WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 156


__ADS_3

Selamat membaca...


***


Reiji tahu jika Malia pergi makan siang dengan seseorang-seorang lelaki lebih tepatnya, yang Reiji yakini adalah bukan rekan kerja Malia. Bahkan Reiji meyakini, jika lelaki itu adalah lelaki yang Reiji sebut sebagai bibit pebinor.


Irsyad - Laki-laki dari masa lalu Malia, laki - laki yang pernah istrinya itu cintai.


Dan kini, Reiji sedang menunggu kejujuran Malia, tanpa ingin Reiji menanyakan kebenarannya dan mendengar jawaban Malia, meski Reiji telah mengetahui hal tersebut.


Jika ternyata Malia bungkam, maka Reiji akan bertindak.


Setidaknya itu yang ada dalam benak Reiji.


🕗


“Aku ga kenal sama cewe tadi kalo kamu penasaran.” Ucap Reiji saat ia telah membuka pintu unit apartemennya dan Malia, lalu mempersilahkan Malia untuk lebih dulu masuk sebelum dirinya.


Reiji langsung saja berucap seperti itu pada Malia, yang Reiji sadari sempat memicing curiga padanya akibat berpapasan dengan seorang perempuan di koridor unit apartemen mereka.


Perempuan yang dalam kacamata relatif dapat dikategorikan sebagai wanita cantik.


Namun memang Reiji tidak pedulikan keberadaan wanita tersebut yang sempat Reiji lirik secara spontan-dan Reiji menyadari ada rasa ketertarikan perempuan tersebut padanya, walau sekilas saja Reiji melihat pada wanita tersebut, yang berpapasan dengannya dan Lia tadi saat sedang berjalan menuju unit apartemen mereka.


Bukan karena Reiji takut goyah imannya, tapi lebih kepada Reiji tidak mau mempedulikan perempuan lain selain Malia. Yah, selain juga para perempuan yang berada dalam lingkup keluarga dekat seperti mamanya, mama mertua, serta Avi-adiknya yang akan Reiji pedulikan selain Malia.


Reiji langsung saja membuang pandangannya, setelah spontan melirik perempuan yang berpapasan di koridor dengannya dan Malia tadi. Karena sungguh Reiji tak tertarik, walau hanya sekedar iseng.


“Heu?” tanggap Malia.


“Kamu pasti curiga kan apa aku kenal sama itu cewe atau pura-pura ga kenal sama dia di depan kamu?”


Reiji berkata lagi.


“Kok tau sih kamu apa yang aku pikirin Rei? ....” tanya Malia jujur, dan Reiji mendengus geli.


Reiji kemudian menarik pelan tubuh Malia hingga mereka saling rapat berhadapan.


“Apa sih yang aku ga tau tentang kamu, Yang? –“ jawab Reiji.


“Masa?” tukas Malia.


“Hu’um.Yang kamu pikirin, yang kamu lakuin, aku tahu lah –“


Deg!.


‘Apa Rei tau kalau saat dia datang tadi gue sedang sama Irsyad???!!!!’ Hati Malia yang was-was.


🕗


REIJI


“Uummm Rei,” Aku dengar gumaman tertahan Lia, yang menggambarkan jika ia sedang ragu.


Karena sepertinya Lia tanggap dengan kode dari kalimatku,


‘Yang kamu pikirin, yang kamu lakuin, aku tahu lah –‘


Itu sampai ke Lia, hingga sekarang istriku itu nampak sedikit gelisah.


“Kenapa?” tanyaku pura-pura tak tahu.


Tapi rasanya aku yakin Lia ingin mengatakan soal pertemuannya tadi dengan si bibit pebinor itu, namun Lia masih ragu.


Cup!


Aku tak tahan untuk merasakan bibir Lia. Ditambah ekspresi ragu Lia dengan menggigit bibir bawahnya, membuatku rasa gemas.


Jauh di dalam lubuk hatiku aku merasa, jika Lia sudah ingin jujur padaku tentang pertemuannya tadi dengan si bibit pebinor.


Entah, tapi hatiku rasanya seperti itu. Tidak ada kekhawatiran atas Lia yang bermain dibelakangku, karena aku yakin sikap gugup Lia sekarang ini karena ia ingin cerita, namun masih ragu.


Mungkin Lia takut aku marah.


Dan sikapnya ini membuatku merasa gemas sendiri.


Jadi aku jahili saja Lia, selain memang aku kangen padanya.


“Kelamaan!. Ga tau suaminya kangen berat apa? ....” ucapku setelah aku mengecup sekilas bibir Lia yang orangnya langsung mendengus geli, sehabis aku kecup bibirnya.


“Ada yang mau aku omongin sama kamu –“

__ADS_1


Namun setelahnya, wajah Lia kembali nampak bimbang.


Dan hatiku mengatakan,


*Aku tahu apa yang mau kamu omongin kok, Yang.


Jadi...


“Rei!” Aku mengangkat tubuh Lia ke udara sampai ia memekik kecil, karena terkejut mungkin.


“Sekalian mandi bareng aja ngomongnya,” tukasku geli.


“Bentar lagi maghrib,” sambar Lia sambil ia memencet hidungku.


“Oh iya,” sahut Reiji sambil ia menggendong Malia menuju kamar mereka. “Ganjet nanti kita ...”


Kekehan renyah pun langsung terdengar dari mulut Lia atas ucapanku yang asal itu. Lalu, “Nih mulutnya kalo ngomong suka asal jeblak!” kata Lia, sambil tangannya yang bebas itu meraup bibirku dan membuatnya jadi mengerucut, dan akupun terkekeh geli namun tetap memantapkan langkahku membawa Lia ke dalam kamar kami.


Sambil nunggu maghrib, nyusu dulu dikit, bisa kali?


-


“Rei ....” Lia menyebut namaku, ketika aku merebahkannya di atas kasur tempat tidur kami.


Dengan aku yang mengukung longgar tubuh Lia.


“Iya tau, mau maghrib ....” tukasku dan Lia mendengus geli. “Cuma mau ngeliatin muka istri yang aku kangenin selama tiga hari ini aja kok.”


Lalu aku menyambar bibir Lia lagi dan m*magutnya lembut.


Lia pun membalas p*gutan bibirku dengan sama lembutnya.


“Kangen banget aku Yang,” ucapku jujur dan Lia tersenyum sambil satu tangannya mengusap lembut rambutku.


“Aku juga kangen Rei-“


Lia membalas ucapan mesraku.


“Kangen banget apa kangen aja?” tukasku.


“Maunya?”


“Maunya ‘dikangenin banget’ sih, tapi ‘dikangenin aja’ juga ga apa – apa.”


“Pasrah?-“ tukas Lia sambil mengulum senyum, dan aku menggangguk.


“Yang penting dikangenin sama kamu,” jawabku seraya tersenyum.


Lia juga ikut tersenyum.


Senyum yang dapat meruntuhkan duniaku.


-


Aku membuang diriku kesamping Lia dan berbaring telentang di atas kasur kami, setelah aku mengecup keningnya.


Lia mengangkat sedikit tubuhnya, dan memposisikan dirinya menghadap padaku.


“Capek ya? ....”


Lia bertanya sambil satu tangannya mengusap lembut wajahku.


“Dikit ....” jawabku seraya aku membalas menatap Lia yang nampak sedang memperhatikanku itu.


Dan yah, aku cukup letih memang.


Berpuluh – puluh jam di udara, meski ada ruang istirahat yang memiliki kasur di pesawat dan aku bisa sejenak merebahkan diri disana untuk mengendurkan ototku barang sejenak, namun tetap saja badan akan terasa letih juga.


Namun melihat sikap Lia yang perhatian dan mesra seperti ini, sedikit banyak – aku tidak merasakan keletihanku itu. Bahkan aku rasanya tidak peduli lagi Lia akan cerita soal pertemuannya dengan si bibit pebinor itu atau tidak, walau aku masih penasaran – selain berpikir jika Lia memang benar – benar tidak menceritakannya.


Dan untuk itu, akan ada beberapa hal yang berspekulasi di otakku.


Lihat saja nanti lah kalau jadinya seperti itu, jika Lia tidak jujur padaku.


Yang jelas aku sedang menikmati sikap Lia padaku ini, yang tergambar ketulusan perasaannya di sorot mata Lia yang sedang memperhatikanku itu.


“Kamu sih, bukannya pulang aja dulu biar bisa istirahat ....”


“Udah kangen banget Yang,” tukasku dan Lia tersenyum lagi.


“Yang penting kan udah ketemu dulu?” ucap Lia lagi. “Lagian juga kan tadi juga ga mungkin mesra – mesraan di kantor aku. Jadi sayang waktu yang bisa kamu pake buat istirahat itu terbuang Rei.”

__ADS_1


Aku tersenyum sambil meraih tangan Lia yang sedang menyapu – nyapu lembut wajahku itu.


Lalu aku memposisikan diriku seperti halnya Lia – memiringkan diriku di atas ranjang, dan menopang kepalaku dengan satu tangan.


“Aku sayangnya sama kamu, bukan sama waktu –“


“Gombal!” sambar Lia dan aku terkekeh kecil. “Tapi aku suka,” imbuh Lia.


“Wah, gantian nih aku yang digombalin?...”


Gantian Lia yang terkekeh kecil. “Kangen Rei,”


Cup.


“Banget,” kata Lia setelah mencuri kecupan dari bibirku.


Wow, aku terpaku karenanya.


Tatapan teduh Lia, serta ucapan mesra dengan kecupan yang walau singkat, namun cukup membuat hatiku menghangat selain bergetar.


Aku balas menatap teduh Lia, sambil juga memetakan wajahnya dengan jemariku. Tak menyangka jika aku dan Lia bisa sampai ke tahap saling mencintai.


Jadi, setelah aku pikir lagi, aku tak patut rasanya mencurigai Lia atas pertemuannya dengan seorang lelaki lalu Lia memisahkan diri dari beberapa rekan kerjanya dan pergi berdua dengan lelaki yang aku yakini adalah si bibit pebinor itu.


“Thanks Yang... Thanks udah buka hati kamu buat aku, dan beribu terima kasih, karena sudah mencintai aku –“


Cup.


“Aku yang harusnya bilang makasih, karena kamu udah sabar banget sama aku Rei,” ucap Lia setelah ia sekilas mengecup bibirku, menukas ucapanku sebelumnya.


“I love you...”


Aku menarik Lia agar rapat denganku, lalu langsung aku kecup bibirnya.


Membuat Lia berada di bawah kukungan longgarku kemudian.


“Too,” balas Lia, kala aku melepaskan sebentar p*gutan bibirku dari bibirnya dan tersenyum geli karena sahutan singkatnya itu.


Lalu aku memandang wajah Lia lekat – lekat, lalu mengusap sayang sebelah pipi Lia.


“Rei...”


“Hmm?...”


Aku hanya berdehem saja menyahut pada Lia, yang sedikit mulai terengah saat bibirku bermain di ceruk lehernya.


Menikmati rematan tangan Lia di sela rambutku kala tanganku mulai menyusup ke balik kemeja kerja Lia yang masih menempel di tubuh sintalnya itu.


Dan menyusup lagi kebalik penyangga bagian pribadi Lia di balik kemejanya, saat satu per satu kancing kemeja Lia telah aku lepaskan dari pengaitnya.


“Hmph R – ei .....” Telingaku dimanja oleh suara d*sahan tertahan Lia, kala tanganku sudah mendarat tepat di salah satu bukit tak berbunga milik istriku itu, yang mana adalah milikku juga dong?.


Tak sabar untuk mengubur wajahku diantara dua bukit kenyal tak berbunga milik Lia itu.


Mencecapnya sampai puas.


“Rei, stop-“ Aku terkesiap karena Lia tiba – tiba menahan kepalaku saat aku ingin menurunkan cup penyangganya, sekedar melepas ‘haus’.


“Kenapa?” tanyaku polos, dengan tatapan mengiba, selain sebal karena acara ‘minum susu’ langsung dari pabriknya tertahan. Dan yang punya pabrik sendiri yang menahanku.


Lia menggerakkan bola mata dan telunjuknya.


“Apa sih? .....”


“Adzan,” jawab Lia.


Dan setelah aku mendengarkan dengan seksama, memang suara Adzan yang terdengar berkumandang, walau sayup – sayup saja suaranya.


Lia menggeser tubuhku lalu ia bangkit dari posisinya dan membetulkan kembali pakaiannya yang sudah sedikit awut – awutan itu. Aku menjegal tangan Lia ketika ia hendak melangkah menjauhi tempat tidur.


“Tanggung Yang –“


“Pamali Rei,”


Ya ampun, di cut pas lagi on – on nya.


Berat bener ujian Tuhan.


🕗🕗


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2