WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 75


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Nanti tugas? ....”


Malia yang hendak pergi ke kamar mandi itu menjeda langkahnya untuk bertanya lagi pada Reiji.


“Iya......”


Reiji pun menyahut pada Malia, seraya ia bangkit dari ranjang.


“Kenapa?....” Gantian Reiji yang bertanya pada Malia.


“Ga kenapa-kenapa. Nanya aja.”


Malia menyahut datar.


“Hum ...”


“Jam berapa?” tanya Malia lagi.


“Setengah tiga kurang lebih berangkat dari cgk .....” jawab Reiji.


“Oh...” tanggap Malia.


“Tapi tetep aku anter kamu ke kantor kok, Yang ...”


Reiji kemudian berucap, kala ia telah berdiri dan memakai sendal rumahannya, untuk juga pergi ke kamar mandi.


“Ga usah,” sahut Malia dan langsung berjalan keluar dari kamarnya dan Reiji.


“Kok ga usah?. Kenapa memangnya?...” tanya Reiji yang mengekori Malia ke kamar mandi.


“Ya ga apa-apa. Kamu kan baru pulang beberapa jam lalu. Baru tidur paling sekitar tiga jam kan?...”


“Aku baru terbang nanti sore, Yang. Habis antar kamu ke kantor, aku kan balik lagi kesini dan bisa lanjut istirahat sampai siang.”


“Udah nanti sambung lagi ngomongnya. Aku mau wudhu dulu...” ucap Malia seraya ia membuka kran yang ada di dalam area bathtub, dengan Malia yang juga sudah masuk ke dalam bathtub tersebut yang sudah merunduk badannya dan langsung berwudhu.


***


Reiji mengernyit, saat ia kembali ke kamar setelah ia selesai dengan urusannya di kamar mandi selepas Malia berwudhu, dan Reiji pun juga sudah mengambil wudhu, tapi Malia sudah lebih dulu melakukan Sholat Shubuh tanpa menunggunya.


Jadi Reiji menunggu dulu sampai Malia menyelesaikan Subuhnya, baru nanti gantian dengannya.


“Kok ga nungguin aku?...” tanya Reiji, selepas Malia telah menyelesaikan Subuhnya dan Reiji menghampiri Malia, dimana Malia juga menghampirinya untuk menyalim tangannya.


“Sorry, buru-buru. Mules,” jawab Malia. Lalu melengos langsung dari hadapan Reiji sambil membuka mukenanya yang Malia kemudian letakkan kembali pada tempatnya.


Sementara Reiji senyum saja sembari ia geleng-geleng memperhatikan Malia sejenak, lalu mengambil sarung sholatnya, dan gantian untuk menunaikan kewajibannya, dan Malia keluar dari kamar mereka.


***


Reiji langsung keluar dari kamarnya dan Malia setelah ia menunaikan kewajiban Shubuh-nya.


Reiji melirik kamar mandi yang pintunya tertutup rapat. “Yang?...”


Reiji memanggil Malia seraya mengetuk pintu kamar mandi.


“Aku sekalian mandi!...”


Terdengar sahutan dari Malia.


Reiji tak menjawab, hanya manggut-manggut saja.


Lalu Reiji menjauh dari kamar mandi, dan mengayunkan langkahnya menuju pantri.


Membuat dua cangkir minuman hangat untuknya dan Malia. Sembari Reiji mengecek isi kulkas untuk menemukan sesuatu yang bisa ia olah untuk dijadikan sarapan.


“Eh ini ya makanan yang Lia bilang semalem?”


Reiji menggumam saat melihat dua wadah yang terbalut plastik wrapping khusus makanan.


“Masih bisa dipanasin ga ya?” gumam Reiji lagi. “Gue keluarin dulu deh, nanti tanya Lia pas dia keluar dari kamar mandi.”


Reiji pun mengeluarkan wadah yang terbungkus rapih dengan plastik pembungkus khusus makanan tersebut.


Lalu meletakkannya di atas meja pantri, sambil kembali melanjutkan membuat dua minuman hangat untuknya dan Malia.


Reiji langsung mengangkat dua cangkir berisikan minuman hangat yang telah ia buat dari meja pantri, untuk kemudian ia letakkan di atas meja makan.


Satu saja, cangkir yang berisi minuman untuk Malia. Sementara minuman untuknya, Reiji tetap pegang, karena ia ingin menikmati minuman tersebut di balkon apartemen sambil menunggu Malia selesai mandi.


Reiji membalikkan badannya, menatap ke area dalam apartemen sembari menyesap minuman hangatnya. Kemudian tersungging senyuman jahil di sudut bibirnya.


***


MALIA


Aku terbangun karena suara alarm yang berbunyi tidak begitu nyaring, namun volume-nya cukup besar.


Yang aku kenali darimana suara alarm itu bersumber.


Ponselnya Reiji. Karena seingatku aku tidak menyetel alarm di ponselku semalam, karena aku langsung menonaktifkan-nya selepas mengirim pesan chat pada Reiji.


Kirain ga pulang.


Kalimat cibiran yang ingin sekali aku cetuskan pada Reiji.


Hehe.


Tapi tidak, aku tidak mengatakan apapun saat aku mulai bergerak bangun dari tidurku. Melainkan sahutan sapaan, karena Reiji menyapaku.


“Morning, Yang.” Begitu sapanya.


Yang tentu saja aku sahuti sapaan selamat paginya Reiji itu. Hanya saja aku tidak menoleh padanya. Rasa hatiku sedang malas sejak semalam, setelah aku menemukan sesuatu yang secara tidak sengaja saat aku hendak meminjam satu novel koleksi Reiji.


Sesuatu yang membuat ada satu ganjalan di dalam hatiku.


Dan ganjalan itu yang membuatku merasa enggan untuk berinteraksi dengan Reiji pagi ini.

__ADS_1


Aku bangkit dari ranjang tanpa menoleh pada Reiji, sambil pura-pura menguap dan mengucek mata.


Hatiku yang penasaran lebih dari sebelumnya ini ingin sekali bertanya perihal sesuatu yang tidak sengaja aku temukan itu.


Tapi waktu masih shubuh, bahkan sayup suara adzan baru selesai berkumandang. Dan rasanya ga etis banget bahas soal itu pagi-pagi buta begini. Tapi aku tetap bertanya pada Reiji.


Namun bukan menyangkut dengan apa yang aku temukan di salah satu novel koleksinya.


“Kamu pulang jam berapa semalem? .....” itu yang keluar dari mulutku. Hampir jam satu-an jawab Reiji padaku.


Dan aku hanya ber-oh ria saja.


Tak ingin Reiji curiga dengan sikap malasku yang berinteraksi dengannya, jadi aku coba bersikap normal saja dengan menanyakan apa dia ada jadwal hari ini, hingga kemudian Reiji yang akan ada jadwal penerbangan sore nanti mengatakan,


“Tapi tetep aku anter kamu ke kantor kok, Yang ...”


Yang aku jawab dengan tolakan, dengan alasan Reiji belum beristirahat dengan cukup.


Tapi Reiji tetap mau mengantarku, karena katanya sehabis mengantarku dia bisa kembali ke apartemen untuk melanjutkan istirahatnya.


Serah lah.


Akupun segera menghentikan percakapanku dengan Reiji, mengenai pembahasan mengantarku, dengan aku yang pamitan untuk pergi berwudhu.


Aku memang sedang malas untuk berinteraksi dengan Reiji pagi ini. Mungkin efek ganjalan dalam hatiku yang belum hilang. Yang coba untuk aku tepiskan, makanya aku buru-buru membawa diriku untuk tidur semalam.


Moodku sudah agak terganggu diwaktu memulai hari.


Sampai karena itu, aku bahkan buru-buru meraih mukena ku setelah selesai berwudhu, keluar dari kamar mandi dan langsung masuk kamar, kemudian menggelar sajadah, dan langsung menunaikan sholat shubuh sendiri tanpa menunggu Reiji untuk berjamaah, seperti seringnya.


Mungkin Reiji heran. Dan ya pasti dia heran kenapa aku sholat shubuh tanpa menunggunya.


Mules.


Itu alasanku pada Reiji kala dia bertanya kenapa aku tidak menunggunya.


Namun begitu sedang malasnya aku berinteraksi dengan Reiji pagi ini, tetap aku menyalim takdzim tangan Reiji selepas aku menyelesaikan shubuh-ku.


Karena biar bagaimanapun, Reiji suamiku, dan tetap aku harus menghormatinya bukan?.


Kemudian aku bergegas masuk kamar mandi, setelah Reiji memulai shubuh-nya. Bukan karena mulas, tapi ingin mandi tanpa gangguan.


Karena Reiji biasanya suka curi-curi kesempatan untuk mandi bersama di pagi hari. Dan sungguh, aku sedang malas meladeni hasrat kelakian Reiji saat ini.


Jadi, pintu kamar mandi pun aku kunci.


Yah memang setiap mandi aku selalu menguncinya, jika Reiji tidak sempat keburu menahan pintu kamar mandi untuk aku tutup jika dia memiliki kesempatan untuk itu.


Bahkan sudah aku kunci pun, kadang ada saja kelakuan Reiji yang pada akhirnya membuatku berakhir dengan main kuda-kudaan bersamanya dan membuatku mandi lagi plus keramas.


Yang mana kejadian saat aku telah selesai mandi, dan membuka pintu kamar mandi.


Dimana Reiji sudah berdiri di depan pintunya, sembari tersenyum penuh arti padaku, yang aku paham maknanya.


“Mau mandi juga?”


Aku berbasa-basi, pura-pura tak paham.


“Mau sih, tapi pengen keringetan dulu baru mandi,” kata Reiji.


“Ya udah jogging sana....” ujarku, yang berlagak tidak paham maksud Reiji yang langsung tersenyum.


Nampak geli, selain tampan. Tapi saat ini aku sedang malas melihat senyum tampannya Reiji.


Dan aku segera menggerakkan diriku untuk pergi dari hadapan Reiji, yang sorot matanya aku tahu sedang mendambaku.


“Awas dong Rei, dingin ini,” ucapku, sambil mendorong pelan tubuh Reiji, yang sialnya tak bergeming.


“Aku angetin ya?....”


“Not now ya Rei, aku ada meeting dan harus dateng lebih pagi, buat nyiapin sekaligus meriksa lagi laporan aku.”


Aku berdusta pada Reiji. Dan Reiji menampakkan senyumnya lagi padaku.


Tapi aku tahu, ada kekecewaan dalam hati Reiji atas penolakanku.


Mungkin, jika Reiji bertanya karena menyadari sikapku yang sedikit berbeda padanya pagi ini, aku akan juga membahas tentangnya dan Shirly sekali lagi.


“Ya udah kalo gitu.” Begitu ucap Reiji padaku, yang kemudian mengacak pelan rambutku. “Kamu siap-siap deh kalau gitu.” Kata Reiji lagi. “Aku bikin sarapan dulu kalau gitu ya? Aku udah buat teh untuk kamu....”


Aku pun mengangguk.


“Eh iya ngomong-ngomong, Yang....”


Aku menjeda langkahku untuk masuk ke kamar, karena Reiji bicara lagi.


“Itu makanan yang diwrapping, kira-kira masih bisa diangetin ga?” tanya Reiji padaku.


“Bisa sih,” jawabku.


“Kalo gitu, itu aja ya aku angetin buat sarapan kita?....”


“Iya boleh....” Aku mengiyakan saran Reiji, karena selain rasanya tidak basi itu makanan karena masuk kulkas, pun biar ga mubazir.


Meskipun aku rasanya malas kalau harus makan sedikit berat saat sarapan.


“Tapi cek dulu nasi di magic com,” kataku.


“Oke.”


Reiji menyahut sembari melangkah menuju pantri.


"Ngomong-ngomong ini kamu masak, Yang?" tanya Reiji.


"Beli!" jawabku singkat lalu menyegerakan diri masuk kamar.


Tak ingin Reiji mendengar pertanyaan andai Reiji bertanya, tumben masak begini, dalam rangka apa?.


Yang mana aku malas menjawab jika aku sengaja masak buat ngerayain dua bulan pernikahan, yang sia-sia aku lakukan, karena dia ga inget kalau semalam adalah tepat dua bulan pernikahan kami dan dia malah sibuk nemenin sahabatnya yang nyari-nyari alamat, sampai pulang larut malam.


Sahabat yang ternyata ....

__ADS_1


Ah sudahlah.


****


“Makasih ya?....”


Malia diantar pergi ke kantor oleh Reiji, yang memaksa untuk itu.


Jadi mau tidak mau, Malia menerima hal tersebut.


“Iya, sama-sama....”


Malia kemudian mengulurkan tangannya pada Reiji untuk menyalim takdzim punggung tangan suaminya itu, yang langsung memberikan tangan kanannya pada Malia.


“Aku mungkin malem lagi sampai nanti ke apartemen ya, Yang?....” ucap Reiji saat Malia hendak membuka pintu mobil.


“Oke.” Malia pun mengiyakan.


“Yang,” panggil Reiji.


Malia yang sudah hendak turun itu pun menoleh.


“Apa?” tanya Malia.


“Ga ngerasa ada yang lupa?”


Reiji balik bertanya.


“Kayaknya engga,” jawab Malia.


Reiji memonyongkan konyol bibirnya. Mengkode untuk sebuah ciuman.


“Nanti ya, aku buru-buru banget nih. Bye!”


“Ya ilah Yang, Cuma cium sebentar aja susah amat sih?”


“Aku buru-buru, Rei. Ngerti ga sih?!” nada suara Malia terdengar membentak, meski tidak keras.


Reiji yang menahan tangan Malia, karena bermaksud menggodanya itu, kemudian melepaskan tangan Malia yang barusan membentaknya, walau pelan.


“Ya udah aku minta maaf.”


Reiji menampakkan senyumnya pada Malia, sembari mengusap pelan kepala Malia.


“Sorry, aku ga ada maksud ----“


“Ga apa-apa, aku ga tersinggung kok.”


“Sekali lagi sorry,” ucap Malia sembari menoleh pada Reiji. Sedikit banyak ia merasa tak enak.


“It’s okay, Yang,” balas Reiji. “Lagi banyak kerjaan di kantor ya?”


Malia tersenyum tipis.


“Iya....”


****


REIJI


“Yang ....”


Aku memanggil Lia saat aku telah kembali ke apartemen tepat jam setengah sebelas malam.


Aku membawakan Lia sekotak besar coklat yang aku beli di sebuah toko dalam bandara.


Selain karena aku tahu Lia sangat menyukai coklat, sepertinya istri tercintaku itu sedang stres dengan pekerjaannya.


Kalau ingat tadi pagi Lia begitu serius menanggapi candaan-ku soal minta cium sebelum ia turun dari mobil. Sampai ia membentakku, walau pelan.


Padahal biasanya juga meskipun sebal, dia tetap akan mencium atau pasrah menerima ciumanku.


Tapi tadi pagi Lia menanggapinya dengan sangat serius, hingga sedikit membentakku.


Sedikit terkejut memang, tapi aku tak menanggapi dengan emosi. Mungkin Lia sedang banyak kerjaan, atau mungkin sedang ada masalah dalam pekerjaannya.


Yang memang begitu adanya, karena Lia mengiyakan saat aku bertanya apa sedang banyak kerjaan di kantor. Jadi aku memaklumi sikap Lia yang sangat ketus padaku pagi tadi.


Yah, orang yang bekerja akan merasa tertekan saat dihadapkan dengan banyaknya pekerjaan, termasuk kendala-kendala yang ada didalamnya.


Jadi aku memakluminya. Dan makanya aku belikan Lia sekotak besar coklat untuk sedikit menghiburnya. Selain karena aku tahu jika Lia sangat menyukai coklat, toh coklat katanya dapat menyamankan suasana hati.


Yah, semoga saja dengan sekotak besar coklat ini Lia setidaknya ga merasa stres-stres amat karena permasalahan dalam pekerjaannya.


Aku tidak mendengar sahutan saat aku memanggil Lia ketika aku masuk ke dalam apartemen. Jadi aku langsung melangkahkan kaki untuk langsung menuju ke kamar.


“Yang....”Panggilku pada Lia yang aku pikir telah tertidur. “Belom tidur?” tanyaku pada Lia, yang duduk di lantai dekat sofa, dengan laptop yang terbuka.


Lia langsung menoleh ke arahku saat aku masuk ke kamar yang pintunya terbuka lebar. Lia juga berdiri dari tempatnya duduk dan menghampiriku untuk menyalim takdzim tanganku.


Dimana setelahnya aku langsung mengecup kening Lia, dan ingin menyambar bibirnya. Namun tidak terlaksana, karena Lia langsung meraih Navy bag ku dan membawanya masuk ke dalam walk in closet.


Entah hanya perasaanku saja, atau karena Lia memang sedang memiliki masalah yang pelik dalam pekerjaannya, yang jelas aku melihat jika Lia terlihat sedikit lesu. “Kok belum tidur Yang?” tanyaku saat Lia telah keluar dari dalam walk-in-closet.


“Belum ngantuk.”


Lia menjawabku dan berjalan kembali ke tempatnya tadi.


“Udah makan? ....” tanya Lia kemudian sambil menutup laptopnya.


“Udah ....” jawabku


“Sama Shirly? ....”


Lia bertanya lagi. Ada sunggingan miring yang tipis di sudut bibirnya.


“Curiga amat Neng Lia –“


“Bukannya kamu nyaman kalo sama dia? ....”


“Maksud? ....”

__ADS_1


****


Bersambung....


__ADS_2