WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 55


__ADS_3

Selamat membaca..


***


REIJI


Waktu honeymoon ku dan Malia di Pulau Moyo hampir selesai.


Dan selama kurun waktu yang singkat ini, aku dan Malia begitu menikmati waktu berbulan madu kami.


Aku terutama.


Mengetahui jika destinasi bulan madu pilihanku bisa membuat Malia berdecak kagum, aku sungguh senang.


Melihat wajah Malia yang selalu sumringah dengan senyuman yang banyak sekali terpatri di wajahnya selama masa bulan madu kami, aku semakin senang.


Bahagia. Itu saja yang aku rasa sampai detik ini.


Aku yang memang sebenarnya pernah dan telah kepincut pada Malia sejak lama, merasa bersemangat saat orang tua kami mencetuskan perjodohanku dengannya.


Belum merasa mencintai Malia kala itu, karena aku selalu mengelak dan menampik sendiri rasa yang aku punya kala itu pada Malia. Jadi aku tak pernah mengejarnya sebagai seorang laki-laki.


Hanya setelah perjodohan dan aku memutuskan untuk berinisiatif melakukan pendekatan sebagai seorang pasangan, semakin hari rasanya aku jatuh pada pesona Malia yang diawal-awal terlihat begitu canggung berhadapan denganku.


Tapi aku sabar, mendekati Malia dengan perlahan.


Hingga aku merasakan sebuah kecemburuan, pada seorang laki-laki yang merangkul Malia, kala pertama kali aku menjemput Malia di kantornya. Semakin hari, rasanya aku jatuh pada pesona seorang Malia Leonard, dan aku yakini itu cinta.


Yang sebenarnya sudah ada, cinta untuk Malia dalam hatiku. Hanya saja aku memendamnya. Menampiknya. Mensugesti diriku sendiri jika dia adalah adik bagiku, selayaknya Avi. Aku, tidak boleh mencintainya.


Tapi selepas Malia telah sah menjadi istriku, rasa bahagia kian menjalar dihatiku. Selain, aku ingin membuatnya selalu nyaman dan merasa bahagia bersanding dalam hidup denganku, dimana selama tiga bulan masa pendekatanku pada Malia, aku selalu mencari tahu segala hal yang Malia suka dan yang tidak ia suka.


Yah, rasanya itu cinta. Aku sudah mencintai Malia dengan sebegitunya, sampai aku melapangkan dada pada istriku yang belum mencintaiku itu. Tak apa, cinta kan ga boleh memaksakan kehendak, bukan begitu?. Jadi aku akan bersabar, sambil aku tunjukkan secara perlahan, bahwa aku pantas dicintai olehnya.


Oleh Malia, istriku.


Yang merona dengan sangat, kala aku menciumnya untuk yang pertama kali.


Yang tersenyum dengan cantiknya saat pernikahan kami


Yang wajahnya begitu indah, disertai suara d*sahannya yang terdengar bak alunan lagu ter-merdu saat pertama kali aku ‘menyentuhnya’.


Dan aku tak dibatasi oleh Malia setiap kali aku meminta hakku, walau aku tak pernah memaksa.


Dan wajah berpeluh dengan tatapan sayu nan mendamba, berikut suara d*sahan Malia saat aku mengukungnya, kini menjadi candu bagiku.


Yang membuat ranjangku tidak sepi dan dingin lagi\, hingga aku jadi macam m*niak **** karena madu yang kurasa dari Malia begitu manisnya.


Yang membuat aku selalu menyunggingkan senyum dipagi hari, saat mataku terbuka dari tidur dan mendapati bidadari yang sudah jadi milikku ada dalam dekapanku.


Yang bertanya dengan raut wajah yang menggambarkan ke-tidak-enakan-nya padaku tentang berapa banyak uang yang aku keluarkan untuk biaya bulan madu kami.


Yang berusaha memenuhi janjinya, untuk menjadi istri yang baik bagiku. Dengan membuka hatinya menerimaku sebagai suaminya sepenuh hati, namun masih terpisah dari hal yang disebut ‘cinta’.


Tak apa, pelan-pelan saja, kalo kata Kotak Band.


Toh cinta bisa datang karena terbiasa bersama, kan?.


Jadi selama masa bulan madu yang singkat ini, akan aku buat Malia semakin terbiasa dengan kehadiranku dalam hidupnya.


Dan waktu berbulan madu ini lah, kiranya tepat untuk aku, juga Malia, lebih saling mendekatkan diri, tak hanya saat kami bercinta saja.

__ADS_1


Fokus untuk saling mengenal satu sama lain lebih jauh dan lebih dalam lagi tentang beragam hal. Bicara dari hati ke hati, tentang bagaimana Malia menginginkanku memperlakukannya, begitupun sebaliknya.


Dan aku serta Malia berusaha memanfaatkan waktu berbulan madu kami ini dengan baik, untuk mengeratkan hubungan kami, baik sebagai suami istri, maupun secara pribadi.


****


Hari terakhir bulan madu Reiji dan Malia dihabiskan dengan lebih banyak berada di sekitar penginapan mereka saja.


Karena dibeberapa hari sebelumnya, Reiji dan Malia sudah merasa cukup menikmati keindahan pulau tempat mereka berbulan madu.


Pulau yang masih asri sekali, dengan hutan, pantai dan beberapa air terjun yang terjaga kelestariannya. Belum lagi keindahan resort tempat Reiji dan Malia menginap, yang tidak bisa untuk tidak juga dinikmati fasilitasnya.


Hanya tinggal satu hari ini saja, Reiji dan Malia akan berada di pulau tersebut dalam waktu yang singkat, namun kiranya cukup mengukir kenangan bagi keduanya dalam pernikahan mereka.


Dan saat ini, untuk menghabiskan waktu yang tersisa sebelum kembali ke Jakarta esok hari, Reiji dan Malia berjalan-jalan di bibir pantai sekitar resort tempat mereka menyewa salah satu tenda glamping eksklusif untuk menginap.


Jemari keduanya saling bertautan, sembari berjalan santai di bibir pantai. Sesekali saling melirik dan melempar senyum kecil di bawah sinar mentari senja. “Btw Rei...”


Malia bersuara setelah mereka cukup lama saling terdiam saat sedang menyusuri pantai yang langitnya sedang memiliki semburat jingga.


Reiji langsung menoleh dan menyahut.


“Hmm?” Deheman kecil keluar dari mulut Reiji, sembari tetap berjalan bergandengan dengan Malia.


“Aku mungkin ga bisa masakin kamu tiap hari kalo kita udah pindah tinggal ke apartemen nanti.”


“Ga masalah itu sih, Yang.” Ucap Reiji, yang kemudian berhenti melangkah, lalu menghadapkan dirinya dengan Malia.


“Beneran ga masalah?”


Malia meminta kepastian dan Reiji langsung mengangguk mengiyakan.


Namun Malia harus sedikit memicingkan matanya, karena posisinya menantang mentari senja yang ada di belakang Reiji.


“Itupun ga masalah buat aku, Yang.”


“Bener nih? .....” tanya Malia dengan cengengesan.


“Iya bener...”


Reiji pun menyahut sembari manggut-manggut pelan mengulum senyum.


“Cius deh!” sambung Reiji sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V, dan wajah candaannya.


“Mi apah?”


“Mi kamu dong!” sambar Reiji.


Lalu Malia dan Reiji sama-sama terkekeh geli.


Hingga sampai lidah ombak menjilat kaki telanjang keduanya, lalu pandangan keduanya beralih ke arah pantai yang membentang di depan mereka, dan memandang langit yang sedang bertabur semburat jingga mentari senja.


***


Senja pertama yang dipandangi Reiji dan Malia sebagai suami istri pada langit di atas pantai pada sebuah pulau tempat keduanya berbulan madu, seolah menghipnotis Reiji dan Malia menjadi sejenak terpaku memandanginya dengan pikiran mereka masing-masing.


“Indah ya?...” ucap Malia setelah mereka saling terdiam sejenak.


Lalu tangan Reiji meraih pinggang Malia, sembari ia menoleh pada istrinya itu lalu tersenyum manis dan mengecup kening Malia.


“Masih indah kamu.”

__ADS_1


Cup!.


Reiji memberikan kecupan singkat di kening Malia.


“Kamu ternyata punya stok gombalan banyak juga ya, Rei?”


Reiji sontak tertawa setelah mendengar ledekan Malia yang kemudian terkekeh juga. Bias semburat jingga mentari senja menerpa Reiji dan Malia, yang sedang sama-sama tertawa itu.


Setelahnya, Reiji meraih Malia dalam dekapannya, dan kembali berpaling memandang laut yang seperti berbatasan dengan langit yang warnanya sedang menjadi jingga itu.


“Aku ga tau kriteria pria impian kamu seperti apa, Yang. Mungkin aku ga sesempurna yang kamu inginkan. Tapi paling tidak, aku akan berusaha menjadi suami yang terbaik buat kamu. Dan bagaimana itu bisa terjadi, aku pun membutuhkan bantuan kamu.”


“Iya.”


Malia tersenyum kecil dan menganggukkan kepala.


“Langit senja mungkin tidak pernah menginginkan warna jingga ada padanya, tapi Yang Kuasa yang membuat warna jingga itu ada di langit senja ... Dan nyatanya, indah. Meski kita harus menunggu sore datang untuk melihatnya ...”


Reiji berpaling pada Malia, lalu menampakkan senyumnya.


“Aku rasa langit senja dengan semburat jingga itu macam kita, macam kamu yang mungkin tidak mengharapkan aku jadi suami kamu...”


Reiji membalikkan tubuh Malia hingga berhadapan, tanpa menjauhkan tangannya dari pinggang Malia.


“Tapi Tuhan sudah menggariskan takdir kita untuk menjadi sepasang suami-istri sekarang... Jadi aku harap, kamu jangan menjadikan pernikahan ini suatu beban. Meski aku bukanlah seorang suami dengan kriteria yang kamu inginkan... Aku tahu kamu butuh waktu untuk menerimaku sepenuhnya sebagai suami kamu, seperti kita yang ingin melihat semburat jingga di langit senja...”


Reiji mengusap kepala Malia dengan satu tangannya, lalu membingkai wajah Malia, dengan menatap teduh pada istrinya itu.


“Dan untuk itu aku akan menunggu ... meski butuh waktu, tapi indah pada akhirnya. Seperti indahnya senja yang harus ditunggu sampai sore tiba. Seperti itu aku akan menunggu kamu, hati kamu, untuk benar-benar menerima aku sepenuhnya ....”


“Iya, Rei ...”


Tak ada kata lain yang bisa Malia ucapkan pada Reiji, setelah terkesima pada kata-kata yang terangkai indah dari mulut laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


“Aku kan udah janji akan berusaha jadi istri yang baik buat kamu?”


Malia menarik sudut bibirnya kemudian dan Reiji pun sama sembari mengusap-usap lembut pipi Malia.


“Iya, aku tau kamu udah berusaha untuk itu, Yang ..... Tapi jangan secara lahiriah aja ya?..... Karena aku juga ingin ada disini ... Benar-benar ada dan bertahta di dalam sini..”


Reiji menunjuk pada dada sebelah kiri Malia.


“Seperti kamu yang udah berada disini.”


Lalu Reiji menunjuk pada dada sebelah kirinya juga.


“Tapi, aku juga ga akan memaksa dan memburu kamu untuk itu. Aku hanya ingin kamu berusaha ...”


“Iya, Rei. Aku akan berusaha mencintai kamu ....”


“Makasih, Lia .....” ucap Reiji lalu sedikit merunduk dan memiringkan kepalanya, mendekati wajah Malia.


Dan didetik berikutnya, Reiji sudah mendaratkan bibirnya di bibir Malia.


Dimana Malia menyambut belaian lembut bibir sang suami pada bibirnya itu, kemudian meletakkan tangannya di pinggang Reiji. Merasakan kelembutan bibir dan ciuman Reiji yang sepertinya adalah memang pancaran hati sang suami padanya.


Jadi, apakah Reiji adalah semburat jingga di langit senja Malia?.


Yang bisa Malia terima seutuhnya seperti langit sore yang menerima warna jingga yang digambarkan oleh Yang Maha Kuasa padanya?.


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2