WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 136


__ADS_3

Terima kasih masih setia.


***


Selamat membaca...


***


“I love you, Rei...”


Ucapan cinta dan ciuman kecil dari Malia di bibir Reiji, benar-benar membuat laki-laki itu terpana.


“I love you more, Yang.” Sahut Reiji dengan mesranya. Menatap Malia sejenak dengan tersenyum bahagia, lalu bibir Reiji kembali menyambar bibir Malia yang orangnya kini sudah berada di atas pangkuan Reiji yang masih berada di dalam bathtub dengan tubuhnya dan tubuh Malia yang sama-sama polos.


“Rei...”


Malia memanggil pelan, disela sesi ciumannya dengan Reiji dalam bathtub.


“Hmmm? ---“


“Bukannya kamu mau ngecek makanan ya?”


Malia bersuara lagi, kini bicara sedikit panjang, dengan dirinya yang sedikit mulai gelisah akibat ada pergerakan suatu benda di bawahnya.


Selain Reiji yang tadi sudah hendak bergegas untuk keluar dari bathtub, malah sepertinya sudah ‘pw’ dengan posisinya sekarang. Memangku Malia, dengan bibir yang sudah bergerilya ke leher Malia.


Membuat duduk Malia di atas pangkuan Reiji kian tak tenang. “Teruss.. aku kan, kamuu.. suruh bilas, takuut.. aku masuk, aangiin.. kalo kelamaan behrendemmh.” Ucap Malia dengan terbata-akibat serangan lembut namun bikin Malia geremet-geremet Reiji di lehernya, yang perlahan tapi pasti sedang merembet turun ke dada.


“Oh iya.. ya.”


Reiji menyahut setelah menghentikan apa yang sebelumnya ia lakukan pada tubuh Malia yang sedang ada di hadapan, di atas pangkuannya dalam bathtub.


**


“Yang—“ ucap Reiji yang pada akhirnya melepaskan Malia, meskipun tadi dirinya sudah cukup on di dalam bathtub.


Namun mengingat Malia yang menurut Reiji sudah terlalu lama berendam-dimana hal itu semakin Reiji yakini karena ia melihat kulit telapak tangan Malia yang sudah menyusut, jadi Reiji tidak melanjutkan keinginannya untuk bercinta di dalam bathtub dengan Malia.


Tak apa, Reiji rela.


Karena Reiji sedang bahagia dan berbunga-bunga.


Jadi walau Reiji agak sedikit ‘tersiksa’, Reiji rela. Karena cinta kemenangan atas hati dan cinta Malia telah ia dapatkan.


**


“Yang—“


Reiji berucap seraya memanggil Malia yang kini telah mengenakan jubah mandi, sementara dirinya menggunakan handuk biasa, kala ia dan Malia telah beringsut dari dalam bathtub.


Malia telah membilas dirinya, tapi Reiji menunda untuk mandi.


“Kenapa Rei?..”

__ADS_1


Malia pun langsung menyahut.


Dimana Reiji langsung memandangi Malia yang sedang mengikat tali bathrobenya di depan cermin wastafel, dengan Reiji yang bersandar pada dindingnya.


“Kamu mau mandi dulu?. Kalo iya, biar aku yang cek makanannya .. Kalo emang udah dingin banget ya sekalian aku panasin.”


“Bukan itu.”


“Terus?---“


“Aku mau tanya.”


Reiji masih berbicara dari tempatnya.


“Tanya apa?---“ tanya Malia. Sedikit was-was, karena Reiji agak serius dalam pandangan Malia.


“Soal kamu.” Jawab Reiji.


“Soal aku?---“


“Iya---“ Reiji manggut-manggut.


Malia sedikit mengernyit, sambil menelisik Reiji.


“Soal.. aku itu maksudnya?---“


“Sikap kamu.”


“Sikap aku?”


Malia terdiam sesaat, karena otak dan hatinya sedang menduga-duga.


‘Apa Rei ga percaya tentang ungkapan perasaan gue yang udah mencintai dia?’


Monolog Malia dalam hatinya.


“Kamu ga habis mengkonsumsi sesuatu kan?”


“Heu? –“


“Ganja, misalnya? –“


Dan Malia menoleh tajam seraya mendelik pada Reiji.


“Maksud kamu? ..” ucap Malia seraya bertanya pada Reiji yang nampak sedikit mengulum senyumnya.


Lalu Reiji mengangkat bahunya. “Yaa abis kamu bilang cinta ke akunya cepet banget gitu.” Ucap Reiji. “Takutnya kamu dibawah pengaruh ganja kaah, alkohol, mungkin?—“


Dan Malia pun melotot tajam pada Reiji.


“Sembarangan kamu!” pekik Malia, sambil melempar tube pembersih wajahnya.


Karena kebetulan tube pembersih wajah Malia itu tergeletak dekat dengannya. Dan Reiji sontak terkekeh geli saat Malia melempar tube pembersih wajah istrinya itu.

__ADS_1


“Jaga mulutnya ya Bapak Reiji Shakeel ..” ketus Malia.


“Ya aku kan cuma nanya, Yang?” sahut Reiji. “Syok abisnya ‘ditembak’ istri.”


“Ya ga gitu juga nanyanya.” Tukas Malia dengan menatap sebal pada Reiji. Dan Reiji terkekeh lagi.


“Yaaa aku kan mau memastikan aja kalo kamu ‘nembak’ aku tadi dengan penuh kesadaran.” Sahut Reiji lagi.


“Tau ah!”


“Duh gitu aja marah.”


“Marah engga. Kesel!”


Malia berucap ketus sambil lagi melempar tube pembersih wajahnya kepada Reiji, setelah tangan Malia sudah menyambar lagi tube tersebut setelah dirinya lebih mendekat pada Reiji yang kembali terkekeh geli.


“Ya udah Sorrii.”


Reiji berucap setelahnya.


“Sora, sori –“


“Ya kan aku bilang aku ini syok, denger kamu bilang kalo kamu udah cinta sama aku. Antara percaya ga percaya, macem orang menang lotre –“


Reiji menarik tubuh Malia hingga rapat dengannya. Lalu mengangkat tubuh Malia dan mendudukkannya di lantai wastafel.


Kemudian Reiji berdiri dengan sedikit merunduk dan menempatkan tangannya di sisi kanan dan kiri paha Malia. “Soalnya aku merasa ini kayak mimpi Yang—“ kata Reiji seraya tersenyum dengan melipat bibirnya. “Denger kalo kamu udah punya perasaan cinta sama aku.”


“Rei,” Malia yang tadi nampak sebal pada Reiji itu telah melembut. “Terserah mau percaya atau engga, tapi memang itu yang aku rasa saat ini ke kamu.” Ucap Malia. “Aku maklum kalo kamu sulit percaya dengan beragam praduga yang mungkin timbul di hati kamu dengan ungkapan perasaan aku ke kamu-soal aku yang bilang kalo aku udah cinta sama kamu-“


Sambil Malia menangkup wajah Reiji.


“Tapi ya itu yang sesungguhnya Rei.” Sambung Malia. “Maaf, aku memang mencintai Ir-“


Malia langsung menghentikan ucapannya.


“Dia.” Kata Malia yang meralat satu kata yang tadi ingin diucapkannya.


Kemudian Malia melipat bibirnya. Reiji mengulas senyuman sambil menatap pada Malia.


“Dulu. Pernah merasa sangat mencintainya. Hingga saat dia datang kembali, dan .. dia bilang dia cinta aku, ya .. aku berbunga-bunga. Merasa bahagia—“ Malia menjeda ucapannya. “Tapi kemudian aku sadar, kalau perasaan aku ke dia saat ini hanya sebuah kenaifan, dari impian masa lalu yang ga kesampean---“


Lalu Malia kembali lanjut berbicara, tanpa Reiji menginterupsi.


“Dan aku sadar, aku mengabaikan dan menyia-nyiakan ketulusan seseorang karena aku sempat dibutakan oleh kenaifan aku itu.”


Malia membingkai wajah Reiji, lalu menyugar lembut rambut Reiji seraya ia tersenyum.


“Orang yang aku pikir hanya aku sayangi, tapi orang itu bisa membuat aku merasakan yang namanya cemburu, bahkan saat aku belum menyadarinya. Bahwa ternyata, selama ini, sayang aku itu udah terkikis dan terganti sama rasa yang disebut cinta. Pada akhirnya aku ga bisa mengingkari penguasa hati aku yang sesungguhnya..”


Cup.


“Kamu, Rei.”

__ADS_1


****


To be continue..


__ADS_2