
Selamat membaca...
Semoga bahagia selalu...
***
“Jangan mandi,”ucap Reiji pada Malia, ketika ia mengikuti Malia yang sudah beranjak dari ranjang mereka dan berjalan menuju walk in closet.
Setelah juga Reiji merapalkan mantra yang hanya dirinya dan Tuhan yang tahu, untuk menurunkan sesuatu yang tadi sudah sempat naik di suatu tempat tersembunyi.
Malia yang sudah berada di dalam walk in closet untuk mengambil pakaian ganti berikut handuk baru itu segera menoleh dan memicing pada Reiji. “Pasti ada rencana dibalik ucapan kamu barusan?”
Reiji mendengus geli.
Lalu ia mengacak pelan rambut Malia, sambil Reiji membuka kancing seragam pilotnya.
“Paham banget sekarang Neng Lia,” celetuk Reiji.
“Udah kebaca! .... muka mesum kamu udah aku hafal banget Pak Reiji.”
“Masa?-“ Reiji mengukung longgar tubuh Malia yang punggungnya kini menempel dengan pintu lemari baju.
“Hu’um –“
Malia berdehem seraya manggut-manggut.
“Kayak gini bukan? –“ Lalu Reiji membuat ekspresi konyol di wajahnya, hingga membuat Malia mendengus geli.
“Dasar Pak Reiji Shakeel ....” ucap Malia sambil melengoskan dengan gemas wajah Reiji yang sedang dibuat konyol oleh siempunya.
Reiji ikut mendengus geli. “Kamu jangan mandi, aku serius bilangin –“ ucap Reiji. “Ga baik mandi jam segini,” imbuhnya.
Reiji masih mengukung tubuh Lia.
“Lebih baik nanti 1 – 2 jam sebelum tidur—“ tambah Reiji. “Lagian maghrib waktunya Cuma sebentar, sementara kamu mandinya lama—“
“Ya udah iya ....” Malia mengiyakan.
Reiji tersenyum kemudian.
“Dan lebih baik lagi mandinya bareng suami nanti—“
“Sudah kuduga pasti itu ujung – ujungnya,” tukas Malia dan Reiji terkekeh.
****
MALIA
Aku hendak memberitahu Reiji soal pertemuanku dengan Irsyad di kantor tadi, hingga akhirnya aku mau tidak mau menerima ajakan Irsyad untuk maksi bareng.
Tepatnya sih, kedatangan Irsyad yang tiba – tiba itu.
Namun tertunda, karena Reiji tahu – tahu menggendong dan membawaku ke kamar kami.
Aku mengingatkannya jika waktu maghrib segera tiba, mengingat betapa mesumnya suamiku itu.
Dan betapa menggemaskan wajah mesumnya yang kemudian menjadi lesu - kala disela ia curi – curi kesempatan untuk mencumbuku, tapi Adzan Maghrib lamat – lamat terdengar berkumandang di kejauhan.
Well, jujur saja kalau aku juga merasa kehilangan.
Sedikit banyak aku akui, jika Rei sudah mencumbuku, aku akan dengan mudahnya terbuai.
Bahkan sebelum aku jatuh cinta padanya-dia mampu membuatku yang tidak memiliki rasa cinta padanya kala itu, tak berdaya untuk menolak segala sentuhan Rei yang bisa membuatku melayang.
__ADS_1
Dan sekarang, setelah aku mencintainya-aku malah seolah menunggu Rei menyentuhku dengan intim.
Ah, gatal sekali kamu Lia.
----
Aku dan Rei sama-sama membersihkan diri kami secukupnya, demi mengejar waktu maghrib agar tidak ketinggalan.
Tak lupa berwudhu karena Aku dan Rei sepakat untuk menjalankan ibadah Maghrib berjamaah. Hal yang kini ingin aku sering lakukan seterusnya, jika memang memungkinkan.
Berjamaah dengan Rei, imam dalam hidupku. Yang sudah aku teguhkan hatiku untuk itu, atas dasar ikatan pernikahan kami, serta perasaan cintaku yang telah ada untuk Rei.
“Jangan batal wudhu dulu ya, Isya ga lama lagi kan? ....” ucap Rei selepas kami menjalankan Sholat Maghrib berjamaah.
“Iya –“
“Jarang-jarang soalnya kita bisa jamaah kayak gini, jadi kita manfaatin momen ya? ....” tambah Rei.
“Iya Rei ....”
Aku mengiyakan seraya tersenyum teduh pada Rei.
Lalu aku dan Rei bangkit dari atas sajadah kami masing-masing dan membiarkan dua sajadah itu tetap terbentang di tempatnya.
----
Aku masih memakai mukenaku, dan Rei masih mengenakan sarung sholatnya, saat kami beringsut dari tempat kami beribadah.
“Aku lepas dulu ya ini? ....” ucapku pada Reiji sambil menunjuk mukenaku.
“Silahkan aja Yang.”
“Eh iya, ngomong-ngomong kamu mau makan apa?”
Sembari aku melipat atasan mukenaku sekenanya dan menyampirkannya di sandaran sofa, karena aku akan mengenakannya lagi tak seberapa lama.
“Pengennya sih makan kamu ---“
“Ish!” aku mendesis sebal. “Masih mau ibadah ngomongnya udah menjurus lagi ....”
Rei pun terkekeh kecil.
“Ngomongnya kan ga pake nafsu juga.”
Aku mengerucutkan bibir.
Dan Rei memegang puncak kepalaku lalu menggoyangkannya pelan.
“Terserah kamu aja Yang ---“
“Ya jangan terserah aku dong! ....”
Aku menyergah.
“Kamu emang ga ada yang pengen dimakan gitu?”
“Ga ada. Aku makan apa yang kamu makan Yang ....”
“Aku juga bingung mau makan apa ....” ucapku.
“Udah laper banget emang? ....”
“Sedikit udah sih ....” jawabku. Yang membuatku mengingat sesuatu.
__ADS_1
Aku ingat hanya makan sedikit sekali siang tadi, dan tidak memakan apa-apa lagi setelah aku kembali ke kantor, selain meminum teh hangat.
Membuatku jadi ingat, kalau aku ingin mengatakan pada Rei soal aku yang pergi makan siang dengan Irsyad tadi siang.
“Ummm ....”
Aku bergumam pelan, sambil memikirkan bagaimana aku memulai untuk bicara jujur pada Rei soal aku yang pergi maksi dengan Irsyad tadi.
Reiji yang tadi hendak berdiri dari tempatnya entah mau ngapain, mengurungkan niatnya dan langsung membuat dirinya duduk seperti sebelumnya dan langsung menoleh ke arahku.
“Kenapa?”
“Ada yang mau aku kasih tau ke kamu ....”
“Soal? ....” tanya Rei lagi.
“Ir .... syad ....”
“Hm ....” Rei menggumam.
“Tadi siang aku ketemu dia -“
“Makan siang juga kan sama dia? ....”
Jangan tanya bagaimana ekspresiku, karena ucapan Reiji yang menyambar omonganku itu, dengan hatiku yang berdentum was-was.
“Ka-mu, tau, Rei? –“
Aku bertanya dengan sangat gugup.
“Iya aku tau .... aku liat dia dateng dan nyamperin kamu, lalu kalian pergi bersama ....”
Aku terperanjat mendengarnya, dengan pandangan mata yang fokus menatap pada Rei. Was-was jika Rei akan marah atau tersinggung.
Dan aku sedang menelaah ucapan Rei.
Jika dia melihat Irsyad datang menghampiriku dan melihat kami pergi bersama, itu berarti Rei sudah datang sebelum aku makan siang? ....
“Aku kebetulan udah sampe setengah jam sebelum waktu istirahat kantor kamu tiba. Mau kasih kejutan rencananya, selain lepas kangen.”
“Terus kenapa kamu ga nyamperin aku? ....”
“Ga ada alasan sih kenapa aku ga jadi nyamperin kamu Yang -“
“Tapi kamu ngikutin aku? –“ sambarku dengan hati yang kian was-was.
Aku takut jika dugaanku benar, lalu Rei melihat adegan Irsyad yang menggenggam tanganku lalu hendak menciumnya.
Tapi jika begitu, ekspresi Rei sejak kami bertemu di kantor hingga saat pulang tadi baik-baik saja?
Tidak ada gurat kemarahan atau kekesalan di wajah Rei. Malah ia berlaku mesra padaku.
“Engga, aku ga ngikutin kamu ....” jawab Rei dan perasaanku lega seketika. “Karena aku percaya kamu Yang. Aku terlalu percaya sama ucapan kamu yang mencintai aku, hingga sulit aku berprasangka buruk pada kamu ....”
Rei berkata dengan memandang teduh padaku.
“Sekalipun masih ada cinta di hati kamu buat dia, tapi kamu kan udah juga mencintai aku, dan itu rasanya cukup buat aku. Aku hanya akan lebih berjuang lagi, sampai tidak ada lagi sisa cinta di hati kamu buat dia .... Bukan takut dengan aku yang ga nyamperin kalian tadi. Aku hanya ga ingin ribut. Aku ingin memenangkan hati kamu dengan cara yang benar, selain aku tidak mau bikin kamu malu-jika andainya aku nyamperin kalian, lalu ada hal darinya yang memicu emosi aku dan kemudian membuat keributan ....”
Oh Rei, bentuk hati kamu kayak apa sih?
----
Bersambung ....
__ADS_1