WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 36


__ADS_3

Selamat membaca..


***


“Rei...”


“Ya?”


“Soal yang lo liat tadi di kantor... waktu Riza...”


“Sstt...”


Telunjuknya kini sudah berada di bibir Malia dengan wajah Reiji yang juga sudah cukup dekat dengan wajah Malia.


“Ga perlu dibahas lagi,” kata Reiji. “Aku ga menganggap itu masalah besar.” Sambungnya. “Walau aku sempat


cemburu, tapi aku udah ga mempermasalahkannya lagi. Jadi ga perlu dibahas lagi. Oke?”


Malia pun mengangguk kikuk, karena posisi wajah Reiji kini sudah dekat dengannya.


Kemudian Reiji mengulas senyuman.


Cup!. 


Dan Malia hanya bisa terdiam, kaget, karena tiba-tiba Reiji menyambar bibirnya.


“I love you, Lia.”


Reiji berucap pelan setelah menarik bibirnya dari bibir Malia.


Menatap Malia yang terpaku dengan tatapan lembut dan Reiji kembali mengulas senyuman.


“I do.”


Reiji berucap lagi sembari mengusap bibir Malia dengan ibu jarinya.


“Dan aku berharap, kamu bisa memiliki perasaan yang sama dengan aku, Lia ... Setidaknya, aku berharap kamu


mencoba untuk menerima aku tidak hanya dalam hidup, tapi juga dalam hati kamu.”


Malia yang masih dalam mode kaget akibat dicium bibirnya oleh Reiji meski singkat saja, hanya bisa mengangguk


untuk menanggapi ucapan Reiji barusan. Dan Reiji kembali lagi mengulas senyuman di bibirnya.


“Dan maaf sudah lancang mencium kamu tanpa permisi.”


Reiji menatap lekat pada Malia.


“Kalau mau marah, silahkan. Mau tampar juga boleh.”


Dan ucapan Reiji membuat Malia menarik sudut bibirnya, lalu Malia pun mendengus geli.


“Mau emang ditampar?” guyon Malia.


“Hmmm ...” Reiji berlagak berpikir. “Boleh deh, kalo ditamparnya pake bibir...”


Membuat Malia mendengus geli sekali lagi pada Reiji.


“Dasar! ...”


Malia mencebik kecil.


Reiji pun mendengus geli saat Malia mencebik sembari melengoskan kepalanya, lalu keduanya turun dari mobil dan


segera masuk ke dalam rumah orang tua Malia.


*****


REIJI


Aku tiba di rumah orang tua Malia saat hari sudah cukup malam.


Tadinya mau langsung cabut aja dan sekalian beristirahat di rumah.


Karena besok sore aku juga punya jadwal terbang.


Maklum, bukan pekerja kantoran.


Jadi tanggal merah di kalender seringnya ga ngaruh dalam profesiku.


Tadinya, mau turun mampir bentar karena mau kasih hadiah buat camer.


Tapi kata si Bibi yang kerja di rumah orang tua Malia itu, dua camerku itu udah istirahat.


Jadi aku pikir aku ga usah jadi mampir dan menitipkan saja oleh-oleh itu pada Malia.


Tapi ternyata Malia tetep nyuruh aku mampir juga. Mungkin dia merasa iba karena melihatku sedikit lelah mengemudi.


Memang iya sih.

__ADS_1


Macetnya Jakarta kalau malam libur itu bikin pegel badan kalau mengemudikan mobil.


Aku lebih baik beraktifitas dengan aktif ketimbang duduk diam dan lama dibalik kemudi mobil akibat macet.


Ga ngapa-ngapain tapi bikin badan pegel.


Untung lagi sama Malia.


Jadi, rasa bete pun menguar.


Meski sempat bete juga sih dikit tadi waktu jemput Malia dan lihat dia dirangkul temen cowonya.


Tapi terbayar sih, dengan aku mengecup pipi Malia yang tidak melayangkan protesnya.


Cuma Malia tersipu aja, selain kaget.


Dan aku senang melihatnya.


Rasa senang itu kian membuncah saat ini.


Saat aku pada akhirnya bisa merasakan lembutnya bibir Malia. Dan rasanya itu....


Manis, rasa cherry.


Hahaha ...


Seneng banget, apalagi Malia tidak protes.


Cuma melongo aja dengan matanya yang mengerjap-ngerjap.


Cantik, bikin gemes.


Hingga tiga kata sakral keluar dari mulutku.


‘I Love You’


Kata yang tidak pernah kuumbar pada wanita manapun selama ini, well, tidak pada beberapa pacar resmiku.


Hanya pada Malia, kata tiga kata itu pernah ucapkan, dan pada ....


Ah, sudahlah.


Tapi yang jelas, apa yang sedang kurasakan dalam hati ini, kiranya baru aku rasakan pada Malia.


Cinta.


Ya cinta,


Cinta yang rasanya lebih besar dari yang pernah aku rasa sebelumnya.


Dan hal itu, kini sudah tak bisa aku sangkal lagi.


****


“Makasih ya Li ...” Kalimat itu yang keluar dari mulut Reiji saat ia telah duduk di ruang tamu rumah orang tua Malia.


“Makasih buat apa Rei? Seharusnya kan gue yang bilang makasih, karena udah dibawain oleh-oleh gini ...”


Reiji mengulas senyuman.


“Makasih, karena udah mulai menerima aku ...”


Diraih Reiji tangan Malia yang duduk tak jauh darinya.


Sudut bibir Malia tampak naik.


Lalu Malia menganggukkan kepalanya.


“Seperti lo yang ga punya alasan untuk menolak dijodohin sama gue, gue pun juga merasa begitu.”


Malia menatap pada Reiji.


“Dan yah, lo kayaknya juga ga punya sesuatu yang bisa gue jadiin senjata buat dijatuhin depan orang tua gue.”


Malia berkelakar.


Reiji pun terkekeh kecil.


“Tapi...”


Malia bersuara lagi. Tetapi ia menggantungkan kalimatnya. Nampak sedikit ragu untuk mengucapkan apa yang ingin ia ucapkan pada Reiji.


“Katakan aja apa yang mau katakan Li, kan aku udah pernah bilang, kalo ada hal yang mengganjal di hati kamu,


apalagi soal aku, baiknya kamu katakan jangan ragu sama aku...”


Malia menggeleng pelan. “Bukan tentang lo Rei ....”


“Lalu tentang?..”

__ADS_1


“Gue. Perasaan gue.”


Reiji tersenyum. Tangan Reiji yang menggenggam tangan Malia, kini terulur ke satu pipi calon istrinya itu. Lalu Reiji memberikan sentuhan lembut disana.


“Aku ngerti kok Li,” ucap Reiji. “Toh cinta ga bisa dipaksakan.”


“.......”


“Dengan kamu yang sudah mau membuka hati kamu aja aku udah bersyukur, Li ...”


“.......”


“Setidaknya aku merasa memiliki harapan kalau suatu saat apa yang aku rasakan ke kamu, juga kamu rasakan ke aku


...”


“.......”


“So, let it flows ..... ( Jadi, biarkan saja itu mengalir ) ....”


“.......”


“Dan aku akan sabar menunggu di ujung aliran itu.”


****


“Sekali lagi makasih ya Rei .... Makasih atas pengertian lo ....”


Malia berucap saat mengantar Reiji ke pintu depan, saat Reiji sudah hendak pulang.


Reiji kembali mengulas senyuman.


Lalu Reiji membuat dirinya dan Malia saling berhadapan.


“Calon suami idaman harus pengertian bukannya?”


Reiji berkelakar dan Malia sontak terkekeh kecil.


“Yang aku butuh hanya sebuah kesempatan. Kesempatan dari kamu untuk aku bisa membuat kamu memiliki perasaan yang sama dengan aku ... Dan kamu sudah memberikan aku kesempatan itu ...”


Satu tangan Reiji terulur ke pucuk kepala Malia, lalu memberikan usapan lembut disana.


“Untuk sekarang itu sudah cukup buat aku .....” ucap Reiji.


Malia pun menarik tipis sudut bibirnya. Kata-kata Reiji cukup menyentuh hatinya.


“Tapi kalo boleh aku minta, biar aku aja yang merangkul kamu ya? Jangan biarkan ada laki-laki lain yang memeluk


kamu macam tadi, walau hanya rangkulan pertemanan.”


“.......”


“Yaaaa, ga hanya rangkul sih, apapun yang menyangkut diri kamu, dimana seharusnya aku yang ada didalam posisi itu, jangan kamu bagi pada orang lain, meskipun saat ini kamu belum memiliki perasaan spesial ke aku .....”


Reiji tersenyum lembut sembari menatap Malia. “Sorry, kalau aku terdengar posesif dan mungkin kamu merasa risih akan itu.”


“.......”


“Aku hanya sedang mempertahankan milikku... Dan aku harap kamu mengerti akan itu.”


“Iya,” sahut Malia dengan tersenyum dan mengangguk sembari menatap Reiji. “Rei, gue ngerti.”


Dan sudut bibir Reiji tertarik tinggi setelah mendengar jawaban Malia.


“Makasih ya....” ucap Reiji, dan menarik pelan kepala Malia.


Satu kecupan lembut Reiji sematkan di kening Malia.


“Sayang .....” sambung Reiji. Dimana wajah Malia sedikit merona, namun rasa hangat juga seketika Malia rasakan di hatinya.


Dan Reiji, seperti biasa ia mengulum senyumnya apabila wajah Malia sedang merona saat dirinya menggoda Malia.


“Boleh aku panggil kamu begitu mulai sekarang?”


Reiji mengajukan sebuah permintaan kecil pada Malia. Permintaan yang ga penting sebenarnya - pikir Reiji.


'Kocak lo Ji, mau manggil Lia pake sebutan Sayang lo ijin sama dia. Nah tadi lo samber bibir anak orang ga pake ijin?! Maen sosor aja!'


Reiji membatin geli.


“Iya, boleh....”


Namun senyuman lebar nampak di bibir Reiji kemudian, saat Malia mengangguk dan mengiyakan permintaan kecilnya itu.


‘Alon-alon asal kelakon, gaes’


Reiji membatin puas sembari terkikik dalam hatinya.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2