
Selamat membaca....
***
“Kamu kalo mau kumpul sama sahabat-sahabat kamu itu silahkan aja.”
“Ya pengennya kan aku dateng sama kamu, Yang. Ja—“
“Aku juga sebenarnya udah ada janji hari ini.”
“Janji apa?..”
“Janji ketemuan sama temen.”
“Avi?..”
Reiji sontak bertanya lagi.
“Temen aku bukan hanya Avi.”
Malia menjawab dengan biasa. Namun ia langsung menggigit bibir bawahnya sendiri setelah menjawab pertanyaan Reiji.
“Lalu siapa?” Reiji kembali bertanya.
“Kamu ga kenal---“
“Tinggal bilang aja siapa namanya, Yang. Terlepas aku kenal apa engga.”
Reiji sedikit menyerocos sambil memandang pada Malia.
Malia terdiam sejenak. “Irsyad...”
Tak lama Malia menjawab pertanyaan Reiji perihal siapa teman yang Malia maksudkan itu.
Gantian Reiji yang terdiam sejenak.
Sementara Malia memandangi suaminya itu.
“Irsyad?...”
Reiji berucap seraya bertanya.
Malia mengangguk samar.
“Laki-laki?...” Reiji memastikan.
“Ya.”
“Jadi kamu janjian sama temen laki-laki kamu?...”
Reiji memandang pada Malia penuh selidik.
“Di hari sabtu begini?...”
Malia diam tak menyahut.
“Kamu lebih memilih pergi sama temen laki-laki kamu, ketimbang ikut aku kumpul sama para sahabat aku?!”
Reiji nampak gusar.
“Shirly perempuan, dan waktu itu aku ga keberatan kamu pergi nganterin dia?!...”
“.......”
“Waktu itu kamu ada ga ijin sama aku dulu?... Engga kan?... Jadi jangan ngatur-ngatur aku berteman dengan siapapun yang aku mau!”
Malia berkata dengan tajam sebelum berlalu dari hadapan Reiji dan berjalan menuju walk in closet dalam kamarnya dan Reiji.
“Aku ga larang kamu berteman dengan si Shirly yang notebene perempuan!... Jadi jangan ngelarang-larang aku berteman dengan siapapun, sekalipun laki-laki!”
__ADS_1
****
REIJI
Aku sungguh tidak habis pikir oleh Lia.
Sungguh kelabilannya sudah mencapai stadium akut aku rasa.
Dia bilang dia mau mencoba untuk mempercayaiku, soal aku yang tidak memiliki perasaan lagi pada Irly.
Tapi saat aku mengajaknya ikut berkumpul bersama dengan para sahabatku itu, Lia menolak karena ada Irly.
Sungguh aku tak paham dengan jalan pikiran Lia.
Apa perempuan serumit itu?....
Aku sudah minta Lia untuk mengeluarkan unek-uneknya, tapi dia bilang ga ada.
Lalu saat aku mengajaknya bertemu Irly, dia menolak cukup tajam.
Kenapa sih Lia sentimen banget sama Irly?.... hanya karena Irly perempuan?.
Kenapa Lia begitu antipati untuk bertemu Irly?.
Toh Irly bukan istri keduaku juga?!....
Damned, kalau aku memang memiliki ‘hubungan gelap’ dengan Irly, tidak akan aku antusias mempertemukan istri sah dengan ‘sephia’?.
Dan lagi, jika aku memang masih punya perasaan pada Irly, aku tidak akan menerima perjodohanku dengan Lia.
Irly sudah berpisah dengan ayah biologisnya Argan jauh dari sebelum aku dan Lia dijodohkan.
Kalau memang aku masih mengharapkannya, sudah aku bawa Irly untuk bertemu orang tuaku termasuk juga Avi.
Sudah aku jelaskan berkali-kali tapi Lia seolah menolak untuk mengerti.
Aku sedikit mulai geram pada sikap Lia sebenarnya, tapi aku tahan.
Meski seseorang yang tadi aku lihat namanya memanggil dan mengirim pesan chat ke ponsel Lia membuatku sedikit gelisah.
Yang aku yakini adalah seorang laki-laki.
Tapi aku coba berpikir positif.
Namun pikiran positif ku perlahan mengikis saat aku dan Lia kembali berdebat.
Lia yang mati-matian menolak untuk ku ajak ikut serta bertemu dengan para sahabatku, kemudian dengan entengnya mengatakan,
“Aku juga sebenarnya udah ada janji hari ini.”
Padahal aku ingat betul, bahwa sebelumnya aku bertanya, apa Lia ada acara hari ini dan Lia bilang tidak ada.
Lalu karena perihal aku mengajaknya bertemu dengan para sahabatku dimana ada Irly juga yang akan ikut, tiba-tiba Lia bilang sudah ada janji ketemuan dengan temannya.
Yang mana temannya itu adalah orang yang namanya aku lihat menghubungi dan mengirim chat pada Lia, kala aku kembali ke apartemen untuk mengambil dompet dan ponsel.
Irsyad!.
Yang tepat seperti dugaanku adalah seorang laki-laki, yang Lia akui sebagai ‘teman’.
Waw sekali! .....
Istriku lebih memilih bertemu dengan teman laki-lakinya, ketimbang ikut denganku, suaminya.
Lalu, Lia menghubung-hubungkan ‘pertemanannya’ dengan laki-laki bernama Iryad itu, dengan pertemananku bersama Irly.
Kenapa selalu Irly yang Lia persoalkan?.....
Dan lagi-lagi belum tuntas aku dan dia bicara lebih lanjut, Lia malah ngeloyor begitu saja dari hadapanku.
__ADS_1
Dan hebatnya, Lia mengatakan padaku agar aku tidak mengatur dirinya yang ingin berteman dengan siapapun sekalipun dengan seorang laki-laki.
Lagi, pertemananku dan Irly yang dihubung-hubungkan.
Kali ini, aku benar-benar kesal pada Lia. Aku tak mengejarnya ke walk in closet.
BRAK!.
Aku memilih untuk keluar dari dalam kamarku dan Lia.
Dan akibat rasa kesalku ini, aku sampai membanting pintu kamar kami saat menutupnya.
Aku merasa tak dihargai.
Memilih untuk menghirup udara segar di balkon, aku merenung lagi perihal sikap Lia padaku.
Dan aku rasa aku menemukan jawabannya.
Ini bukan lagi soal Irly, bukan lagi soal perasaanku di masa lalu pada sahabat perempuanku itu.
Aku mengerti sekarang, Lia... Bukan soal aku dan Irly. Tapi soal kamu dan Irsyad.
***
Reiji sedang berada di sebuah kafe kecil tak jauh dari komplek rumah orang tuanya.
“Jadi siapa itu Irsyad?” tanya Reiji pada Avi yang ia minta untuk menemuinya di kafe kecil yang berada tak jauh dari komplek rumah orang tua mereka itu.
“Harusnya lo tanya langsung sama Lia soal itu, Bang.”
Avi menjawab pertanyaan kakak lelakinya itu dengan tegas.
“Jangan malah lo tanya sama gue .. Ga etis tau ga?”
“Etis ga etis, lebih baik lo jawab aja pertanyaan gue tadi.”
Reiji kembali bertanya pada adiknya itu.
“Siapa Irsyad?” desak Reiji.
Suami Malia itu memandang tajam pada sang adik.
“Jawab cepetan! ..... Siapa itu laki-laki yang namanya Irsyad, yang membuat istri gue bisa-bisanya pergi ninggalin gue dengan santainya gitu aja demi ketemu sama itu laki!”
Reiji nampak terlihat mulai emosional.
“Bang.....”
Avi bersuara, dengan matanya yang memberikan isyarat pada Reiji, karena mereka sedang berada di tempat umum.
Reiji yang tadi nampak emosional sampai memajukan tubuhnya yang duduk bersebrangan dengan Avi itu kemudian mencoba menguasai dirinya dari rasa emosi yang dia rasa saat ini, setelah melihat kode dari Avi yang seketika langsung Reiji pahami.
Namun mata Reiji masih menatap tajam pada Avi.
“Ngomong.”
Reiji berucap.
“Siapa Irsyad?”
Kembali bertanya lagi pada Avi, untuk memastikan.
Reiji sungguh tak sabar untuk mendengar jawaban Avi, selain ia sudah merasa gusar.
“Dan apa mereka punya hubungan khusus?”
***
Bersambung...
__ADS_1