
Selamat membaca...
***
“Yang? ..”
Reiji mengucapkan panggilan sayangnya pada Malia seraya ia mengernyit.
Bukan tanpa sebab Reiji memanggil Malia dengan sebutan sayangnya pada sang istri seraya Reiji mengernyit di tempatnya.
Karena dalam pandangan Reiji – meskipun kamar pribadinya dan Lia dalam apartemen mereka itu gelap, namun Reiji yakin jika matanya tidak salah. Tempat tidurnya dan Lia kosong. Selain masih rapih.
**
REIJI
Aku sudah merasa sedikit heran dari sejak aku memasuki unit apartemenku dan Lia, karena lampu ruang tamu dibiarkan gelap oleh Lia.
Hal yang sedikit tidak biasa, karena Lia itu suka isengan orangnya jika sendirian di apartemen saat aku sedang jauh darinya.
Dan aku jadi heran lagi, ketika sejenak aku memperhatikan dari luar-setelah aku tepat berada di depan pintu kamar pribadiku dan Lia di dalam unit apartemen pribadi kami itu dan setelah aku meletakkan sembarang tas travelku di atas sofa ruang tamu, kamarku dan Lia itu nampak gelap.
“Yang? ..” panggilku seraya menyalakan lampu kamar, karena aku kian heran melihat tempat tidurku dan Lia kosong-bahkan masih tampak rapih.
Masa Lia belum pulang?....
---
Aku benar – benar kebingungan, karena Lia tidak ada di bagian manapun apartemen kami ini.
Yang mana selain bingung, tentu saja aku khawatir. Dimana aku langsung bergerak cepat untuk mengambil ponselku dalam navy bagku.
Ish!
Aku jadi mendesis tak sabar menunggu ponselku aktif dengan sempurna.
Tentu saja karena aku sedang sangat khawatir pada Lia yang tidak ada di unit apartemen kami di pagi buta seperti ini.
Jikapun Lia sedang iseng pergi ke lantai bawah - dimana ada beberapa gerai makanan dan minuman yang buka dua puluh empat jam, tidak mungkin tempat tidur kami itu masih sangat rapih adanya.
Satu – satunya alasan yang dapat aku simpulkan sekarang adalah Lia tidak pulang ke apartemen kami. Tapi kenapa? ....
Ah. Akhirnya ponselku sudah dapat digunakan, dan aku sesegera mungkin menghubungi nomor kontak ponsel Lia, mengabaikan notifikasi ponsel yang beruntun masuk tanpa aku memperhatikan notifikasi apa saja itu.
---
__ADS_1
Yang aku pikirkan saat ini adalah menghubungi nomor kontak ponsel Lia secepatnya.
Agar aku lekas tahu keadaan istriku itu yang kenapa sampai tidak pulang ke apartemen kami.
Selain aku sungguh sangat ingin tahu tentang dimana keberadaan Lia sekarang. Sepertinya aku harus menghubungi Andra setelah ini, untuk bertanya soal pelacak canggih yang pernah ia katakan padaku saat aku mengobrol dengannya kala itu.
Karena ponsel Lia, sialnya tidak aktif sepertinya sekarang.
Masa iya Lia kabur?...
Dengan si itu bibit pebinor?...
Ah macem – macem aja ini otak kalau lagi panik.
Aku menjauhkan dengan kasar ponselku dari telinga, kala aku tidak berhasil menghubungi Lia.
---
Lantas aku hendak menghubungi lagi nomor Lia.
Namun saat aku hendak kembali menghubungi Lia, aku tertegun sejenak dengan beberapa notifikasi di ponselku.
Dimana kebanyakan adalah notifikasi chat. Dan aku kemudian langsung membuka satu aplikasi chat sejuta umat tanpa pikir lagi, berharap jika aku mendapat kabar dari Lia via chat.
Dan ya aku mendapatkan kabar tentang Lia dalam chat pribadiku dengannya. Oleh karena itu, aku-tanpa mempedulikan tubuh letihku, langsung bergegas mengambil kunci mobilku di tempatnya dan tanpa lagi berganti pakaian, aku langsung keluar dari unit apartemenku dan Lia.
**
Ada Malia yang melesakkan dirinya di dekat beberapa orang yang ia temui di sebuah pinggir jalan besar, setelah Malia menjauh dari Irsyad dan mengancam pria dari masa lalunya itu agar tidak mengikutinya.
Dimana hal itu Malia lakukan karena ia merasa geram pada Irsyad yang telah berlaku kurang ajar dengan mencium bibir Malia dengan penuh paksaan, selain kasar.
Malia ikut berdiri berjarak dengan orang-orang yang berpenampilan kantoran seperti dirinya itu, yang sepertinya-entah menunggu jemputan, atau taksi kosong yang melintas.
Dan Malia juga hendak menunggu taksi kosong untuk segera bisa pergi dari tempatnya sekarang, dan resiko disusul Irsyad benar-benar tidak dia alami. Karena meski Malia begitu geram pada pria itu, namun tak menampik jika Malia juga merasa takut pada Irsyad yang Malia nilai sungguh jauh berbeda dari Irsyad yang dia kenal selama ini.
Perbedaan yang begitu jauh, perbedaan yang sangat negatif auranya.
‘Nanti tau – tau dia berenti di depan gue dan maksa gue ikut dia, terus entah pake alibi apa buat maksa gue! ...’
Namun dimasa Malia berdiri menunggu taksi kosong yang melintas itu, Malia kembali merasa paranoid pada Irsyad.
‘Engga! Engga! ... Gue ga boleh ada disini lama – lama!’
Monolog hati Malia yang sedang paranoid itu.
__ADS_1
Jadi Malia kemudian menggerakkan kakinya untuk pergi dari tempat ia berada sekarang.
‘Duh, tapi apartemen lumayan banget kalo jalan kaki dari sini ...’
Malia membatin lagi.
Sekali lagi Malia celingukan, menghentikan langkahnya sejenak, sambil melirik ke arah jalanan.
Berharap jika dirinya beruntung mendapatkan taksi agar ia bisa segera hengkang dari tempatnya itu.
Namun sayangnya bukan taksi kosong yang Malia lihat-dimana kendaraan itulah yang Malia butuhkan sekarang, namun sebuah mobil yang tadi sempat Malia tumpangi.
Mobil siapa lagi kalau bukan mobil Irsyad?.
‘Sial!’
Dan dengan spontan Malia merutuk dalam hatinya ketika matanya menangkap kehadiran mobil Irsyad dari belokan tempat pria dari masa lalunya itu membawa Malia tadi.
Malia langsung membuang muka dari jalanan.
Dan Malia mempercepat langkahnya, ketika ia melihat ada seorang pengendara ojol tak berpenumpang berhenti sedikit berjarak darinya.
“Pak, permisi,” sapa Malia pada pengendara ojol tersebut.
“Iya, Mba? ...“ Si pengendara ojol itupun menanggapi sapaan Malia dengan santun.
“Lagi nunggu penumpang ga Pak? Kalau engga, bapak mau ga anter saya ke daerah Pejaten? Saya sedang darurat ini Pak ...”
Malia berbicara dengan cepat dan tergesa, setelah ia memikirkan tujuannya.
Dimana tujuan yang Malia katakan pada si pengendara ojol itu, bukanlah daerah tempat gedung apartemennya dan Reiji berada.
“Bilang aja berapa, terserah Bapak, yang penting Bapak bisa anter saya.
“Oh bisa, bisa, Mba ... Ayo. Alhamdulillah malah saya ini, mau sekalian pulang juga, lumayan dapet ganti abis ada yang batalin pesanan ...”
Pengendara ojol tersebut menyahuti Malia dengan santun dan tersenyum lebar.
Dan Malia tersenyum lega, lalu langsung mendudukkan dirinya di boncengan motor si pengendara ojol yang Malia mintai bantuannya itu.
“Helmnya, Mba. Sekalian nanti di arahin sayanya.”
“Iya, Pak ... kalo bisa agak cepet sedikit ya, Pak? ...”
**
__ADS_1
Bersambung ...