
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
“Aku terima ga?”
Reiji yang bertanya sambil menoleh pada Malia ketika sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya dikala ia sudah hendak melakukan syarat yang istrinya itu minta sebagai penebus kesalahannnya karena---katakanlah, Reiji terlalu peduli pada Shirly maupun anak lelakinya.
“Terima aja...“ jawab Malia, dan Reiji mengangguk mengiyakan. “Halo, Bas----“
❇❇❇
REIJI
Panggilan dari Abbas yang masuk ke ponselku saat aku hendak menghubungi Irly di nomor barunya untuk melakukan syarat yang diajukan Malia sebagai penebus kesalahanku.
Aku enggan bicara lagi dengan Irly sebenarnya. Karena ujungnya nanti Argan yang akan bicara denganku. Dan jika bocah itu mengambil alih pembicaraan, biasanya tidak akan lama dan maunya panggilan video.
Lalu rengekan kemanjaannya yang akan aku lihat dengan wajah menggemaskan bocah lelaki yang sebenarnya aku sayangi itu. Namun aku ingat pada keputusan Lia yang memutuskan sepihak dengan menghentikan promil agar kami bisa segera punya momongan. Dan sedikit banyak ia terganggu dengan keberadaan Argan dan bagaimana sikap anak itu padaku.
Pikiranku sih seperti itu. Selain Argan adalah anak Irly, perempuan yang tidak Lia senangi sama sekali. Mungkin juga Lia tidak rela jika ada anak dari perempuan lain yang menganggapku sebagai ayahnya.
“Samlekom Pak Pilot, susah banget dihubungin gila!...”
Begitu Abbas langsung menyapaku setelah aku menerima panggilannya.
Aku langsung mendengus kecil, kemudian menjawab sapaannya. “Sorry, Bro. Lagi banyak urusan,” kataku kemudian.
-----
“Sorry kalau gue mengabaikan pesan dan panggilan lo sebelumnya, termasuk dari Aldo dan Irfan. But things kinda complicated now for me,” sambungku, dan Babas langsung berucap.
“Gue denger soal lo sama Irly.”
Dan ucapan Babas tepat seperti dugaanku, jika Irly telah menceritakan---katakanlah keputusanku untuk mengakhiri persahabatanku dengannya---pada tiga sahabat kami yang lain.
Aku lalu melirik Lia yang nampak duduk malas di sampingku, namun aku tahu jika dia pasang telinga pada pembicaraanku dan Babas. Dan atas pembicaraanku dan Babas itu---yang mana aku tahu jika pembicaraan teleponku dengan salah satu sahabat lelakiku itu, akan banyak menyebut Irly---makanya aku langsung melirik Lia.
Bertanya dengan mataku padanya, apa aku harus memutuskan pembicaraanku dengan Babas yang akan banyak menyinggung soalku dan Irly. Karena aku tidak mau gegabah lagi soal Irly, walaupun hanya sebatas membicarakannya. Lalu nanti hal itu akan masuk hal yang bisa saja diungkit Lia di satu waktu.
Namun Lia menggerakkan tangannya yang menandakan jika aku silahkan melanjutkan pembicaraanku di telepon dengan Babas yang sengaja memang aku loud speaker agar Lia bisa mendengarnya juga, termasuk juga Avi.
Yang mana dari sini, aku ingin Lia mengerti jika tak akan ada hal apapun lagi yang aku sembunyikan darinya di kemudian hari.
❇❇❇
“Apa yang lo denger?----“
“Kalau lo memutuskan persahabatan sama dia. Termasuk yang katanya istri lo tau-tau dateng ke apartemennya dan ribut karena istri lo cemburu sama dia...” Abbas dengan cepat menjawab pertanyaan Reiji.
Malia yang mendengar ucapan Abbas barusan, langsung mendecih sinis namun pelan.
Reiji langsung menggenggam tangan Malia, dengan satu tangannya yang bebas. Dimana genggaman tangan itu, adalah sebuah penyampaian agar Malia tenang.
Lalu Reiji bertanya lagi dengan matanya pada Malia. Dan Malia kembali mempersilahkan Reiji untuk melanjutkan pembicaraannya dengan Abbas---dengan Malia yang menggerakkan dagunya.
❇❇❇
“Istri gue ga cemburu tepatnya.”
Reiji tak lama langsung berbicara, menanggapi ucapan Abbas sebelumnya.
“Tapi salah ada di gue dari awal. Lia udah ga suka kalau gue sedekat gue dan Irly selama ini----“
“Tapi kan ada kita-kita, Bro?...” tukas Abbas.
Dan pria itu langsung bicara lagi setelahnya.
“Dan seinget gue, asal kita kumpul, kita orang selalu minta lo bawa bini lo, kan? Termasuk Irly yang juga bilang begitu.”
“Iya,” sahut Reiji. “Dan selama ini Lia menolak ikut kalau kita mau kumpul, karena memang dia ga nyaman sama Irly---kedekatan gue sama dia selama ini.”
“Ya itu masuk dalem kategori cembokur, Pak Reiji----“
“Whateverlah. Yang jelas Lia ga suka dengan persahabatan gue dan Irly. Dan gue banyak salahnya dalam hal ini.”
❇❇❇
“Gue ga peka, sama keinginan istri gue. Termasuk perasaannya terkait persahabatan gue sama Irly dan bagaimana sikap gue ke dia, padahal gue udah nikah...”
“Ya lo kasih pengertian lah, Ji... kalo lo sama Irly murni bersahabat. Toh pasangan gue, Al sama Irfan pun fine aja sama Irly, kan? Dan gimana jadinya Argan yang bahkan lebih lengket ke elo, Ji. Kalo sampai lo mutusin persahabatan sama Irly gitu aja? Kita udah janji buat jagain dia loh? terlebih dengan kondisi Argan sekarang. Kasian, Ji----“
“Intinya gini, Bas. Gue masih bersedia buat jalin persahabatan dengan lo, Aldo dan Irfan. But Irly, no. Gue ga seharusnya deket sama dia seperti dulu lagi sekarang karena gue punya istri. Kedekatan dan perhatian gue sama Irly walaupun cuma sebatas sahabat nyatanya menggores perasaan istri gue dan gue ga nyaman untuk itu. Istri gue ga suka sama Irly termasuk kedekatan gue dengan dia. Gue rasa lo paham sampai sini. So---tentu\, gue pilih istri gue karna gue cinta sama dia.“
Reiji yang sempat menghela nafasnya sedikit berat itu kemudian berucap panjang lebar---hampir tanpa jeda, dengan ekspresi wajah yang serius, seolah Abbas ada di hadapan Reiji.
__ADS_1
❇❇❇
“Dan please jangan menilai buruk istri gue karena dia minta gue buat mengakhiri persahabatan gue dengan Irly. Karena kalau lo, Aldo, Irfan bahkan Irly mengatakan hal yang memojokkan Lia---mencibir atau bahkan merendahkannya, kalian berhadapan langsung sama gue. Sampe sini, gue rasa udah cukup jelas ya, Bas? No more pembicaraan kita tentang Irly---pun sangkut paut dia sama gue setelah ini.”
Reiji sudah nampak hendak mengakhiri percakapannya di ponsel dengan Abbas. “Ya udah kalo emang itu mau lo. Sedikit banyak gue faham posisi lo. Mungkin gue ambil buat pelajaran ke depannya kalo gue udah nikah nanti supaya peka sama perasaan bini gue...“ Abbas berucap kemudian. “Yaa meski ga tau sih kapan gue nikahnya.”
Lalu Reiji terkekeh kecil di tempatnya.
“Gue doain lo cepet tobat...” celetuk Reiji kemudian.
Kekehan Abbas pun terdengar dari seberang ponsel Reiji.
❇❇❇
“Well... gue udahin dulu omongan kita sekarang. Gue uma pengen denger penjelasan dari lo aja tentang apa yang Irly ceritain ke gue juga ke Al sama Irfan.”
“Thanks buat perhatian lo----“
“Bangke. Kapan gue ga merhatiin lo? Yang ada elo sejak beneran jadi pilot yang jadi sibuk bener anjiir...”
Reiji pun terkekeh mendengar selorohan Abbas.
“Macem sendirinya ga sibuk syuting aja...” sahut Reiji kemudian. “Seleb paling hits sekarang. Sampe males gue liat tivi lokal saking sering banget muka lo wara-wiri di sana.”
“Hahaha.”
Gelakan Abbas terdengar.
Reiji mendengus geli. Sementara Avi dan Malia mengulum senyumnya.
Lalu tak lama terdengar Abbas yang bicara lagi, setelah ia selesai tergelak.
“Oke deh kalo gitu, Ji. Salam buat istri lo... dan gue pengen kita tetep seperti ini. Well, no Irly of course. Lagian, cowok punya waktu mereka sendiri kan?... nanti gue sampein semua yang bilang ke gue, ke si Al, Irfan termasuk Irly. Gue juga baru sampe di apt----“
“Thanks, Bas. Salam juga buat cewe lo... semoga dia sabar pacaran sama playboy cap kakap kayak lo,” tukas Reiji. “Dan diseriusin kali. Bae sama sabar itu dia. Kasian sih sebenarnya gue sama dia yang jadi pacar lo,” tambah Reiji. Dan gelakan Abbas terdengar lagi.
“Bangke. Gue coba serius nih sama yang ini,” sahut Abbas setelahnya. Lalu Abbas dan Reiji sepakat mengakhiri sambungan telepon mereka.
Dimana setelahnya, Reiji langsung menoleh kepada Malia. Bertanya pada istrinya itu kemudian. “Ada pembicaraan aku dan Babas yang nyinggung perasaan kamu ga, Yang?” dengan lembut Reiji bertanya, sambil menggenggam tangan Malia.
❇❇❇
MALIA
Karena---meski sempat agak kesal dan sebal mendengar ucapan sahabat Rei yang merupakan artis lokal yang aku kagumi itu---bahkan sempat berencana untuk berhenti mengaguminya, soalnya diawal Abbas seperti memojokkan Rei untuk memikirkan kembali keputusannya untuk memutuskan persahabatannya dengan si bibit pelakor.
Namun diakhir, nyatanya aku bisa menangkap kalau Abbas adalah orang yang cukup bijaksana juga.
Selain dewasa dan asik juga. Sesuai dengan bayanganku tentang sifat satu seleb tersohor tanah air itu, dari gambarannya di televisi.
-----
“Syukur deh...”
Rei berucap kemudian dengan wajahnya yang nampak lega.
Lalu Rei kembali memandang pada ponselnya.
Yang mana aku tebak, jika Rei akan lanjut melakukan apa yang sebelumnya tertunda karena panggilan telepon dari Abbas. Yakni, menghubungi si bibit pelakor itu. Untuk melakukan syarat dariku sebagai penebusan kesalahan Rei padaku karena itu perempuan.
“Dah ga usah...”
Aku mencegah Rei menghubungi si bibit pelakor itu.
Bukan tidak konsisten dengan kata-kataku.
Hanya saja, setelah mendengar pembicaraan Rei dengan Abbas tadi, aku rasa itu sudah cukup bagiku melihat kesungguhan Rei yang tergambar dari setiap kata yang ia ucapkan pada Abbas dengan penegasan walaupun dengan nada suara Rei yang normal.
Lalu keseriusan Rei untuk usahanya mendapatkan maaf dariku pun sudah terlihat dari sikapnya yang ingin menghubungi si Shirly itu, sehubungan dengan syarat yang aku berikan pada Rei.
Dan melihat Rei bisa seserius tadi pada Abbas dengan memberikan penegasan tentang diriku bahkan Rei terkesan sedikit mengeluarkan ancaman, aku jadi berpikir tidak perlu lagi Rei melakukan syarat yang aku minta.
Yakni, meminta kembali uang yang pernah ia berikan pada si bibit pelakor itu.
Yang sebenarnya juga, aku hanya mengetes kesungguhan Rei saja dengan meminta hal tersebut. Yang mana sempat aku terka, jika syaratku itu cukup sulit untuk Rei lakukan.
Tapi ternyata, gelagat Rei menunjukkan ia akan melakukan permintaanku itu. Selain ia memang sudah menyanggupi sebelumnya.
Permintaan yang konyol sebenarnya, yang sedikit banyak juga akan merendahkan Rei juga sih.
Dan hal itu kini menjadi perhatianku, setelah mendengar setiap ucapan serius Rei pada Abbas tadi.
Dan mengingat juga apa yang Abbas katakan, kalau dia dapat cerita dari mulut si bibit pelakor itu yang terkesan menyalahkan Rei---dan perempuan rese itu bercerita tentang hal tersebut pada Abbas dan dua sahabat Rei lainnya, aku jadi tidak tega kalau Rei sampai dipandang rendah oleh tiga sahabat lelakinya itu karena ia meminta uang yang pernah ia berikan pada si Shirly yang sebenarnya itu adalah permintaanku.
Jadi aku pikir, aku cukupkan saja edisi mengetes Rei untuk kesungguhannya memperbaiki kesalahannya padaku yang menyangkut si bibit pelakor itu. “ Kamu ga perlu hubungin dia buat minta balik duit yang udah kamu kasih ke dia. Lagian aku juga udah males denger suara itu perempuan. Kebayang juga kalo dia pasti sok-sok melas sama kamu kalo aku ingat tulisannya di chatnya itu.” Aku pun menyambung ucapanku.
__ADS_1
❇❇❇
“Beneran aku ga perlu lakuin syarat kamu?”
Reiji langsung mempertanyakan keputusan Malia
“Iya----“
“Yah, Neng----“
“Cewe matre diem,” tukas Reiji pada Avi yang menyela jawaban Malia atas pertanyaannya, dan Avi pun langsung menunjukkan ekspresi konyolnya pada sang kakak yang berkata setengah ketus sambil mendelik padanya.
Malia langsung terkekeh kecil di tempatnya.
❇❇❇
“Aku percaya sama kesungguhan kamu, dan aku anggap memang kamu hanya sekedar ga peka sama perasaan aku terkait kamu yang nafkahin itu bibit pelakor bertopeng sahabat. This is the first and the last ya, Rei. Meskipun kamu udah sempet ingkar janji sama aku yang katanya mau ngejauhin dia, tapi kamu malah bela-belain anaknya dengan mengabaikan aku yang udah bikin persiapan buat nyenengin kamu waktu ulang tahun kamu...”
“Iya, Yang... aku minta maaaf banget soal itu...”
“Aku ga tau sih berapa kali kamu bohongin aku terkait dia----“
“Cuma waktu itu aja, Yang. Aku cuma beneran panik karena ga tega sama Argan, dan aku takut kalau aku jujur kamu marah.” Reiji menukas ucapan Malia.
“Ya ujungnya aku marah juga kan?”
Malia menyahut.
“Malah murka karena tau bukan dari mulut kamu, ditambah bahasa ‘sahabat perempuan tercinta’ kamu----“
“Yang...” Reiji menukas lagi ucapan Malia yang menyertai sedikit cibiran dalam ucapannya dengan sergahan pelan.
“Ya intinya serapat-rapatnya bangkai yang kamu tutupin ujungnya bakal kecium juga, Rei.”
“Iya, Yang... sekali lagi aku minta maaf.”
“Iya. Aku maafin----“
“Makasih ya?----“
“Iya.”
“Tapi sekali lagi aku minta, dan kayaknya aku udah beberapa kali ngomong gini sama kamu... buat selalu terbuka sama aku soal perasaan kamu kalau emang ada sikap aku yang dirasa ga bikin kamu nyaman. Kasih tau aku, kamu maunya apa, maunya aku gimana... biar ke depannya aku ga melakukan sesuatu yang salah di mata kamu.”
“Iya nanti aku kasih tau. Tapi sekarang mendingan kamu traktir aku sama Avi deh, ya ga Vi?...”
Malia menoleh ke arah sahabat sekaligus adik iparnya.
“Gue pengen pizza yang semeter. Elo?----“
“Gue pengen makanan dari Namaaz Dining----“
“Mana bisa take away itu makanan di sana, gilingan...”
Dua wanita yang berarti bagi Reiji itu mulai sibuk berdiskusi soal makanan, dan Reiji tersenyum saja melihat interaksi istri dan adiknya itu.
❇❇❇
REIJI
Aku dan Lia berbaikan.
Di depan Avi semalam, aku dan Lia sama-sama membuat janji agar kami lebih terbuka satu sama lain ke depannya.
Sekaligus aku pastikan jika persoalanku dengan Lia terkait Irly, benar-benar selesai. Dan aku meminta Lia berjanji untuk jangan pernah mengungkitnya lagi.
Lia setuju, tapi juga memberikan penekanan padaku tentang apabila aku ingkar tentang aku yang memutuskan hubungan persahabatanku dengan Irly.
Yang aku rasa lebih kepada sebuah ancaman dari pada penekanan. Karena Lia bilang, “Kalau ada hal-hal semacam ini lagi terkait itu bibit pelakor najis----“
Ya ampun... segitunya Lia sentimen pada Irly.
Tapi biar dan sudahlah. Asal Lia bahagia. Maka aku pun juga akan kebagiaan itu bahagia.
Meski yah seperti yang aku katakan tadi kalau ada penekanan Lia yang mewanti-wantiku, lebih terdengar seperti ancaman.
“Kalau ada hal-hal semacam ini lagi terkait itu bibit pelakor najis, aku ga segan buat bikin dia dapet sangsi sosial karena udah ganggu rumah tangga orang. Dan aku ga akan pikir panjang buat gugat cerai kamu, Rei. Kalo perlu aku fitnah dia sekalian biar dihujat netizen abis-abisan. Aku punya kok SS bukti kamu yang kasih uang ke dia. Tinggal aku upload di medsos. Selesai dia. Selesai juga bisa-bisa karir kamu sebagai pilot. Aku aduin kamu ke bos kamu, tambahin bumbu. Finish. Karir kamu, plus pernikahan kita...”
War biasa sekali istriku itu!
❇❇❇❇❇❇❇❇
Bersambung...
Terima kasih masih setia.
__ADS_1