WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 92


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Kita akhiri pertengkaran hari ini ya? Dan aku harap tidak akan ada lagi pertengkaran-pertengkaran diantara kita, Yang. Ya?”


Reiji meminta kesediaan Malia untuk berbaikan dengannya.


“Mudah-mudahan.” Jawab Malia, sambil menarik pendek sudut bibirnya.


Meski Malia hanya tersenyum kaku padanya, namun Reiji tak mau mempermasalahkannya.


***


MALIA


“Aku cinta kamu, Yang. Please, tolong untuk mempercayainya....”


Itu yang Reiji katakan setelah ia meminta maaf dan meminta agar aku tak lagi marah padanya, dan mengakhiri pertengkaran kami hari ini.


Wajah Reiji nampak bersungguh-sungguh dan aku tidak dapat menolak saat Reiji menciumku lagi seperti saat setelah ia mengatakan jika ia kangen padaku, padahal baru beberapa jam saja kami tidak bertemu.


Terdengar seperti sebuah gombalan.


Tapi tidak aku lihat itu di sorot mata Reiji saat mengatakan kalau ia kangen padaku.


“Rei....”


Aku mengurai ciuman Reiji, ketika aku sadari jika ciumannya semakin dalam dan menuntut.


Aku memahami sinyal itu. Reiji sedang menginginkan untuk berbagi kehangatan denganku.


“Hmm? .....” Reiji menggumam, dengan suara yang terdengar sedikit berat.


“Aku cape.”


Ucapanku membuat Reiji yang sedang mengecupi lembut garis rahangku setelah aku mengurai ciumannya, menghentikan aksinya.


Aku tahu Reiji sedang terdesak hasrat kelakiannya, namun aku sungguh tak siap untuk ‘melayani’ nya sekarang.


Reiji menatapku.


Lalu seutas senyuman tampak di wajahnya.


Tapi aku tahu, jika Reiji menyimpan kekecewaan dalam hatinya atas penolakanku untuk bercinta dengannya saat ini.


Lalu Reiji mengangguk sembari masih tersenyum, dan memandang lembut padaku.


“It’s okay, Yang.”


Lalu Reiji berucap.


“Maaf ya, Rei...”


“Iya ga apa-apa kok Yang, aku ngerti...”


Reiji menyahut pasrah. Tak mencoba merayuku untuk bercinta, seperti biasanya, jika kami tidak sedang berada dalam kecanggungan hubungan seperti ini akibat pertengkaran – yang walau sebenarnya dapat dikatakan sebagai sebuah pertengkaran kecil.


“Tapi, tidur sambil meluk kamu boleh kan?...”


Aku mengangguk sebagai persetujuan atas permintaan Reiji barusan.


Dan Reiji menarik sedikit lagi sudut bibirnya.


“Nite, Yang. I love you...”


Reiji langsung membawaku dalam dekapannya.


Lalu mengecup ringan keningku sebelum ia berucap tadi.


“Nite, Rei...”


Aku hanya membalas kalimat Reiji sebatas itu.


---


Pernikahanku dengan Reiji seharusnya baik-baik saja.


Meski ada sedikit pertengkaran, tapi seharusnya tidak mempengaruhi pernikahan kami yang seharusnya berjalan baik-baik saja.


Toh pertengkaran kecil dalam rumah tangga adalah hal yang biasa bukan?.


Seharusnya tidak mempengaruhi hubunganku dan Reiji dalam pernikahan yang berlandaskan perjodohan ini.


Yang aku telah terima dengan lapang dada.


Tapi sampai detik ini, masih aku rasakan pergolakan dalam hatiku atas pernikahanku dan Reiji, dan pada Reiji sendiri.


Aku terkadang merasa ingin berontak, tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Disatu waktu aku menerima Reiji, dan disatu waktu aku menolaknya.


Dan dikala penolakanku pada Reiji datang seperti saat ini, rasanya aku ingin menyalahkan Irly.


Karena sumber yang menjadi alasan kenanganku pada Irsyad bangkit dari kubur, adalah dirinya.


Tapi apakah Irly yang harus aku salahkan atas kenanganku pada Irsyad yang bangkit dari kubur itu?.


Rasanya tidak.


Terlebih bukan salah Reiji.


Bukan salah keduanya, hingga membuat pikiranku menjadi tak karuan sejak Irsyad telah kembali dalam kehidupanku.

__ADS_1


Yang pada akhirnya, membuatku menolak Reiji untuk yang pertama kalinya dengan alasan cape.


Sebenarnya bukan masalah dari cape –ku, karena tubuhku tidak seletih itu sebenarnya.


Pikiranku yang sedang kacau ini, mempengaruhi diriku untuk menolak ‘undangan’ bercinta Reiji malam ini.


Sungguh Irsyad sedang mengacaukan pikiranku, hingga berimbas pada Reiji. Membuatku tak bisa menerima ajakan Reiji untuk saling memberi kehangatan.


Aku takut.


Aku takut jika saat berada dalam kukungan Reiji, namun Irsyad yang malah aku bayangkan.


*****


Seminggu telah berlalu, namun hubungan Malia dan Reiji seolah berjalan di tempat sejak terakhir keduanya saling beradu argumen yang jika diingat-ingat oleh Reiji, adalah sejak ia bertanya dengan ketus pada Malia saat istrinya itu pulang terlambat ke apartemen untuk yang pertama kalinya, dengan tanpa pemberitahuan apapun, kecuali miss called.


Seolah terpicu, kekesalan Malia nampak bertambah, ketika di hari libur saat Malia dan Reiji berbarengan berada bersama di apartemen karena sama-sama libur bekerja – ada panggilan masuk dari Irly.


Meski tidak ada adegan saling mendiamkan atau berkata ketus disetiap harinya dalam satu minggu ini, namun Malia seolah semakin menutup diri dari Reiji – dalam pandangan suami Malia itu.


Dimana Reiji terus saja menyabarkan dirinya. Tak ingin mendesak Malia untuk bercerita dan berbagi, walau di mata Reiji – seolah ada hal yang Malia simpan sendiri. Malia sembunyikan. Namun sampai dengan  hari ke tujuh pun, sikap Malia masih sama, bahkan terasa menjauh dari Reiji.


Setidaknya, itu yang Reiji rasakan. Entah apa yang salah darinya selama seminggu ini, Reiji pun tak tahu.


“Kamu ini sebenarnya kenapa sih, Yang? Seminggu ini aku bukannya ga ngeh loh kamu terkesan menjaga jarak dari aku.” Reiji pada akhirnya menyuarakan isi hatinya.


“Aku ga tau, Rei. Aku hanya merasa ada yang salah diantara kita ---“


“Ga ada yang salah diantara kita, Yang. Kita baik-baik aja ... kita hanya perlu saling mengenal lagi, saling terbuka ---“


“Engga Rei, rasanya kita udah ga baik-baik aja...”


Reiji dan Malia saling memotong ucapan.


“Apa yang bikin kamu mikir, kalo kita ini udah ga baik-baik aja? ...”


Dan Reiji pun menanggapi ucapan Malia sebelumnya dengan pertanyaan.


“Jangan bilang gara-gara cerita masa lalu aku dan Irly lagi!” Reiji menjawab pertanyaannya sendiri secara defensif.


“Iya, karena dia!” Malia menyahut ketus.


“Oh damned, Lia ---“


Reiji mengumpat kecil dengan suara samar.


“Harus berapa kali aku katakan ke kamu, ga usah kamu pusingin lagi soal itu!”


Reiji tersulut kesal.


“Apa sih Yang? Mau kamu apa? Berkali-kali aku udah bilang, udah jelasin, kalau aku udah ga punya perasaan yang gimana-gimana sama dia selain sebagai seorang teman ...”


“Aku bahkan udah ajak kamu ketemu sama dia tapi kamunya ga mau.”


Reiji terbawa oleh rasa kesalnya, akibat tersulut oleh ucapan Malia. Sementara Malia bungkam.


“Lalu kamu bilang sekarang, kamu merasa kita ga baik-baik aja ... kamu yang memendam masalah, lalu mengungkitnya tanpa alasan yang jelas ---“


“Ga hanya tentang itu!”


Malia menukas dengan ketus ucapan Reiji kemudian.


“Lantas? ...”


Reiji pun menukas balik seraya bertanya.


Malia tidak langsung menjawab.


Reiji memfokuskan pandangannya Malia.


“Lantas apa, Lia? ...” Reiji kembali bertanya.


Malia menggigit bibirnya, lalu ia berkata, “We’re ( Kita ) ----”


Sejenak Malia menggantungkan kata-katanya.


“Kita hanya ... memang sedang ga baik-baik aja, Rei.”


“Bukan kita, tapi kamu ... pikiran kamu yang ga baik-baik aja, Lia! Selama kamu berasumsi macam-macam, seterusnya kamu ga akan merasa baik-baik aja!”


Reiji berkata dengan lantang pada Malia.


“Aku ga ngerti apa masalah kamu. Aku, dengan senang hati menjadi tempat kamu bertumpu. Tapi kamu yang katanya mau membuka diri, membuka hati buat aku, nyatanya lebih suka memendam masalah kamu sendiri ... Lalu aku, kamu anggap apa? ... Sorry bukan aku hitung-hitungan. Tapi rasanya, sebagai suami, aku selalu berusaha untuk memahami kamu, yang selalu ingin dipahami ...”


Reiji tersenyum kecut.


“Tapi apa kamu pernah coba memahami aku? Memahami betapa aku mati-matian berusaha agar kamu menerima aku sebagai suami kamu, mendapat cinta kamu...”


Kembali Reiji tersenyum kecut.


“Aku rasa, engga ...”


Dan setelahnya Reiji melengos dari hadapan istrinya itu, membalikkan badannya.


Melangkah pergi untuk keluar dari kamar pribadinya dan Malia dalam apartemen.


Meninggalkan Malia yang pada akhirnya tepekur di dalam kamar mereka itu, selepas Reiji keluar dari sana, dengan membawa kekesalan serta sedikit kekecewaan dalam hatinya pada Malia.


****


REIJI

__ADS_1


Aku sungguh tak mengerti ada apa dengan Lia sebenarnya. Malia yang aku kenal seolah berubah. Lia yang dulunya periang, sering banyak bicara, kadang manja dan banyak maunya, bahkan – walau mulai tak sering kulihat sifat dan sikapnya itu setelah ia SMA karena sejak itu kami sudah jarang bertemu dan berkomunikasi – rasanya sudah tidak ada dalam diri Lia sejak perjodohan kami.


Namun, setelah menikah – seiring waktu, juga dengan komitmen dalam diri kami masing-masing – janjinya Lia – yang sepertinya telah dia lupakan sekarang.


Kami pernah berjanji untuk berkomitmen, dengan menjalani perjodohan kami, pernikahan ini dengan lapang dada, dan saling membuka diri, saling mengerti hak dan kewajiban masing-masing.


Dan, selama kurun waktu pernikahan kami yang seumur jagung ini, Lia yang dulu aku kenal perlahan kembali.


Kekakuan Lia yang masih kentara dalam masa tiga bulan persiapan pernikahan kami sudah mulai mencair, bahkan aku pikir telah menguar.


Lia yang periang, cerewet, sudah aku lihat lagi.


Yang terutama dan penting bagiku, walau aku tahu dengan jelas jika Lia belum mencintaiku, tapi Lia sudah nampak menerimaku sebagai suaminya.


Canggungnya padaku kulihat sudah tidak ada. Tapi sekarang?..


Perlahan, aku rasakan Lia mulai berubah.


Lia mulai dingin, ketus, kadang terlihat gamang.


Apa hanya karena Irly? ...


Tapi aku tidak yakin hanya karena itu.


Yah, mungkin Lia sedang cemburu pada Irly, hal yang coba aku pahami.


Namun lebih dari itu aku merasa seperti ada kemelut dalam diri Lia.


Yang mana aku merasa, jika ada hal yang ia sembunyikan dariku. Ada masalah yang Lia pendam sendirian.


Tapi apa? ....


----


Setelah malam itu, perubahan sikap Lia semakin terlihat.


Aku rasakan Lia semakin dingin padaku, meski setiap hari kami bertegur sapa saat bertemu.


Itupun, Lia sangat irit bicara. Bahkan, Lia selalu menolak untuk aku antar lagi ke kantornya, jika aku sedang lengang meski ada jadwal terbang, atau aku punya jadwal kerja yang memungkinkan untuk mengantar jemput Lia.


Namun sejak senin, Lia mengatakan dia akan menggunakan mobilnya sendiri saja untuk pergi bekerja. Dengan alasan super klasik, “Ga mau ngerepotin kamu.”


Dan sikap Lia itu, seolah mewujudkan kata-katanya tentang kami yang tidak baik-baik saja. Yang sampai hari ini mati-matian aku sangkal, ketidak beresan dalam hubunganku dan Lia sekarang ini.


Aku lelah sudah dengan cekcok antara aku dan Lia ini.


“Yang, kita ga bisa begini terus lah.”


Aku lagi-lagi mengalahkan egoku untuk Lia.


“Maksudnya?” tanggap Lia padaku, kala aku dan Lia sudah kembali bertemu dengan hari sabtu.


Lia libur, seperti selalunya. Dan aku memiliki jadwal terbang, namun sore hari nanti.


“Kamu ini sebenarnya kenapa? ..”


“Ga kenapa-kenapa.”


“Mau kamu sebenarnya apa sih, Yang?”


Aku berbicara seraya bertanya dengan lembut pada Lia.


“Terserah kamu.” Tukas Lia, menampik pertanyaanku.


Aku menghela nafas frustasi, mendengar jawaban Lia. Aku mendekatinya.


“Maafin aku.”


“Minta maaf untuk apa?”


“Maaf kalau aku punya salah dalam sikap dan ucapanku ke kamu...”


“Ga ada yang perlu aku maafkan, jadi kamu ga perlu minta maaf karena kamu ga aku rasa ada salah sama aku.”


Aku menghela nafasku lagi. Hendak lagi berbicara.


Dalam rangka membujuk Lia. Tapi ...


“Aku mau keluar sebentar lagi.” Lia bangkit dari duduknya di sofa ruang tamu kami.


“Kemana?...”


Aku spontan bertanya.


“Ketemuan sama temen.”


Lia menjawab cepat, dan dengan cepatnya juga dia berlalu dari hadapanku.


“Teman yang mana?” tanyaku sambil menahan Lia dengan menahan lengannya.


“Kamu ga kenal.”


Lia melepaskan tanganku dengan cepat, lalu langsung masuk ke kamar.


Janjian dengan teman yang aku ga kenal – kata Lia.


Apa teman Lia yang tidak aku kenal ini, adalah penyebab perubahan dari sikap Lia?.


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2