
Selamat membaca....
************************
REIJI
“Berat ya?...”
Ucapan Lia yang berupa pertanyaan, setelah ia meminta aku mencoret Irly dari daftar sahabatku.
“Dibilang berat engga, tapi bingung aja sih...” jawabku. “Ya aku kan sama Irly udah belasan tahun sahabatan. Terlepas dari aku yang pernah punya perasaan sama dia, aku dan Irly bisa dibilang---sorry, lebih dekat satu sama lain ketimbang Irly sama anak-anak lainnya ...“
Dan aku berusaha untuk memberikan pengertian pada Lia dengan mengatakan hal itu.
“Jangan marah, aku cuma berusaha jujur aja sama kamu, Yang...” dimana aku langsung juga mengucapkan kalimat ini, karena melihat reaksi Malia yang ber oh ria dengan wajah yang datar ekspresi.
Namun setelah itu aku melontarkan candaan ringan agar Lia tidak terbawa kebaperan yang bisa membuatnya bad mood.
Hanya saja Lia sepertinya sudah keburu mulai menunjukkan gelagat bad mood, karena ia tersenyum tipis saja menanggapi candaan kecilku yang menggodanya.
“Kalo rasanya berat memutus persahabatan kamu dengan Irly, ya ga apa, Rei. Aku ngerti.”
Dan benar lagi dugaanku, ketika aku dengar ucapan itu keluar dari mulut Lia. Kemudian aku menyanggahnya.
Yang sanggahanku itu dipotong oleh Lia, dengan ia yang tersenyum padaku.
Namun nampak sekali jika senyum Lia itu dipaksakan olehnya dalam pandanganku.
Aku kembali ingin menjelaskan pada Lia dengan baik, namun Lia terus saja memotong ucapanku.
Hingga terjeda kala Lia mengatakan jika dirinya ingin pergi ke kamar mandi. Namun tak jadi.
Karena Lia kebetulan melirik ke arah tempat dimana ponselku berada, yang nampak sedang ada yang menghubungiku dimana ponsel yang kuatur ke mode senyap itu, kedap-kedip layarnya.
-----
“Mungkin...”
Adalah sahutan Lia, pada selorohanku soal siapa yang menghubungiku malam-malam begini---yang mengatakan mungkin saja itu si bibit pebinor yang sudah mengaktifkan ponselnya lalu menerima tantanganku.
Datar saja, tidak seperti biasanya jika aku berseloroh menyebut soal si bibit pebinor itu yang Lia taunya aku sangat ingin menghajar laki-laki kurang ajar itu. Membuatku jadi mendesah frustasi dalam hati. Karena ini udah bau-bau Lia akan ngambek aja kayaknya.
Kalau sudah begini, aku rasanya jadi serba salah.
Semakin serba salah dan salah tingkah, ketika tanganku sudah meraih ponselku---dan melihat nama pemanggilnya.
‘Irly’.
Duh, Bestiee .. pas banget dia nelpon disaat aku sedang cekcok kecil dengan Lia soal Irly.
Dan pasnya lagi, tak lama Lia melirik ke arah layar ponselku. “Oh, dia ...“ cetus Lia dengan ekspresi wajahnya yang kian tak enak.
Ingin aku terima panggilan Irly itu, tapi Lia lagi begini. Dan aku sedikit kepikiran dengan panggilan telepon dari Irly itu. Karena rasanya ini bukan karena Irly sedang iseng.
Secara jika kami saling menghubungi disaat jam tidur begini---dan tidak hanya aku dan Irly yang suka telponan malam-malam, tapi juga dengan 3 sahabatku yang lain----itu biasanya setelah ada obrolan di grup sebelumnya jika ada yang iseng membuka obrolan terlebih dahulu di sana.
Ini, grup para sahabat kentalku itu sepi. Tapi Irly sedang menghubungiku.
Yang mana aku berpikir, jika ada sesuatu yang urgent mengenai Irly atau apa yang ingin ia sampaikan padaku.
__ADS_1
Duh, gimana ya? ...
Aku ingin terima panggilan telepon dari Irly ini ...
Tapi Lia? ...
Mungkin bisa aku berikan pengertian sedikit tentang aku yang hendak menerima panggilan dari Irly.
“Yang ...“
Aku memanggil Lia yang melengos setelah tadi ia melihat layar ponselku, dimana panggilan dari Irly sudah berhenti.
Mungkin aku akan menghubungi Irly balik, namun aku harus berbicara dan meminta ijin dulu pada Lia. Tapi baru saja aku hendak memanggilnya untuk mengajak Lia bicara, ucapan yang keluar dari mulut Lia tentang Irly sungguh membuatku terperangah.
“Perempuan kesepian yang ga ada kerjaan, haus belaian, ngarepin perhatian sampe nelfonin suami orang malem – malem ...“
Oke, aku paham mungkin Lia sedang kesal sekarang. Jadi aku tidak sampai terpancing mendengar cibiran Lia yang mengarah pada hinaan ke Irly.
Bukan karena aku punya sayang berlebih pada Irly. Bukan. Sungguh bukan.
Hanya saja Irly tidak seperti yang Lia katakan itu, dan Lia tidak tahu bagaimana Irly karena memang tidak pernah mau menemuinya setiap kali aku ajak Lia saat aku ada jadwal berkumpul dengan para sahabat kentalku itu.
Aku coba menyanggah ucapan Lia soal Irly yang mengarah pada kalimat merendahkan sahabat perempuanku itu dengan lembut.
Sekaligus aku ingin mengatakan pada Lia tentang pribadi Irly yang sesungguhnya, agar Lia berhenti berpikir buruk tentang Irly. Yang mana seharusnya pikiran buruk tentang Irly itu tidak singgah di kepala Lia, yang jelas-jelas pernah aku ceritakan jika Irly pernah menolak cintaku.
Jadi tidak mungkin sekali jika sekarang Irly coba menggodaku. Kalau Irly memang ingin membuatku jadi miliknya, sebelum aku menikah dengan Lia---Irly punya banyak kesempatan jika dia ingin memenangkan hatiku. Karena di dalam hatinya Irly toh masih mencintai ayahnya Argan, dan aku tahu persis hal itu.
Makanya ingin aku jelaskan baik-baik pada Lia tentang pikiran buruknya mengenai Irly, yang jelas-jelas tidak benar.
Namun sebelum itu terjadi, Lia kembali memotong ucapanku. Yang mana aku yakin sekali jika istriku itu kian ngambek dan berpikir jika aku membela Irly.
Dan aku katakan itu pada Lia, agar dia berpikir jika aku membela Irly atas kalimatku sebelumnya. “Hmm ...” Begitu tanggapan Lia, yang membuatku kembali menghela nafas---karena Lia nampak tidak peduli dengan perkataan panjang lebarku barusan.
Lia malah asik menggumam dan acuh tak acuh padaku.
“Kalau bukan perempuan kesepian kurang kerjaan haus belaian, ngarepin perhatian suami orang sampe nelfonin suami orang malem – malem, terus apa dong?“
Demi apa, ini Liaaaa. Istriku itu masih dengan gelagat cibirannya pada Irly. “Udah dong, Yang ...”
Aku berucap untuk menghentikan Lia yang sedang mengabaikanku dan nampak masih ingin nyinyir mengenai Irly.
“Lia, sayang ...“ panggilku dengan sangat lembut, dimana aku sudah berada di belakang Lia.
Yang sudah aku raih lengannya, dan aku buat diri kami berhadapan---tersenyum padanya, dan mengusap pelan kepala Lia agar ia fokus padaku.
Namun sepersekian detik berikutnya, aku dibuat terperangah oleh Lia. Sangat!
Setelah mendengar ucapan Lia berikutnya tentang Irly, yang Lia seolah sengaja pertegas.
“Oh, Bibit Pe-la-kor –“
“Yang!”
Aku spontan menyanggah ucapan Lia yang lebih spesifik merendahkan Irly itu dengan berseru.
Tidak keras, namun kulihat ekspresi Lia yang menyorot tajam menatapku, meski Lia tidak menunjukkan kemarahan pada raut wajahnya.
“Sorry, Yang –“
__ADS_1
“Laki – laki dari masa lalu aku yang ganggu pernikahan kita kan kamu sebut bibit pebinor kan? ...”
Lalu Lia bicara dengan datar.
“Yang ...” Aku ingin mengambil alih pembicaraan.
Tapi Lia yang sudah memegang handle pintu kamar itu keburu lagi bicara.
“Jadi ga salah dong aku bilang kalau perempuan yang ganggu sahabat laki – lakinya yang udah nikah dengan sering chattingan di belakang aku terus ga tau malu nelpon di jam yang harusnya dia tau kalo sahabat lelakinya itu sedang bersama istrinya itu sebagai Bibit Pe – La – Kor ...”
Merepet lebih tepatnya.
“Jangan kamu samakan Irly dengan si brengsek Irsyad itu –“
“Oh, gitu ya? –“
“Yang, denger –“
“Tuh, si bibit pelakor kayaknya nelpon kamu lagi.”
Lia memotong ucapanku lagi, sambil matanya tertuju ke arah di mana ponselku berada, dan benda itu terlihat kedap – kedip lagi.
“Gatel kali pengen kamu datengin ...” sarkas Lia. “Secara perempuan haus belaian, udah lama ga ditidurin laki –“
“Lia!”
Aku sungguh spontan memekik begitu.
"Stop it, oke? ... Irly bukan perempuan macem itu, please ..."
Aku menormalkan kembali nada suaraku, dengan tatapan memohon pada Lia.
Namun Lia tersenyum miring.
"Paham banget sahabat ..." gumamnya kemudian, namun nampak sinis meski bibirnya menyunggingkan senyum.
Tapi ya itu, senyuman miring.
Yang baru aku sadari, setelah Lia menggumam.
Dan itu pasti ucapanku yang memintanya berhenti merendahkan Irly.
Yakin seribu persen, Lia sedang dalam mode sangat tidak senang sekarang.
"Berhenti menghina Irly, Yang. Dia ga seburuk itu.." pintaku dengan suara rendah.
Lagi, Lia tersenyum miring. Dan selanjutnya apa yang Lia katakan, sungguh tak aku duga jika kalimat itu keluar dari mulutnya padaku.
“Sorry, keceplosan. Gue ga ada maksud buat ngatain simpenan lo itu, Reiji---Shakeel ...”
Sebelum kemudian,
BRAKK!
Lia yang memang sudah meraih handle pintu kamar kami itu, kemudian membukanya dengan kasar dan langsung menutupnya kembali dengan sangat keras di hadapanku.
Sial!
*****
__ADS_1
Bersambung......