
Selamat membaca....
***
REIJI
“Kamu kenapa sih, tiba-tiba nanya soal mantan-mantan aku? ..”
Akhirnya pertanyaan itu aku suarakan juga pada Lia, setelah aku meminta maaf padanya dan sikap Lia sudah biasa lagi terhadapku.
Aku bahkan sedang meletakkan kepalaku di atas kedua paha Malia saat ini.
Tapi sebelum pertanyaan tadi aku suarakan, aku lebih dulu memindai suasana hati Malia lewat wajahnya, yang sudah normal dari ke-jutekan.
Memang sudah normal sih, wajah Malia sudah tidak jutek lagi.
Tapi tetap saja aku harus memastikan lagi suasana hati istriku itu.
Jadi aku memintanya berjanji agar Lia tidak marah jika aku ingin membahas sesuatu yang menyangkut topik pembahasan yang membuat Lia ngambek beberapa saat tadi.
Dan karena Lia mengiyakan, makanya aku berani melontarkan pertanyaan tadi dari mulutku. Dan kini aku sedang beradu pandang dengan Malia, karena setelah aku mencetuskan pertanyaanku tadi itu, Lia langsung merundukkan sedikit kepalanya dan menatapku.
Duh, mudah-mudahan Lia ga mengingkari janjinya untuk ga marah karena aku bertanya soal itu padanya. Males nanggepin ambekannya cewe soalnya. Dulu sih, dua mantanku kalo sok-sok-an ngambek pasti akan aku abaikan tanpa pikir panjang.
Kalo sekarang kan beda. Lia bukan mantan, tapi istri.
Dan lagi aku sudah mencintainya.
Jadi kalau Lia ngambek, ya aku anggap itu suatu masalah yang tidak mungkin aku abaikan.
Dan aku terpaksa bertanya, karena aku memang sedikit penasaran tentang Lia yang tiba-tiba ingin membahas soal mantan-mantanku yang cuma dua biji itu.
Apa diantara dari mereka, ada yang bertemu Lia lalu bicara aneh-aneh bak drama picisan?. Karena satu dari dua mantanku itu memang ada yang sangat berharap penuh padaku, bahkan sampai pernah membujuk Avi dan Mama untuk mendesak agar aku segera menikahinya.
Untung saja satu mantanku itu hanya terlalu mencintaiku. Mungkin. Namun tidak sampai membuat drama picisan soal kehamilan, untuk membuat keluargaku memaksaku menikahinya.
Boro-boro hamil, cium bibir aja engga. Nih, istriku ini nih, yang beruntung dapet ciuman pertamaku.
Hehe ...
Tapi apa iya, satu mantanku yang itu ketemu Lia, atau bahkan sampai menerornya hingga istriku yang kadang sensi berlebihan ini bertanya soal mantan-mantanku?.
Rasanya ga mungkin sih.
Dia bahkan aku undang dan datang ke resepsi pernikahanku dan Lia.
Ga ada drama yang dia buat juga saat itu.
Cuma aku sekilas menangkap dia sinis saja menatap pada Lia .
“Kenapa emang? ... ga boleh?”
Sahutan itu yang kemudian aku dengar dari Lia. Membuatku terkesiap.
Nada sahutan Lia yang terdengar serupa pertanyaan itu biasa saja. Tidak ada keketusan, pun ekspresi jutek di wajahnya.
“Bukan masalah boleh ga boleh, Lia sayang ...”
Aku mengangkat kepalaku.
“Aku Cuma heran aja, kok kamu tiba-tiba nanyain soal mantan-mantan aku nya baru sekarang?”
“Pengen aja ...”
“Tiba-tiba pengen nanya aja gitu?” tanyaku pada Lia.
Lia menjawabku dengan anggukkan.
“Terus sekarang kamu ngebahas soal aku yang nanyain mantan-mantan kamu tadi, kenapa?”
“Penasaran.”
Jawabku jujur pada Lia.
Dan Lia ber oh ria.
“So? ( Jadi? )” Lia kemudian menoleh padaku dan bertanya begitu.
“Apanya?” tanyaku.
“Mau cerita?” Lia memiringkan sedikit badannya menghadapku.
“Soal mantan-mantan aku? ...”
“Iya ...” jawab Lia singkat. “Itu juga kalo ga keberatan mau cerita. Atau ngerasa terpaksa.”
“Mau mulai darimana? ...” kataku kemudian pada Lia. “Apa yang mau kamu tau?” tanyaku lagi.
Aku menantang Lia untuk bertanya. Semata-mata agar dia tahu, bahwa aku tidak mau menutupi apa-apa darinya.
Karena aku memang tidak memiliki rahasia apa-apa.
Selain aku pernah punya perasaan pada Shirly, dan pernah juga mengutarakan padanya. Dan aku rasa hal itu tidak perlu aku bahas, karena pembahasan kali ini soal mantan, dan Shirly bukanlah mantan pacarku.
“Mantan pacar kamu berapa orang?” tanya Lia to the point.
“Dua,” jawabku jujur. Dan Lia manggut-manggut.
“Termasuk Shirly?”
Pertanyaan Lia barusan sedikit mengejutkanku sih.
Tapi ya aku juga tidak menunjukkan gelagat yang gimana-gimana.
Nanti kalau aku tanya kenapa nanyain Shirly, malah Lia curiga ga jelas.
Dan aku pikir Avi sudah cerita soal dua mantanku itu padanya, karena mereka itu kan selalu berbagi apapun dari kecil juga.
__ADS_1
Nah udah gede, sering kan mereka berbagi bahan gibahan pasti?.
“Aku sama Shirly Cuma temenan lah,” jawabku santai. Dan Lia kembali manggut-manggut.
“Temen, tapi mesra? ...”
Ya ampun, kenapa Lia sampai punya pemikiran seperti itu coba?.
“Te-Man, tanpa ada tapi, apalagi mesra.”
Aku menanggapi dengan tegas, namun tidak keras dugaan Lia yang entah dari mana dia berpikir kalau aku dan Shirly TTM-an.
Dan lagi-lagi, Lia ber oh ria.
“Tapi waktu di resepsi kayaknya kamu sama dia keliatan deket banget ya, Rei?”
Lia bertanya lagi.
“Aku sama Shirly kenal dari SMA, Yang.”
Aku menjawab dengan jujur sekali lagi, dan akan terus menjawab dengan jujur setiap pertanyaan yang Lia tanyakan padaku.
Baik saat ini, esok dan seterusnya. Aku akan selalu jujur pada Lia.
Memang sudah sepatutnya seperti itu, kan?. Kalo suami-istri, emang harus saling jujur satu sama lain.
“Satu kelas dari sejak kelas dua ...” sambungku. “Aku, Abbas, Shirly, Aldo, Irfan.”
Ku sebutkan empat orang yang memang sudah akrab denganku sejak SMA dulu, dan masih solid sampai sekarang.
“Kalo soal akrab, ya sama akrabnya semua. Cuma memang kalau sama Shirly itu aku satu klub jurnalistik waktu di SMA.”
Aku masih bercerita.
“Jadi intensitas ketemu aku sama Shirly ya lumayan lebih sering dari yang lain. Kalo aku keliatan akrab sama dia waktu resepsi kita itu, ya memang aku sahabatan sama Shirly, Yang. Ditambah lagi, baru bisa ketemuan setelah beberapa bulan sempet lose contact.”
Lia nampak khusyuk mendengarkan ceritaku.
“Trus juga Shirly kan selama ini tinggal di Canberra ...”
Lalu Lia manggut-manggut lagi.
“Emang kenapa bisa lose contact?” lalu Lia bertanya.
“Ilang ponselnya.”
“Oh ...”
Lagi-lagi Lia ber oh ria.
“Ya udah kalo gitu.” Kemudian Lia berucap seperti itu.
Sepertinya pembahasan soal mantan-mantanku yang menyerempet ke Shirly itu sudah akan selesai.
“Ada lagi yang mau ditanyakan soal mantan saya, Nyonya Reiji? ...” Aku menangkup wajah Malia.
Namun aku menahannya.
“Aku belum.”
Ucapku dengan tangan yang masih menangkup kedua pipi Lia. Dimana tak lama aku segera menyambar bibir merah muda rasa cherry kala pertama kali aku merasakannya.
Dan kini bibir merah muda rasa cherry yang tak ada rasanya jika Lia sedang tidak menggunakan lipstick atau pelembab bibir, sudah menjadi canduku, dengan atau tanpa rasa cherry yang melapisinya.
Ya Tuhan, aku sungguh merindukan tubuh istriku ini. “Rei aku belum bersih ...”
Lia bersuara setelah mengurai ciumanku yang memburu barusan. Sedikit tersengal nafasnya.
For God Sake, Lia yang tersengal sedikit nafasnya benar-benar membuatku hasratku naik seketika.
“Iya aku tahu, Yang,” ucapku dengan suaraku yang mulai serak-serak ember. Aku sungguh tak tahan. “Make out aja ya, bisa kan?”
Masa bodoh jika Lia menganggap aku maniak. Salahnya memiliki tubuh yang membuatku yang men-candui-nya.
Yang jelas saat ini aku sudah tidak tahan, tidak sabar untuk setidaknya mencumbui tubuh wanita yang telah menjadi istri sah ku ini.
Wanita yang juga sudah aku cintai. Wanita yang bukan hanya setiap lekukan-nya, namun harum tubuhnya selalu aku rindukan, sejak pertama aku menyentuhnya secara halal.
Entahlah nanti bagaimana caranya, yang jelas dahagaku untuk bermesraan dengan rapat bersama Lia terwujudkan dulu sekarang meski tanpa penyatuan.
“Boleh?” tanyaku lagi yang sedang sangat mendamba ini. Namun jika Lia tidak bersedia untuk hanya sekedar make out saja agar hasrat kelakianku ini tersalurkan ya sudah, aku pasrah. Maen sabun lagi kali malem-malem.
Eh tapi ga jadi maen sabun deh. Karena Lia mengangguk tuh barusan. Ah, memang istri yang pengertian.
Yang langsung aku tarik pelan tubuh Lia ke atas pangkuanku hingga posisi kami begitu rapat. Dan tanpa menunggu lama, aku kembali menyambar bibirnya, dan tanpa lama-lama juga, tanganku sudah menjelajah disetiap bagian tubuh istriku yang dapat aku raih.
Sembari aku tuntun tangan Lia untuk juga menjelajahi tubuhku yang sedang memangkunya ini. Dan lagi-lagi Lia tak menolak, pun sudah mulai mengeksplor tubuhku dengan tangannya.
Oh Lia ...
*
Author’s POV
Apa yang ingin Malia ketahui telah ia dapati jawabannya. Perkara mantan, yang membuatnya sempat sebal pada Reiji. Meski sebenarnya bukan soal mantannya yang sedikit mengusik hati Malia. Tapi seorang perempuan yang merupakan sahabat Reiji. Setidaknya itu yang Reiji katakan pada Malia, dan Malia mempercayainya.
Pembicaraannya dengan Reiji tiga hari yang lalu membuat Malia rasanya sudah tidak perlu memusingkan soal Shirly.
Memang seharusnya tidak perlu pusing. Karena Malia berkali-kali menekankan pada dirinya jika bukan karena cemburu Malia ingin tahu sejauh mana hubungan Reiji dengan Shirly.
Melainkan rasa penasaran Malia saja – alibi Malia.
Dan setelah mendengar cerita Reiji, sembari Malia memperhatikan lamat-lamat ekspresi wajah Reiji yang bercerita singkat tentang hubungannya dan Shirly, dimana Malia tidak menemukan indikasi adanya ketidak jujuran di mata Reiji, kini rasanya Malia sudah tenang.
Sekali lagi, bukan tenang karena penjelasan Reiji membuat rasa cemburu Malia pada Shirly itu hilang. Malia bukan cemburu, hanya penasaran. Penasaran bagaimana masa lalu Reiji dengan Shirly yang Malia anggap bukan teman biasa bagi Reiji, karena Malia juga punya masa lalu dengan seseorang.
Seseorang yang entah apakah masih Malia cintai atau tidak, Malia sendiri ragu akan hal itu.
__ADS_1
Yang jelas kini Malia berpikir bahwa dia dan Reiji telah menikah, dimana masa lalu seharusnya dikubur saja bukan.
Author’s POV
*
Tiiittt!!
Alarm di masing-masing ponsel sepasang suami-istri yang masih berada di atas tempat tidur berbunyi nyaring.
Membuat dua pasang mata yang tadinya tertutup rapat, kini mulai mengerjap-ngerjap. Keduanya masih merasa enggan untuk bangun, akibat pergulatan mereka semalam.
“Rei, alarm kamu matiin dong ...”
Malia bersuara, dengan suara khas bangun tidurnya.
Pasalnya bunyi alarm dari ponselnya Reiji masih mengganggu telinganya.
“Ponsel aku kan ada di deket ponsel kamu, Yang,” sahut Reiji, namun matanya masih terpejam.
Malia mendengus.
Dia sudah kembali merebahkan dirinya setelah meraih ponselnya sendiri lalu mematikan alarmnya.
Masih mager soalnya.
Ditambah habis digempur Reiji semalam, membuat Malia rasanya malas untuk bergerak dulu sampai ia rasa badannya dirasa fit dengan memejamkan matanya barang beberapa menit lagi. Karena hari ini Malia masih harus pergi ke kantor.
Tapi berhubung kata Reiji ponsel suaminya itu ada di dekat ponsel Malia, jadilah Malia yang tadi hendak memejamkan matanya untuk beberapa menit lagi, mau tidak mau bangkit dari posisinya untuk meraih ponsel Reiji, agar bisa mematikan alarm dalam ponsel suaminya itu.
Niatnya hanya hendak mematikan alarm di ponsel Reiji saja.
Namun notifikasi di layar apung ponsel Reiji membuat Malia sedikit lebih lama memegang ponsel tersebut.
‘Dia nih suka nelponin sahabatnya yang lain, kayak dia nelponin Reiji ga sih?...’ batin Malia yang melihat enam panggilan tak terjawab dari satu nama yang pernah membuatnya merasa penasaran atas masa lalu Reiji dengan nama kontak yang panggilannya terabaikan sebanyak enam kali di ponsel Reiji itu.
“Ehem!” Suara deheman dari sebelahnya membuat Malia menoleh ke arah samping kanannya, dimana Reiji telah membuka mata dan kini sedang menatap pada Malia yang sedang memegang dan memperhatikan ponselnya. “Kenapa? Mau meriksain ponsel aku?”
“Engga.”
Malia menampik dugaan Reiji. Lalu meletakkan kembali ponsel Reiji di atas nakas, lalu juga meletakkan ponsel miliknya sendiri di atas nakas, yang tadi sempat Malia letakkan disampingnya selepas mematikan alarm.
“Ya kalo mau liat-liat isi ponsel aku silahkan aja, Yang...”
Reiji berucap santai. Lalu ia bangkit dari posisinya, kemudian duduk bersandar di dashboard tempat tidur.
“Ga aku password apa-apa kok kalo disini...”
Kata Reiji sembari ia mengusap sudut matanya.
“Siapa juga yang mau meriksain ponsel kamu sih?”
Malia menguap.
“Kerajinan banget...”
Lalu Malia menggerutu seraya menggumam.
“Ya udah, ya udah, pagi-pagi jangan nyolot... Yuk mandi?”
“Sholat!” tukas Malia, karena melihat Reiji menyeringai jahil.
“Ya, iya, kan mandi dulu dong?”
Reiji cengengesan.
“Nah biar selesainya bareng, bisa shubuh bareng, mandinya juga mendingan bareng.”
“Halah! Modus!”
Malia beringsut dari posisinya untuk segera membersihkan diri, dimana Reiji masih cengengesan.
“Eh Rei...” ucap Malia.
“Hm?”
“Kamu sama Shirly, sering banget telpon-telponan ya?”
Pertanyaan Malia yang sudah berdiri di sisi ranjang, setelah memakai slipper-nya membuat Reiji mengernyit.
“Kenapa lagi sih, Yang?...”
“Ya ga kenapa-napa. Nanya aja...”
“Ya kenapa tiba-tiba nanya begitu?...”
“Ya dibilang Cuma nanya aja. Mau jawab sukur. Engga juga ga masalah.”
“Ya udah, ya udah...”
Reiji malas kalau sampai jadi ribut gegara perkara kecil.
“Iya, akhir-akhir ini aku emang sering telponan sama Shirly. Dia lagi nyari-nyari kerjaan disini ...”
Reiji pun menjawab pertanyaan Malia sembari memandang sang istri dari tempatnya, semata-mata agar Malia tidak berprasangka buruk padanya, ataupun pada Shirly.
“Aku tekankan sekali lagi ya, Lia sayang. Hubungan aku dan Shirly itu murni pertemanan dari dulu sampai sekarang. Oke?”
“Iya, oke.”
Malia mengiyakan permintaan Reiji, yang nampak enggan membahas sesuatu yang kiranya dapat mengganggu mood di pagi hari. Sahutan ‘Iya, oke’ dari Malia, Reiji pikir akan menyudahi pembahasan tentang Shirly yang tiba-tiba ditanya oleh Malia bersamaan dengan intensitas acara telpon-telponan antara dirinya dan sahabatnya itu. Tapi nyatanya Malia masih menyimpan satu pertanyaan untuk dirinya.
Satu pertanyaan yang membuat Reiji terdiam, memfokuskan matanya pada Malia.
“Kamu atau Shirly, pernah punya perasaan ga sih satu sama lain?”
*
__ADS_1
Bersambung ...