WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 272


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇❇❇


“Bubur ayamnya aku udah taro di meja makan..” Reiji yang berucap, ketika ia sudah kembali dari membeli sarapan. Dimana ia meletakkan bubur ayam yang dia beli untuknya dan Malia di atas meja makan dan mengeluarkan wadah bubur ayam dari plastiknya yang kemudian Reiji letakkan wadah tersebut di atas piring makan.


Baru setelahnya Reiji melangkah ke dalam kamarnya dan Malia di apartemen mereka itu, karena Reiji meyakini jika Malia masih ada di dalam sana. Setelah Reiji tidak melihat keberadaan Malia di ruang tamu atau dapur.


“Hm.”


Begitu saja Malia menyahut.


****


Tak acuh.


Sikap Malia pada Reiji.


Yang Reiji biarkan saja dulu sikap istrinya itu, tanpa ia mengomentarinya.


Cari aman dulu untuk saat ini. karena di mata wanita yang sedang kesal, secuil saja komen dari lelaki yang walaupun hanya sekedar bercanda ataupun cetusan kebenaran, seyogyanya akan dianggap serius dan pasti salah saja.


Jadi Reiji hanya menyabarkan dirinya saja. Selain ia sadar diri memang ia sudah melakukan sebuah kesalahan yang dapat dibilang besar.


****


“Makan dulu gih.. Keburu dingin bubur ayamnya, malah nanti kamu ga selera..”


Kalimat itu saja yang kemudian keluar dari mulut Reiji. Setelah sebelumnya Malia hanya berdehem samar saja menanggapi ucapan Reiji.


Tapi ucapan yang kali ini, bahkan tidak mendapat respon apa-apa dari Malia yang matanya terarah ke layar laptop. Dan sekali lagi, mau tidak mau Reiji memaklumi, sekaligus menyabarkan dirinya saja.


Setelahnya, Reiji kembali berbicara.


“Kamu makan aja duluan. Aku mau mandi dulu—“


‘Sebodo!’ sahut Malia.


Namun hanya di dalam hatinya.


****


MALIA


Aku terus saja bersikap acuh tak acuh pada Rei yang sudah kembali dari membeli sarapan untuk kami itu. Memang aku sedang malas sekali menanggapinya. Bahkan rasanya sedang malas juga untuk melihat wajah Rei saat ini.


Wajah tampan dan seksi di waktu tertentu itu sedikit membuatku muak sekarang.


Karena pemiliknya telah membohongi dan menurunkan harga diriku sebagai seorang istri secara tidak langsung.


Yang mana pikiranku, saat Rei memberikan uang bulanan pada si bibit pelakor sialan itu—pastilah perempuan itu bertanya apakah Rei memberikannya dengan sepengetahuanku.


Dan aku yaa-kin sekali suamiku yang seringnya jujur tapi membohongiku karena sahabat perempuannya itu, akan bilang jika aku tidak tahu. Dan terkutuklah si Irly itu jika memang Rei telah mengatakan kalau aku tak tahu dia yang memberikan uang pada si bibit pelakor itu, namun perempuan itu tetap menerimanya.


----


Mataku memang sedang terarah ke layar laptop saat Rei telah kembali dari membeli sarapan, lalu berbicara padaku. Menyuruhku untuk segera menyantap bubur ayam yang telah Rei beli itu.


Namun meski mataku terarah ke layar laptop yang sedang menampilkan hasil pencarian dari beragam tipe ponsel, aku tidak lagi fokus ke sana saat Rei berada di kamar kami. Karena fokusku, memperhatikan gerak-gerik Rei.


Tapi dengan aku yang tidak menampakkan jika aku sebenarnya sedang memperhatikan gerak-geriknya.


Termasuk pasang telinga untuk mendengar setiap ucapan Rei yang tidak aku tanggapi kemudian. Yang kemudian bilang padaku jika aku tidak perlu menunggu dirinya untuk sarapan.


Siapa juga yang mau sarapan dengan seorang suami pembohong yang memperhatikan perempuan lain dibelakangku?..


Lebih baik aku menahan lapar seharian!


Karena makan ditemani suami yang tidak jujur dan main belakang juga akan membuat selera makanku hilang!


Mau itu konteksnya soal kepedulian pada sahabat atau kemanusiaan.


Bagiku, aku telak dibodohi. That's it!


----

__ADS_1


Bicara soal gerak – gerik Rei, sesuai dengan apa yang ia katakan, yakni menyuruhku untuk sarapan duluan karena Rei ingin pergi mandi terlebih dahulu, aku terpikir satu ide.


Ide untuk melepaskan diri dari Rei barang sejenak. Dan bukannya aku tidak kapok karena kejadian buruk yang belum lama aku alami karena Irsyad, hingga aku memutuskan untuk keluar dari apartemen tanpa Rei. Aku hanya ingin melepaskan penatku sejenak.


Karena hatiku mulai mencetuskan solusi untuk menghilangkan sakit hatiku karena dibohongi oleh suami yang memberikan perhatian pada perempuan lain, bahkan sampai menafkahinya tiap bulan—sahabat apa simpenan sih?!


Gamang.


Begitulah perasaanku sekarang.


Ada rasa yang tiba-tiba menyelusup—ingin pisah saja dari Rei.


Pisah dalam makna—mengakhiri rumah tanggaku dengannya.


Lebay?


Mungkin sebagian orang akan menganggapku begitu.


Tapi posisikan diri sebagai aku—istri yang dibohongi suami.


Yang bahkan sempat dibuat khawatir bukan main karena suaminya tanpa kabar, tapi tahu-tahu sedang menemani perempuan lain walau dalam konteks memberi support untuk sahabat.


Lalu dihindari, karena suaminya sedang menghabiskan waktu di apartemen sahabat perempuannya. Walau untuk menemani dan menghibur anak sahabatnya. Katanya.


Dan suaminya, menafkahi perempuan lain di belakang.


Jika ada istri yang bisa legowo menerimanya, sungguh, aku berikan standing applause untuknya.


----


Aku tak selegowo itu untuk menerima persahabatan Rei dengan seorang perempuan, apalagi perempuan itu pernah dicintainya.


Dan aku tak kuasa menahan perasaanku yang tahu-tahu muncul dimana itu tentang bercerai dari Rei.


Dan ya, aku gamang sekarang.


Aku mencintai Rei memang.


Tapi orang yang aku cintai menggores harga diriku.


Tapi ada ragu juga sih, untuk pergi ke luar walau ke Mal saja.


Namun di sana tidak ada orang yang aku kenal, macam saat aku bertemu Irsyad di sebuah bar and resto, yang mana ujungnya aku mendapatkan hal yang buruk.


----


Agak ngeri sih.


Namun aku bisa meledak jika aku berdekatan dengan Rei sekarang.


Yang pasti akan sok-sok memberi penjelasan padaku untuk mengerti posisinya.


Penjelasan yang sungguh tidak ingin aku dengar.


Penjelasan karena kelakuannya dibelakangku selama ini terkait si bibit pelakor sialan itu telah aku tahu bukan dari mulut Rei sendiri.


Heh!


Basi!


----


Kantor.


Yang kemudian terbersit dalam otakku, yang akan menjadi tempat tujuanku.


Meski aku ingat Rei sempat mengatakan jika Pak Andra telah memberikan aku cuti cuma-cuma, rasanya lebih baik aku pergi ke kantor saja deh.


Lebih aman di sana rasanya, ketimbang aku berkeliaran sendirian di Mal.


Dan lagi, saat jam makan siang nanti, aku bisa minta ijin Pak Andra untuk keluar membeli ponsel.


Atau saat pulang kantor aku akan meminta tolong satu rekanku untuk mengantarku ke Mal yang ada di sekitaran kantor kami.


Bagus kalau satu rekan divisiku mau ikut juga.

__ADS_1


Lebih ramai kan tuh?


Lebih aman akunya.


Sekalian aku traktir mereka semua.


Foya-foya pakai uang pemberian Rei selama ini yang sebenarnya aku simpan-simpan untuk kapan-kapan bicara dengan Rei, soal membeli sebuah rumah.


Berjaga-jaga, untuk tambahan jika uang Rei kurang.


Dan lagi memang uang dari Rei tidak terlalu terpakai untuk kebutuhan pribadiku, karena aku memiliki penghasilan sendiri.


Tapi berhubung aku tahu jika Rei memberikan uang tiap bulan plus 300 juta pada si bibit pelakor sialan itu, maka akan aku pergunakan saja uang pemberian Rei itu dengan seenaknya.


Ide bagus kayaknya itu!


Oke, aku sebaiknya bersiap-siap.


Lalu pergi saat Rei sedang berada di dalam kamar mandi.


Rasanya aku merasa lebih baik berkutat dengan pekerjaan dan dikelilingi rekan kerjaku yang kebanyakan gesrek itu, daripada harus menghabiskan waktu seharian bersama suami yang telah membodohiku.


Yang akan aku pakai foya-foya uang pemberiannya selama ini padaku. Lihat saja!


Sisanya baru akan aku kembalikan bulat-bulat pada si Reiji Shakeel itu uang sisa janda!


Cuih!


****


Emosi, sedang lumayan menyulut di hati Malia pada Reiji.


Dan atas dasar itu, cetusan ide spontannya untuk keluar dari apartemen tanpa sepengetahuan Reiji, langsung Malia segerakan.


Malia mengganti pakaiannya dengan cepat, setelah ia memastikan jika Reiji sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Lalu memoles asal wajahnya, untuk kemudian pergi ke kantornya.


‘Eh tapi, kayaknya gue tulis note aja deh buat itu si pilot pembohong kalo gue ke kantor.’


Malia yang sudah rapih dan siap berangkat ke kantornya itu bermonolog sejenak.


‘Nanti dia heboh, terus ngabarin mama papa dan mereka jadi khawatir lagi.’


Malia menghela nafasnya.


‘Ya udahlah. Gue tulis note aja buat Rei.’


****


****


“Perasaan centang di chat yang aku kirim ke kamu tertanda udah terbaca deh?”


“Iya, emang udah aku baca—“


“Terus ngapain tetap dateng ke sini?—“


“Tanggung jawab aku sebagai suami untuk memastikan keselamatan istri aku—“


“Tanggung jawab..”


“.....”


“Berapa persen rasa tanggung jawab kamu ke aku sih? Udah kebagi kan soalnya ke Ma-Mi Shirly dan anaknya?—“


“Kamu mau kita berdebat di sini?—“


“Kenapa engga?”


“.....”


“Mumpung aku ada waktu. Dari sini aku mau pulang ke rumah mama papa soalnya. Sen-di-ri.”


*******

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2