WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 112


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Btw, Li, lo dah cerita sama Bang Rei soal Irsyad? ...”


“Belum.”


***


MALIA


Aku langsung teringat Avi yang bertanya padaku apakah aku sudah cerita pada Reiji soal Irsyad. Apakah karena Avi tak sabar menungguku sendiri yang cerita soal Irsyad pada Reiji, agar kakak lelakinya itu melakukan tindakan padaku?.. Mengurungku misalnya?.


Hal yang rasanya tidak mungkin Reiji lakukan, mengingat ia bukan laki-laki yang posesif. Meskipun Reiji pernah beberapa kali menunjukkan kecemburuannya, namun hanya sedikit saja dan tak menuntut macam-macam setelahnya, ataupun melarangku memiliki teman lelaki.


Lalu Avi yang memberitahu Reiji tentang Irsyad dengan melangkahiku?. Apa maksud Avi melakukan hal itu? .. Apa Avi takut hatiku terganggu dan berimbas pada pernikahanku dan Reiji. Yah, jika memang seperti itu, rasanya ketakutan Avi telah keburu terjadi sebelum ia menyadarinya.


Hatiku memang telah terganggu sejak Irsyad kembali.


Dan benar-benar terganggu, setelah Irsyad seperti mengakui perasaannya padaku. Dan yah, hubungan pernikahanku dengan Reiji pun terganggu, bahkan sebelum Irsyad mengakui perasaannya padaku hari ini. Aku dan Reiji dilanda kemelut masa lalu kami.


Teringat lagi tentang Reiji yang tahu tentang Irsyad-yang mana kemungkinan besar ia tahu dari Avi, membuatku kembali memikirkannya.


Tapi selama aku mengenal Avi, dia tidak akan bertindak seenaknya jika menyangkut ranah pribadi seseorang, termasuk aku sahabat karibnya.


Tapi setelah mendengar ucapan Reiji setelah bertanya sekaligus menyelidik jika aku pergi dengan Irsyad, aku rasanya jadi sedikit kesal pada Avi.


“Si Lelaki Im-pi-an-nya Malia?!”


Fix, aku sepertinya harus berbicara pada Avi, dan bertanya kenapa ia sampai lancang sekali bercerita hal detail tentang Irsyad, bahkan sampai pada hal bahwa Irsyad adalah Lelaki Impianku.


Reiji menatapku datar, namun ucapannya terdengar tajam penuh penekanan kala mengatakan soal ‘Si lelaki im-pi-an-nya Malia’. Yang langsung aku sambar dengan ucapan, “Ngomong apa Avi sama kamu?!”


“Hanya itu, Irsyad lelaki impianmu!”


Dan dengan cepat Reiji menjawabku.


Datar menatap, namun nada suaranya sedikit meninggi dan sinis.


Aku yang enggan menanggapi lebih jauh pada Reiji yang seolah sedang menunggu jawabanku, memilih untuk bersikap acuh tak acuh padanya.

__ADS_1


Jadi aku berbalik badan untuk kembali berjalan menuju kamarku dan Reiji.


Hanya saja, satu kalimat Reiji yang kemudian terdengar, terasa begitu menohokku.


“Lelaki impianmu yang sekarang jadi selingkuhan?“


Aku langsung berbalik badan, dan memandang pada Reiji dengan tajam.


“Jangan asal nuduh kamu!”aku berseru seraya mendelik pada Reiji, untuk mematahkan tudingan Reiji barusan.


Meski sebenarnya, aku pun meragukan perkataanku sendiri. Apa benar aku sedang berselingkuh di belakang Reiji dengan Irsyad.


Tapi aku hanya menemui Irsyad, lalu pergi ke suatu tempat yang bukan private, dan kami hanya sekedar mengobrol.


Yah meskipun obrolan terakhir adalah soal pengungkapan perasaan Irsyad padaku, lalu aku membiarkannya menggenggam tanganku.


Tapi sebatas itu, apakah juga disebut sebagai sebuah perselingkuhan?. Entahlah. Yang jelas, ada sudut hatiku yang terasa nyeri hingga membuatku ingin mengeluarkan air mata setelah mendengar tudingan Reiji, meskipun aku berbicara tak kalah ketus padanya.


“Kamupun asal menuduhku masih memiliki perasaan pada Irly.” Alih-alih Reiji membaikkanku yang terlihat sinis padanya, ia malah melontarkan cibiran padaku. Lagi, aku merasa tertohok oleh ucapan Reiji. Karena cibirannya itu memang benar adanya. Aku memang masih curiga jika Reiji masih memiliki perasaan pada Shirly."


Reiji yang berdiri tegak dihadapanku itu nampak sinis juga menatap sekaligus membalas ucapanku. Mungkin, seharusnya aku tidak perlu merasa gusar karena cibiran Reiji barusan itu.


Aku menjawab cibiran Reiji padaku dengan sengit. Tapi didetik berikutnya aku terdiam membeku, dengan lidah yang aku rasa kelu.


“Perasaan aku dimasa lalu pada Irly yang jadi pemicu kecurigaan kamu, yang berpikir aku masih punya perasaan sama dia, sampai kamu berpikir diri kamu adalah pelarian dari penolakan cintanya padaku kan?.. Lalu itu membuat kamu merasa layak pergi dengan laki-laki lain.”


Rahangku mengeras memang, tapi hatiku terasa perih mendengar ucapan Reiji yang panjang itu. Dan aku tak punya stok kata-kata untuk menjawab kalimat panjang Reiji barusan.


Aku kemudian berbalik badan, setelah aku terdiam.


Aku sudah merasakan mataku mulai basah. Dan jika aku berkedip sekali saja, aku rasa air mataku akan turun.


Mungkin memang aku salah pada Reiji karena aku memiliki beberapa kali janji temu dengan Irsyad tanpa sepengetahuannya.


Aku tidak menyalahkan Reiji yang mengatakan jika aku sedang berselingkuh karena hal itu. Ditambah, hari ini aku memilih untuk menemui Irsyad daripada bersama Reiji, bahkan baru pulang ke apartemen saat langit telah gelap.


Tapi tetap saja, ucapan Reiji yang mengarah pada cibiran tentang hubunganku dan Irsyad itu membuat dadaku terasa nyeri. Dan untuk itu aku sudah rasanya enggan untuk berbicara lagi dengan Reiji. Jadi aku membalikkan badanku untuk segera masuk ke dalam kamar kami.


“Apa lagi?. Aku ga peduli kamu mau ngomong apa!” Aku langsung berkata ketus, saat merasakan tangan Reiji mencengkram lenganku.


Cengkraman yang sepertinya menggunakan tenaga, karena aku merasakan remasan yang kuat di lenganku.

__ADS_1


‘‘Oh tentu kamu ga peduli sama aku .. Kamu pastinya lebih peduli sama lelaki impianmu itu kan?!’’ Alih-alih menenangkanku atau mengajakku duduk bicara, Reiji kembali melontarkan cibiran padaku.


Aku kemudian menatapnya dengan nanar.


“Jawab.” Tuntut Reiji, sambil tetap mencengkram tanganku.


“Kalau iya, kamu mau apa?” ucapan itu yang kemudian terlontar dari mulutku.


Yang entah bagaimana, begitu saja satu kalimat bernada tantangan itu meluncur dari mulutku kepada Reiji.


Aku melihat rahang Reiji langsung mengetat, dengan ekspresi wajah yang sulit aku gambarkan.


Yang jelas ekspresi Reiji selepas aku mengeluarkan satu kalimat tadi, tidak pernah aku lihat sebelumnya.


Aku yakin, Reiji terluka dengan kata-kataku.


Tapi mau bagaimana?. Aku merasa bersalah pada Reiji memang, tapi dia pun seolah memprovokasi emosiku.


Jadi,


“Sekarang kamu yang jawab, kalau iya-kalau aku lebih peduli sama Irsyad, kamu mau apa?---“


Aku semakin menantang Reiji. Dengan sinis dan tajam, namun kurasakan mataku semakin basah.


Aku menunggu balasan dari Reiji yang kemudian terdiam menatapku dengan tatapan yang juga sulit aku gambarkan dengan kata-kata, seperti ekspresinya.


Apa Reiji sedang berencana untuk menjatuhkan talak padaku?..


Nyatanya tidak. Dan kurasakan cengkraman Reiji mengendur di lenganku.


Dan aku manfaatkan momen itu untuk melepaskan diri dan menjauh dari Reiji secepat mungkin.


Lalu berjalan cepat menuju kamar kami yang langsung juga aku kunci pintunya dan menumpahkan air mata yang sedari tadi tertahan.


Entah apa yang aku tangisi.


Namun yang jelas, dadaku terasa sesak.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2