WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 263


__ADS_3

Selamat membaca....


*************************


MALIA


Aku mendengar getar ponsel yang bersinggungan dengan suatu benda, saat aku sedang mematut diriku di dalam kamar mandi penthouse milik salah seorang anggota keluarga sultan yang mempekerjakan Rei sebagai pilot pribadi mereka.


Yang mana hal itu aku duga, karena aku melihat foto satu keluarga amat besar di dalam kamar penthouse yang kamar mandinya sedang aku gunakan ini. Dan memang aku yakin bangunan yang Rei bilang sebagai penthouse ini adalah milik salah satu dari mereka--yang fotonya dalam satu keluarga kecil, terpajang pada salah satu figura berdiri yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.


Kembali ke getar ponsel yang aku dengar, dimana aku langsung menebak, jika itu adalah suara getar ponsel Rei.


Karena ponselku—seingatku sih, sudah diambil Irsyad. Dan entah kemana rimbanya itu ponselku sekarang.


Tapi nanti coba aku tanyakan pada Rei.


Barangkali ada diantara mereka yang datang bersama Rei menemukan ponselku itu.


Meski seingatku Irsyad bilang telah membuangnya. Namun benar atau tidak aku tidak tahu.


Aku sih berharapnya, jika Irsyad menyembunyikan di satu tempat di dalam villa terkutuk itu. Lalu salah seorang yang datang bersama Rei menemukannya, dan membawakan juga tasku.


--


Getar ponsel yang aku dengar berasal dari pakaian yang aku ingat adalah pakaian yang Rei kenakan saat datang ke villa dan menyelamatkanku dari tindakan asusila Irsyad padaku.


Kaos kerah yang Rei kenakan saat menyelamatkanku itu yang paling aku kenali, dan berada di atas celana yang juga terlipat sembarang seperti kaos tersebut.


Dan aku mendengar getar ponsel yang sepertinya bersinggungan di atas permukaan suatu benda itu, asalnya dari dekat tumpukan pakaian Rei itu.


Jadi aku langsung menggeser pakaian Rei.


Dan benar saja, ponsel Rei ada di sana.


Namun tak lagi bergetar saat aku telah meraihnya. Dan balon notifikasi terpampang, saat aku telah memegang ponsel Rei itu.


Notifikasi aplikasi yang menampakkan deretan pesan dari beberapa nama, yang aku ketahui sebagai para sahabat lelaki Rei.


Hanya saja ada satu pesan yang tak bernama, ada di barisan paling atas balon notifikasi. Yang mana isi dalam baris pesan yang terpampang itu membuatku penasaran.


Tapi inget Ji, lo ada janji sama gue.


Yang sepertinya ada terusannya.


Namun tak terpampang di balon notifikasi, makanya aku penasaran.


Karena pesan itu berasal dari satu nomor yang tidak tersimpan di daftar kontak ponsel Rei.


Tapi herannya, isi pesan chat itu seperti sebuah penekanan. Sebuah hal penting yang bersangkutan coba ingatkan pada Rei.


Yang mana seharusnya, nomor kontak orang itu Rei simpan di daftar kontak ponselnya bukan?


Tapi ini tidak.


--


Aku ragu sih sebenarnya, untuk mengecek ponsel Rei saat dirinya tidak ada di dekatku. Karena biasanya aku iseng melihat-lihat isi ponsel Rei, aku akan bilang dulu padanya. Walau sepintas lalu.


Tapi pesan dari nomor tidak dikenal itu membuatku penasaran.


Sedikit teringat pesan misterius yang aku dapat dari Irsyad yang menuntunku untuk memergoki Rei di apartemen si bibit pelakor, setelah ia mengirimkan foto kebersamaan Rei dan si bibit pelakor bernama Shirly itu.


Mungkinkah Rei mendapatkan hal yang semacam itu? .....


Pesan misterius, dari nomor misterius, milik seseorang yang misterius.


--


Ah entahlah.


Satu – satunya cara untuk mencari tahu, adalah dengan membaca pesan chat itu secara keseluruhan.


Selain aku teringat pada si bibit pelakor, dan jadi ingin tahu dengan mencari tahu sendiri—sejauh mana sebenarnya hubungan Rei dengan dia.


Juga penasaran dengan anak laki – laki yang aku yakini adalah anak si bibit pelakor. Yang mana membuatku terganggu setelah sempat mendengar dia memanggil Rei dengan sebutan ‘Papi’.


Yang aku pikirkan hal itu, saat aku sudah mendapatkan ponsel Rei dalam genggamanku.


Dan pesan chat yang aku baca setelahnya, membuat aku kian gatal untuk mengecek isi satu aplikasi di ponsel Rei.


Hingga setelah menimbang – nimbang, aku putuskan untuk melihat – lihat pesan chat yang ada di ponsel Rei itu.


Aku rasa tak masalah, karena Rei toh juga sudah memberikanku ijin untuk bebas saja melihat isi ponselnya.


Passwordnya pun aku tahu, yang mana angka yang digunakan adalah tanggal ulang tahunku.


Bahkan password mobile dan e – bankingnya Rei pun aku tahu. Berikut pin atmnya yang sama dengan password mobile bankingnya.


Jadi aku putuskan untuk membuka kunci ponsel Rei dengan menggunakan tanggal ulang tahunku.


Semoga saja Rei belum merubahnya. Karena kalau iya, akan langsung aku tanyakan kenapa dengan mencecarnya.


Dan jika angka lain yang digunakan, yang mana angka – angka itu asing bagiku—akan aku sudutkan Rei, untuk jujur – sejujur jujurnya---Pasti itu!


--


Sekali lagi, aku merutuki diriku yang sudah duluan berpikir yang bukan – bukan tentang Rei. Karena ternyata, angka untuk membuka password ponselnya itu adalah masih enam digit tanggal ulang tahunku.


Dan karenanya, aku spontan tersenyum lega.


Namun senyumku menghilang berganti dengan wajah cemberut karena kesal, ketika aku membaca pesan dari nomor yang tidak Rei simpan di nomor kontaknya itu—dimana pesan chat tersebut ada di barisan pertama dalam aplikasi.


Jadi aku membukanya duluan.

__ADS_1


Dan pesan chat di baris pertamanya lah yang menjadi alasan senyumku berganti cemberut.


--


Ji, ini gue Irly.


Sebaris kalimat itu yang aku baca pertama ketika aku sedang mengecek isi sebuah aplikasi dalam ponsel Rei.


Sebaris chat yang membuatku spontan merungut. Tapi kemudian aku tersenyum lagi, meskipun sedikit heran.


Namun keherananku tentang mengapa Rei tidak menyimpan nomor si bibit pelakor itu terjawab, setelah membaca sebaris chat lagi di bawahnya.


Gue ga ngerti kenapa lo blok nomor gue yang lama. Jadi terpaksa gue beli nomor baru demi bisa menghubungi lo.


Begitu orang  dengan nomor yang katakanlah tidak dikenal, dan mengaku sebagai si bibit pelakor—tulis di barisan chat keduanya.


Dan aku membaca satu per satu chat dari si bibit pelakor yang katanya menggunakan nomor baru itu.


Gue udah cerita sama Babas, Aldo dan Irfan tentang kejadian di apartemen gue hari itu. dan gue juga bilang sama mereka kalo lo blok nomor gue. Yang gue ga ngerti kenapa lo lakuin itu. Padahal kalo mau diurutin siapa yang salah, ya kesalahan paling banyak ada di istri lo. Dia bahkan tega mendorong Argan.


Dan sampe sekarang gue ga ngerti salah gue, sampe lo blok nomor gue yang lama. Apa karena permintaan istri lo yang cemburuan itu?


Terus elo mau aja di setir gitu sama istri lo dan mengorbankan persahabatan kita yang udah jauh terjalin selama belasan tahun?


Ish, ngeselin banget ini bibit pelakor ya?


Dianya aja yang ga sadar diri.


Masih sering gangguin sahabatnya yang udah punya kehidupan sendiri. Yang udah nikah dan punya istri!


Tau gini aku robek aja mulutnya sekalian. Ga cuma aku tampar!


Hish! Selalu saja dia bisa membuatku merasa kesal. Bahkan chatnya aja ngeselin!


--


Aku terus membaca pesan si bibit pelakor yang belum lama masuk ke ponsel Rei.


Namun beberapa pesan di atasnya, aku lihat terjeda waktu. Dimana ada panggilan tak terjawab dari nomor itu juga.


Ji, kita tuh perlu ngomong. Lo ga bisa menghindari gue begini.


Ji, angkat telepon gue!


Ji, please .....


Dan aku spontan tersenyum membaca pesan chat si bibit pelakor yang terkesan kesal lalu mengiba karena tidak mendapat tanggapan dari Rei.


Sukurin!


--


Aku lalu melanjutkan membaca pesan chat yang berentet dari si bibit pelakor itu dengan nomor barunya.


Pesan chat yang menggambarkan jika si bibit pelakor itu benar – benar mengiba pada Rei. Lalu hanya terjeda sebentar, dan waktu dari pesan chat tersebut aku lihat bersambung ke panggilan dalam aplikasi sejuta umat itu.


Dan terakhir, isi pesan chat dari nomor yang pengirimnya mengatakan jika dia adalah Irly—Shirly sebenarnya.


Irly adalah panggilan akrab Rei ke si bibit pelakor itu.


Isi chat setelah sebaris chat di bawah ini darinya itu, membuatku mengernyit dalam.


Lo bener – bener berubah ya Ji? Sejak nikah kayaknya lo jadi Reiji yang bukan gue kenal selama ini. Ya udahlah, gue sih terserah elo aja.


Kalau chat ini sih, lagi - lagi tulisannya membuat aku spontan merasa geregetan kesal pada si bibit pelakor itu.


So?


Masalah buat lo, Shir?!


Wajar dong Rei berubah?


Orang dia udah nikah kok!


Dan dia nikah sama gue! Dan akan gue tepis jauh – jauh para bibit pelakor dari suami gue! Termasuk perempuan bertopeng sahabat!


Hufft .....


--


Aku benar – benar kesal membaca pesan chat kedua dari chat terakhirnya si bibit pelakor itu. Membuatku jadi berpikir untuk mendatanginya sekarang juga, lalu melabraknya biar sekalian juga mempermalukannya di area tempat tinggalnya itu agar dia sadar diri.


Apa sih maksudnya nulis begitu?


Apa si bibit pelakor itu ingin membahas masa dimana Rei pernah jatuh cinta ke dia?


Untuk apa coba?


Ah aku tahu!


Mungkin saja si bibit pelakor itu menyadari betapa mapannya Rei sekarang.


Jadi dia yang dulu menolak Rei sekarang punya perasaan, selain memanfaatkan kemapanan Rei saat ini.


Cih!


Enak saja!


Rei diminta jadi pilot pribadi setelah menikah denganku!


Jadi hoki Rei ada di aku dong?!


Hufft .....

__ADS_1


Selalu saja si bibit pelakor itu membuatku darting tiba – tiba.


--


Oke, kembali lagi pada pesan chat si bibit pelakor bernama Shirly itu. Yang mana pesan chat terakhirnya itu membuatku mengernyit dalam, hingga aku bertanya – tanya dalam hati.


Tapi inget Ji, lo ada janji sama gue. Dan lo bersumpah akan memegang teguh itu janji, apapun yang terjadi.


Ada janji apa Rei sama si Irly itu, sampai pesan chatnya ini seolah memberi penekanan pada Rei?


**


Disaat Malia sedang menggumam dan bertanya – tanya sendiri terkait pesan chat dari Shirly yang masuk ke dalam ponsel Reiji, pintu kamar mandi penthouse tempatnya berada--terbuka dari luar.


Membuat Malia terkesiap, sedikit terkejut—karena pintu kamar mandi yang terbuka secara tiba – tiba itu. Yang mana orang yang membuka pintu tersebut, adalah Reiji. “Yang? .....” sebut Reiji.


Lalu Reiji dan Malia langsung bersitatap sedetik kemudian.


Dan juga, mata Reiji dengan spontan melirik ke arah tangan Malia.


‘Duh! Keburu Lia pegang, lagi itu ponsel gue! ......’ was – was Reiji dalam hatinya. ‘Mudahan ga ada chat aneh – aneh yang masuk dan keburu dibaca Lia. Kalo pun ada, mudahan Lia baru cuma megang itu ponsel gue .....’ harap Reiji dalam hatinya juga kemudian.


**


Menyadari jika Reiji melirik tangannya, Malia langsung saja berkata, “Kamu cari ini?”


Reiji lalu tersenyum pada Malia yang barusan berkata sambil mengulurkan tangannya yang sedang memegang ponsel Reiji itu.


“Iya,” jujur Reiji.


“Ada sesuatu yang urgent?”


‘Kayaknya ada yang ga beres nih.’


Hati Reiji yang merasa ada sesuatu saat ia memperhatikan air muka Malia itu berbisik.


Namun meski sedikit merasa was – was, Reiji menampakkan lagi senyumnya pada Malia.


“Engga, aku ----“


“Kalo yang kamu rasa urgent itu adalah pesan chat dari sahabat perempuan kamu .....”


Malia keburu menukas ucapan Reiji, sebelum suaminya itu menjawab lengkap pertanyaan Malia sebelumnya.


“Kebetulan, orangnya kirimin kamu banyak chat plus banyak panggilan tak terjawab .....” sambung Malia. Sambil tangannya masih menggantung di udara sambil menyodorkan ponsel Reiji pada si empunya.


‘Maksud Lia orangnya kirimin gue banyak pesan chat tuh maksudnya Irly yang kirim itu chat? .....’


Reiji sontak bermonolog dalam hatinya setelah mendengar ucapan Malia sebelumnya.


‘Nomor Irly kan udah gue blok?’


Reiji sedikit merasa heran.


“Nih .....”


Dan dalam Reiji bermonolog, Malia bersuara sambil mengkode agar Reiji segera mengambil ponsel miliknya dari tangan Malia yang sedang memegangnya itu.


"And, sorry aku udah baca duluan chatnya ....."


**


REIJI


Aku langsung meraih ponselku dari tangan Lia, setelah ia menyodorkannya lagi padaku.


Merasa heran dengan ucapan Lia yang aku maknai jika ada pesan dari Irly yang masuk ke ponselku itu.


Karena aku memang sudah memblok nomor kontak Irly, setelah aku menyadari Lia tidak pulang ke apartemen kami.


Yang mana saat itu aku berpikir jika Lia pasti sedang marah besar padaku, karena memergokiku berada di apartemen Irly, padahal aku mengatakan pada Lia jika aku sedang meeting di kantor pusat maskapai yang menaungiku.


Jadi keputusan untuk benar - benar mengakhiri persahabatanku dengan Irly kemudian aku ambil dengan matang. semata - mata karena aku ingin rumah tanggaku dan Lia merasa tentram, selain aku ingin Lia tak pernah ragu jika aku sangat mencintainya.


Dan untuk itu pastinya aku memilih Lia daripada persahabatanku dengan Irly, yang Lia tidak sukai.


--


Well, aku yang terheran dengan ucapan Lia yang menyiratkan ada pesan masuk dari Irly untukku,  menjawab keherananku itu dengan aku yang lantas menerima sodoran ponselku dari tangan Lia.


Dimana saat aku menerimanya, ponselku dalam kondisi tidak terkunci. Dan satu ruang chat pribadi yang terbuka, terlihat di layarnya.


Layar yang menampakkan chat dari nomor yang tidak dikenal.


Sial!


Benar dari Irly ternyata.


Dan sialnya kenapa dia membahas segala janjiku padanya itu terkait Argan?!


Lebih sial lagi karena terbaca oleh Lia.


“Jadi, kalau boleh aku tau, kamu ada janji apa sama sahabat kamu yang kayaknya dia tekankan banget di chatnya itu.”


Aku baru selesai membaca keseluruhan chat Irly dari nomor barunya. Lalu aku dengar Lia berkata seperti itu seraya ia bertanya dengan tatapan menyelidik padaku.


“Jangan – jangan kamu janji buat nikahin dia?”


*****


Bersambung .....


Terima kasih masih setia.

__ADS_1


__ADS_2