WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 173


__ADS_3

Selamat membaca...


***


Reiji sedang tersenyum pada Malia selepas Malia memperlihatkan ponselnya pada Reiji, guna membuat Reiji tidak berpikir macam – macam padanya, dengan sudah menampakkan layar log panggilan di layar ponsel Malia itu.


“Thank you –“


“Buat apa?” tukas Malia seraya bertanya.


Lalu Reiji membawa Lia dalam pelukan.


“Karena udah jujur sama aku, Yang,” tulus Reiji.


Suami Malia itu merasakan kelegaan dalam hatinya.


Karena Reiji merasa, jika Malia benar-benar mewujudkan semua ucapannya pada Reiji, yang membuat keyakinan Reiji jika Malia benar-benar mencintainya pun bertambah.


“Kamu ga tanya soal pembicaraan aku sama dia?”


Malia berucap seraya bertanya pada Reiji, dengan sedikit menarik tubuhnya agar ia bisa menatap ke wajah suaminya itu.


Reiji mengulas senyuman. “Kalau kamu mau cerita silahkan, engga pun ga apa-apa.... Karena dengan kamu yang jujur begini aja, aku udah seneng,” kata Reiji kemudian.


“Makasih ya, Rei?-“


“I love you...”


Reiji berucap mesra, lalu mengecup singkat kening Malia.


“Too...” jawab Malia dan Reiji sontak terkekeh.


“Irit amat jawabannya?-“


“Love you too, Rei...” ucap Malia kemudian sambil tersenyum dan mengeratkan rengkuhannya pada Reiji.


“Love you more...” balas Reiji.


***


Selama tiga hari ini Reiji dan Malia benar-benar memanfaatkan waktu kebersamaan mereka untuk membangun semua hal yang bisa membuat keharmonisan kehidupan pernikahan mereka, termasuk juga menyediakan waktu untuk lebih saling mengenal lagi.


Yah, mau bagaimana?.


Pernikahan mereka berawal dari perjodohan.


Saling menerima nampak luarnya saja, namun tidak sepenuhnya.


Hanya status, meskipun jarang sekali ada pertengkaran diantara keduanya.


Hanya kadang dingin dan kecanggungan yang menyelimuti, walau hak dan kewajiban antar suami-istri sudah juga dijalankan.


Namun ya itu, ada ruang kosong yang memisahkan Reiji dan Malia dalam ikatan perasaan.


Yang mana ruang kosong itu semakin lebar menciptakan hampa, kala Malia terganggu dengan perasaan cintanya yang masih ada untuk seorang laki - laki dimasa lalunya.


Namun tetap cinta akan menunjukkan jalannya.


Cinta yang tulus tanpa pamrih, utamanya.


Yang mana bentuk cinta itu Malia lihat dan rasakan dengan jelas dari seorang Reiji.

__ADS_1


Jadi kiranya Malia menyadari dan menyesali keegoisannya.


Menekur dan introspeksi, serta memikirkan dan meresapi dalam – dalam bagaimana sebenarnya hatinya pada Reiji.


Dan ternyata, setelah Malia resapi dalam – dalam, rasanya sudah ada cinta yang bersemi disana.


Cinta untuk Reiji di dalam hatinya, hingga keputusan mutlak Malia ambil, dan ia kembali kepada komitmennya.


Komitmen yang menyadari Malia secara perlahan, bahwasanya memang sudah ada rasa pada Reiji sejak lama. Namun samar, tertutup oleh besarnya perasaan Malia pada kakak seniornya.


Dimana samarnya cinta Malia pada Reiji itu sebenarnya, ada, hanya tidak bergejolak saja.


Toh buktinya hati Malia berdesir jika Reiji berlaku hangat dan mesra padanya saat tiga bulan penjajakan sebelum pernikahan.


Malia pun pasti tersipu jika Reiji melontarkan kata – kata manis nan romantis, kadang kalimat enteng namun bermakna dalam – tapi sampai ke relung hati Malia yang paling dalam.


Cinta Malia pada Reiji yang sempat tertutup itu, kini telah terbuka sepenuhnya. Bahkan rasanya membuncah, setelah Malia benar – benar membuka hatinya untuk Reiji. Untuk pria yang selain memiliki pesona pada fisiknya, namun juga memiliki pesona pada kepribadiannya.


Well, selain omes.


*


MALIA


“Aku berangkat dulu Ya, Yang?”


Rei berpamitan padaku setelah ia sedikit tergesa menghabiskan sarapannya.


Karena hari ini, Rei sudah mulai melakukan tugasnya sebagai Pilot Pribadi dari keluarga owner maskapai yang menaungi Rei sebagai seorang Pilot selama ini.


Rei akan pergi ke Inggris, karena keluarga owner maskapainya itu sebagian berdomisili disana.


Kesan pertama, harus memberikan yang terbaik kalo kata Rei padaku. Karena Rei akan diperkenalkan terlebih dahulu dengan seluruh anggota keluarga Big Bossnya itu.


Aku sih percaya – percaya aja, karena memang dari yang aku lihat, Rei ga neko – neko orangnya.


Aku sering menangkap Rei yang menunjukkan ekspresi tidak peduli atau masa bodoh, jika ada perempuan – perempuan gatel yang memandanginya dengan ganjen, padahal mereka melihatku ada disamping suamiku itu.


Sempat aku berpikir jika Rei seperti itu hanya didepanku saja, tapi aku pernah melihat sendiri dari kejauhan – secara tidak sengaja, sedikit mendengar juga, betapa dinginnya Rei menanggapi seorang perempuan yang mencoba menarik perhatian Rei dengan sok – sok bertanya.


Yang mana kala itu Rei yang menungguku kala aku sedang mengharuskan diri pergi ke toilet dalam sebuah Mal, dihampiri oleh seorang perempuan cantik yang seperti aku bilang tadi, sok – sok bertanya pada Rei letak sebuah merchant dalam Mal tersebut. Yang pada akhirnya aku tersenyum geli dan tertawa jahat dalam hati, ketika perempuan itu ditanggapi benar – benar dingin oleh Rei, tanpa Rei sadari aku telah berada di belakangnya.


“Anda lihat itu? Meja informasi. Jadi bertanya disana, bukan pada saya.” Itu yang Reiji katakan pada perempuan yang jelas sekali mencoba menebar pesonanya pada Rei kala itu, namun kemudian perempuan tersebut tersenyum getir atas tanggapan Rei.


Tak lama Rei berbalik, lalu tersenyum lebar saat melihatku, sebelum ia merungut dan bilang,


“Lama banget, Yang? Aku dikerubungi nyamuk betina gatel tau?...”


Yang mana aku tau maksud ‘nyamuk betina’ apa yang dimaksud Rei itu.


Sadis banget mulutnya Rei kalo lagi nyinyir, emang.


Sok ganteng ya?


Tapi emang iya ganteng sih, suamiku itu.


Wajar nyamuk betina banyak yang mepet – mepet mencoba nempel ke Rei.


Untung aja Rei ga tanggepin itu nyamuk – nyamuk betina gatal yang mencoba menempel padanya.


Tapi tetap saja, aku harus waspada, bukan?

__ADS_1


Karena nyamuk – nyamuk betina itu bisa jadi ganas kalo udah niat mau menggoda seorang pria, tak peduli jika pria itu adalah pria beristri.


Begitu kan, jaman sekarang?


Ingat juga ucapan istri dari owner maskapai, Big Bossnya Rei, kala aku dan beliau memisahkan diri dari para pria yang mengobrol bahasan lain di kantor pribadi yang lebih mirip kamar hotel tipe suite.


“Suami kamu itu idola loh di maskapai ini, kalau saya denger cerita dari suami saya...” kata wanita cantik yang mungkin seumur mamaku itu.


Aku tersenyum saja mendengar penuturan wanita yang terlihat sederhana pembawaannya, namun anggun – selain barang – barang yang dikenakannya membuat jiwa keperempuananku meronta dengan hebatnya.


“Tapi kalau suami saya bilang, berdasarkan informasi dari orang – orang yang mengawasi kinerja di perusahaan ini, suami kamu itu meskipun gantengnya kayak gitu, tapi ga pernah keliatan tebar pesona loh. Bahkan katanya dari dia belum menikah... Salut deh. Makanya suami saya dan para saudara lelakinya memilih suami kamu itu menggantikan satu pilot pribadi kami yang sudah pensiun...”


Ada lega saat aku mendengar penuturan wanita cantik yang kiranya berusia paruh baya, namun percayalah, bahkan rasanya elastisitas kekencangan dan kesempurnaan kulitnya amat jauh di atasku.


Namun sedikit tercengang juga kala mendengar ia bilang ‘salah satu pilot pribadi kami’.


Aku seketika merasa jadi orang kaum pa-pa ya, mendengar itu?


Jadi, ada berapa pilot pribadi yang mereka punya, coba?


Jika satu orang pilot mereka berikan gaji seperti yang mereka berikan pada Rei, nominal yang mereka gelontorkan untuk dua orang pilot pribadi saja, rasanya bisa membeli mobil baru yang bukan mobil standar.


Ah sudahlah, aku kan jadi pening kalau ingat itu. Sampai – sampai aku sempat kepikiran loh, mereka itu apa aja sih bisnisnya sampe bisa kaya kelewatan begitu?


Well, aku teringat pada nasihat wanita paruh baya yang masih amat mempesona di usianya.


“Memperlakukan laki – laki itu sebenarnya gampang – gampang susah. Jangan terlalu dikekang, jangan juga kelewat dilepas. Tarik ulur macam layangan... Tapi perlu diperhatikan terus talinya, jangan sampai jadi layangan putus...”


Istri sang Big Boss itu berucap lalu ia tertawa cantik yang natural.


“Tapi kalau dari pendapat saya sih, suami kamu itu bucin ya sama kamu? Macam suami saya dan para saudara lelakinya. Tapi iya sih, suami saya juga bilang begitu, termasuk anak pertama saya yang udah bertemu dengan suami kamu itu. Mereka selalu tepat dalam menilai orang. Jadi selain kami meng – hire suami kamu atas kinerjanya yang bintang lima, pernah bilang juga itu mereka, kalau suami kamu itu adalah satu dari para buciners.”


Aku tersenyum lebar jadinya, mendengar ucapan istri Big Bossnya Rei itu.


Wanita paruh baya yang masih begitu mempesona walau usianya tak lagi muda itu, kemudian meminta maaf karena hanya beberapa asisten mereka yang datang ke pernikahanku dan Rei, mewakili mereka yang berhalangan karena sedang ada jadwal kumpul keluarga.


Hingga cerita sepintas mengenai keluarganya membuatku takjub, walau entah benar atau tidak ya, ada orang – orang kaya yang seperti itu. Yang menjunjung tinggi nilai keluarga. Karena setahuku, biasanya, para crazy rich kelewat egois dan sendiri – sendiri. Tapi istri Big Bossnya Rei itu bercerita dengan mata berbinar saat bercerita tentang keluarga besarnya itu.


Membuatku iri sih, sebagai anak tunggal, dan punya kerabat yang hitungan keluarga juga tidak banyak.


Tapi aku termotivasi juga, untuk membuat keluargaku dan Rei - jika Tuhan memberikan rezeki anak yang mudahan sih tidak hanya satu – menjadi seperti bagaimana keluarga dari Big Bossnya Rei itu, yang kedengarannya amat sangat harmonis.


Yah semoga, karena sudah terus hal itu, aku sematkan dalam ibadahku.


Yang semoga di dengar oleh Dia – Yang Maha Kuasa, meskipun mungkin ibadahku belum sempurna.


Positif thinking saja, jika suatu hari aku dan Rei akan diberikan kebahagiaan berlebih dengan kehadiran buah hati kami nanti.


Aamiin.


Dan selama dua minggu ini pun, Irsyad sudah tidak pernah lagi menghubungiku, bahkan mengirimkan chat padaku juga tidak.


Meski saat terakhir aku berbicara dengannya di telepon Irsyad terdengar kecewa dengan keputusanku, namun aku berharap dia akan segera mendapatkan jodohnya.


Mungkin, Irsyad marah padaku.


Namun ya sudah, itu haknya.


Aku hanya ingin hidup berbahagia dengan suamiku.


Semoga tidak ada lagi percobaan gangguan dari pihak manapun dalam hubunganku dan Rei.

__ADS_1



**Bersambung ....


__ADS_2