
Selamat membaca....
****
REIJI***
Aku telah menyelesaikan pekerjaanku hari ini secara keseluruhan.
Setelah berpamitan dengan para kru yang tadi bertugas bersamaku, aku langsung melangkahkan kaki menuju parkiran bandara tempat aku memarkirkan mobilku.
Karena hanya perjalanan domestik dan pulang hari, jadi aku membawa mobil. Dan hari ini aku dan Lia menggunakan mobil masing-masing untuk bekerja. Mobil Lia yang tadinya tersimpan di rumah orang tuanya sudah diantarkan ke apartemen kami.
Padahal aku rasa dengan mobilku saja cukup, biar aku yang mengantar jemput Lia saja untuk bekerja, jika memang memungkinkan. Atau salah satunya. Atau jika aku memang berhalangan untuk mengantar jemput Malia, akan dengan senang hati aku mempersilahkan Lia membawa mobilku saja.
Tapi yah, Lia yang kadang keras kepala itu tetap meminta mobilnya dibawakan ke apartemen.
Ya sudah aku ikuti saja maunya. Daripada ngambek. Jatah vitamin ranjang bisa hilang. Hehe.
Lia bilang mobilku ga cocok untuk perempuan. Halah.
Dan lagi, kalau Lia bilang sih, buat jaga-jaga aja kalau kami memiliki mobil masing-masing yang kami bawa ke apartemen.
Siapa tahu ada yang mendadak nanti, jadi ga repot.- Kalo kata Lia.
Mm.... iya juga sih. Dan hari ini, kebetulan aku harus mampir dulu ke kantor maskapai untuk meeting yang biasa rutin diadakan.
Jadi memang tidak dapat mengantar Lia untuk pergi ke kantor, menjemput-pun juga tidak bisa, karena aku akan sampai sekitar jam tujuh atau delapan malam di Jakarta. Dan waktu bekerja Lia hanya sampai jam lima sore.
Jadi Lia berangkat ke kantor dengan menyetir sendiri mobilnya, dan aku menggunakan mobilku sendiri.
Aku selalu mengatakan jadwalku pada Lia, walaupun Lia jarang bertanya soal itu. Tapi aku tetap memberitahunya, meski tidak selalu juga.
Tapi setidaknya, aku selalu lapor tentang jam berapa tugasku berakhir, jika aku memang tidak bisa menjemputnya saat pulang kantor. Jadi andai kata Lia mau curiga aku macem-macem, dia bisa menghitung waktu perjalanan dari jarak tempuh antara bandara hingga sampai ke apartemen kami.
Hah, lagian mau macem-macem gimana. Aku saja masih terus fokus dalam misi membuat Lia benar-benar jatuh cinta padaku.
Boro-boro mau macem-macem, aku aja walau dikenal humble oleh rekan-rekan kerjaku, tapi untuk para pramugari kecentilan, aku dikenal jutek.
Itu dari sejak aku sudah menyandang gelar Captain, jauh sebelum perjodohanku dengan Lia.
Dimana aku sudah membentengi diri, untuk tidak melayani kecentilan beberapa pramugari yang mencoba menarik perhatianku.
Yah meski aku pernah berpacaran juga dengan satu diantara mereka. Yang ga centil tapi. Hanya kukuh saja mencoba menarik perhatianku, hingga dia mengatakan perasaannya padaku.
Yang kemudian entah karena iba, atau iseng pengen punya pasangan, ya aku terima saja dia jadi pacarku. Meski aku tidak memiliki rasa padanya.
Dan setelah dua bulan, dia menyerah sendiri pada akhirnya, karena ku-akui aku memang sangat cuek dan terkesan masa bodoh sebagai pacar.
Aku diputuskan olehnya, dan aku tetap masa bodoh.
Hingga pramugari mantanku itu kemudian minta balikan, yang mana tentu saja aku abaikan.
Oke, cukup pembahasan mantan.
Aku sudah bergegas untuk masuk ke dalam mobil, dan meluncur pulang ke apartemen, dimana aku yakin jika Lia sudah berada disana dan menungguku sampai.
Entah juga apa Lia selalu menunggu kepulanganku atau tidak. Karena Lia juga jarang sekali menanyakan-ku jika jam tugasku telah berakhir di bandara.
Ah sudahlah, aku tidak mempermasalahkannya. Toh selama ini diluar itu, Lia sudah menjalankan peranannya sebagai istri yang baik untukku, sesuai dengan janjinya.
Tak perduli Lia menunggu kepulanganku atau tidak, aku pasti akan pulang padanya.
Karena Lia adalah hatiku, dan hati itu adalah rumah impian bagiku.
Dari hati itu aku memiliki cinta, dan cinta selalu tau kemana ia harus pulang.
Dan cintaku adalah Lia, jadi aku akan selalu pulang padanya.
Ca elah.
Seketika aku rindu bibir merah muda Lia.
Ku-langkahkan kaki lebih semangat untuk segera mencapai mobil dan pulang ke apartemen.
Hingga getaran ponsel di sakuku, membuatku menjeda langkah. Mungkin saja Lia yang menghubungiku.
Ternyata bukan Lia.
Nomor tak dikenal, aku abaikan.
Aku tolak bahkan, karena aku memang malas mengangkat nomor yang tidak aku simpan di ponselku.
Lalu nada notifikasi pesan masuk berbunyi di ponselku. Yang membuatku kembali menjeda langkah. ‘Ji, ini gue, Irly. Gue yang telpon lo barusan.’
Demikian pesan tertulis yang masuk ke ponselku. Lalu aku langsung menghubungi nomor tak dikenal yang masuk ke ponselku tadi, yang ternyata adalah Irly, sahabatku.
“Ir!” sapaku, saat panggilanku terjawab.
Dan suara ceria Irly seperti selalunya, menjawab sapaanku.
“Nomor baru?....” tanyaku pada Irly di sebrang sambungan telpon.
__ADS_1
“Iya, terpaksa beli nomor baru, karena lupa nyetting,” jawab Irly, yang mana aku mengerti maksudnya dengan lupa nyetting.
“Lo di Indo?....”
Segera saja pertanyaanku itu tercetus dan Irly mengiyakan.
“Baru dateng tadi siang, ada urusan sama sodara gue. Makanya gue telpon lo nih!”
Setelahnya aku mencetuskan lagi beberapa pertanyaan pada Irly, sodara yang mana, sampai kemudian Irly menanyakan sebuah daerah di Jakarta Pusat.
Dimana Irly bingung, karena ia belum memiliki akun taksi online Indonesia dan sebagainya, plus bingung kalo naek taksi biasa, karena udah lupa-lupa inget banyakan lupanya tentang daerah rumah saudaranya yang ingin ia temui itu.
“Kok malem-malem, bukan dari tadi sore aja?”
Satu pertanyaan lagi tercetus dari mulutku.
“Gue baru nyampe siang langsung beberes apartemen yang bakal gue tinggalin nanti. Ketiduran baru mau maghrib ngendusin, dan gue udah terlanjur janji mau ke rumah sodara gue itu buat nginep disana malem ini.” cerocos Irly.
“Jadi kalo gue naik taksi, patokan nya apa deh?”
Kemudian Irly bertanya padaku. “Udah gini aja deh, share loc ke gue tempat lo sekarang. Gue aja yang anter lo ke rumah sodara lo.”
“Serius mau anterin gue?”
“Iyaa....”
“Ngerepotin ga?”
“Alah basa-basi!”
Dan aku mendengar gelakan renyah dari sebrang telpon.
“Eh ngomong-ngomong lo ke Indo lagi, Argan sama siapa di Canberra?. Lo titipin sama temen lo lagi? ....”
“Kali ini gue ajak,” jawab Irly dan jawabannya itu membuatku senang.
Membuatku jadi kian bersemangat untuk segera bertemu dengan Irly, jadi aku bisa segera bertemu dengan Argan.
Bocah lima tahun yang sudah dekat denganku sejak ia lahir, namun sudah lama kami tidak bertemu. Bocah yang memanggilku, Papi.
Ah si Irly nih, bukan bilang kek dia bawa Argan. Jadi kan aku bisa menyiapkan sesuatu untuk bocah laki-laki menggemaskan itu.
Eh tapi mumpung masih di bandara, bisa nyari sesuatu yang bisa aku beli dan bawakan untuk Argan.
Okelah, aku pending sebentar ke parkiran, dan melangkah cepat menyambangi toko yang tersedia lengkap di bandara.
Tinggal memilih saja, apa yang ingin aku belikan untuk Argan.
Jika mengingat Argan aku menjadi bersemangat. Ah iya aku langsung teringat juga pada Lia, penyemangatku untuk segera pulang, jika tugasku telah selesai.
Ingin menghubungi Lia, tapi kuputuskan untuk menulis chat saja, karena aku sudah masuk ke sebuah toko, dan memilih sesuatu untuk Argan.
‘Yang, aku pulang telat. Kamu makan duluan aja, jangan nungguin aku, takutnya lama.’
Sebaris chat itu kemudian aku kirimkan pada Lia.
Meski menurutku pasti Lia sudah makan malam duluan, melihat waktu sudah jam delapan malam lewat.
Tapi sampai setelah aku selesai bertransaksi di toko cemilan yang sedang aku masuki ini, pesan chat-ku ke Lia masih centang dua. Mungkin Lia sudah tidur.
Jadi aku masukkan ponselku kembali ke dalam saku, dan buru-buru pergi ke parkiran tempat mobilku berada, lalu pergi ke apartemen Irly untuk menjemputnya dan Argan yang sudah aku bayangkan jika bocah itu pasti akan berhambur kepadaku, dan meminta gendong dengan antusias.
**
‘Ada masalah di Bandara?’
Reiji sedang mengecek ponselnya saat ia sedang berada di sebuah rumah dalam kawasan Jakarta Pusat.
Pesan chat yang berupa balasan pesan dari Malia itu baru sempat Reiji baca sekarang ini, karena saat ia mendengar notifikasi chat dalam sebuah aplikasinya itu berbunyi, Reiji telah sampai di kawasan apartemen yang hitungannya biasa, dimana seorang wanita dan seorang anak lelaki berusia lima tahun sedang menunggunya.
Jadi Reiji menunda untuk membacanya, hingga ia telah sampai ke sebuah rumah untuk mengantarkan Irly ke rumah saudaranya itu. Reiji hendak menghubungi Malia melalui panggilan telepon, tapi akhirnya hanya pesan chat lagi yang Reiji kirimkan untuk menjawab pertanyaan Malia dalam chat, dikarenakan bocah yang bernama Argan itu kembali berhambur padanya.
Bahkan Reiji menunda dulu untuk membalas pesan chat Malia, karena bocah lima tahun bernama Argan itu meminta Reiji untuk membukakan bungkus es krim yang sedang digenggamnya. Baru setelah lima menit kemudian, Reiji membalas pesan chat Malia, karena Reiji mengawasi Argan yang memakan es krimnya sampai belepotan, dan Reiji memangkunya dengan mempersiapkan tisue untuk mengelap setiap leleran es krim yang belepotan di wajah Argan.
‘Oh.’ Balasan chat dari Malia setelah Reiji menjawab pertanyaan Malia dari chat yang sebelumnya.
‘Sorry ya, Yang, aku ga pulang tepat waktu jadinya. Tadi mendadak Irly telpon aku. Kasian soalnya kalo sendirian muter-muter cari alamat.’
‘Iya.’
‘Kalo udah ngantuk tidur aja, ga usah nungguin aku.’
‘Iya.’
‘Love you.’
Reiji tersenyum sejenak, lalu memasukkan kembali ponsel ke sakunya, dan kembali memperhatikan bocah bernama Argan, yang sudah hampir menghabiskan es krimnya, sementara sang mama, sedang diajak mengobrol di dalam rumah, bersama si empunya rumah yang merupakan saudara dari Irly.
Reiji memang sudah diajak bergabung ke dalam tadi oleh Shirly dan saudaranya itu. Namun karena ia ingin menghubungi Malia, jadi Reiji tak menyegerakan dirinya untuk bergabung di dalam rumah tersebut.
Lagipula rasanya Reiji sungkan untuk ikut nimbrung ke dalam bersama Shirly yang mengobrol dengan saudara dari almarhum orang tuanya itu, yang baru saja pindah ke Jakarta setelah lama tinggal di Batam sana, kalau menurut cerita Shirly saat diperjalanan tadi.
__ADS_1
“Ji!....”
“Kenapa?”
Reiji segera menoleh dan sedikit mendongak saat suara berikut sosok Shirly yang menghampirinya di teras rumah tersebut, terdengar dan muncul di dekat Reiji.
“Masuk yuk?....” ajak Shirly. “Udah disiapin suguhan tuh.... Diajak makan malem malah.... Yuk?....”
“Duh, jadi ga enak nih gue,” kata Reiji.
“Santai aja lah!”
Shirly menyergah.
“Yuk?....”
Shirly mengajak Reiji lagi untuk masuk ke area dalam rumah saudaranya itu.
Dan Reiji pada akhirnya mengiyakan ajakan Shirly seraya ia bangun dari duduknya dengan menggendong serta bocah bernama Argan yang sudah bersamanya sedari bocah lima tahun tersebut menikmati es krim yang dibawanya dari dalam rumah saudara sang ibu.
Perlakuan ramah Reiji dapatkan, dari sepasang suami istri yang tinggal di rumah tersebut. “Ngomong-ngomong, kalian ga nikah aja, biar Argan punya keluarga lengkap?” wanita yang merupakan istri dari sang pemilik rumah itu berucap sambil memandangi Reiji yang sedang menggendong Argan, juga memandangi Shirly.
Dimana didetik berikutnya Reiji dan Shirly saling tatap.
**
MALIA
Aku,
Rasanya kesal setelah membaca chat dari Reiji, tentang kenapa dia sampai pulang telat.
Walau sebenarnya sudah biasa, Reiji akan sampai sedikit molor dari estimasi waktu, jika ada urusan atau kendala teknis di Bandara setelah ia selesai mengemudikan burung besi pada langit diatas sana.
Untuk itu aku tidak pernah protes, apalagi berpikir macam-macam.
Tapi setelah satu foto berikut note dengan tulisan yang ambigu bagiku aku temukan di tumpukan barang Reiji, otakku ini entah was-was atau apa, tentang bagaimana hubungan Reiji dan Shirly dimasa lalu. Termasuk apa yang pernah keduanya rasakan satu sama lain.
Tapi alasan Reiji pulang telat malam ini sungguh membuat hatiku tidak nyaman.
Entah kesal karena Reiji sedang bersama sa-ha-bat nya itu, atau karena aku kesal sudah mempersiapkan kejutan, dengan bela-belain pulang cepet terus masak, demi membalas kebaikan suamiku atas perayaan satu bulan pernikahan kami.
Dimana aku memasak spesial hari ini walaupun bukan memasak menu yang spesial-spesial amat, ya itu untuk membalas kebaikan Reiji yang telah memberikan kejutan Candle Light Dinner bulan kemarin, karena hari ini, tepat dua bulan aku dan Reiji menjadi sepasang suami istri.
Tapi apa yang telah aku lakukan dan aku persiapkan hari ini rasanya sia-sia saja, karena suamiku itu sedang bersama sa-ha-bat nya yang ia kasihani kalo muter-muter sendiri cari alamat.
Cih!.
Memang si Shirly itu anak balita yang ga bisa nanya sama supir taksi misalnya?. Ga mungkin juga dia pake handphone jadul yang layarnya masih monokrom kan?. Pasti punya android atau ios yang punya namanya peta digital.
‘Sorry ya, Yang, aku ga pulang tepat waktu jadinya. Tadi mendadak Irly telpon aku. Kasian soalnya kalo sendirian muter-muter cari alamat.’
Begitu chat Reiji padaku, dan aku hanya mendengus sinis saja membacanya. Dan jawabanku pada chatnya kemudian hanya ‘oh’ dan ‘iya’. Di chat terakhir yang Reiji kirimkan bertuliskan, ‘Love you’, yang mana tidak aku balas.
Malas.
Dan kesal.
Tahu begitu, aku ikut pergi hang out bareng sama temen-temen satu divisiku aja tadi.
Daripada repot-repot masak begini, membuat kuku-ku tergores pisau, walau tak berarti goresan-nya juga.
Aku ingin marah dan menelpon Reiji lalu mencak-mencak rasanya.
Tapi apa harus aku melakukan itu?.
Karena cemburu?.
Ah entah, aku pun tak tahu apa yang aku rasakan saat ini, yang jelas aku kesal. That’s it!.
Membuatku menjadi kian penasaran atas cerita masa lalu keduanya. Tentang apa pernah ada cinta diantara keduanya, walau Reiji mengaku kalau dia dan Shirly tidak pernah pacaran.
Tapi kenapa perasaanku seolah mengatakan, Reiji begitu perhatian pada Shirly melebihi sahabat-sahabatnya yang lain.
Dan kenapa, Shirly sering sekali menghubungi Reiji, serta kenapa harus Reiji yang ia mintai pertolongan?.
Tapi mungkin ada kisah yang spesial meski tidak pernah ada kebersamaan yang spesial diantara Reiji dan Shirly yang masih membekas, walau dari kisah itu tidak pernah tercipta kebersamaan, sama sepertiku yang punya cerita dengan seseorang dimasa lalu.
Kisah spesial, tanpa ada perwujudan kebersamaan. Menyebalkan dan menyedihkan disaat yang bersamaan.
Seperti itu juga kah hubungan Reiji dan Shirly di masa lalu?. Demi Tuhan, rasa penasaran tentang mereka kini menggangguku.
Disaat yang sama, gelombang-gelombang masa laluku, kini menghempasku. Membuatku mengingat kembali kisahku, dengan seseorang yang ingin aku lupakan dan impian bersama dengannya telah aku kubur saat aku telah memutuskan menerima perjodohanku dan Reiji.
Tapi tentang Reiji dan Shirly ini, membuat pikiranku berkecamuk kembali. Membuatku teringat lagi kisah masa laluku dengan Irsyad.
Oh Tuhan, apa kini aku meragukan atas pengakuan cinta Reiji padaku?. Ataukah kini aku sedang meragukan pernikahanku dengan Reiji, serta Reiji sendiri?.
Hh,
Lebih baik aku segera memeriksakan keadaan diriku lewat testpack yang telah aku beli di apotik tadi.
__ADS_1
**
Bersambung....