
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca....
***
“Mau kasih pelajaran sama seseorang yang mengganggu milik gue ----“
‘Reiji serius ga sih ngomong begitu? ----‘ Malia yang sudah berada di dalam kamar mandi, tak tenang memikirkan perkataan Reiji yang telinganya sempat tangkap tadi.
Malia tak menyegerakan dirinya untuk mandi, namun kini ia sedang mematut dirinya di cermin wastafel dalam kamar mandi.
‘Tapi apa maksud omongannya Reiji itu Irsyad, yang mau Reiji kasih pelajaran?----‘ batin Malia.
Malia menatap nanar pantulan dirinya di cermin wastafel.
‘Oh stupid Malia...’
Malia merutuki dirinya.
‘Tentu aja pasti Irsyad yang Reiji maksud. Siapa lagi?!’
Malia lalu memijat pelipisnya.
‘Tapi apa Rei akan senekat itu?’
Malia berspekulasi. Lalu ia meletakkan tangannya di pinggang sambil ia berpikir.
Setelahnya Malia melucuti seluruh pakaiannya, lalu mengguyur tubuhnya di bawah kucuran air kran shower.
‘Mereka memang sama tinggi, tapi Rei lebih tinggi dan jelas lebih atletis daripada Irsyad ...’
Berharap air kucuran shower akan membuatnya tak lagi memikirkan apa maksud ucapan Reiji dan apa yang akan terjadi jika Reiji mewujudkan ucapannya itu, pada kenyataannya Malia tetap saja kepikiran.
‘Tapi belum tentu orang yang badannya lebih besar akan menang dalam pertarungan dan belum tentu orang yang badannya lebih kecil dari lawan selalu kalah , kan?—‘
Malia kembali berspekulasi.
‘Ya ampun Maliaaa apa lo berharap kalau Reiji dan Irsyad akan berduel?!’
Malia kembali memijat pelipisnya saat dirinya masih berdiri di bawah kran shower.
‘No choice ...’ batin Malia yang sudah memutuskan sesuatu atas dasar kekhawatirannya.
**
Malia mengintip dari balik pintu kamar yang saat dia masuk tidak dia tutup rapat untuk mengecek keberadaan Reiji, saat dia telah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Sampai Malia selesai berpakaian Reiji tidak juga menyambangi kamar mereka.
‘Rei masih di ruang baca kali ya?..’ Malia membatin, sambil melebarkan pintu kamarnya.
Karena saat Malia mengintip dari balik pintu kamar, Reiji tidak terlihat ada di ruang tamu apartemen mereka.
Ingat jika dia mendengar Reiji berbicara di telepon saat Malia hendak mandi, jadi Malia mengira kemungkinan Reiji masih ada di ruangan tersebut.
“Rei---“
Malia berdiri di ambang pintu ruang baca, saat dia telah melihat Reiji sedang duduk disana sambil membaca sebuah buku.
Reiji yang mendengar Malia memanggilnya itu serta merta langsung menoleh ke arah sumber suara Malia yang terdengar di telinganya.
“Ya? ..”
“Pakaian apa aja yang perlu dibawa?”
__ADS_1
Malia kemudian buka suara seraya bertanya pada Reiji.
“Pakaian buat?” jawab Reiji namun balik bertanya.
“Acara Family Gathering kantor kamu besok.”
“Aku ga ikut.”
“Kalo aku bilang aku mau ikut ke acara Family Gathering kantor kamu itu?”
“Yakin kamu? –“
“Yakin.”
Malia langsung memotong perkataan Reiji.
Sambil istri Reiji itu memandang pada Reiji yang masih bergeming di tempatnya, hanya meletakkan buku yang tadi ia pegang ke atas pangkuannya saja.
“Bukannya kamu besok udah ada acara?..”
Reiji berkata, seraya bertanya pada Malia.
**
REIJi
Aku lebih diam pada Lia selama beberapa hari kebelakang, semata – mata untuk menekur diri. Memikirkan apa yang salah dengan pernikahanku dengan Lia. Ada memang sedikit rasa tersinggung di hatiku atas sikap Lia, namun aku lebih fokus pada diriku sendiri. Mungkin apa yang ada dalam diriku – apa yang selama ini aku berikan untuknya, perhatian dan curahan kasih sayangku masih belum dirasa cukup untuk Lia.
Jadi aku tepekur selama beberapa hari kebelakang untuk mencari solusi, agar hubunganku dengan Lia kembali baik seperti awal-awal pernikahan kami.
Jadi di hari kelima dimana aku dan Lia bersikap dingin satu sama lain, aku memutuskan untuk menghentikan ‘perang dingin’ ku dengan Lia. Dan kebetulan akan ada acara Family Gahering yang memang diadakan rutin oleh maskapai tempatku bernaung selama ini.
Mungkin ini jalan untuk aku menata kembali hubunganku dengan Lia. Jadi aku putuskan untuk menghubungi Lia.
Just in case Lia masih enggan bicara denganku, jadi aku mencari tahu dulu moodnya Lia lewat pesan chat.
‘Kamu dimana Yang?’
Bunyi pesan chat yang aku kirimkan ke nomor kontak ponsel Lia.
‘Masih di kantor atau sudah pulang?’ satu pesan lagi aku kirimkan pada Malia, sebelum pesan chat pertamaku dibalas oleh Lia.
Dan aku merasa lega saat aku mendapat pesan chat balasan dari Lia.
Lia bilang dia sudah di jalan pulang, dan aku telah hampir sampai di selatan Jakarta.
Jadi aku menghitung waktu, jika Lia akan sampai di apartemen kami sekitar setengah jam lagi.
‘Ya udah kalo gitu. Ketemu di apartemen ya?’ kemudian kirimkan satu pesan chat lagi pada Lia.
Jawaban ‘Ya.’ Dari Lia membuatku tersenyum tipis. Membuat harapku kian besar untuk memperbaiki hubungan kami.
Aku ingat Lia menyukai salah satu varian cake di sebuah tenan yang menjual aneka teh di sebuah Mal yang searah dengan jalan yang aku ambil menuju apartemen kami.
Jadi aku putuskan untuk mampir dulu kesana, sekaligus aku ingin mencari buku bacaan baru di toko buku langgananku yang ada di Mal yang sama.
--
Manis, cake yang aku belikan untuk Lia. Karena aku sudah beberapa kali merasakannya. Namun berbanding terbalik dengan hatiku yang terasa pahit, kala aku melihat orang yang ingin aku berikan cake yang sudah terbungkus cantik dalam sebuah kotak pada paper bag yang sedang aku pegang sedang duduk berdua bersama seorang laki – laki, dan ia tersenyum dengan cantiknya.
Senyum yang hanya dia, Lia – yang sedang aku lihat dari tempatku ini persembahkan padaku beberapa kali saja. Bahkan rasanya tidak seistimewa senyumnya yang aku lihat saat ia tersenyum pada laki – laki yang sedang ada dihadapannya itu. Laki - laki yang aku pastikan adalah Irsyad. Si bibit pebinor. Lelaki impiannya Lia. Yang aku rasa masih Lia impikan, jika melihat senyuman Lia padanya itu.
Dadaku bergemuruh melihatnya, tapi aku coba berpikir waras, meski ingin sekali aku melangkah untuk menghampiri Lia dan si Irsyad itu, lalu memberikan laki –laki bernama Irsyad tersebut peringatan tajam dan menyeret Lia pulang. Namun entah kenapa kakiku enggan melangkah kesana.
Aku mencoba menetralkan emosiku dan berpikir positif, meski Lia membohongiku.
__ADS_1
Aku berdiri agak lama menatap dari tempatku ke sebuah tempat makan yang bersebrangan dari posisiku.
Menghela nafasku, lalu meninggalkan tempat dimana aku melihat sebuah kepahitan dalam pandanganku.
Aku fokus untuk memperbaiki hubunganku dengan Lia, dan akan aku mulai malam ini.
Jadi kubiarkan saja Lia dengan lelaki impiannya. Toh mereka hanya makan saja.
--
Jam delapan malam Lia sampai di apartemen, tepat saat aku telah selesai memasak spaghetti untukku makan, namun aku memasak dengan porsi lebih meski aku tahu Lia sudah makan. Cake yang aku beli aku simpan di kulkas.
Entah kenapa muncul pikiran iseng di otakku untuk mengerjai Lia.
Dimana aku ajak Lia untuk ikut makan spaghetti buatanku meski aku yakin dia sudah merasa kenyang sekarang.
Sorry, Lia. Tapi kamu sudah bohong padaku.
Sekaligus aku ingin tahu sejauh mana dia masih menghargaiku, yang mana aku cukup tercengang juga Lia tidak menolak untuk makan bersamaku meski sempat mencoba ‘kabur’ dengan mandi sebagai alasannya.
Lalu aku iseng menanyakan apa dia mampir ke sebuah tempat terlebih dahulu sebelum pulang, dan Lia gelagapan. Namun tak aku lanjutkan sampai aku kemudian memberitahu Lia soal Family Gathering yang diadakan oleh kantorku.
Hell, Lia menolak ikut.
Malas katanya.
Tapi yang membuatku tercengang lagi, dengan tanpa dosanya Lia bilang jika dia telah ada janji dengan Irsyad.
Aku tetap mencoba tenang, lalu aku membalikkan keadaan dengan membuat Lia tercengang. “Aku akan pergi denganmu besok, di acaramu dengan Irsyad...”
Dimana aku melihat wajah Lia yang pias.
Namun kemudian lontaran kalimat yang keluar dari mulut Lia begitu menambah getir hatiku.
Kubiarkan dirinya bersikap sesuai keinginannya.
Dan otakku mengatur rencana, agar acara Lia dan si bibit pebinor itu gagal.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, aku sayup-sayup mendengar pintu kamar kami terbuka. Dan aku sengaja berdiri di dekat ruang baca.
Berpura-pura menelpon, sekaligus mengeluarkan kalimat yang terkesan ancaman.
Aku yakin Lia menguping, karena sekilas aku melihat pantulan dirinya dari kaca ruang baca.
Dan disini Lia sekarang.
Mengatakan jika dia mau ikut ke acara kantorku besok.
Dimana aku menampakkan ekspresi datar, namun aku tersenyum menang dalam hati.
**
Bersambung...
Noted: To pembaca yang suka dateng asal masuk ke lapak orang terus tau-tau komen seenak udel.
Please get out dari sini yah.
Ngasih apresiasi engga, nge - like engga, tapi dateng - dateng malah protes ga jelas.
Orang apa selang aer?
Maen semprat semprot seenak udel.
Lain dari itu, Emaknya Queen ucapkan terima kasih buat kalian yang masih setia, baik baca ataupun memberikan Like kalian.
__ADS_1