“Terus kamu mau ketemuan sama dia? ...”


Yang langsung aku potong ucapannya, karena aku tidak sudi mendengar Lia menyebut nama si bibit pebinor dari mulutnya.


Agak kesal, aku bertanya lagi, tapi aku tetap mempertahankan nada bicaraku dengan normal. Sekaligus aku ingin tahu, apa jawaban Lia.


Jika Lia bilang dia ingin, atau mungkin memaksa aku untuk mengijinkannya, entah aku harus bersikap bagaimana.


Kecewa mungkin?.


Mungkin aja sih aku akan merasa kecewa jika begitu.


Karena hati dan otak kecilku ini akan beropini jika sisa rasa pada si bibit pebinor yang Lia bilang itu, belum benar-benar jadi sisa.


“Kalo kamu ijinin, ya aku temuin ...”


Eh tapi jawaban Lia membuatku sedikit terperangah juga.


Walau terkesan Lia masih mau menanggapi untuk bertemu dengan si bibit pebinor itu, tapi Lia benar-benar meminta ijinku.

__ADS_1


Sudut bibirku sedikit tertarik keatas, ternyata Lia memang benar-benar sudah menghargaiku sebagai suaminya.


“Kalau aku ga kasih ijin, apa kamu akan berpikir aku egois?-“


Aku ga rela memang, jika Lia harus bertemu lagi dengan si bibit pebinor itu, tapi aku tidak mau secara frontal melarangnya.


Jadi aku menyahut seperti itu, berharap jika Lia paham, bahwa aku sebenarnya tidak mau ia menemui si bibit pebinor itu. Dan lagi-lagi ...


“Engga sama sekali.”


Jawaban Lia membuatku terperangah sekaligus senang.


Suara Lia pun tidak menandakan jika ia akan memaksaku untuk memberi ijin, bahkan helaan nafas berat pun tidak aku dengar.


“Bener? ...” kataku memastikan.


“Suer!”


Aku mendengus geli mendengar jawaban Lia yang santai itu.


“Aku sih terserah kamu Yang –“


Aku tenang karena Lia nampaknya biasa-biasa saja pada indikasi aku tidak memberi ijin padanya untuk menemui si bibit pebinor itu.


Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, mungkin seharusnya aku tidak melarang Lia untuk bertemu dengan si bibit pebinor itu. Lia sudah mencintaiku, jadi aku tidak perlu takut hati Lia goyah lagi saat bertemu dengan lelaki dari masa lalunya tersebut.


Namun begitu, aku masih punya sedikit kekhawatiran jika hati Lia goyah.


“Tapi kalo aku boleh minta, aku sih pengennya kamu tolak ajakannya ... Tapi balik lagi ke kamunya, mau terima atau tolak ajakan dia buat ketemuan ...”


Jadi begitu saja aku katakan. Berharap Lia mengerti aku antara rela tidak rela memberikannya ijin untuk menemui si bibit pebinor itu, terlepas mungkin ada yang ingin Lia selesaikan dengannya.


Tapi kemudian, jawaban Lia membuatku merasa lega dan bahagia.


“Aku ga akan pergi kemana-mana sebelum dapet ijin dari kamu, termasuk dengan siapa aku pergi. Kecuali aku makan siang, atau ada kerjaan diluar kantor sama temen-temen kantor yang gado-gado bentuk dan rupanya ya—“


Aku terkekeh kecil.


“Tapi untuk menerima ajakan Irsyad untuk bertemu, habis ini aku tolak. Karena aku tahu kamu ga rela pasti aku nemuin dia, apalagi kamu lagi jauh dari aku. Kamu kerja yang tenang, jangan kepikiran soal ini lalu kamu ga fokus. Karena ga fokusnya kamu mengancam banyak nyawa, termasuk nyawa kamu sendiri, dan aku ga siap Rei. Aku sayang Rei, aku cinta sama kamu ... dan aku ga mau kehilangan kamu dengan cara apapun ... ”


Aku speechless.


Hatiku rasanya hangat selain bahagia tak terkira.


Makasih Lia.


I love you, trully, from the deepest of my heart.


Dan akupun ga mau kehilangan kamu dengan cara apapun.


*


Malia tersenyum menatap layar ponsel setelah sambungan teleponnya dan Reiji selesai.


‘’I love you, Rei ...’’


Malia menggumam sambil menatap layar ponselnya, dimana sekarang wallpaper ponselnya adalah fotonya dengan Reiji.


‘Semburat jingga di langit senja gue—‘ bisik Malia dalam hatinya.


Lalu tersenyum tipis sambil mengusap layar ponselnya.


‘Ya ampun gue udah jadi bucin kayaknya ini gara - gara itu Pilot mesum. Untung suami sendiri dan untung ganteng!’ kata Malia dalam hatinya.


♦♦


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2