
Selamat membaca....
^0^ - ^0^ - ^0^
“Kamu keterlaluan Lia!”
Adalah hardikan yang dilontarkan Reiji untuk yang kedua kalinya pada Malia.
Sambil Reiji menghampiri dan meraih anak lelakinya Shirly, yang sedang menangis akibat terdorong oleh Malia yang tadi menyerang ibunya, hingga kepala anak lelaki Shirly itu, sampai membentur dinding tempat tidur.
“Kepala Argan sakit?” Lalu langsung kembali perhatian kepada anak lelaki bernama Argan itu, setelah Reiji menghardik Malia untuk yang kedua kalinya.
Lalu setelahnya, Reiji nampak kompak dengan Shirly dalam mencoba menenangkan anak lelakinya Shirly itu.
Dan kala hal itu berlangsung, Malia masih terpaku di tempatnya. Selain terkesima setelah dibentak Reiji sebanyak kurang lebih dua kali, meski yang kedua tidak sekeras yang pertama, namun tetap saja mendapat hardikan dari Reiji membuat Malia mencelos hatinya.
Meski setidaknya, hardikan Reiji yang pertama menyadarkan Malia dari kebarbarannya kepada Shirly.
Selain karena Malia terkejut juga. Terkejut karena pekikan keras anak kecil dan hardikan Reiji itu.
Tapi sekarang yang mendominasi hati Malia adalah rasa yang amat sangat tidak nyaman karena pemandangan di depannya.
Dan disela rasa tidak nyaman yang sedang dirasakan Malia melihat pemandangan bagai sepasang orang tua yang sedang menenangkan anak mereka yang menangis, suara Reiji terdengar lagi.
“Puas kamu?...” kata Reiji.
Yang membuat Malia rasa tercubit hatinya.
Karena meski bukan lagi sebuah hardikan, namun nada suara Reiji begitu ketus.
Dengan Reiji yang mendekap anak lelakinya Shirly itu.
Sambil juga Reiji memberikan pandangan yang tak bersahabat pada Malia.
Lalu Reiji memalingkan wajahnya dari Malia, dan nampak lagi fokus mengecek kondisi anak Shirly yang belum habis menangis itu.
Dimana Reiji tidak menyadari, jika Malia telah menggerakkan kakinya untuk bergeser dari tempatnya berdiri dan kemudian keluar dari kamar juga dari apartemen Shirly.
BLAM!
Suara pintu yang ditutup dengan keras pun sampai ke dalam kamar Shirly.
Di detik dimana, “Lia...“ Reiji terkesiap.
⚪⚪⚪
“Argan sama Mami, ya?...”
Reiji yang menyadari kepergian Malia itu, langsung berkata pada anak lelaki Shirly yang berada di atas pangkuannya.
“Ir---“
“Nda mau!” Dimana anak lelaki Shirly langsung menolak dengan cepat ketika Reiji sudah bersiap untuk memberikannya pada sang ibu. “Algan maunya sama Papiiii---“
“Maaf ya Argan, tapi Papi harus pergi...”
Dengan Reiji meraih anak lelaki Shirly itu lalu memberikannya pada sang ibu dan Reiji langsung bangkit dari posisinya.
“Sorry Ir, mungkin ini yang terakhir gue ke sini...”
Reiji berujar.
“Tapi Ji---“
“Yuk, gue pamit.”
Reiji menukas ucapan Shirly dan langsung melangkah pergi, meski tidak tega juga pada anak lelaki Shirly yang nampak menangisinya itu.
Tapi bagaimanapun Reiji harus segera mengejar Malia, sang istri yang tadi sudah ia kasari---yang benar-benar baru Reiji sadari bagaimana sikapnya pada Malia tadi.
Lalu setelah dari apartemen Shirly Reiji berlari, ke arah lift yang mudah-mudahan ia harapkan bisa bertemu Malia di sana.
*‘S*t!’
Namun sayangnya tidak, Reiji tak sampai mengejar Malia yang memang sudah tak terlihat ketika Reiji sampai di lorong lift pada lantai apartemen tempat unit Shirly berada.
Reiji langsung mengumpat dalam hati sambil meremat rambutnya, setelah merasa tak berhasil mengejar Malia.
Kemudian menekan – nekan tombol lift yang Reiji rasa lama sekali sampai ke tempatnya, hingga Reiji lalu berlari ke arah tangga darurat saking ia tak sabar untuk bisa segera mengejar Malia.
Dimana usahanya yang berlari dengan cepat menyusuri anak tangga di dalam koridor darurat itu nyatanya tak membuahkan hasil yang bagus untuk Reiji, karena Malia pun tidak Reiji lihat lagi di lobi.
__ADS_1
Reiji Frustasi, lalu setengah berlari menuju area luar lobi.
Celingak – celinguk di pelatarannya, sampai Reiji cari di area parkiran hingga ke tempat Reiji memarkirkan mobilnya. Nihil, lalu Reiji berlari lagi ke arah portal masuk apartemen dan celingak – celinguk di sana , sambil bertanya pada petugas gerbang masuk perihal Malia yang Reiji sebutkan ciri – cirinya.
Dan gelengan serta kalimat, “Maaf Pak, ga lihat.”
Reiji dapatkan dari si petugas pintu masuk gedung tersebut.
Membuat Reiji jadi lesu seketika dan setengah berlari menuju mobilnya.
⚪⚪⚪
REIJI
“BERHENTI JADI LAKI-LAKI MUNAFIK REI! DAN AKUI AJA KALAU DIA ADALAH ANAK HARAM KALIAN!”
Aku mengingat perkataan Malia dengan berteriak yang membuatku terkejut bukan main.
Karena aku sungguh tak menyangka jika tudingan separah itu Lia sampai lontarkan untukku.
Kenapa bisa Lia memandangku serendah itu???!!!
Namun begitu, yang aku sampai tak habis pikir adalah, bagaimana Lia bisa sampai ke unit apartemen Irly?!
Apa Lia mengikutiku, atau menyuruh seseorang menguntitku?...
Ah taulah!
Masa bodoh dulu bagaimana Lia bisa tahu apartemen Shirly, karena memang Lia tak pernah mau setiap kali aku ajak kesana.
Dan seingatkupun, aku tidak pernah mengatakan dimana Shirly tinggal karena Lia tidak pernah tanya.
Sekali lagi, bagaimana itu nanti sajalah dulu.
Yang jelas sekarang ini aku harus menemukan Lia, dan memberikan penjelasan padanya.
Selain meminta maaf karena telah menghardiknya tadi, karena emosinya yang tak terkendali itu Argan hampir celaka.
Bukan apa, melainkan aku khawatir karena Argan baru pulang dari rumah sakit setelah mendapatkan penanganan serius.
Tapi Lia malah salah paham dengan menudingku memiliki ‘dosa’ yang aku sembunyikan di belakangnya.
Aku ga segila itu, Yaaannnngggg...
Tapi jangankan melontarkan ucapan itu padanya, ini aja aku coba menghubungi Lia dari sejak aku selesai menyusuri jalanan sepanjang komplek gedung apartemen tempat tinggal Irly---panggilanku tak satupun yang Lia gubris.
Di reject aja engga.
Lia memilih mengabaikan panggilanku hingga waktu memanggil habis sendiri---yang kuulang sampai beberapa kali.
Hingga kemudian, usaha untuk membangun komunikasi dengan Lia selagi aku mencarinya, aku sambung di chat pribadi.
Dan hasilnya?...
Sama, nihil. Aku tak mendapat respons sama sekali dari Lia.
Padahal kesemua chat yang aku kirimkan dengan kalimat yang kurang lebih sama, sudah Lia baca semua.
Lalu voice note kemudian menjadi pilihanku untuk bicara sekaligus memohon.
"Lia, please terima panggilan aku. Atau seengganya jawab chat aku..."
Sambil aku menyetir, aku kirimkan beberapa pesan suara setiap kali ada kesempatan.
Pun aku tetap berusaha menghubungi ponsel Lia yang aktif namun panggilan teleponku benar-benar tidak mau Lia terima.
Dan satu lagi, pesan teksku Lia baca, namun pesan suaraku tidak nampak Lia terima.
Mungkin Lia sedang malas bicara denganku dan enggan mendengar suaraku yang tadi sempat membentaknya, ya?...
Ya sudah, Lia sedang emosi – itu yang menjadi sugestiku, hingga aku berhenti menghubungi dan menjalin komunikasi via ponsel dengan Lia.
Karena otakku langsung dengan cepat memerintahkan, agar aku segera menggaspol mobil menuju gedung apartemen tempat tinggalku dan Lia yang kemungkinan sudah sampai di sana.
Pasti, Lia sudah menungguku untuk ribut di sana.
Tinggal mempersiapkan diriku saja untuk menerima cecaran, omelan atau bahkan caci maki dari Lia.
Akan aku telan saja---jika Lia sampai melontarkan caci maki padaku, bahkan lebih dari dia yang mengatakan aku adalah laki-laki munafik sebelum Lia menudingku rendahan.
Mungkin harus bersiap juga, jika saat pintu apartemen tempat tinggalku dan Lia aku buka---aku akan disapa dengan sebuah barang yang melayang di udara.
__ADS_1
Piring, misalnya.
Tapi tidak, aku tidak mendapatkan sambutan dari semua yang aku khawatirkan aku terima dari Lia.
Karena apartemen kami sunyi saja, selain masih gelap lampu ruang depannya.
Aku dirundung resah karenanya, tapi aku berpikir jika Lia ada di dalam kamar kami.
Jadi kumantapkan kakiku ke sana, setelah sebelumnya aku mengecek kamar mandi dan kamar serbaguna kami.
Tak ada.
Berlanjut ke kamar, pun tak ada.
Apa Lia menginap di hotel lagi?
⚪⚪⚪
Pikir Reiji, hingga chat kemudian ia ketik dan kirimkan setelah meyakini jika Malia tidak berada di dalam apartemen mereka.
Kamu dimana, Yang? Aku udah di apt. Aku ngerti kamu marah, tapi setidaknya kasih tau aku kamu dimana. Kalo kamu lagi ga mau dulu ketemu aku sampai marah kamu reda, ga apa. Aku terima. Tapi paling engga aku tau kamu dimana.
Yang sudah Reiji kirimkan ke nomor kontak Malia.
Namun pesannya kali ini tidak langsung dibaca Malia.
Bukan hanya centang dua, tapi centang satu. Yang berarti bagi Reiji, jika Malia telah menonaktifkan ponselnya.
Gemas, sebal lalu kesal---setelah setiap lima menit hingga berjam – jam, ponsel Malia tidak aktif juga.
Hingga sampai tengah malam pun sama, ponsel Malia belum aktif sama sekali.
“Selamat malam,”
Reiji yang tak sabar menunggu kabar dari Malia mencoba peruntungannya dengan mendatangi hotel yang pernah di booking Malia dan dirinya untuk salah satu kamarnya.
Tapi jawaban, “Tidak ada tamu dengan nama yang seperti anda sebutkan namanya tadi, Pak.”
Itulah yang Reiji terima, namun mengingat pengalaman sebelumnya jika Malia sempat juga main kucing – kucingan dengannya, Reiji tak langsung percaya.
Lalu keputusan untuk tidak segera hengkang dari hotel tempatnya berada pun Reiji lakukan, sambil otaknya berputar kira – kira siapa yang ia bisa mintai tolong untuk benar – benar memberikan informasi yang akurat mengenai hotel yang Reiji duga Malia menginap di salah satu kamarnya.
Judulnya menemukan Malia dengan segera, masalah diajak adu mulut oleh istrinya itu nomor dua.
‘Tuan Alva dan Tuan Jo bisa kali ya?... Eh iya, bodohnya gue. Pasti bisa mereka berdua bantu. Ini kan hotel salah satu Dad nya mereka...‘
Kemudian, sungkan tak sungkan Reiji mengirimkan pesan langsung kepada dua orang yang sedang ia pikirkan untuk meminta sebuah bantuan.
Urgent soalnya.
“Istri kamu memang ga ada di hotel milik Dad R itu, Rei...”
Dan ketika jawaban itu langsung Reiji terima dari salah seorang Tuan Muda yang mendominasi juga perannya, Reiji berkesah dengan beratnya.
‘Duh Liaa, masa semua hotel harus aku cek satu – satu??...’
Pening di kepala Reiji pun melanda, kesal pun mulai timbul juga.
Apalagi saat satu Tuan Muda itu bilang, “Kau sedang membuntuti istrimu karena mencurigainya atau dia yang kabur karena kau ketahuan selingkuh?”
‘Ya elah, kepo banget ini Tuan Muda...’ hati Reiji yang sebal. “Biasalah Tuan Alva, kalau suami kelewat posesif sama istri ya begini. Ditambah istrinya kalo ngambek suka sembunyi, ya mohon maaf saya jadi mengganggu anda di jam seperti ini.”
Lalu dengusan geli terdengar dari seberang ponsel Reiji. “Tidak masalah. Aku kebetulan memang belum tidur.”
Kemudian Reiji pun mohon ijin memutuskan sambungan telepon pada yang bersangkutan setelahnya.
⚪⚪⚪
Reiji mengerang kesal dalam hatinya, setelah mendapat kepastian jika Malia tidak ada di hotel yang Reiji duga jika istrinya itu ada di sana. Mengacak kasar rambutnya, karena bingung harus kemana mencari Malia.
Rumah kedua orang tua, adalah sasaran Reiji berikutnya.
Dan kemudian ia coba hubungi dua pasang orang tua, yang merupakan orang tua dan mertua untuk menanyakan Malia dengan alasan yang sama yang pernah Reiji gunakan saat Malia juga pernah bersembunyi seperti sekarang.
Namun jawaban jika Malia tidak ada di rumah dua pasang orang tua itu yang kemudian mengatakan hal yang kurang lebih sama, “Mungkin Lia udah di apartemen, jadi kamu langsung aja ke sana. Udah tidur kali, makanya telepon kamu ga kejawab.” Yang kemudian langsung Reiji iyakan.
Kembali ke apartemen tempat tinggalnya dan Malia kemudian menjadi pilihan, dimana Reiji mensugesti dirinya untuk sabar dan tenang, karena toh sebelumnya, Malia hanya sehari saja menghindarinya.
Tapi kegusaran kembali melanda Reiji, bahkan khawatir berkepanjangan. Karena sudah 1x24 jam dari sejak Reiji mencarinya, Malia tak juga pulang, pun tak dapat dihubungi sama sekali.
⚪⚪⚪⚪⚪⚪
__ADS_1
Bersambung...