WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 189


__ADS_3

Selamat membaca...


***


REIJI


Aku dan Lia mengobrol santai dan bercanda sepanjang perjalananku menyetir untuk mengantar Lia ke kantornya.


Namun saat aku sudah sampai membawa mobilku yang aku kemudikan itu ke lobi gedung perkantoran tempat Lia bekerja, entah kenapa aku merasakan jika Lia nampak sedikit was – was.


“Yang?...” panggilku pada Lia.


Lia yang nampak was – was itu terkesiap saat aku memanggil seraya membelai pipinya.


“Eh, iya, Rei?...”


Lalu menoleh dan langsung mengulas senyumannya kepadaku.


“Kenapa sih? –“


Aku lantas bertanya.


“Kok kayaknya gelisah begitu?”


“Siapa yang gelisah coba? Aku cuma ngeliatin kalo ada temen satu divisi aku yang biasanya dateng jam segini juga..”


Dan aku menanggapi jawaban Lia itu dengan ber oh ria. “Kirain gelisah gitu, mau liat keadaan terus cium bibir suaminya –“


Lia langsung mendengus geli sambil melengoskan wajahku dengan gemas.


“Mesum ga abis – abis,” ucap Lia kemudian. Aku pun terkekeh kecil.


“Bikin candu sih bibirnya –“ jawabku sembari tersenyum lebar.


“Sampe tercanduh – canduh? –“


Bisa lucu juga itu yayang istri. Bikin gemes aja makin lama.


“Banget!” ucapku sambil kukecup cepat bibir Lia.


“Aku masuk dulu ya? –“ pamit Lia sambil tangannya mengisyaratkan untuk mencium tanganku dan aku pun memberikan tangan kananku padanya, yang langsung diraih Lia.


“Iya –“


Lia pun segera keluar dari mobilku setelah menyalim takdzim dan mendaratkan kecupan singkat di pipiku.


**


MALIA


Aku merutuki diriku sendiri setelah aku keluar dari mobil Rei dan setelah suamiku itu telah melajukan mobil yang ia kemudikan menjauh dari lobi gedung perkantoran tempatku bekerja.


Merutuki diri, kenapa aku bisa sampai tak sadar bersikap agak grasak – grusuk memperhatikan keadaan.


Padahal Rei itu kan pemerhati, dan tadi di rumah orang tuaku sudah aku rasakan itu – perihal sikap tidak biasaku saat ponselku lowbat.


Dan barusan tadi aku ulang lagi tanpa sadar kalau Rei itu seorang pemerhati, terutama pemerhati gerak – gerik dan kebiasaanku, dengan aku yang celingak – celinguk dari dalam mobil memperhatikan parkiran outdoor gedung.


Habis bagaimana?....


Sedikit banyak aku masih agak – agak paranoid dengan Irsyad.

__ADS_1


Takut dia tiba – tiba muncul di hadapanku, dan parahnya di hadapan Rei.


Lalu bisa saja dia mengatakan kalau kami memiliki hubungan spesial bahkan sudah berciuman.


Meski fakta soal berciuman itu benar adanya, namun dengan CATATAN BESAR bahwa AKU DIPAKSA.


Dipojokkan dengan sebegitunya, sampai aku tidak bisa berbuat apa – apa saat Irsyad menciumku dengan paksaan yang hakiki.


-


‘Kenapa menghindari aku, Lia? Berhentilah berkorban untuk orang lain. Ada aku yang mencintai kamu dan siap menerima kamu apa adanya.’


‘Lia please, aku minta maaf untuk apa yang sudah aku lakukan semalam. Aku sedang kacau Lia, dan kamu penyebabnya.’


‘Tapi percaya Lia, aku tulus mencintai kamu.’


Rangkaian pesan chat dari Irsyad beruntun masuk saat aku mengaktifkan ponselku.


Sudah tidak mau aku pedulikan lagi rentetan pesan lainnya dari Irsyad, yang langsung hapus semua tanpa terkecuali.


‘Berhenti sampai disini. Jangan pernah mengusik aku lagi. Termasuk jangan pernah muncul dihadapan aku, jika ga mau aku laporkan perbuatan kamu sebagai perbuatan tidak menyenangkan.’


Setelahnya aku kirimkan pesan chat peringatan untuk Irsyad, yang aku tunggu sampai pesan chatku itu terkirim lalu terbaca-baru nanti akan aku hilangkan kolom pesan chat pribadiku dan Irsyad.


***


“Woy! Bengong lo pagi-pagi!” Satu tepukan di bahu Malia-berikut suara cempreng si penepuk bahu Malia itu, membuat si empunya bahu terkesiap.


“Siapa juga yang bengong?-“


“Lagi chattingan sama bapak pilot ganteng?”


“Kepoo!....” kekeh Malia sambil membetulkan posisi duduknya, dimana Malia sudah berada di kubikel kerjanya itu.


***


Malia menggumam saat ponselnya yang sedari ia pandangi itu kini telah kembali berada dalam genggamannya, saat setelah Malia lirik pesan chat peringatannya untuk Irsyad telah dibaca oleh pemilik nomor kontak yang tersimpan dalam ponselnya tersebut.


Gumaman Malia bersamaan dengan tangannya yang mengatur pemblokiran nomor kontak Irsyad dalam ponselnya tersebut. Baru setelahnya, Malia merasa tenang dan dapat bekerja tanpa lagi harus terganggu oleh pesan chat atau panggilan telepon dari Irsyad.


Malia yakin peringatannya itu akan membuat Irsyad berhenti mengejarnya, termasuk muncul tiba-tiba dihadapannya. Namun begitu, Malia juga mengambil langkah antisipasi lainnya atas kemungkinan-kemungkinan Irsyad akan berusaha menemuinya di kantor setelah Malia memblokir nomor Irsyad dari ponsel dan media sosialnya juga.


“Uy cantik.”


Malia sedang berada di meja resepsionis di lantai tempat Malia bekerja.


“Yes, aya naon Mba Lia? –“


“Mau minta tolong bisa?” tukas Malia santai pada si resepsionis.


“Bisa kalo minta tolong, kalo minta duit baru ga bisa,” canda si resepsionis cantik, hingga membuat Malia terkekeh kecil.


“Bisa aja kamu,” timpal Malia.


“Jadi Mba Lia mau minta tolong apa?”


“Kalau ada orang yang namanya Irsyad, yang pernah aku juga bilangin ke kamu waktu itu.”


Lalu Malia berbicara.


“Inget ga? ..”

__ADS_1


“Iya inget.”


“Dia juga pernah dateng kesini,” tukas Malia.


“Oh iya, iya aku inget mukanya. Kenapa emangnya Mba?”


“Ada atau ga ada aku di tempat, kalau sampe dia nongol disini, kamu langsung minta sekuriti langsung usir aja ya?”


“Siap Mba! ....”


“Makasih ya cantik?”


Malia berterima kasih seraya tersenyum pada si resepsionis kantornya itu yang memang Malia sukai karena ga kepo sama urusan orang lain.


Dan tidak banyak tanya jika dimintai tolong yang katakanlah sebuah tugas dari karyawan lain, jika hal tersebut masih dalam ranah kerjanya. “Sama-sama Mba Lia.”


***


Satu dua hari berlalu, Malia masih dalam mode waspada-sedikit paranoid dengan Irsyad. Meski dalam dua hari belakangan, Reiji antar jemput dirinya ke kantor.


Bahkan saat kembali ke apartemen pun dalam sehari dua hari belakangan, Malia masih suka merasa was-was sendiri sekalipun Reiji tidak pernah jauh dari dirinya.


Sampai dengan dua hari terlewati dan berjalan dua hari lagipun Malia masih didera rasa was-wasnya atas kemunculan Irsyad.


Namun dihari-hari berikutnya hingga setelah satu minggu berlalu dari kejadian Irsyad menciumnya dengan paksa itu, Malia mulai dapat merasa tenang.


Tak ada lagi tanda-tanda Irsyad yang menguntitnya, pun rasa was-was di hati Malia jika ada yang mengawasinya dari kejauhan.


Hingga sampai dua minggu berlalu, dan Malia sudah merasa benar-benar tenang dari kemungkinan gangguan seorang Irsyad, apapun bentuknya.


Namun bicara soal gangguan, telah sampai dua minggu rasanya hati Malia ia rasakan sudah tenang adanya dari kemungkinan Irsyad yang mengganggunya-yang mana gangguan dari Irsyad itu tidak pernah lagi ada.


Selain Malia sudah memblokir nomor kontak Irsyad, pria dari masa lalunya itupun tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya ke hadapan Malia.


Tidak juga pernah lagi Malia menangkap kelebatan mobil Irsyad yang ada di jajaran parkiran gedung apartemen atau kantornya.


Tentang Irsyad-Malia yakin pria dari masa lalunya itu telah mundur.


Tapi baru juga dua minggu Malia rasanya tenang tanpa ada gangguan dari Irsyad, saat ini Malia merasakan ada bau – bau calon PHO ( Perusak Hubungan Orang ) selain Irsyad.


***


Malia baru saja keluar dari lift yang membawanya ke lantai tempat unit apartemennya dan Reiji berada.


Malia langsung meluncur ke apartemennya selepas dari Bogor, karena dia sedang ada urusan pekerjaan di sana.


Lalu buru-buru kembali ke apartemen, karena sejak dua jam yang lalu Reiji yang baru saja kembali dari dinasnya sebagai pilot pribadi itu-telah sampai di apartemen mereka.


Tiga hari tak bertemu, ya Malia merasa rindu pada suaminya itu. Jadi dari Bogor, Malia meminta supir kantor yang mengantarnya bersama dua teman satu timnya itu mengantar Malia langsung ke gedung apartemen tempat tinggalnya.


Toh atasan Malia juga tidak meminta atau mengharuskan dirinya dan dua rekannya itu kembali ke kantor setelah dari Bogor.


Jadi Malia yang sudah tahu akan pergi ke kota hujan itu sengaja memang tidak membawa mobilnya saat berangkat bekerja pagi tadi, karena perjalanannya ke Bogor bersama dua rekan satu timnya itu difasilitasi oleh mobil kantor.


Setelah selesai urusan pekerjaannya, Malia beserta dua rekan berikut supir kantor yang menemani ketiganya langsung bertolak ke Jakarta.


Hingga sampailah Malia di sini sekarang, di gedung apartemen-tempat tinggalnya dan Reiji.


Dan Malia juga sudah juga berada di lantai tempat unit apartemennya dan Reiji itu berada.


Dimana mata Malia langsung menyipit saat ia berjalan dari lift menuju unit apartemennya dan Reiji saat melihat seorang perempuan yang ia kenal perawakannya sedang berdiri di depan pintu unit apartemennya dan Reiji.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2