WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 224


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


REIJI


Setelah menghubungi Andra dan menemukan fakta bahwasanya Lia ada di kantor, lalu berkomunikasi dengan Andra yang mengatakan jika Lia tidak ada gelagat untuk minta ijin pulang cepat, aku langsung saja terpikir sebuah ide untuk menebus kesalahanku pada Lia. Sebuah makan malam romantis, seperti yang sudah Lia persiapkan kemarin untuk merayakan ulang tahunku berdua saja dengannya.


Aku yang bersemangat untuk membuat Lia berhenti ngambek padaku itu, langsung membuka riwayat obrolanku dengan Lia pada room chat pribadi kami dan mencari pesan Lia yang menuliskan nama hotel yang ia pilih untuk merayakan ulang tahunku secara pribadi dengannya itu.


Yang mana setelah ketemu, aku langsung mencari tahu nomor telepon hotel tersebut yang kemudian aku minta disambungkan ke pihak restoran hotel, yang mana restoran tersebut juga adalah pilihan Lia.


----


Persiapan untuk menebus kesalahanku yang tidak datang ke candle light dinner yang Lia persiapkan atas nama ulang tahunku sekaligus sebagai permohonan maafku pada Lia, sudah selesai aku persiapkan.


Mungkin apa yang aku persiapkan itu tidak sedetail dan sekeren persiapan Lia, tapi setidaknya apa yang sudah Lia lakukan untukku lalu aku sia-siakan---meski juga karena faktor ketidaksengajaan atas sesuatu alasan yang berhubungan dengan nurani selain kespontanan, aku ganti dengan hal yang sama.


Termasuk memesan satu kamar untuk aku ajak Lia menginap malam ini.


Karena Lia juga memesan satu kamar bertipe khusus yang mungkin sudah Lia hias sedemikian rupa, namun kembali, aku menyiakannya.


Jadi hal itu, aku gantikan juga.




“Yang..Waktu aku bilang aku mau tebus kesalahan aku kemarin itu aku serius, Yang.”


Reiji sudah bersama dengan Malia di dalam mobil yang ia gunakan untuk menjemput istrinya di kantor tempat Malia bekerja.


Sudah juga membawa Malia ke hotel yang sama yang kemarin Malia pesan satu kamar dan satu set meja kursi atas nama merayakan ulang tahun Reiji secara pribadi.


Karena Reiji telah mempersiapkan apa yang telah Malia persiapkan untuk perayaan ulang tahunnya itu, namun pelaksanaannya batal karena satu dan lain hal yang bersumber dari Reiji yang dibumbui kebohongan ---- dimana kebohongan itu sudah diketahui oleh Malia.


Dan untuk itu Reiji merasa bersalah pada Malia, makanya dia tidak mempermasalahkan soal Malia yang hampir seharian menghindarinya.


Salah memang sikap Malia itu. Bahkan kekanakkan.


Namun itu cukup dikatakan Reiji dalam hatinya saja.


Karena jika itu ia bahas dengan Malia, Reiji yakin ngambeknya Malia akan makin menjadi.


Apa kabarnya program bayi nanti?


Jadi seperti ini saja, Reiji tebus kesalahannya pada Lia dengan memberikan kejutan kecil untuk Malia yang serupa tapi tak sama.


Namun Malia nampak malas – malasan menanggapi ajakan Reiji meski Malia sudah menyadari hotel tempat Reiji membawanya.


Malia bahkan menolak turun karena yang bersangkutan memang sedang males beneran.


“Iya kan aku bilang ga usah, ga perlu. Udah berlalu dan aku kan juga ga minta kamu nebus apa – apa ..“


Yang Malia katakan pada Reiji, dan langsung Reiji tukas perkataan Malia itu.


“Ini bentuk pertanggung – jawaban aku, Yang..”


Dimana Malia, masih kukuh dengan kemalasannya untuk turun dan masuk ke dalam hotel tempat Reiji mengajaknya untuk makan malam.




Malia bertahan dengan kemalasan yang sudah ia cetuskan pada Reiji, dan Reiji pun bertahan untuk terus membujuk Malia.


“Ya akunya ga kepengen gimana? ---“


“Pengen ya?.. Please?.. “


“Next time aja, Rei. Beneran aku lagi males.”


“Aku udah booking, Yang.. Aku udah booking tempat buat candle light dinner kecil – kecilan walaupun spot yang kemarin kamu booking udah keburu ada yang reservasi duluan.. Tapi, paling engga aku udah nyiapin set meja candle light dinner kayak yang kamu buat kemarin meskipun aku ga tau mirip atau engga.. Udah booking satu kamar juga buat kita menghabiskan malam di sini. Jadi jangan nolak ya, please?..”


Hingga pada akhirnya Reiji bongkar sesuatu yang tadinya ingin Reiji jadikan kejutan, karena Malia benar – benar teguh pendirian.


Jadi Reiji katakan, detail kejutan yang telah ia siapkan. Dengan harapan, Malia akan tersenyum setelah mendengarnya.


Atau setidaknya, Malia yang nampak jelas malasnya itu jadi kemudian antusias setelah Reiji mengatakan kejutan yang telah ia siapkan itu.


“Kalau kamu insecure soal pakaian kamu sekarang, kayaknya bisa minta pihak hotel buat menyediakan pihak yang bisa nyiapin pakaian untuk kita pesan secara mendadak?”


Reiji menambahkan jaminan, karena tadi Malia bilang kalau ia malas akibat pakaiannya yang Reiji tangkap maknanya adalah---Malia tidak percaya diri untuk makan malam di restoran dalam hotel bintang lima yang notabene dikunjungi oleh orang-orang high class dengan penampilan yang high class juga biasanya---dibandingkan dengan pakaian yang Malia kenakan sekarang.


Yang sebenarnya memang hanya sebuah alasan, karena Malia memang tidak ingin masuk ke dalam hotel tempatnya merasakan kecewa dua kali.




Yakin, Reiji akan mendengar Malia mengatakan, Ya udah deh.. Setelah mendengar betapa ia telah sangat mempersiapkan untuk mengganti momen yang terlewatkan.


Meskipun dengan wajah malasnya, Reiji rasa Malia tidak akan memberi penolakan setelah kejutan yang ia siapkan untuk mengganti momen yang terlewatkan kemarin Reiji beritahukan dengan sedetail – detailnya.


Tapi..


“Sorry, Rei. Aku bener – bener lagi ga mood.”




‘Ini Lia lagi ngeprank gue apa, ya?..’


Hati Reiji yang berbisik bertanya-tanya sendiri, sambil menelisik wajah Malia.


“Ini.. Serius kamu ga mau turun?“


Lalu pertanyaan untuk meyakinkan dirinya jika pendengarannya tidak salah itu tercetus dari mulutnya, yang langsung Malia jawab dengan segera.


“Iya, serius..“ jawab Malia.


Namun sekali lagi Reiji sedikit tidak mempercayai pendengarannya.

__ADS_1


“Aku beneran loh ini, udah nyiapin satu set spot buat candle light dinner kita sekarang sekaligus kamar hotelnya. Aku kerjain dari tadi siang sebelum pergi ke kantor kamu.  Udah aku bayar lunas loh? Ga sayang uangnya?..”


Reiji berucap untuk membujuk seraya mengulum senyum untuk mencandai Malia, dengan menyinggung permasalahan pembayaran atas apa yang sudah Reiji persiapkan untuk mengganti momen persiapan Malia yang ia lewatkan.


Bukan Reiji bermaksud hitung-hitung, tetapi Malia dalam biasanya itu memanglah perempuan pada umumnya yang kuat perhitungan kalau ada sesuatu yang dianggap menghamburkan uang.


Penganut paham ‘sayang’


"Rei, kalo mau beli jam tangan jangan di toko kemarin, mendingan di langganan papa aja. Bedanya lumayan---“. Sayang.


“Kenapa ga jadi?---“


“Mahal banget mixer doang. Lagian dipake juga jarang-jarang.” Sayang.


Atas dasar azas ‘sayang’ itulah, makanya Reiji menggunakan kalimat ‘ga sayang uangnya?’---guna memaksa Malia untuk merubah keputusannya.


Booking meja di restoran untuk candle light dinner + booking kamar hotel tipe suite di hotel bintang lima itu habis belasan juta.


Bayangan kalimat di balik ucapan Reiji mengenai ‘ga sayang uangnya?’ itu, yang diharapkan akan membuat Malia merubah keputusannya.


Pasti Malia paham maksud kalimatnya itu kan?. Yang Reiji pikir.




Sekukuh Reiji membujuk, Malia pun sama kukuhnya.


“Aku hargai itu, Rei.. Tapi aku juga beneran pengen cepet balik ke apartemen aja..”


Terakhir,


“Aku ganti..” sahutan Malia pada kalimat Reiji yang bernada guyonan.


Yang membuat Reiji terkekeh kecil.


Namun percayalah, jika kekehan kecil Reiji itu bukan bermakna sebuah perasaan senang.


Memandangi Malia sebentar, lalu Reiji menghela nafas frustasinya samar.




“Ya udah.. Kita balik ke apartemen,” ucap Reiji kemudian.


Malia menarik tipis sudut bibirnya, “Thanks,” cetus Malia setelahnya.


Reiji tak menyahut, hanya mengangguk samar.


Lalu Reiji mulai melajukan lagi mobil yang sempat ia parkirkan di area parkir hotel tanpa ia dan Malia turun dari mobilnya.


“Kamu ga nelfon?”


Setelah selama beberapa saat kebungkaman meliputi Reiji dan Malia, didetik berikutnya Malia berbicara.


“Hm?---“


“Kamu ga nelfon?” Malia mengulang kalimat tanyanya pada Reiji yang nampak sedang melamun itu, dan menjadi sedikit kurang fokus pada pertanyaan Malia.


“Pihak hotel..” jawab Malia. “Kasih tau mereka kalau kamu membatalkan apa yang udah kamu pesan di sana.”


“Oh..” tanggap Reiji.


“Kalau aku kemarin, pembatalan di restonya karena aku juga udah bayar full di muka, aku dapet kompensasi diskon untuk kamar.”


“Hmm.”


“Kalau kamu kan ga pakai kamarnya juga, jadi siapa tahu ada pengembalian berapa persen dari mereka---“


“Ya nanti aku hubungi mereka..” jawab Reiji datar. “Kalo udah sampe apartemen..” sambungnya.




“Biarpun acara candle light dinner batal, tapi kita tetep harus makan---“


“Ya,” tukas Malia, setelah beberapa belas menit ia dan Reiji sama-sama kembali bungkam selepas Malia membahas soal Reiji yang baiknya menghubungi pihak hotel tempatnya mempersiapkan kejutan untuk Malia malam ini.


“Pesen di gerai yang ada di gedung aja, nanti minta mereka antar ke unit... Kita belum maghrib soalnya.”


Reiji kembali bicara.


Kali ini, Malia hanya menjawab dengan anggukan.


Lalu sepasang suami istri itu kembali pada mode bungkam.


Larut dalam pikiran masing-masing.




“Aku aja yang pesankan. Kamu naik ke unit duluan,” ucap Reiji pada Malia setelah keduanya sampai di gedung apartemen tempat tinggal mereka, dimana Reiji sudah sempat menanyakan pada Malia makanan apa yang ingin ia pesan untuk menu makannya malam ini.


“Apa aja,” jawab Malia ringkas, dan Reiji malas memungkas.


“Oke...” begitu saja Reiji menjawab. Yang kemudian berpisah arah dengan Malia setelah keduanya keluar dari dalam mobil Reiji yang telah si empunya mobil parkirkan di salah satu carport outdoor gedung.




Canggung.


Suasana diantara Malia dan Reiji keduanya rasa saat ini. Dimana sebenarnya keduanya ingin memulai pembicaraan, namun Malia dan Reiji masih sama bingung untuk bagaimana memecah kecanggungan dan angkat suara duluan.


Baik Malia dan Reiji, sama-sama tengah berkutat dengan pikirannya masing-masing. Reiji yang masih dongkol dengan penolakan Malia atas apa yang sudah ia persiapkan, sementara Malia masih menunggu Reiji mengatakan fakta sebenarnya mengenai ketidakdatangan suaminya itu kemarin malam.


“Abis kamu bebersih, bisa kita bicara?...” suara Reiji memecah lamunan Malia, yang kemudian langsung memandang pada Reiji.


“Iya---“

__ADS_1




“Aku ngerti kamu marah sama aku karena aku yang ga datang ke acara yang udah kamu siapin,” ucap Reiji memulai pembicaraan setelah seperti yang disepakati sebelumnya, jika ia meminta Malia untuk bicara dengannya setelah istrinya itu membersihkan diri.


“Aku bukannya marah---“


“Tapi ga terima,” tukas Reiji. “Bener?” sambung Reiji.


“Iya...”


Malia menjawab tanpa ragu.


Reiji mengulas senyuman, menekan egonya.


“Ya udah,”


Lalu Reiji beringsut dari posisinya untuk lebih mendekat kepada Malia yang duduk menyisakan jarak agak lebar darinya itu, lalu kembali bicara.


“Sekali lagi aku minta maaf soal aku yang kemarin mengacaukan rencana yang udah kamu buat sedemikian rupa,” sambung Reiji.


Dimana Reiji kini sudah berada di hadapan Malia, dengan Reiji yang berdiri di atas lututnya yang menempel pada karpet ruang tamu unit apartemen mereka hingga tingginya sejajar dengan Malia yang sedang duduk dengan melipat kakinya di atas sofa.




MALIA


“Iya.”


Jawaban yang keluar dari mulutku setelah Rei meminta maaf dengan bersimpuh di hadapanku.


Dimana Rei kembali mengulas senyuman lembutnya.


“Beneran dimaafin?”


Aku mengangguk.


“Iya...” jawabku.


Rei tersenyum lagi.


“Aku pegang kata-kata kamu, ya?---“


“Iya.”


Kembali aku mengiyakan, dan Rei pun semakin meninggikan senyumnya.


“So udah clear ya tentang masalah kita kemarin?---“


“Iya.” Kembali aku mengiyakan dengan jawaban yang singkat.


“Tapi sepertinya belum,” ucap Reiji kemudian.


Dan aku yang tadinya setengah hati menjawab setiap ucapan Rei yang bertanya sekaligus meminta, merasa antusias setelah mendengar ucapan Rei barusan.


Aku berpikir, ucapan Rei yang menanggapi jawaban ‘iya’ atas beberapa permintaannya itu dengan mengatakan sepertinya masih ada yang perlu diluruskan, adalah Rei akan mengatakan padaku yang sebenarnya tentang dirinya yang sebenarnya bohong tentang jadwal kepulangannya kemarin, dan akan jujur padaku tentang alasan sebenarnya.


----


Tapi sayangnya, apa yang aku harapkan tidak terjadi.


Karena yang Rei bahas kemudian adalah perihal jawabanku yang terkesan singkat dan setengah hati itu.


“Lain kali, jangan begini ya?” ucap Rei. “Kalo memang kamu masih kesal atau apa, jangan menghindar sampe seperti yang udah kamu lakukan.” ucapnya lagi.


Lagi, aku mengiyakan.


Kali ini dengan lebih santai.


“Mendingan kamu marah-marahin atau maki-maki aku sekalian, daripada kamu menghindari aku kayak tadi, Yang.”


“Aku ga mau buang energi dengan marah-marah sampai maki-maki segala...” tanggapku pada ucapan Rei yang barusan.


Dimana Rei langsung mendengus geli. “Ya udah, impas ya kita berarti?...” ucap Rei kemudian.


“Aku ga sedang bales kamu kalau itu yang kamu pikirin, Rei,” jawabku yang paham makna impas yang Rei maksud.


Rei mengangguk dan tersenyum kecil.


“Judulnya kita oke sekarang ya?---“


----


“Iya.”


Sekali lagi aku jawab singkat ucapan Rei yang berupa permintaan persetujuan.


Namun kali ini aku menyertakan senyuman dalam jawabanku itu.


“Ya udah kalau begitu,” ucap Rei kemudian. Lalu bangkit dari posisinya. “Aku mau buat kopi, kamu mau juga?...”


Aku menggeleng.


“Teh?...” Rei kembali menawarkan.


“No, thanks.”


Aku pun menolak kembali tawaran Rei.


“Ya udah kalo gitu,” ucap Rei. “Kamu kalo mau istirahat duluan silahkan aja, Yang.”


Dan itu menjadi kalimat penutup Rei dalam pembicaraannya denganku.


Lalu Rei berjalan ke arah pantri dalam unit apartemen kami.


Tanpa ada pengakuan jika dia sudah berbohong padaku.


Baik, jika seperti itu. Berarti memang ada yang Rei sembunyikan dariku.


Jadi aku akan mencari tahu sendiri apa yang sedang Rei sembunyikan dariku itu.

__ADS_1


🔷🔷🔷🔷🔷


Bersambung...


__ADS_2