WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 72


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


“Kamu atau Shirly, pernah punya perasaan ga sih satu sama lain?”


Pertanyaan itu tercetus dari mulutku begitu saja pada Reiji.


Entahlah kenapa tiba-tiba hal itu terbersit di otakku, dan sampai akhirnya tercetus dari mulutku.


Mungkin gara-gara notifikasi berupa enam miss-called dari Shirly yang kulihat masuk ke dalam ponsel Reiji di layar apungnya.


Habis penasaran aja. Shirly itu kayaknya gencar banget nelponin Reiji.


“Emang kenapa kamu nanyain soal itu sih? ...” Setelah sempat terdiam sesaat saat aku bertanya soal ‘rasa’ diantara keduanya, Reiji menjawabku dengan pertanyaan.


“Ya ga apa-apa, pengen tau aja....”


“Lia, Sayang ....”


Reiji beringsut dari tempatnya dan langsung menghampiriku, memegang kedua pundakku lembut.


“Satu, ini masih pagi...”


Kemudian Reiji berucap sembari juga menatapku lekat.


“Pagi banget malah .....”


Reiji menyambung kalimatnya.


“Kalau ada yang mau kamu bahas lagi soal aku dan Shirly, yang mana seharusnya udah ga perlu dibahas lagi, karena aku udah pernah bilang bahwa diantara aku dan Shirly itu ga pernah ada apa-apa, tapi andai kamu mau membahas ...”


Reiji menghela nafasnya sejenak.


“Oke, nanti kita bahas ... Tapi ga sekarang,” kata Reiji. Dan ia meminta persetujuan dariku lewat sorotan matanya.


Aku pun mengangguk.


“Ya udah aku mandi dulu.”


Aku pun berlalu dari hadapan Reiji.


***


Malia dan Reiji telah sama-sama rapih dengan pakaiannya masing-masing.


Malia dengan pakaian kantoran-nya, dan Reiji dengan seragam pilotnya.


Telah juga menyelesaikan sarapan mereka, lalu berangkat bekerja bersama, dengan Reiji yang mengantar Malia. Dan pembicaraan soal pertanyaan Malia mengenai ‘rasa’ diantara Reiji dan Shirly, tidak ingin Malia bahas lagi.


Bukan tidak ingin dibahas sebenarnya.


Hanya mungkin Malia tunda saja. Yang jelas tidak sekarang.


Di pagi hari, itu yang pertama. Kedua, masih hari kerja.


Jika pembicaraan itu, pertanyaan yang tadi ia lontarkan pada Reiji saat bangun tidur ia kembali bahas, bisa jadi akan mempengaruhi mood-nya saat bekerja, atau mungkin sepanjang hari. – Pemikiran Malia.


Tentu saja ia tidak ingin itu terjadi padanya.


Malia tidak ingin pekerjaannya terganggu, apabila dari pembahasan yang Malia sendiri entah kenapa begitu penasaran, ada jawaban atau ucapan Reiji yang bisa membuat suasana hati Malia jadi tak nyaman.


Karena Malia sadar, dirinya adalah satu dari perempuan yang sulit memisahkan suasana hati yang mana berhubungan dengan persoalan pribadi, dengan pekerjaan.


Bekerja sih iya bekerja, tapi kalau mood rusak biarpun sedikit juga, rasanya ga akan bisa fokus sama kerjaan. Plus sinis aja bawaannya sama orang. Yang udah-udah ya begitu.


Jadi, mencegah itu terjadi, lebih baik Malia tidak mempertanyakan apa yang tadi dia tanyakan saat bangun tidur tadi.


Tidak sekarang.


Bahkan Malia berharap lupa tentang hal tersebut, agar tidak ada kata ‘mancing-mancing keributan’ tersemat padanya.


****


Bagaimana Malia, Reiji pun kurang lebih sama.


Rasanya Reiji enggan kalau harus menanyakan kenapa pertanyaan soal,


“Kamu atau Shirly, pernah punya perasaan ga sih satu sama lain?”


Yang tadi pagi Malia tanyakan padanya, pas baru bangun tidur pula.


Bikin mood Reiji sedikit menjadi kurang nyaman diawal hari, tapi Reiji tidak mau terpancing emosi.


Kenapa juga harus emosi menanggapi pertanyaan Malia yang sempat sedikit mengejutkannya – kalau menurut Reiji.


Jadi Reiji tidak mau membuat masalah dengan tidak mau menanyakan lebih lanjut perihal Malia yang melontarkan pertanyaan tersebut secara tiba-tiba.


Lagipun Reiji malas membahas hal yang menurut Reiji rasanya tidak penting untuk dibahas.


Malas juga kalau sampai ribut gegara hal yang ga penting.


Jadi Reiji tidak akan memulai lagi untuk bertanya dan membahasnya.


Jika memang Malia tidak bertanya lagi soal yang tadi dia tanyakan saat mereka belum lama terbangun dari tidur mereka.


Syukur-syukur kalau Malia sampai kapanpun tidak akan membahasnya lagi. – Harapannya Reiji.


Toh memang dirinya dan Shirly murni berteman.


Bersahabat malah. Dan itu sudah sejak lama.


Dan rasa yang Malia tanya itu sudah menjadi masa lalu buat Reiji.


Tapi kenapa akhir-akhir ini Malia gencar bertanya ini itu soal Shirly, Reiji juga merasa aneh sih.

__ADS_1


Apa karena Shirly perempuan?.


Tapi apa salahnya punya sahabat perempuan?. Lagipun mereka bukan hanya bersahabat berdua saja.


Ada tiga orang lagi lainnya dalam persahabatan mereka. Meski Reiji akui, diantara tiga sahabat prianya itu, memang dirinya-lah yang sedikit lebih dekat dengan Shirly diantara tiga sahabatnya yang lain.


Jadi sikap Malia yang dimata Reiji sedang gencar mengorek informasi tentang Shirly itu, membuat Reiji berpikir keras akan hal tersebut. Apa Malia sedang cemburu?.


Kalau Malia merasakan cemburu, berarti Malia sudah mencintainya?.


Benarkah seperti itu?. Reiji rasanya tak yakin juga jika Malia cemburu pada Shirly karena sudah mencintainya. Tapi rasanya tidak.


Karena Reiji memang belum merasakan dan melihat itu pada diri Malia terhadapnya.


Insecure?.


Merasa jika Shirly sebagai sebuah gangguan dalam pernikahan mereka?.


Ah, Lia terlalu sering nonton drama unfaedah. – Pikir Reiji.


“Berangkat sekarang, Yang?...”


“Iya boleh,” jawab Malia pada ajakan Reiji.


‘Kayaknya ga ada indikasi ngambek nih. Aman kayaknya kalo lihat sikap Lia sama air mukanya ....'


Reiji melirik Malia seraya memperhatikan mood istrinya itu.


“Yang ....”


Reiji memanggil Malia yang langsung menoleh padanya kala Malia sudah meletakkan tangannya di knob pintu.


“Kiss dulu ...” pinta Reiji, sembari menahan tangan Malia. Ngetes sih sebenarnya Reiji.


Suami Malia itu hanya mau tahu, apa Malia mempermasalahkan pertanyaannya saat bangun tidur tadi yang belum dijawab oleh Reiji sampai sekarang.


Tapi kalau ternyata Malia mau dengan senang hati memberikannya morning kiss, ya Alhamdulillah – kalo kata Reiji.


Rezeki pagi.


Cup!.


Sebuah kecupan pun mendarat di pipi Reiji.


“Itu kecup lah!”


Protes kecil keluar dari mulut Reiji.


“Kiss tuh disini nih!” Reiji menunjuk bibirnya sendiri dengan telunjuknya.


“Ga ah.” Malia menolak. “Udah pake lipstick!”


Malia hendak memutar knob pintu apartemen.


Cup!.


Tapi tertahan karena Reiji dengan cepat meraih tubuh Malia dan menghimpitnya ke tembok dekat pintu dan langsung menyambar bibir Malia.


“Aku kan butuh vitamin untuk penyemangat kerja hari ini, Yang...”


Reiji berucap sambil cengengesan dengan dua jarinya yang  masih memegang dagu Malia.


“Rese!” Malia masih mencebik.


Kini Reiji menampakkan senyuman.


“Love you, Lia.” Ucap Reiji, lalu mengecup kening Malia dengan lembut.


‘Sweet banget sih kamu, Rei ..’


Tanpa sadar Malia membatin.


“Yuk? ..”


Reiji mengajak Malia untuk segera berangkat.


Yang mana langsung diangguki oleh Malia yang menampakkan senyumnya pada Reiji. Lalu keduanya pun berjalan bergandengan keluar dari unit apartemen mereka.


‘Aman.’


Reiji membatin senang.


‘Nanti malem bisa minta jatah lagi berarti.’


Dan Reiji pun mesam-mesem sendiri.


*


MALIA


Sudah dua bulan pernikahanku dan Reiji berjalan. Pernikahan yang aku takutkan sebelumnya, dimana aku sendiri tidak tahu mengapa aku takut akan pernikahan ini. Bukan takut pada Reiji, karena seyogyanya dia adalah laki-laki yang jauh dari sikap temperamental. Dari sejak aku mulai menganggap keberadaannya sebagai Abang.


Hanya si Reiji tuh emang  judes kadang-kadang, tapi cuek sama diem banyaknya. Dulu.


Dan mungkin sikap cuek dan pendiamnya Reiji yang aku kenal, yang membuatku ragu atas perjodohanku dengannya empat bulan yang lalu.


Aku takut Reiji dan aku tak seiring sejalan. Dia menerima pernikahan karena tidak bisa menolak permintaan orang tua, yah aku juga sih. Aku tak kuasa untuk menolak perjodohanku dan Reiji kala melihat tatapan penuh harap kedua orang tuaku, terlebih saat Reiji mengiyakan lebih dulu.


Dan aku yang berpikir akan merasa canggung hidup bersama dengan Reiji, dimana dalam beberapa tahun terakhir, hubunganku sangat tidak dekat dengan Reiji. Tapi bukan musuhan juga. Hanya menjaga jarak, yang mana jarak itu timbul dengan sendirinya karena kesibukan kami masing-masing, meskipun kedekatan aku dan Avi yang sering pergi bersama kemana-mana itu tidak pernah berubah.


Hanya sejak aku mulai bekerja, dan Reiji yang aku tahu telah menyandang gelar sebagai Captain, aku memang jarang sekali bertemu ataupun berkomunikasi dengan Reiji. Aku bahkan sempat berpikir, kalau tahu-tahu nanti Avi atau Mama Alice ngasih aku sama mama baju seragam nikahan Reiji. Eh taunya bukan baju seragam keluarga lagi yang dikasih ke aku, melainkan baju pengantin mempelai wanita.


Takdir yang membuatnya begitu.


Takdir yang harus aku terima dengan lapang dada.


Karena rasanya dua bulan pernikahanku dengan Reiji ini, rasanya tak mengecewakan.

__ADS_1


Sikap cuek dan pendiam Reiji yang aku takutkan tidak akan membuat pernikahan kami sampai ke tahap ‘normal’ hubungan suami istri nyatanya tidak sampai terjadi.


Reiji bahkan menjadi seorang Reiji yang berbeda dari yang selama ini aku kenal setelah kami dijodohkan, lalu melakukan pendekatan selama tiga bulan, sekaligus mempersiapkan pernikahan.


Reiji yang cuek dan pendiam itu entah kemana. Berganti dengan Reiji yang perhatian, bahkan sok romantis dan kadang receh.


Membuatku tak berpikir lama apalagi menolak untuk memberikan Reiji hak halalnya sebagai suamiku.


Karena satu bulan sebelum pernikahan, Reiji sudah membuatku merasa nyaman. Cukup sukses untuk membuatku bisa menyayanginya lebih dari sekedar seorang adik pada abangnya.


Dan bulan kemarin, saat tepat satu bulan pernikahan kami, Reiji menyiapkan candle light dinner untuk kami. Merayakan kesuksesan atas perjalanan satu bulan pernikahan kami yang manis katanya.


Receh emang kan si Reiji itu?.


Tapi manis sih, sampe bikin segala itu acara candle light dinner segala.


Aku sungguh tidak mengira, jika pemikiran Reiji bisa sampai kesitu, padahal biasanya perayaan pernikahan itu kan biasanya akan diadakan setiap tahun.


Tapi lagi-lagi kata-kata Reiji membuatku kagum padanya. Dimana Reiji bilang,


“Aku bukan orang yang romantis, Yang. Aku malah sebenarnya bisa dikatakan buta soal bagaimana memperlakukan perempuan supaya mereka senang. Dulu tak pernah perduli bagaimana cara menyenangkan pasangan. Tapi dengan kamu, aku juga ga tau kenapa semua jadi berbeda. Aku juga ga tau kriteria laki-laki idaman kamu seperti apa, karena kamu juga ga pernah bilang. Tapi yang jelas, aku mau belajar bagaimana menjadi seorang suami yang ideal bagi kamu, Lia.”


Kalimat panjang yang keluar dari mulut Reiji itu juga disertakan dengan dia menatapku. Dimana aku selalu mencari tahu, arti sorot mata Reiji setiap kali ia memandangku seperti itu. Tulus. Dan rasanya pengakuan Reiji soal dia yang telah mencintaiku itu benar adanya.


Jadi untuk itu, rasanya aku harus lebih lagi berusaha untuk membuka hatiku, agar Reiji segera merajai-nya.


Well, Selain dia sudah merajai tubuhku.


Dan aku selalu terbuai setiap kali Reiji membawaku mengarungi lautan g*irah kami sebagai suami dan istri. Hal itu yang aku harapkan dari hatiku lebih dari sebelumnya sekarang.


Agar Reiji kiranya dapat segera membuai hatiku dengan semua hal tentangnya, agar apa, satu nama, mungkin tepatnya, yang masih tersimpan disana dapat cepat juga keluar, agar aku tak dibayangi masa lalu, yang aku rasa belum selesai.


Mungkin seorang anak, dapat membuat hatiku dapat menerima Reiji sepenuhnya.


Ah, bicara soal anak .. Sepertinya aku belum mendapat tamu bulananku bulan ini.


Harus beli testpack kayaknya sih nih. Aku jadi tak sabar untuk pergi ke apotik terdekat untuk membeli benda pipih itu dan memeriksa, apakah sudah ada hasil dari penyergapan Reiji pada tubuhku yang sering itu, di dalam perutku sekarang.


Ku-kemudikan mobil dengan semangat, untuk pergi ke Apotik lalu ke Supermarket untuk membeli beberapa bahan masakan untuk makan malamku dan Reiji hari ini. Bahan masakan dari masakan kesukaan Reiji. Yah, meski Reiji tidak punya makanan favorit.


Tapi yang aku tahu, Reiji menyukai masakan Indonesia. Jadi aku akan memasak salah satu menu masakan Indonesia, yang mudah tentunya. Yang aku bisa, dan pernah aku pelajari resepnya dari mama, dan pernah aku buat juga, jadi kata gagal tidak akan ada.


Ya, aku berencana makan malam sedikit spesial dengan Reiji hari ini karena tepat dua bulan pernikahan kami.


Anggap saja, aku membalas kejutan Candle Light Dinner-nya bulan kemarin.


Meski baik aku dan Reiji tidak pernah mencetuskan untuk membuat perayaan di tanggal pernikahan kami setiap bulannya.


Tapi kalau memang bisa, ya kenapa engga?.


Ya itu anggapanku, sih.


Well, Aku pulang teng-go hari ini, dan Reiji mungkin akan pulang agak malam. Dia udah lapor jam berapa sampe Jakarta.


Jadi aku punya cukup waktu untuk memasak makan malam kami. Mungkin sekaligus menghias meja makan?.


Aku pun mengemudikan mobilku dengan semangat.


Semangat membeli testpack, semangat belanja untuk memasak, lalu siapa tahu hasil testpack yang seandainya berupa berita bahagia aku pita-in nanti.


Aduh jadi lebay. Hehe ..


**


Pukul 22.10 WIB.


Kulihat waktu pada jam dinding di atas TV. Dimana seharusnya Reiji sudah sampai sepuluh menit yang lalu, berdasarkan jadwal tugasnya kembali ke Jakarta yang ia katakan padaku tadi pagi.


Aku sepertinya terlelap sekitar setengah jam di sofa depan TV.


Tidak kupikirkan untuk menghubungi Reiji, karena kadang memang dia suka molor pulang jika ada masalah teknis di bandara.


Jadi aku tidak beranjak dari tempatku yang masih kurasa PW. Hingga setengah jam berlalu lagi, dan kurasa masakan yang telah kupersiapkan, walau tidak mewah, sudah dingin adanya.


Kuputuskan untuk menghubungi Reiji. Karena aku juga sudah merasakan perutku lapar. Aku bangkit untuk mengambil ponselku yang aku letakkan di kamar.


‘Yang, aku pulang telat. Kamu makan duluan aja, jangan nungguin aku, takutnya lama.’


Chat Reiji dalam aplikasi pesan yang aku baca, setelah aku meraih ponselku.


Chat dari Reiji itu masuk setengah jam yang lalu. Hanya satu chat itu saja yang ia kirim padaku.


Apa Reiji lupa ini tanggal berapa?.


Sebal jadinya.


Udah bela-belain pulang buru-buru dan masak.


Ah iya, ga seharusnya juga Reiji berpikir untuk cepat pulang, bagaimanapun kendalanya kan?.


Karena kami memang ga pernah mencetuskan perayaan di setiap bulan pada tanggal pernikahan kami.


Hari ini, di tanggal pernikahan kami, hanya inisiatifku saja sih. ‘Ada masalah di Bandara?’


Aku mengirimkan chat balasan yang berupa pertanyaan. Mungkin memang ada masalah teknis dalam pekerjaannya.


Dan aku bisa mengerti hal itu.


Lima menit.


Chat balasan dari Reiji baru masuk.


Dengan santainya dia tulis,


‘Aku nemenin Shirly. Dia kebetulan lagi ada di Jakarta, dan mau nengokin saudaranya tapi dia udah agak asing sama Jakarta, jadi aku temenin dia dulu. Ga tega soalnya kalo dia muter-muter nyari alamat sendirian.’


Sialan!.

__ADS_1


**


Bersambung ..


__ADS_2