WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 280


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


REIJI


Aku sedikit naik pitam kala Lia mencibirku dengan mengatakan,


“Sahabat.... Cih!.... Mana ada laki yang cuma-cuma ngasih sahabatnya 300 juta kalo ga ada embel-embel di belakangnya....”


Aku tahu maksud ucapan Lia itu, tapi tetap saja tiga kata tanya tentang maksud ucapan Lia tersebut tercetus spontan dari mulutku.


Dengan Avi yang masih ada diantara kami, Lia menekankan lagi kalimatnya tadi tentang tidak ada laki-laki yang secara gratis memberi uang pada sahabatnya kalau ga ada embel-embel di belakangnya.


Gundik!


Itu yang Lia tekankan di akhir kalimatnya tentang aku yang menolong Shirly dengan memberikannya uang setiap bulan selama ini dan uang sejumlah 300 juta yang aku maksudkan untuk Argan.


Dan aku?


Darahku rasa mendidih mendengar tudingan Lia yang begitu merendahkanku.


Apa dia lupa betapa aku memperjuangkan cintanya padaku selama ini?


Putar otak bagaimana caraku agar dia bisa mencintaiku sebagaimana aku mencintainya.


Tapi dengan entengnya dia menudingku memelihara Irly sebagai gundikku. Luar biasa!


“Jaga ucapan kamu Lia!”


Aku menyergah tajam dengan cepat ucapan Lia yang merendahkanku tadi.


Emosiku mulai menyeruak.


Avi mungkin terkejut, karena seumur hidup ia baru ini mendengarku berseru geram. Ditambah aku juga dengan spontan mengarahkan telunjukku pada Lia dengan tatapan yang menusuk dan tajam. Yang mana aku pikir, jika setelah itu Lia akan berbalik dan masuk ke kamar sambil membanting pintunya.


Tapi nyatanya dugaanku salah.


***


Salah memang dugaan Reiji.


Alih-alih melakukan apa yang Reiji pikirkan, atau setidaknya Malia diam---Malia malah kian merepet dan mencecar Reiji dan berujung pada penegasan keras yang meminta Reiji untuk segera menceraikannya.


Tertohok Reiji rasanya, mendengar ucapan Malia yang memaksa untuk menceraikan istrinya itu dengan segera. Reiji pun terdiam kemudian.


Namun Malia tidak juga ikut diam. Malah terus saja melontarkan ucapan yang kiranya mendesak selain terus mencecar Reiji. Seolah Malia sengaja menyulut kemarahan Reiji yang Malia terka sedang menyelimuti suaminya itu padanya.


Karena Malia juga cukup sadar, atas perkataannya yang kasar dan sedikit merendahkan Reiji sebelumnya.


Emosi, adalah penyebabnya.


Dan atas dasar emosi, Malia pikir Reiji akan terpicu---tersulut habis emosinya, hingga sampai Reiji bilang, “Oke kalau itu mau kamu. Kita cerai!”


Namun tidak.


Kalimat itu tidak keluar dari mulut Reiji.


Laki-laki itu memang sedang kadung emosi, namun Reiji punya cukup kendali atas dirinya.


Selain Reiji sedang cukup syok dengan sikap Malia yang nampak berapi-api memintanya untuk menceraikan istrinya itu.


Reiji diam. Terpaku kelu di tempatnya. Menatap Malia dengan perasaan mencelos, dengan emosinya yang mulai turun. Berganti dengan rasa sedih.


Pun penyesalan dalam hati Reiji, kenapa dia bisa sampai tersulut seperti tadi dengan membentak sambil mengarahkan telunjuknya pada Malia yang Reiji terka amat tersinggung dengan apa yang ia lakukan itu.


Karena perkataan Malia soal dirinya yang sudah dua kali membentaknya karena Shirly, membekas di pikiran Reiji. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya saat dirinya membentak Malia kala di apartemen Shirly itu pun Reiji lakukan tanpa sadar. Spontan saja, atas paniknya pada anak lelaki Shirly yang kepalanya terantuk dengan keras di kayu tempat tidur Shirly.


***


Reiji yang diam sambil memandangi Malia dengan tatapan dan hati yang mencelos karena agak syok, kemudian dikejutkan dengan suara bentakan Avi. Yang mana didetik berikutnya Malia langsung bungkam.


Reiji masih terpaku di tempatnya, kala Avi sudah membujuk Malia dengan lembut. Namun hati Reiji dibuat mencelos sekali lagi oleh Malia, kala istrinya itu menyuruh Avi untuk tidak usah menginap di apartemennya dan Malia lalu mengatakan jika Malia akan ikut pergi bersama Avi.


Lalu Avi membujuk Malia lagi untuk pergi ke kamarnya dan Reiji.


Dan Malia mengangguk mengiyakan lalu segera berbalik badan, melangkah menuju kamarnya dan Reiji.


***


REIJI


Aku sudah hendak mengejar Lia yang masuk ke dalam kamar kami di apartemen.


Namun Avi mengkodeku dengan gelengan dan tangannya yang telapaknya terarah padaku.


Singkat, dan tanpa kata. Namun aku paham kode Avi itu.


Yang seolah mengatakan, “Lo disini aja dulu, dinginin kepala sama hati.”


Meski kepala dan hatiku sudah tidak panas lagi karena emosi yang sempat naik karena tudingan Lia yang aku nilai cukup merendahkanku itu, namun aku tahu maksud Avi jika akan percuma jika aku menghampiri Lia sekarang.


Dimana aku yakin, Lia masih digulung emosi padaku. Dan Avi akan berusaha untuk membuat Lia meredam, bahkan mungkin menghilangkan emosinya padaku itu---semoga saja. Ekspresi Lia saat meminta talak padaku sudah membuatku syok dengan dirinya yang begitu mencecar.


Lalu menyuruh Avi untuk tidak jadi menginap di apartemen kami, tapi Lia ikut pergi dengan Avi. Dan jika itu sampai terjadi, maka pernikahanku dengan Lia akan berada di ujung tanduk. Tidak!


Itu tidak boleh terjadi!


Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan pernikahanku dengan Lia.


Karena pernikahan kami ini sudah melibatkan perasaan, terutama perasaanku. Aku tidak ingin pernikahanku kandas, lalu aku kehilangan wanita yang aku cintai. Dan untuk itu, aku sanggup melakukan apapun.


---


Selama Avi berada di dalam kamarku dan Lia, aku tepekur memikirkan banyak hal---terutama bagaimana caraku minta maaf pada Lia.


Inginnya sharing dengan Avi, tapi adik perempuanku itu sedang bersama Lia. Dan aku harus menemukan cara sebelum Avi selesai bicara dengan Lia.

__ADS_1


Aku tersinggung memang atas beberapa kata yang Lia tujukan padaku, namun sedikit banyak aku sadari jika salahnya memang ada di aku jika terkait Irly. Jadi rasa tersinggungku pada Lia aku kubur saja.


Ingat saat tadi Lia mencecarku karena aku yang membawa jejak masa laluku dengan Irly, dan aku seketika teringat masa awal pernikahanku dan Lia saat ia menemukan box milikku dimana ada album fotoku dan didalamnya berisi foto-foto kedekatanku dan Irly.


Lalu menemukan foto close up Irly di salah satu lembaran novel koleksi, yang bahkan sudah aku lupakan soal foto itu. Dan album foto yang aku bawa lalu Lia lihat juga tidak uplek semua hanya foto Irly atau fotoku berdua saja perempuan yang kiranya kini aku sebut sebagai mantan sahabat.


Tapi nyatanya Lia mempermasalahkan hal itu.


Masalah yang padahal sudah aku klarifikasi, dan Lia juga mengiyakan untuk menganggap masalah jejak masa laluku itu selesai--namun nyatanya Lia ungkit lagi.


Oke aku salah. Dalam hal ini aku kurang peka.


Kemudian perihal aku yang memberikan uang kepada Irly selama ini, aku yang ingkar janji untuk menjauhi Irly, namun walau bukan Irly yang menjadi alasan utama aku ingkar dan membohongi Lia melainkan Argan---untuk ini, aku sadar aku salah.


Terlalu naif untuk membantu sahabat, dan menyembunyikannya dari Lia.


Lalu cecaran Lia tentang aku yang membentaknya karena Irly. Anggap saja aku salah lah.


Meski bentakanku waktu itu spontan karena terkejut dan panik saja atas Argan dan aku bahkan tidak engeh.


Semua kesalahanku Lia dikte, termasuk bentakanku yang tadi.


Yang Lia anggap aku membentaknya karena kata-katanya yang merendahkan Irly.


Padahal itu aku maksudkan untuk diriku, agar Lia jangan memandang begitu rendahnya padaku.


Tapi Lia menyimpulkan hal yang berbeda. Dan apapun itu, aku yang terpojok sekarang---sedikit tertekan juga karena ingat bagaimana Lia meminta cerai padaku tadi. Yang Lia ucapkan dengan lantang dan berapi-api.


Itu yang begitu membebaniku sekarang, dan menunggu Avi serta Lia yang berada di dalam kamarku dan Lia itu membuatku amat gelisah.


Takut jika Lia tetap bersikeras untuk bercerai dariku, meski aku yakin Avi memberikan komentar atas ketidaksetujuannya jika aku dan Lia bercerai.


Dan Oh Tuhaan, aku tidak berselingkuh sampai berzina!


Kenapa Lia harus mencecarku untuk menceraikannya seperti tadi?


Mudah sekali kata cerai keluar dari mulutnya.


Katanya sudah mencintaiku?!


Tapi dengan begitu mudahnya Lia memintaku untuk menjatuhkan talak padanya hanya karena hal-hal yang aku rasa tingkat kesalahannya tidak sefatal dengan mengkhianati pernikahan kami.


Jangan-jangan, pernyataan Lia yang katanya sudah mencintaiku itu hanya dari mulutnya saja, belum berasal dari hatinya?


Hhh....


---


Tapi apapun itu, tentang benar tidaknya Lia yang sudah mencintaiku.


Yang aku pikirkan hanya satu, bahwa aku tidak akan bersedia menceraikannya.


Tidak akan aku biarkan pernikahanku hancur karena ketidakpekaanku atau karena ego dan emosinya Lia.


Apapun akan aku lakukan untuk membuat perceraian antara aku dan Lia, termasuk bila aku harus berlutut meminta maaf padanya.


Akan aku tahan sekuat tenaga, meski aku harus menyeret Lia masuk ke dalam kamar kami lalu mengunci diriku dengannya di sana. Mengutip satu kata yang sempat Lia lontarkan tadi,


“Persetan dengan semuanya!”


Lia tidak akan aku ceraikan, pun tidak akan aku biarkan dia pergi dari apartemen kami sekarang walau dengan alibi—Lia yang perlu menenangkan diri.


Dan sekarang aku menunggu dengan was-was pintu kamarku dan Lia terbuka, serta tak sabar. Baru beberapa menit Avi dan Lia berada di dalam kamarku dan Lia yang pintunya tertutup itu, namun seperti sudah seabad aku menunggu.


---


Dan ketika beberapa belas menit berlalu, telingaku yang aku tajamkan dalam dudukku yang sambil menopang kepalaku—mendengar suara pintu knob kamarku yang hendak dibuka.


Dimana aku dengan cepat segera berdiri tegak dari dudukku dan menatap fokus ke arah kamarku dengan Lia. Lalu jika Lia terlihat keluar dengan menggeret koper, maka aku akan langsung geret dia kembali ke kamar.


Silahkan saja kalau Lia mau mengamuk sekalian dengan melempariku menggunakan barang-barang yang ada di dalam kamar kami karena tak terima aku yang mencegahnya pergi. Bocor nanti ini kepala pun aku tidak peduli.


Ya siapa tahu Lia melemparku dengan laptopnya yang lumayan besar itu?


Lumayan berat.


Jadi yakin bocor kayaknya ini kepalaku jika Lia menghantamku dengan itu.


Namun untungnya bayangan konyolku itu tidak terjadi, karena yang aku lihat keluar dari kamarku dan Lia hanya Avi.


“Vi....”


“Lia rasanya dah oke kalo mau lo samperin.”


“Makasih ya Vi?—“


“Ya sama-sama” tukas Avi. “Tapi kalo emosi lo masih nyisa walau secuil mending jangan.”


Aku tersenyum mendengar peringatan Avi barusan. “Udah ga ada barang secuil....” jawabku.


Avi lalu ikut juga tersenyum. “Bagus deh kalo gitu....” kata Avi kemudian sambil menepuk pelan lenganku. “Gue tau ada kata-kata Lia yang nyinggung perasaan lo. Tapi posisikan diri lo jadi dia sekarang. Dan gue tau, akal lo mampu meredam habis emosi lo sekarang ini.”


“Selain gue ga mau kehilangan sahabat lo,” balasku pada ucapan Avi, dimana Avi tersenyum geli kemudian.


“Bucin abang gue sekarang“ Avi meledek dan aku mendengus geli menanggapinya.


“Mending bucin daripada jadi duda yang menyedihkan.”


Balasanku pada ledekan Avi yang tersenyum geli kemudian.


***


“Gue tinggal ke kamar ya Vi?—“


“Take your time—“


“Thanks,” Reiji yang sebelumnya pamitan pada Avi untuk menghampiri Malia di kamar mereka, tak segan untuk mengucapkan terima kasih pada adiknya itu.

__ADS_1


“Jangan keluar sebelum baikan—“


“Oke,” tukas Reiji seraya mengangguk dan tersenyum pada Avi.


Lalu Reiji menyegerakan langkahnya menuju kamarnya dan Malia.


Membuka pintunya perlahan, yang tidak di tutup rapat oleh Avi.


Lalu Reiji yang merapatkan pintu itu setelah ia masuk ke dalam kamarnya dan Malia.


Kemudian Reiji sejenak terdiam di tempatnya, memandangi Malia yang berbaring miring ke arah jendela kamar mereka itu.


***


‘Lia tidurkah?’


Reiji bertanya dalam hatinya.


‘Tapi Avi bilang tadi oke kalo gue mau samperin Lia. Berarti kan Lia ga tidur artinya?--’


Kemudian Reiji menjawab sendiri pertanyaan dalam hatinya itu, tetap dalam batinnya.


‘Kayaknya sih Lia emang ga tidur....’ bisik Reiji saat melihat sedikit pergerakan Malia yang nampak memijat satu sisi kepalanya.


Lalu Reiji memantapkan langkahnya yang ia buat perlahan, untuk menghampiri Malia yang sedang berbaring miring di ranjang mereka itu.


‘Aku ga mau kehilangan kamu, Yang.’


Reiji berbisik lagi dalam hatinya dan memandangi Malia dengan perasaan mencelos.


“Maafin aku, Yang.... Maaf.... hukuman apapun aku terima.... tapi tolong.... jangan melangkah pergi.... jangan.... Yang.... jangan....”


***


“Hhh....” terdengar hembusan nafas Malia yang agak berat, setelah suara lirih Reiji terdengar di telinganya. Bersamaan dengan Reiji yang memeluknya dari belakang. Namun Malia tidak berusaha melepaskan pelukan Reiji itu.


“Aku ga ada maksud buat bentak kamu, Yang. Engga tadi, engga sebelumnya.... Semuanya spontan aku lakuin tanpa ada maksud kasar sama kamu. Dan bukan—sorry kalau aku sebut namanya—bukan karena Irly kalau aku bentak kamu tadi. Melainkan karena aku ga terima dengan tudingan kamu yang berpikir kalau aku ada main dengan Irly selama ini. Ga ada, Yang. Ga ada.... Ga ada pernah aku melakukan hal senista itu, bahkan sebelum aku menikah dengan kamu. Ga dengan Irly atau perempuan manapun, terlebih sesudah kita nikah—“


“....”


“Dan maaf, kalau aku masih ga peka di mata kamu. Ga jujur dan ingkar sama janji aku buat jauhin Irly—“


“Cukup sekali kamu sebut nama dia,” sambar Malia. “Jijik aku dengernya.”


“Iya, maaf.”


Reiji menjawab cepat.


“Sekarang lepasin.”


“Engga Yang, aku ga mau—“


“Aku sesek tau ga? Mau bunuh aku kamu meluk aku seketat ini?” tukas Malia setengah sewot.


“Eh, maaf Yang, maaf. Aku mikir kamu lepasin yang kamu maksud itu biarkan kamu pergi dari aku—“


“Emang itu yang aku mau—“


“Yang—“


“Tadinya.”


***


“Kamu maaafin aku, Yang. Mau kasih aku kesempatan kedua buat memperbaiki kesalahan aku ke kamu ini?....” cecar Reiji.


Malia menghela panjang nafasnya kemudian. “Ya udah awas dulu! Aku mau duduk....”


“Oh iya, sorry sorry.”


Reiji langsung melepaskan pelukannya dari Malia.


“Maafin aku, Yang—“


“Hhh....”


Malia mend***h lagi dengan agak berat setelah ia duduk bersandar di ranjang\, dan Reiji langsung menggenggam tangannya sambil melirih sendu dan menatapnya mengharap iba.


“Kasih tau aku, kamu maunya apa—jangan cerai tapi. Selain itu pokoknya. Jangan cerai, jangan juga pisah tinggal. Pisah kamar masih bisa aku terima. Syarat apapun Yang, aku lakuin buat nebus kesalahan aku ke kamu—“


“Yakin kamu bisa lakuin syarat yang aku kasih?”


Malia menukas Reiji dengan melontarkan pertanyaan.


“Insya Allah yakin, kalau itu ga ada hubungannya dengan perpisahan antara kita—“


“Oke—“


***


Malia lalu memandang pada Reiji yang menunggu dirinya berkata lagi, mengatakan syarat yang Malia ingin Reiji lakukan sebagai pembuktian jika Reiji sanggup melakukan apapun asalkan Malia memaafkannya.


Reiji sendiri agak was-was menunggu Malia mengatakan syarat apa yang akan istrinya itu berikan untuk sebuah pembuktian.


Karena jujur saja, saat ini Reiji sedang tidak bisa berpikir banyak dan menerka apa yang ada di kepala istrinya itu—walau Malia sudah mengatakan ‘oke’ jika syarat itu tidak ada hubungan dengan yang namanya perpisahan diantara mereka.


“Apa syarat kamu, Yang?” tanya Reiji sambil satu tangannya masih menggenggam tangan Malia, dan satu lagi memegang beberapa helai rambut Malia yang kemudian Reiji selipkan di belakang telinga istrinya itu. “Kalau bisa aku lakuin sekarang, aku ga akan tunda. Sebanyak apapun aku jalani....”


“Cuma satu aja kok syarat aku....”


Malia menjawab cepat ucapan Reiji.


“Minta balik semua uang yang pernah kamu kasih ke bibit pelakor bertopeng sahabat itu.”


******


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2