WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 110


__ADS_3

Selamat membaca....


***


Reiji geram mendengar ucapan Malia padanya, terlebih istrinya itu tampak seolah menantang dirinya. “Sekarang kamu yang jawab, kalau iya – kalau aku lebih peduli sama Irsyad, kamu mau apa?—“


Namun begitu mata Malia nampak berkaca – kaca, dan itu tertangkap oleh kedua netra Reiji.


Reiji sangat kesal pada Malia memang, kesal pada sikap Malia yang sudah mulai seenaknya pada dirinya dalam pandangan Reiji.


Namun begitu, Reiji tidak pernah ingin menyakiti Malia-sekesal apapun dirinya sekarang pada istrinya itu. Dan karena mata Malia yang Reiji lihat sudah berkaca-kaca, Reiji mengendurkan cengkramannya dari pergelangan tangan Malia.


Dan disaat Reiji mengendurkan cengkramannya dari pergelangan tangan Malia itu, Malia langsung menarik kasar tangannya yang tadi dicengkram Reiji. Lalu dengan cepat Malia berbalik seraya berjalan tergesa menuju kamarnya dan Reiji.


Reiji pun hanya bisa menghela nafas frustasi saja kala Malia yang masuk ke dalam kamar mereka itu, dengan cepat menutup pintunya lalu dikunci juga dari dalam.


**


REIJI


Alih-alih mengikuti saran Abbas untuk bertanya dan bicara baik-baik tentang laki-laki dari masa lalu Lia, aku malah mengedepankan emosi selama beberapa saat kala Lia pulang ke apartemen kami. Well, sikap Lia yang acuh tak acuh itu yang sebenarnya kian menyulut emosiku saat aku sedang merasa kesal pada sosok laki-laki bernama Irsyad yang lebih Lia tanggapi ketimbang aku-suaminya.


Kala Lia seolah menantangku, dan dalam kalimatnya tersirat sebuah profokasi atas emosiku, sungguh aku merasa geram padanya.


Namun sekuat tenaga aku menahan, agar aku tak sampai kelepasan emosi pada Lia. Hanya sikapku saja yang sinis serta ucapanku yang sedikit meninggi juga tajam.

__ADS_1


Dan aku juga dengan spontan mencengkram tangan Lia, kala seperti biasa-dikala kami sedang bicara lalu sampai pada ketahap berdebat, Lia pasti akan menghindariku.


Hal yang sangat aku tidak sukai dari istriku itu, selain ia yang kurang menghargaiku dengan pergi menemui laki-laki lain.


Jadi saat Lia yang seolah nampak enggan bicara denganku itu berbalik, aku dengan cepat menahan langkahnya dengan mencengkram satu pergelangan tangannya.


Dan disaat itu juga, aku melihat mata Lia yang berkaca-kaca sambil ia menatap padaku yang juga menatapnya dengan tatapanku yang tajam yang kemudian ketajaman itu meredup kala melihat ekspresi wajah Lia.


Aku tidak pernah ingin menyakiti Lia dalam hal apapun. Jadi saat aku menyadari jika aku sedang mencengkram tangan Lia, aku mengendurkan cengkramanku pada salah satu pergelangan tangan Lia itu. Dimana momen itu langsung dimanfaatkan Lia untuk menarik tangannya dari peganganku, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju kamar kami tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi dari mulutnya.


Lia menutup pintu kamar kami dengan sedikit keras, lalu pendengaranku menangkap jika Lia mengunci pintu kamar kami itu dari dalam. Dan aku pasrah saja dengan Lia melakukan itu.


Mungkin aku akan tidur di ruang tamu, atau ruang baca malam ini.


Kulangkahkan kakiku menuju pantri, karena merasakan perutku sedikit lapar.


---


Aku tepekur sendirian sampai hari kian larut, dan tak ada tanda-tanda Lia akan keluar dari kamar kami, dan akupun belum mendengar suara kunci pintu yang menandakan jika Lia telah membuka kunci kamar sehingga aku bisa masuk kesana.


Miris juga sih, bukannya aku yang harusnya marah karena istriku menghabiskan dengan pria lain di luar sana dan bukannya Lia yang nampak tersakiti olehku. Yang jelas saat melihat mata Lia yang mulai berkaca-kaca tadi, ada perasaan yang tidak nyaman menelusup ke dalam hatiku.


Begitu lemahnya aku jika soal Lia. Apa karena aku telah terkena sindrom ‘Bucin’?.


Ah entahlah.

__ADS_1


Yang jelas aku merasa kehilangan saja jika aku tidak dapat memeluk Lia malam ini.


Aku telah menghabiskan tiga bungkus mi instan yang biasanya sebungkus pun aku makan jarang-jarang.


Masa bodohlah.


Tak perduli perutku akan melar, dan latihanku membentuk tubuh agar proporsional menjadi sia-sia.


Lalu tubuhku menggemuk dengan perut buncit.


Sebaiknya begitu mungkin?. Agar orang-orang mengira jika aku bahagia dengan pernikahanku.


Pernikahan yang masih sangat muda sekali umurnya.


Tapi sudah terlibat perseteruan seperti ini.


Namun dalam tepekurku ini aku berpikir, jika perseteruanku dan Lia saat ini adalah kerikil dalam pernikahan kami.


Dan aku tidak boleh membiarkan kerikil itu menyakiti kami berdua.


Aku harus melakukan sesuatu.


Mungkin aku akan menemui laki-laki bernama Irsyad itu.


****

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih masih setia.


__ADS_2