WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 195


__ADS_3

Selamat membaca...


Terima kasih masih setia.


Selamat tahun baru untuk kalian semua reader setia.


Semoga di tahun 2023 tercapai semua segala cita-cita.


***


MALIA


Aku sedikit terkejut mendengar Rei mempertanyakan tentang kesungguhanku yang memang sudah mencintainya.


“Kamu selama ini, hanya berpura – pura udah cinta aku?”


Begitu kata Reiji yang bertanya padaku ketika kami sudah sampai di unit apartemen kami. Dan untuk itu aku hendak bersuara untuk mempertanyakan kenapa sampai Rei mempertanyakan hal yang dia tanyakan padaku itu.


Namun sebelum itu terjadi, Rei sudah keburu berbicara lagi.


“Karena aku mendapatkan ini ..”


Sambil Rei mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam amplop yang tidak kusadari jika amplop coklat tersebut ada di selipan bagian sandaran tangan sofa pada ruang tamu di unit apartemen kami.


“Tanggal yang terbaru, waktu aku tugas ke Medan beberapa hari yang lalu,“ ucap Reiji sambil memperlihatkan foto – foto tersebut padaku, dengan menjejerkannya di atas meja. Dan sungguh aku dibuat terkejut dua kali.


Bahkan kali ini aku lebih terkejut lagi, hingga tercengang sendiri.


“Rei, ini-“ guguku. Dengan tanganku yang meraih salah satu foto yang telah dijejerkan oleh Rei.


Foto – fotoku dan Irsyad yang hanya berdua saja.


“Kamu ada main dengan dia dibelakang aku selama ini-“


“Engga Rei, engga!-“


Aku langsung menyanggah dengan cepat tudingan Rei itu.


Sambil kepalaku menggeleng juga beberapa kali dengan cepat.


“Lalu foto – foto ini?” tanya Rei padaku kemudian.


“Aku bisa jelaskan,” jawabku. “Tapi darimana kamu dapat foto – foto ini?”


--


Aku menepis tudingan Rei padaku, yang wajahnya nampak seperti sedang menunggu penjelasanku.


Sementara otakku sedang berpikir bagaimana foto – foto yang ditunjukkan Rei bisa ada padanya.


Apa selama ini Rei mengikutiku atau membayar orang untuk itu?.


Tapi jika iya, Rei membayar orang untuk memata-mataiku --- kerja orang itu lambat sekali.


Karena beberapa dari foto yang sedang ditunjukkan Rei padaku ini adalah beberapa foto yang saat itu aku lakukan bersama Irsyad, kala pertama – pertama aku kembali dekat dengannya setelah pertemuan kami untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku tak tahu kabarnya.


Tentu aku ingat betul, karena sebagian besar foto itu diambil dengan menggunakan kamera pribadi Irsyad saat aku sering pergi bersama ketika aku sedang merasa gamang diawal – awal pernikahanku dan Rei.


Disaat aku sedang kembali berharap pada Irsyad karena kedatangannya kembali dalam hidupku.


Sudah satu atau dua bulan yang lalu, atau tiga bulan. Entahlah, yang jelas bukan baru – baru ini. Tapi kenapa tanggal yang tertera, adalah tanggal dari sejak aku katakanlah rujuk kembali dengan Rei?.


Ada yang ga bener ini.


Ada yang mencoba memprovokasi Rei agar menaruh curiga padaku, selain aku sedang difitnah.


Aku melirik Rei yang nampak tenang, namun matanya menyorot padaku.

__ADS_1


Tidak tajam, namun jelas dia memperhatikan gerak – gerikku. Atau juga sedang membaca gelagatku.


Terserahlah.


Yang jelas aku harus menjelaskan pada Rei akan hal yang janggal ini.


Meski tak ada unsur rekayasa dari foto – foto itu, karena aku masih mengingat kapan saja foto – foto itu diabadikan.


“Jawab Rei, bagaimana kamu bisa punya foto – foto ini?”


**


REIJI


Lia nampak terkejut saat aku menunjukkan beberapa foto padanya.


Foto – foto yang aku dapatkan dari si bibit pebinor itu, kala ia menyambangiku pagi tadi.


“Irsyad,” ucap laki – laki yang ada dihadapanku itu, sambil menungguku menyambut uluran tangannya setelah ia memanggilku dan bertanya untuk memastikan jika aku adalah suaminya Lia. “Bisa kita duduk dan bicara?---“


Si bibit pebinor itu kemudian bicara lagi setelah aku menjabat singkat tangannya.


“Tentang?---“ aku segera bertanya balik padanya.


“Malia---“ jawabnya dengan menatapku penuh arti.


Yang sepertinya sedang menunggu jawabanku untuk menyatakan kesediaanku menerima ajakannya untuk duduk dan bicara.


“Kita ga pernah kenal dan ketemu sebelumnya.” Namun sebelum aku menjawab ajakannya, aku ingin sedikit menyelidik dulu. “Bagaimana anda bisa mengenali saya?”


“Aku pernah melihat foto anda di akun medsosnya Lia ..” jawabnya.


“Hm ..”


“Jadi bisa kita duduk sebentar dan bicara?”


Dia kembali bertanya untuk satu kesediaanku.


--


Pada akhirnya aku menerima ajakan si bibit pebinor itu yang mengajakku duduk bicara soal Lia, yang entah soal apa.


Tapi yang jelas aku penasaran, makanya penawaran dari si bibit pebinor itu aku iyakan. Apa dia ingin mempersoalkan tentang aku yang mungkin saja ia pikir telah merebut Lia darinya. Well, tak masalah jika dia ingin adu otot denganku.


Si bibit pebinor itu tidak langsung menjawabku.


Aku pun terus saja memandanginya. Sambil menunggu jawabannya atas pertanyaanku.


--


“Anda bilang ada yang ingin anda bicarakan dengan saya terkait istri saya. Lalu mengapa anda tidak bicara sekarang, karena waktu saya terbatas-“ ucapku karena aku tak sabar ingin mendengar apa yang ingin si bibit pebinor ini katakan padaku soal Lia.


Ia kemudian menegakkan tubuhnya, lalu mengucapkan satu kalimat yang membuatku sangat ingin melayangkan tinjuku ke wajahnya hingga merobek bibirnya.


“Aku laki – laki yang Malia cintai,” kata si bibit pebinor itu dengan sikap yang sangat percaya dirinya. Sementara tanganku yang berada di bawah meja terkepal dengan kuat.


Dia menatapku lekat. Akupun sama. Bahkan aku lebih menyorotinya.


“Aku mengerti jika ini mengejutkan untuk anda dengar,” katanya lagi. “Tapi itu yang sesungguhnya.”


Berucap dengan percaya dirinya di depanku, yang masih intens memandangnya dengan tatapan tajamku kini.


Emosiku mulai naik, namun aku tetap berusaha menjaganya untuk tidak keluar.


Aku menyungging miring kemudian. Didetik dimana aku perhatikan sepertinya dia terkejut dengan reaksiku yang tenang.


“Dan anda pikir saya akan percaya dengan omong kosong anda ini?-“ ucapku setelahnya.

__ADS_1


Si bibit pebinor itu menarik sudut bibirnya sambil memandangiku.


“Anda harus percaya karena itu yang sesungguhnya,” ia pun berucap.


“Saya akan mengkonfirmasinya dengan istri saya kalau begitu.”


Aku masih bersikap tenang. Begitu juga nada suaraku yang masih kupertahankan berada di nada normal.


Mungkin saja dia mencoba memprovokasiku agar aku ribut dengan Lia, kemudian kami renggang lagi dan si bibit pebinor ini akan kembali berusaha masuk diantara aku dan Lia.


Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, jika memang itu tujuan si bibit pebinor itu menemuiku sekarang.


“Lia tidak akan jujur mengakui pada anda jika dia mencintaiku. Dia bertahan dengan anda sampai saat ini karena orang tuanya.”


Kembali, ucapan si bibit pebinor ini membuat dadaku bergemuruh.


Tapi sekali lagi, aku menahan emosiku. Aku percaya jika Lia sudah memang benar mencintaiku.


Dan lagipula ucapan si bibit pebinor ini mungkin bentuk ketidakterimaannya karena Lia pada akhirnya memilihku.


“Seperti yang saya bilang tadi, saya akan mengkonfirmasi setiap ucapan anda pada istri saya. Tapi saya tekankan, saya lebih mempercayainya ketimbang anda.”


Kuperhatikan rahang si bibit pebinor nampak mengeras, sebelum akhirnya ia tersenyum tipis.


“Kalau begitu, sebaiknya anda melihat ini-“ si bibit pebinor itu mengeluarkan amplop coklat panjang yang tidak aku perhatikan sebelumnya, yang kini sudah ia sodorkan kepadaku di atas meja.


Namun aku tidak segera meraih amplop coklat tersebut.


“Di dalamnya ada bukti jika aku dan Lia memang saling mencintai. Ada bukti Lia pernah bahagia, sebelum dijodohkan dan dipaksa menikah dengan anda. Dan kebahagiaannya, bersama saya-“


“Bullshit,” geramku dalam gumaman, disaat yang sama si bibit pebinor itu berdiri dari tempatnya.


“Kalau anda memang mencintainya, lepaskan Lia. Dia berhak bahagia dengan pilihannya.”


Gigiku bergemeletuk, dan tanganku kian mengepal erat. “Dia bahagia bersama saya,” ucapku sambil menatap si bibit pebinor yang tadi telah melangkah untuk pergi dari hadapanku. “Karena jika tidak, Lia tidak mungkin memblokir anda dari nomor ponselnya bukan?”


Didetik itu aku merasa puas.


Karena rahang si bibit pebinor itu langsung mengeras selepas aku mengatakan satu kalimat tadi padanya.


Aku tahu hal itu. Tahu jika Lia memblokir nomor si bibit pebinor ini dari  satu chat aplikasi, bahkan pada pengaturan telepon biasa.


Jadi meski aku terbakar emosi, akalku harus tetap pada tempatnya.


Karena jika benar apa yang si bibit pebinor ini katakan, tidak mungkin nomornya sampai diblok oleh Lia.


Tapi tetap saja aku tidak bisa menahan gemuruh emosi yang mencuat naik di hatiku.


“Lihat saja dulu apa yang ada di dalam amplop itu,” namun didetik berikutnya, si bibit pebinor itu tersenyum tipis sambil memandangku. “Karena di dalamnya adalah bukti kata-kataku, tentang Lia yang mencintaiku, tentang kami yang saling mencintai ..”


Lalu si bibit pebinor itu melangkahkan kakinya menjauh dariku, sampai keluar dari kedai kopi kekinian tempatku berada saat ini. Yang ingin sekali aku kejar, jika aku tipe laki-laki yang emosional. Dan sayangnya juga pembawaan si bibit pebinor itu nampak tenang, hingga membuatku tak ada alasan untuk meninju wajahnya.


Sialan!


Dan semakin sialan, saat tanganku gatal meraih amplop yang disodorkan si bibit pebinor itu tadi. Dimana amplop itu masih tergeletak di atas meja tempatku dan si bibit pebinor berada dan duduk bersama selama beberapa menit.


Membuat rahangku mengeras sempurna, ketika aku buka amplop coklat itu----yang didalamnya ada beberapa lembar foto berisikan Lia dan bibit pebinor itu yang hanya berpose berdua.


Nampak dekat .. dan, sialan! Mesra!.


Yang lebih membakarku adalah, tanggal pada foto terhitung sejalan dengan saat Lia mengatakan padaku, jika ia ingin memulai semuanya dari awal.


Selama ini, apa Lia hanya bersandiwara dengan terlihat nampak sudah mencintaiku padahal sebenarnya tidak?.


Dan hal  itu dia lakukan hanya untuk membuatku tidak curiga jika Lia ternyata masih menjalin hubungan di belakangku dengan si bibit pebinor itu? ..


Sepicik itukah Lia? ..

__ADS_1


****


Bersambung ...


__ADS_2