
Selamat membaca....
❇❇❇❇❇❇❇❇
REIJI
Aku sudah melowongkan hatiku, ketika aku melihat Lia yang berjalan bersama beberapa rekan kerjanya dari arah lift gedung perkantoran tempat Lia bekerja itu.
Bahkan sedari aku berangkat dari apartemen untuk sampai ke gedung perkantoran tempat Lia bekerja, aku sudah menyiapkan hatiku untuk menerima sikap acuhnya padaku.
“Perasaan centang di chat yang aku kirim ke kamu tertanda udah terbaca deh?”
Dan itu sapaan dari Lia padaku ketika kami telah saling mendekati, dimana aku pikir Lia akan pura-pura tidak melihatku dan akan meloyor begitu saja untuk keluar dari lobi.
Namun tidak----entah karena ada beberapa rekan kerjanya atau apa, Lia tidak melakukan hal apa yang aku pikirkan itu.
Lia langsung berjalan ke arahku ketika pandangannya dan pandanganku bersinggungan, meski----yah, Lia nampak malas mendekatiku.
Hanya saja aku respect pada Lia yang masih memikirkan wibawaku di depan beberapa rekan kerjanya yang sudah aku kenal itu.
Walau aku tidak akrab dengan mereka.
Well, Lia tidak mendiamkanku memang, atau meloyor begitu saja tanpa mempedulikanku di depan rekan kerjanya.
Tapi terlihat sekali dia malas-malasan menghampiriku.
Bahkan yang biasanya dia akan mengulurkan tangan untuk menyalim takdzim padaku seperti selalunya jika aku menjemputnya atau saat aku mengantarnya----kali ini tidak.
Entah dia sengaja, atau Lia yang sedang marah padaku itu membuatnya lupa untuk melakukan kebiasaan yang lazim dilakukan istri ke suaminya dalam kesempatan tertentu.
Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu.
Hal kecil bagiku, dan aku bukan suami yang gila hormat.
---
Aku merasa betul jika kalimat pertama yang Lia lontarkan padaku saat kami sudah saling dekat dan berhadapan, adalah sebuah kalimat cibiran.
Namun aku menanggapinya dengan santai.
Lalu saat Malia melontarkan cibiran yang kedua, pun aku menanggapinya dengan santai.
Selain jawabanku itu memanglah benar atas dasar perasaanku padanya. Khawatir soal keselamatan Lia di luar, karena sesuatu yang buruk kan belum lama terjadi pada Lia.
Meskipun mungkin si bibit pebinor b*jingan itu telah berada di balik jeruji besi, dan aku diminta Ammar untuk tidak perlu khawatir bagaimana si Irsyad mendapatkan ganjaran atas perbuatannya pada Lia, namun kekhawatiranku jika Lia berada di luar tanpa pengawasan masih ada.
Dan sebelum aku mulai aktif bekerja nanti, aku akan meminta tolong pada Ammar untuk mencarikan satu orang bayaran untuk menjaga Lia.
Kalau boleh sih aku ingin meminta satu anak buahnya Ammar yang merupakan orangnya Tuan Alva dan keluarganya.
Karena bagaimana mereka bekerja, sudah aku lihat dengan mata kepalaku.
Tapi ya itu, aku perlu tahu dulu berapa honor mereka. Karena rasanya sih mereka yang bekerja pada Tuan Alva dan keluarganya, pasti memiliki penghasilan di atas rata-rata gaji di luar dengan profesi yang sama.
---
Kembali kepada aku yang berhadapan dengan Lia, dimana beberapa kalimat cibiran lalu sindiran menyapa telingaku dari mulut Lia yang disertai sikap sinis dan pandangan remehnya yang sempat membuatku agak sebal pada nyinyirnya Lia----kembali, aku bersikap santai saja, pun dengan nada yang biasa saja.
Hanya saja saat Lia bilang, “Berapa persen rasa tanggung jawab kamu ke aku sih? Udah kebagi kan soalnya ke Ma-Mi Shirly dan anaknya?..“ aku sedikit meradang sebenarnya, terkejut juga dengan kalimat Lia itu. Namun jika aku menanggapi lebih jauh, yang ada Lia bisa menjadi kian nyolot dan kami akan menjadi tontonan.
“Kamu mau kita berdebat di sini?“
Dan itu jawabanku atas nyinyiran tajam Lia.
Setelah aku menghela nafasku dengan sedikit berat.
Dan aku pikir, ucapanku itu menyadarkan Lia yang mungkin lupa jika kami sedang berada di tempat umum.
__ADS_1
---
“Kenapa engga?”
Namun tidak.
Alih-alih menahan diri karena kami sedang berada di tempat umum, Lia malah terkesan menantangku.
Meski nada suaranya tidak meninggi dan tanpa melotot, namun sahutan Lia itu memang berkesan tantangan untukku berdebat dengannya tanpa peduli tempat.
Membuat aku jadi menghela nafas frustasiku sekali lagi, jika mode keras kepala Lia sedang datang begini. Bahkan sekarang aku rasa Lia akan menjadi lebih keras kepala dari biasanya saat dia merajuk.
---
“Mumpung aku ada waktu. Dari sini aku mau pulang ke rumah mama papa soalnya. Sen-di-ri.” Kekeraskepalaan Lia yang sudah aku duga sebelumnya, berlanjut dengan kalimat yang Lia lontarkan ini. Datar, namun ada penekanan di ujung kalimatnya.
Yang secara tidak langsung menolakku.
Atau bisa juga mengusirku. Apapun itu, aku agak kaget juga mendengarnya.
“Ada Avi di apartemen. Tadi siang dateng. Dan sekarang lagi nunggu kamu di sana. Ini, telfon aja kalau kamu ga percaya.”
Namun begitu, aku menguasai diriku----tenang, dan aku teringat soal Avi yang berada di apartemenku dan Lia sejak siang tadi.
Dan keberadaan Avi itu, menyelamatkanku dari Lia yang berniat menghindari----jauh-jauh dariku entah untuk berapa lama rencana yang ada di kepalanya.
Yang mana Lia kemudian mau ikut pulang bersamaku ke apartemen kami. Setelah aku coba meyakinkannya dengan membuktikan perkataanku soal keberadaan Avi di apartemen kami, dengan menyodorkan ponselku pada Lia.
“Makasih, tapi aku udah punya ponsel baru.”
Begitu jawaban Lia, saat aku ingin meyakinkannya.
Aku mengangguk dan sekali lagi meminta Lia untuk memastikan sendiri perkataanku tentang keberadaan Avi di apartemen kami.
Lalu bicara soal ponsel barunya Lia, hal itu aku jadikan bahan pembicaraanku dan Lia saat kami sudah berada di dalam mobilku.
Semata-mata ingin memecah keheningan dalam mobilku dari sejak Lia masuk ke dalamnya, lalu memalingkan wajah ke arah jendela mobil di sebelah kirinya.
---
Bahkan ia menjawab tanpa menoleh, serta tidak nyambung jawabannya.
Dan aku memutus rasa penasaranku tentang kapan Lia membeli ponsel baru.
“Dokter Dewi hubungi aku tadi. Dan katanya sempet hubungi kamu sebelumnya, tapi ponsel kamu ga aktif menurut dia.”
Mencoba mengganti topik pembicaraan sesuai keadaan yang sebenarnya. Berharap, topik yang aku angkat ini akan membuat sikap ketus dan sinis Lia padaku berkurang.
Soal promilnya Lia. Rencana kami untuk memiliki momongan dalam waktu dekat, yang mana aku ingat, jika Lia sudah cukup bersemangat untuk memiliki momongan. Sebagaimana aku.
Namun alih-alih keadaan sedikit membaik, yang ada malah mulai panas.
---
Apa yang Lia katakan kemudian membuatku terkejut.
Lia membatalkan promilnya secara sepihak, tanpa ia peduli untuk berdiskusi denganku.
For God Sake!
Program itu sudah setengah jalan!
Bahkan setengah jalan itu, sudah mengarah kepada ke keberhasilan.
Dan Lia membatalkannya begitu saja?!
Kemudian menggelintirkan ucapanku yang kurang lebih menyiratkan bahwasanya sayang kalau promil itu sudah setengah jalan, serta juga mengatakan pada Lia jika seharusnya Lia bicara dulu denganku sebelum mengambil keputusan itu----dengan membahas aku yang selama ini memberikan uang pada Irly di setiap bulan.
__ADS_1
Dengan bubuhan sebutan kasar yang ia sematkan pada Irly.
Aku menyergah kemudian----bukan soal Lia yang menyebut Irly dengan ‘Janda Sialan’, tapi sergahanku adalah tidak ada hubungannya promil Lia dengan Iry.
Namun Lia menyergah balik.
Lebih tajam dari sergahanku.
Lebih ketus dan lebih sinis.
Aku menahan diri, agar tidak terpancing emosi.
Namun Lia seolah bersemangat memancing emosiku, sampai kemudian aku sempat menyambut kalimat ketus dan masa bodohnya, dengan suaraku yang gusar dan memberikan penekanan.
Lalu tantangan yang membuatku meradang, keluar dari mulut Lia. “Terus kalo kamu ga terima mau apa? Mau ceraikan aku? Silahkan aja!..“
---
Aku geram.
Sungguh.
Namun aku cukup menyadari jika Lia sedang digulung emosi.
Jika aku menimpalinya lagi, akan ribut besar jadinya kami.
Karena hal yang aku khawatirkan, tercetus juga dari Lia.
Perceraian.
Walau aku rasa Lia tidak serius menantangku.
Namun bisa akan serius jika aku menanggapinya.
---
Antara kesal, geram, dan pasrah.
Aku tidak terima keputusan Lia, juga tantangannya.
Tapi tantangan Lia sungguh tidak aku ingin sampai terjadi.
Tak mau ada perceraian diantara kami.
Jadi atas hal itu, geramku tertahan.
Aku tahan sebisa mungkin sebenarnya.
Dimana kemudi jadi pelampiasan kegeramanku, dengan ku cengkeram amat kuat. Lalu aku memilih diam selama sisa perjalanan, hingga sampai di apartemen.
Dimana beberapa saat aku sudah berada di unit apartemenku dan Lia, dia menguji emosiku lagi.
Lebih keterlaluan kali ini.
“Laki-laki yang enteng banget ngasih duit ratusan juta ke perempuan tanpa embel-embel pinjeman, cuma satu kenyataannya! Itu perempuan sialan yang namanya Irly, sahabat yang merangkap gundik kamu.“
Dan aku cukup tersinggung dengan kata – kata Malia itu. Hingga emosiku mencuat begitu saja. “Jaga ucapan kamu Lia!” membuatku berseru kencang pada Lia, serta mengarahkan telunjukku padanya dengan tajam termasuk memberi pandanganku yang menusuk pada Lia.
“Oke! Mu-lai hari ini, aku akan jaga ucapan aku ke kamu Reiji Shakeel. Dan untuk itu, kamu harus ceraikan aku. Ga cuma ucapan aku juga akan jaga jarak dari kamu.”
Tercetus juga hal yang aku takutkan keluar dari mulut Lia.
Dan kali ini, itu bukan sebuah sekedar tantangan.
“Mumpung ada Avi. Dia bisa jadi saksi. Talak aku sekarang. Dan jangan khawatir, aku ga minta harta gono – gini. Supaya kami bisa kasih si jlang bernama Shirly itu sebanyak – banyaknya uang kamu! Karena aku ga sudi berbagi dengan janda sialan itu! Pun ga sudi punya suami yang dari awal nikah udah membawa jejak masa lalunya, membagi perhatian yang seharusnya buat istri dengan sahabat perempuannya, membohongi aku dengan tanpa dosa, ingkar janji. Dan dua kali kamu bentak aku! Dan selalu gara – gara dia! Si Shirly Sialan itu! Persetan dengan cinta diantara kita! TALAK AKU SEKARANG!”*
Oh Tuhan!
__ADS_1
*****
To be continue...