WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 143


__ADS_3

Terima kasih masih setia...


***


Selamat membaca...


***


MALIA


Kak, maaf sepertinya aku ga bisa terima undangan ketemuan dengan Kakak nanti siang.


Aku langsung mengetik dan mengirimkan chat balasan pada Irsyad, setelah aku selesai menghubungi Reiji.


Hanya seperti itu saja.


Tanpa perlu aku berikan penjelasan mendetail alasan aku menolak undangan Irsyad untuk bertemu lagi.


Memang rasanya tidak perlu memberi alasan pada Irsyad kenapa aku menolak undangannya itu kan?.


Toh Irsyad kan, bukan ‘someone special’ ku?.


Jadi aku hanya perlu menuliskan jika aku tidak bisa menerima ajakan Irsyad untuk bertemu.


Setidaknya untuk sekarang ini.


Jika nanti kapan – kapan Irsyad mengajak lagi, ya aku tergantung lagi gimana kata Pak Reiji Shakeel. Bapak suami yang bijak tapi mesum itu.


Yang hatinya seluas samudra, karena tidak mengekangku untuk mengambil keputusan apapun.


Tapi meski begitu, aku harus menjaga hati Reiji sekarang, karena hatiku sudah tertaut padanya. Jadi aku tidak ingin mengecewakan Reiji lagi, tidak ingin Reiji bersusah hati karena keputusanku secara sepihak.


***


“Lama banget lo Jeng nyusul kesininya.” Malia disambut dengan celetukan Aniel yang sedang menyantap bekal sarapannya, kala Malia telah sampai ke pantri kantor yang tersedia di lantai tempatnya bekerja itu.


“Telpon akang suami dulu bestih!”


Malia menyahut geli, sambil ia membuka kabinet tempat cangkir dimana di dalam kabinet tersebut tersimpan cangkir-cangkir bertuan yang tidak boleh digunakan sembarangan orang selain pemiliknya.


Malia mengambil cangkir miliknya, lalu menyeduh kopi sachet ragam varian yang memang disediakan oleh perusahaan tempat Malia bekerja untuk para karyawannya, selain teh dan beberapa minuman sachet selain jenis kopi.


“Ih gilingan bekel nasi goreng lo sebanyak tadi, sanggup lo abisin?!...”


Malia mendelik melihat pada tempat makan Aniel yang isinya sudah hampir ludes.


“Please deh! Lo pikir lambung gue segede kantong Doraemon yang pintu aja masuk?”

__ADS_1


Malia pun terkikik mendengar protes dari salah seorang rekan kerjanya itu. “Ya kali? ---“ tukas Malia.


“Gue kasih ke si Mini Mouse sebagian.”


“Bae bener ---“ sahut Malia, namun ia menggantung kalimatnya, karena nada notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya.


Yang kemudian langsung Malia lihat pesan yang baru masuk ke ponselnya itu yang merupakan sebuah pesan chat.


“Pak Andra udah dateng?” celetuk Aniel karena ia melihat Malia mendengus saat ia melihat temannya itu mendengus kala membaca pesan chat yang masuk ke ponsel Malia.


Malia menggeleng. “Pak Andra kan masih di Bali en besok baru ke kantor. Bukan dari dia ini chat barusan.” kata Malia pada Aniel.


Aniel manggut-manggut. “Gue kira dari dia...” kata Aniel. “Muka lo kayak gitu biasanya abis dapet chat dari Pak Andra yang nyecer laporan.”


Malia tersenyum tipis. “Gue udah bilang sama Pak Andra laporan abis maksi selesai.” Ucap Malia. “Jadi sampe entar jam satu dia ga bakal ganggu gue.”


“Trus kenapa muka lo begitu?-“ tukas Aniel. “Laki lo ga pulang ini hari?”


Malia manggut-manggut sambil kembali melirik ponselnya yang terdengar lagi suara nada notifikasi pesan masuk.


“Terbang ke luar negeri? –“


“Iya.”


“Ke?” tanya Aniel lagi.


“Eropa –“


Malia ikutan terkekeh. “Tuh tau!”


“Ish gue jadi penasaran sama laki lo.”


“Ih! Amit deh penasaran sama laki orang!”


Malia mencebik dan Aniel terkekeh sambil ia berdiri setelah rapih sarapan.


“Ya penasaran lah... secara body laki lu el emen banget. Ga kebayang lo gimana dipakenya ama dia...”


Malia mendelik tajam pada Aniel. “Amit ish! Aniel pagi-pagi!” gerutu Malia kemudian. Dan Aniel tergelak.


“Kuat banget tuh pasti Pak Pilot yak?!”


Malia pun mendesis selepas mendengar celotehan satu rekan kerja yang paling akrab dengannya di kantor itu.


“Susah emang kalo otak mesum!” ejek Malia dengan canda. “Ga pagi siang malem, otak lo menjurus ga kelar-kelar.”


Aniel tergelak lagi, lalu ia dan Malia berjalan bersama untuk keluar dari pantri dan kembali ke kubikel kerja mereka.

__ADS_1


***


Malia menghela nafasnya setelah ia telah duduk di kubikel kerjanya, dan waktu untuk bekerja telah dimulai. Aniel juga sudah nampak fokus dengan pekerjaannya, tapi tidak dengan Malia. Malia sedikit tidak fokus dengan pekerjaannya, karena ada panggilan terus-menerus yang masuk ke ponselnya yang telah Malia atur ke mode getar saja.


‘Duh, Irsyad nih ga inget apa kalo ini jam kerja gue? –‘ keluh Malia dalam hatinya. ‘Tapi kenapa ya dia kayak nyecer gue begini? –‘


Malia bertanya-tanya dalam hatinya.


Bukan tanpa sebab Malia sedikit merasa heran pada Irsyad.


Dari sejak sebelum Irsyad yang menghubunginya terus-menerus itu, pesan chat dari pria masa lalunya tersebut telah lebih dulu masuk ke ponselnya saat Malia sedang di pantri kantornya tadi.


Pesan chat atas penolakan Malia pada ajakan Irsyad untuk bertemu, yang Malia nilai jika Irsyad terkesan memaksa meminta alasan kenapa Malia tidak mau menerima ajakannya itu. Hal itu lah yang membuat Malia jadi sedikit kepikiran.


Kenapa Li, ga bisa nemuin aku? Lagi banyak kerjaan?.


Lia?.


Kita udah dua minggu ga ketemu loh. Kangen hangout bareng kamu.


Jangan bilang kalo kamu dilarang suami kamu ya untuk ketemu aku?.


Lia?.


Li, aku telepon ya?.


Malia meraih ponselnya, saat panggilan dari Irsyad kemudian berhenti saat Malia mengirimkannya pesan chat.


Sorry Kak, aku lagi meeting.


Kemudian Malia menonaktifkan ponselnya.


‘Kak Irsyad kok rada aneh gini ya, sikapnya?...’


Lalu Malia tercenung di kubikel kerjanya.


‘Sikap gue ke Kak Irsyad, apa terkesan ngasih dia harapan, makanya dia bersikap kayak gini pas gue tolak ajakannya buat ketemuan?...’


Malia masih asik tercenung sambil mengingat-ingat saat sejak Irsyad mengutarakan perasaan lelaki itu padanya. Lalu Malia menggeleng pelan.


‘Perasaan gue ga ada kasih dia harapan kalo gue bakal terima cintanya?’ batin Malia. ‘Masa harus gue temuin Irsyad buat ngasih dia kejelasan?. Tapi gue udah janji sama Rei, dan gue akan tepati janji gue itu. Lagian ini Kak Irsyad kenapa kayak bukan dia aja ya sekarang?. Apa karena baru ini gue nolak ajakannya jadi dia penasaran sama alasan gue?... Aish, tau ah. Pusing gue jadinya.’


Tidak ingin pekerjaannya terganggu, akhirnya Malia berhenti memikirkan soal sikap Irsyad yang tergambar dari pesan chat lelaki masa lalunya itu dan kembali fokus pada pekerjaannya.


****


Bersambung...

__ADS_1


Hai readers, jangan lupa dukungan untuk karya ini jika berkenan.


Terima kasih.


__ADS_2