
Selamat membaca...
Terima kasih masih setia.
***
MALIA
“Cinta dan obsesi itu beda tipis. Tapi kalau cinta, ya ga harusnya dia melakukan hal seperti ini pada kamu yang jelas sudah memilih aku. Karena cinta yang tulus kan harusnya merelakan orang yang dicintai yang udah jelas memilih orang lain sebagai pasangannya ----“
“Macem kamu ke sahabat cewe kamu yang pernah kamu cintai itu? ....“ tukasku, dan Rei langsung melirik dan memandangku dengan tatapan sedikit tajam meski tidak kulihat ada kegeraman di ekspresi wajah Rei.
“Kenapa tiba-tiba nyasar kesana? ----“
“Iseng,” kataku dengan tersenyum, karena memang aku tidak serius dengan ucapanku soal sahabat perempuan Rei yang sudah lama tidak aku lihat ada pesan chat atau telepon dari perempuan itu.
“Kamu nih, isengnya kok mengarah ke hal yang bisa bikin kita berdebat? ----“
“Kenapa harus berdebat? ----“
“Lupa, kalo kamu suka tiba-tiba emosi terus jadi judes sama aku, asal Irly telepon atau chat aku? ....”
“Masa? ....”
Aku mengelak dengan wajah bercanda.
Lalu Rei mencubit gemas hidungku sambil ia tersenyum geli.
“Ngeles aja kek bajai.”
---
“Pake baju dulu sana ----“
“Oke Bos!”
Aku segera menyahut dan berdiri dari pangkuan Rei selepas ia menyuruhku untuk berpakaian.
Rei terkekeh kecil melihat kelakuanku yang juga bersikap memberi hormat layaknya seorang prajurit kepada komandannya.
“Pake bajunya yang gampang dipelorotin.” Dimana ucapan Rei barusan membuatku segera menoleh ke arahnya.
“Ngarep!” sahutku pada Rei yang kemudian terkekeh lagi.
“Minta dibelit lidahnya ....” balas Rei selepas aku menjulurkan lidah untuk meledeknya.
****
Menit berlalu, Reiji dan Malia kini tengah menikmati makanan yang mereka pesan dari sebuah aplikasi.
__ADS_1
“Yang ....”
“Hm? ....” sahut Malia yang sedang mengunyah makanan pesanan Reiji melalui aplikasi, untuk mereka berdua dari gerai makanan yang tidak jauh dari kawasan gedung apartemen tempat tinggal mereka itu.
“Ada yang mau aku tanyain lagi soal kamu dan si bibit pebinor itu.”
“Kayaknya kamu beneran masih ngeraguin penjelasan aku sebelumnya deh, Rei ....”
“Ya bukan gitu juga, Yang ----“
“Ya abisnya kamu nanya lagi, nanya lagi ----“
“Aku cuma penasaran sama dia yang berbuat sejauh dan seniat ini buat bikin kita berantem ....”
Reiji menjeda sejenak makannya, lalu lebih mendekatkan dirinya dengan Malia setelah ia meletakkan piringnya ke atas meja.
Lalu Reiji berkata sambil ia mengusap lembut kepala Malia yang surainya Malia cepol dengan asal itu. “Seperti yang tadi sempet aku bilang, aku perlu tahu kamu itu selama ini gimana sama dia. Karena dengan itu, seenggaknya aku bisa pikirin apa yang kemungkinan akan dia perbuat lagi kalau dia tahu kita fine-fine aja setelah usaha dia yang ini buat bikin aku salah paham terus kita berantem. Selain aku kan juga bisa mikirin cara buat antisipasi ----“
“Hhhh ----“
“Aku percaya sepenuhnya sama kamu, Yang.”
Reiji masih membelai lembut kepala Malia.
“Kita bicarain ini habis makan ya? Mau? Tapi kalau kamu keberatan atau ga nyaman ya ga apa-apa ....”
Reiji berucap lembut.
“Bohong gimana? ----“
“Bohong kalau dia bilang mau pergi ke tempat dia sebelum balik kesini. Tapi nyatanya dia malah nemuin kamu dan ngasih foto-foto tadi buat bikin kita ribut, dengan udah merubah plus nyantumin tanggal yang beda sama kenyataannya ----“
“Ya udah kita selesaikan makan kita dulu deh kalo gitu, Yang ....” putus Reiji dan Malia pun mengangguk.
****
Reiji dan Malia telah menyelesaikan makan mereka. Dimana setelahnya, Reiji mengambil alih untuk mencuci peralatan makan bekasnya dan Malia walaupun Malia sudah memaksa agar tugas itu dia saja yang melakukannya. Namun Reiji lebih memaksa dengan alasan dirinya ga ngapa-ngapain seharian dimana Malia sedang bekerja di kantor.
Dan yah, jika Reiji sudah memaksa, Malia tidak bisa berbuat apa-apa.
Setidaknya setelah ia mencintai Reiji, Malia memang sulit untuk menolak atau membantah Reiji kecuali jika mereka sedang bercanda.
****
Sementara Reiji sedang mencuci piring, Malia termenung di tempatnya.
Otak dan batin Malia sedang menimbang-nimbang untuk segala hal yang pernah terjadi antara dirinya dan Irsyad, meski hal-hal itu bukanlah sebuah tindakan perselingkuhan.
Dan hingga sampai Malia berciuman dengan Irsyad pun, itu karena paksaan keras yang Irsyad lakukan hari itu padanya. Dimana hal itu menjadi pertimbangan berat Malia untuk memutuskan mengatakannya pada Reiji atau tidak.
__ADS_1
‘Duh, gimana ya?’ kata Malia dalam hatinya. ‘Kalo gue ngomong meski jujur cerita kalo ciuman itu terjadi atas paksaan Irsyad, gue takut Rei ngamuk ....’
Malia kembali bermonolog dalam hatinya.
‘Tapi sedikit banyak, gue jadi mikirin kelakuan Irsyad dari mulai dia yang maksa-maksa agar gue yakin kalo dia cinta banget sama gue, terus penolakan gue sampe dia maksa nyium gue begitu dan sampe dia ngasih Rei foto-foto yang udah Irsyad palsuin tanggal-tanggalnya --- ya sedikit banyak gue khawatir kalau Irsyad akan membahas hal itu dengan memutarbalikkan fakta.’
Ada dilema besar yang sedang Malia rasakan saat ini, yang otomatis membuat Malia sedikit sulit untuk mengambil keputusan.
‘Apalagi satu foto yang tadi, itu diambil sama orang lain .... Berarti memang Irsyad bener-bener niat buat ngancurin hubungan gue sama Rei .... Dan bisa jadi, kejadian waktu Irsyad cium gue dengan paksa itu dia abadikan lagi??? .... Mampus aja gue kalo kayak gitu!’
“Yang ....”
“Eh Rei. Udah selesai?”
Malia terkesiap kala Reiji telah tahu-tahu ada di dekatnya.
“Bengong mikirin apa? ----“
“Apa yang tadi kamu tanyain ke aku ----“
“Hmmm ....” sahut Reiji.
Yang kemudian menarik pelan tubuh Malia dan langsung Reiji rengkuh tubuh istrinya itu dengan lembut, di atas sofa ruang tamu yang merangkap ruang keluarga pada unit apartemen mereka itu.
****
“Kalau memang rasanya kamu ga nyaman buat membicarakan hal yang aku tanyain tadi, ya kita ga perlu bahas ----“
“Aku ga mau ada sedikitpun keraguan kamu ke aku, Rei ----“
“Yang ....”
Reiji tersenyum sambil melonggarkan rengkuhannya, lalu membuat dirinya dan Malia berhadapan.
“Dengerin aku .... Aku, ga ada ragu sama sekali sama kamu ----“
“Iya tapi ----“
“Aku selesain ngomong aku dulu, boleh? ....” Reiji memotong ucapan Malia.
Dan Malia pun langsung mengangguk.
“Aku cuma penasaran dengan tindakan si bibit pebinor yang sampai seniat ini, plus aku ingin antisipasi aja dengan memprediksi hal yang mungkin dia lakukan dalam usahanya bikin kita ribut lagi ....” jelas Reiji. “Karena aku takutnya, dia yang salah paham dengan sikap kamu ke dia ----“
“Rei,” Malia memotong ucapan Reiji. “Kayaknya aku yang pernah ngasih dia harapan ----“
“Gitu ya?”
*****
__ADS_1
Bersambung......