WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 226


__ADS_3

Selamat membaca....


♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦


MALIA


Belum selesai dengan rasa penasaran atas kenapa Rei sampai berbohong padaku atas ketidakhadirannya pada acara yang telah aku persiapkan, otakku kembali ia buat berpikir cukup keras.


Atas sebuah penemuan struk belanja dengan dua jenis item di dalamnya, jika aku tidak salah mengingat. Karena atas dasar rasa percaya diriku yang kelewat tinggi saat menemukan struk itu, aku memasukkannya ke tempat sampah dalam mobil Rei kemudian.


Karena aku berpikir, dua jenis barang itu adalah hadiah kecil yang Rei persiapkan untukku.


Tapi.....


Sampai aku dan Rei telah sampai di apartemen hingga waktu tidur sampai, bunga dan coklat yang aku temukan struknya itu tidak pernah sampai ke tanganku?.....


Bahkan sampai di keesokan harinya, dan sampai Rei pamit untuk berangkat kerja pun---dua benda yang aku tunggu itu, tidak pernah aku terima. Apa Rei lupa memberikannya padaku?


---


“Kamu ke bandara, nyetir mobil sendiri atau dijemput pake mobil yang biasa anter jemput kamu itu, Rei?” tanyaku pada Rei saat aku tengah mempersiapkan seragam pilotnya.


“Aku nyetir sendiri, Yang..... kenapa?---“


“Ga apa-apa, nanya aja.”


Aku menyahut santai.


“Tapi aku ga bisa jemput, ya Yang?----“


---


Aku mengiyakan.


Rei mengatakan jadwal kerjanya, tepat seperti jadwal kerja yang aku punya dari Pak Raka.


Jadi otakku tidak memiliki persepsi atas sebuah kecurigaan.


Pun saat Rei bilang, “Aku ga bisa jemput kamu ya, Yang?”


“Iya, kamu udah bilang tadi.....” sahutku.


“Aku sih balik ke sini lagi mungkin sekitar jam 5 atau 6 sore, tapi habis itu ada meeting di kantor maskapai yang ga tau sampe jam berapa.....”


“Ya udah berkabar aja----“


“Iya,” tukas Rei. “Mau dibawain sesuatu dari Surabaya?.....”


“Ga usah lah. Toh tiramisu juga masih ada di kulkas----“


---


Rei baru berangkat bekerja kira-kira jam 11 nanti. Meskipun masih cukup waktu tersisa jika Rei mengantarku dulu, namun aku menyarankan agar aku menyetir sendiri saja.


“Beneran ga mau aku anter?----“


“Iya----“


“Ya udah.”


“Lagian nanti kamu ga jemput kan? Kalau kamu anter, aku pulang naik taksi juga ujungnya. Mendingan bawa mobil aja akunya daripada harus nunggu taksi yang suka susah kalo aku pulang tengo.”


Tapi setelah aku pikir-pikir lagi.....


“Eh, iya deh Rei, aku dianter kamu aja.”


“Tiba-tiba berubah pikiran?” cetus Rei.


“Setirnya agak ga enak dibawa. Kayaknya belum ganti oli deh?.....” ucapku sekenanya.


“Ya udah, bentar aku ambil kunci dulu----“



“Aduuuh.”

__ADS_1


“Kenapa?----“


“Hp aku ketinggalan kayaknya----“


“Aku aja yang ambilin..... kamu duluan aja ke mobil.....”


“Beneran?----“


“Iya. Ada dimana kira-kira hp kamu?”


“Kayaknya di kamar.....”


“Ya udah. Kamu duluan gih sana ke mobil.”


“Makasih, ya?.....”



MALIA


Sudut bibirku terangkat sedikit ketika pintu lift tertutup, dimana aku sendirian di dalamnya.


Rei tidak jadi ikutan masuk, karena dia akan mengambilkan ponselku yang tertinggal di dalam kamar kami.


Sengaja aku tinggal lebih tepatnya, atas dasar rasa penasaranku atas sebuket bunga dan sekotak coklat----jika aku tidak salah ingat, yang tertera di struk pembelian yang pernah aku temukan di dalam mobil Rei.


Dimana dua barang itu, tidak pernah sampai ke tanganku.


Jika Rei terlupa, bisa jadi akan aku temukan dua barang itu di bagian paling belakang mobil Rei. Dan ini kesempatanku untuk menggeratak mobil suamiku itu.


Kalau Rei membeli bunga dan coklat untukku, lalu ingin memberikannya sebagai kejutan, rasanya lama sekali dia mendiamkan bunga yang pasti akan layu jika ditinggal seharian di dalam mobil.


Serta coklat pastinya akan meleleh, walaupun andai Rei membeli coklat dengan bungkusan dus yang rapat.


Lupanya sampai kebablasan gitu si Rei?.....


---


Aku termangu saat aku telah membuka bagian paling belakang mobil Rei, dan dua barang yang aku duga-duga ada di sana nyatanya tidak ada.


Otakku berpikir keras. Lalu aku teringat tempat sampah di dalam mobil Rei, tempatku memasukkan struk tersebut.


Meskipun aku ragu jika struk itu masih ada di sana, mengingat Rei itu rajin mengecek kembali mobil berikut tempat sampah kecil di dalamnya----dan akan dengan rajin pula membuang isi tempat sampah saat benda itu berisi, ketika Rei turun dari mobil setelah menggunakan mobilnya itu.


Walaupun aku ragu aku akan menemukan struk pembelian itu masih ada di dalam tempat sampah mobil Rei, namun aku tetap bergegas mengeceknya setelah aku menutup kembali pintu bagian paling belakang mobil Rei.



‘Yakin gue kalo di dalam struk itu tulisannya sebuket bunga sama coklat!’


Malia membatin di kursi penumpang depan, setelah apa yang ia duga tentang tempat sampah di dalam mobil Reiji itu tepat adanya.


Tempat sampah yang biasanya hanya berisikan struk jalan tol saja atau sesekali terisi bungkus cemilan itu sudah kosong. Bersih. Mobil Reiji. Tidak ada yang tercecer di dalamnya seperti biasa.


Yang hanya sesekali ada noda abu rokok saja, atau struk jalan tol  dan parkiran yang satu dua tercecer.


Selebihnya tidak ada sampah yang jorok di mobil Rei.


“Ketemu ga Rei?” tanya Malia yang menghentikan lamunannya, ketika ia melihat Reiji telah datang.


Dimana Malia langsung bertanya perihal ponselnya pada Reiji yang langsung memberikan benda pipih tersebut kepada Malia.


“Nih.....”


Reiji berucap sambil menyodorkan ponsel milik Malia tersebut, yang langsung Malia terima.


Dan Malia langsung memasukkan ponselnya tersebut ke dalam tas kerjanya.



‘Eh, tapi Rei ngecekin hp gue ga ya???----‘


“Kenapa?----“


“Heum???”

__ADS_1


“Ngeliatin aku begitu?”


Reiji bertanya pada Malia sambil memandang wajah istrinya yang di mata Reiji sedang memperhatikannya itu.


“Ga boleh emang ngeliatin muka suami sendiri?”


Reiji tersenyum geli, saat Malia menjawab pertanyaannya dengan menampakkan raut sebal, namun tidak serius.


“Sensi banget. Mau PMS pasti.....”


‘Kayaknya Rei ga ngecek hp gue,’ batin Malia. ‘Kalo dia ngecek, pasti dia bahas chat gue sama Pak Raka.'



‘Meskipun gue cuma sekilas melihat itu struk, tapi gue yakin kok ga salah baca----‘


“Kebiasaan.”


Malia terkesiap ketika pipinya rasa dicubit dengan gemas.


“Heum?.....”


Lalu Malia spontan menoleh ke arah kanannya.


“Lagi ada masalah di kantor?.....”


Kemudian Reiji bertanya.


“Kok kayaknya dari kemarin aku perhatiin kamu banyak bengongnya?.....”


“Engga ada masalah sih, cuma lagi banyak kerjaan dan bingung aja mana yang mau dikerjain duluan.”


“Huumm.....”


‘Gue tanyain ga ya?’


“Tapi nanti sesibuk apapun, makan siang jangan dientar-entarin ya?.....”


“Iya.....”



Hingga ia telah sampai di pelataran lobi gedung perkantoran tempatnya bekerja, Malia memilih bungkam untuk menanyakan tambahan hal yang membuatnya penasaran----selain, Reiji tetap mempertahankan kebohongannya di saat hari rencana perayaan kecil-kecilan yang sudah disiapkan oleh Malia.


Gatal untuk bertanya sebenarnya Malia.


Namun hatinya berkata, jika Rei masih menyembunyikan kebenaran tentang alasan yang sebenarnya mengapa dia sampai tidak datang di hari perayaan itu----maka bisa saja jawaban atas bunga dan coklat yang ingin Malia tanyakan itu, adalah sebuah kebohongan juga.


‘Masa iya gue harus ngikutin dia, sih?!.....’


Malia yang sedikit kurang fokus dengan pekerjaannya itu, kembali membatin saat ia tengah rehat sejenak untuk membuat kopi susu di pantri kantornya.



‘Detektif swasta itu beneran ada jasanya ga sih di Jakarta ini???.....’


Malia bermonolog lagi dalam hatinya, sambil ia memilih untuk tidak langsung kembali ke kubikel kerjanya setelah kopi susu sachet yang ia buat telah jadi.


‘Gue googling coba.....’ monolog Malia dalam hatinya lagi. Sambil ia meraih ponsel dari saku blazer kerjanya, dimana setelah Malia melihat ponselnya itu, ada sebuah pesan chat masuk dari nomor yang tidak di kenal.


Aku pikir kamu sudah pindah tempat tinggal, saat aku melihat suami kamu ini ada di tempat ini.


Begitu pesan yang tertulis dengan sebuah lampiran foto Reiji yang sedang memasuki lobi sebuah apartemen yang nampak asing untuk Malia.


Tapi setelah melihat ini, aku pikir ini bukan tempat tinggal kamu. Karena wanita yang sedang bersama suami kamu itu, bukan kamu.


Dimana dibawah pesan kedua ada satu lampiran foto yang langsung Malia klik untuk diunggah, karena ia mengatur ponselnya untuk tidak menerima otomatis pesan chat yang melampirkan foto atau video.


Sebuah foto, yang membuat hati Malia langsung rasa tak karuan dibuatnya.


Karena di foto itu, Ada Reiji yang nampak menyentuh kepala seorang wanita yang tersenyum pada suaminya dengan memeluk sebuah buket bunga.


♦♦♦♦♦


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2