WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 87


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


“Jadi kemana aja?.... Kemana aja selama ini sampai Kakak berhenti balas E-mail aku dan juga ga pernah balas pesan di Messenger?”


“Trus tiba-tiba Kakak datang ke kantorku, dan mengajak aku bertemu seperti ini?....”


“Apa karena kita ga sengaja ketemu beberapa hari lalu di Groove?....”


“Maksud aku, kedatangan Kakak di Jakarta ini ga mungkin sengaja buat nemuin aku kan?”


“Dan karena kita ga sengaja ketemu di Groove hari itu, Kakak jadi rasa ga enak sama aku, hingga bela-belain dateng ke kantor aku untuk menebus rasa ga enak itu?”


Pada akhirnya aku bertanya blak-blakan pada Irsyad tentang alasan mengapa dia berhenti berkomunikasi denganku selama ini. Tentang dia yang sudah lama tidak membalas E-mail-E-mailku dan pesan dalam Messenger-ku. Yang aku aku tidak yakin jika dia membaca E-mail-E-mailku yang mungkin sudah tertumpuk dengan barisan E-mail yang lain di surel pribadinya.


Atau mungkin karena Irsyad terlalu sibuk, seperti alasan yang dia katakan padaku. Sangat sibuk, sampai membalas E-mailku walau hanya dengan emoticon pun tidak bisa. Hhh!.


Entahlah. Yang jelas aku penasaran. Termasuk penasaran dengan ajakan Irsyad untuk bertemu dan katanya ingin ‘mengobrol’ denganku.


Dimana aku jadi memiliki prasangka atas ajakan Irsyad untuk bertemu denganku saat ini. Prasangka yang aku utarakan secara blak-blakan pada Irsyad.


Yang kemudian langsung disanggah oleh Irsyad. Dan setelahnya Irsyad bercerita. Cerita singkat yang ujungnya malah membuatku menjadi merasa ambigu.


Ada kejutan yang Irsyad persiapkan untukku, setelah ada keputusan yang katanya telah dia ambil setelah membaca pesan terakhirku di Messenger. Entah kejutan apa, karena Irsyad tidak mengatakannya padaku.


Seperti ia menahan diri untuk mengatakan padaku kejutan apa yang Irsyad maksudkan, yang katanya-tadinya-telah ia persiapkan untukku. Malah Irsyad mengalihkan dengan mengatakan,


“Tapi sudahlah.... Justru aku yang mendapat kejutan dari kamu.”


Dan Irsyad nampak tersenyum getir dalam pandanganku.


Membuatku jadi bertanya-tanya, menduga-duga dengan kenaifan dugaanku itu.


Dimana aku, sedang berusaha untuk terus menepis dugaan-dugaan naif ku itu tentang kejutan dan persiapan yang tadi Irsyad sempat singgung.


Namun kenapa ada sejumput penyesalan yang menyelusup dihatiku ini? ...


---


“Kak!”


Aku bersuara duluan setelah untuk yang kesekian kalinya aku dan Irsyad sama-sama terdiam.


“Hm?....”


Irsyad yang nampak juga sedang melamun seperti halnya aku tadi, terkesiap.


“Kok bengong?”


Aku menampakkan sikap yang riang.


Irsyad langsung tersenyum.


Dan senyuman Irsyad yang ini, bukan lagi senyuman getir seperti sebelumnya.


Melainkan senyuman khas Irsyad, yang dulu pernah membuatku meleleh seringnya.


Ah sial!.


Aku terlalu sering mengumpat hari ini gara-gara Irsyad.


Duh Lia.... Ingat kalau lo itu perempuan bersuami!.


Jadi berhenti mengagumi makhluk indah lain ciptaan Tuhan di depan lo ini selain Reiji!.


---


“So, how’s London? Dan tadi pekerjaan penting yang Kak Irsyad bilang udah selesai?” Aku mulai lagi bertanya pada Irsyad.


“Udah....” jawab Irsyad singkat, sembari ia manggut-manggut.


“Trus?. Sukses?....”


Aku bertanya lagi.


Irsyad pun tersenyum lagi.


“Lumayan, buat nambah-nambahin prestasi di CV.”


Lalu Irsyad menjawab pertanyaanku tadi dengan juga tersenyum kecil.


Membuatku jadi spontan tersenyum juga.


Dan saat aku tersenyum itu, mataku melihat Irsyad memandangiku.


“Well, lumayan ya buat bikin tebel CV Kakak?....” ucapku untuk mengalihkan kecanggungan ku yang sedang diperhatikan oleh Irsyad.

__ADS_1


“.......”


“Tapi paling Cuma jadi hiasan kan itu prestasi tambahan dalam pekerjaan Kakak buat di CV?....” Aku menyambung ucapanku sebelum Irsyad sempat berbicara untuk menanggapi perkataanku tadi.


Yeah, pasti begitu. Perusahaan tempat Irsyad bekerja di London sekarang adalah Perusahaan impiannya. Dia bahkan meninggalkanku untuk meraih gelar sarjana luar negerinya demi bekerja di Perusahaan tempatnya bekerja sekarang.


Meninggalkanku...


Hatiku rasa miris jika menyebut kata itu.


Heh, tapi rasanya berlebihan jika aku mengatakan Irsyad ‘meninggalkanku’ yang kalau kata pepatah jaman now itu, ‘ditinggal pas lagi sayang-sayangnya’.


Sial! Aku jadi kesal!.


---


Kembali ke pembicaraanku ke Irsyad mengenai prestasi kerjanya.


“Karena Kakak sudah mendapatkan mimpi Kakak untuk bekerja disana kan?.... jadi kan rasanya ga mungkin dong, itu prestasi di taro di CV buat melamar di tempat kerja lain?....”


Aku pun bercerocos lagi.


“Kalau dapat jatah pekerjaan penting, berarti posisi Kakak disana udah lumayan oke dong ya?....”


Irsyad tersenyum. “Yah begitulah....” ucapnya kemudian.


Lalu tersenyum lagi. Senyuman yang....


Oh crap! Aku tidak boleh terus-terusan mengagumi senyuman Irsyad itu.


Karena wanita baik-baik, istri baik-baik, tidak sepatutnya mengagumi laki-laki lain yang bukan suaminya, bukan?.


Itu seharusnya yang otakku ini camkan!.


Dan sebenarnya hal inilah yang menjadi dilema bagiku untuk menerima undangan ‘mengobrol’ Irsyad.


Aku takut....


Aku takut tidak dapat mengontrol hatiku.


Aku takut....


Aku takut, jika kenangan masa lalu akan kembali menguasai hatiku.


---


Aku kembali yang memulai percakapan, karena hari ini Irsyad irit bicara.


Nampak canggung.


Well, seperti halnya aku.


Padahal dulu jika kami sedang duduk berdua seperti ini, kami akan saling ‘banyak bicara’.


Bercanda dan tertawa lepas.


Membahas sesuatu yang terkadang tidak penting, lalu kami akan sama-sama tergelak.


Tapi yang terjadi antara aku dan Irsyad saat kami duduk bersama seperti ini, adalah kebalikan dari apa yang dulu pernah kami rasakan saat kami sedang berdua seperti ini, yah meskipun hitungannya saat itu bukanlah sebuah kencan juga.


“Kapan Kak Irsyad datang ke Jakarta?....” aku melanjutkan ucapanku untuk bertanya pada Irsyad.


“Belum lama, Lia....” jawab Irsyad.


“Lagi ada kerjaan disini, cuti, atau gimana?”


Dan pertanyaan itu, memang mewakili rasa penasaranku tentang keberadaan Irsyad disini.


Irsyad tidak langsung menjawab pertanyaanku itu.


Dia tersenyum lagi terlebih dahulu.


“Bisa dibilang aku kembali ke kampung halaman....” 


Ucapan yang merupakan jawaban Irsyad atas pertanyaanku, membuatku sedikit mengernyit.


Lalu Irsyad tersenyum lagi, sambil lurus menatapku.


“Maksudnya?....”


Aku sedikit tak paham.


“Aku resign dari tempat kerjaku di London, Lia.”


Hah?! Apa?! Apa aku tidak salah dengar?!.


“Kakak ... Resign dari tempat kerja Kakak? ...”


Ah rasanya sungguh sukar dipercaya! Kak Irsyad, resign dari tempat kerja impiannya?!.

__ADS_1


Masa sih?! ...


Tapi kenapa? ...


“Iya ...” jawab Kak Irsyad.


Dia mengangguk mengiyakan.


Aku tercekat.


Sungguh.


“Kok---“


“Eh Li, kamu laper ga?”


Kak Irsyad menyambar ucapanku.


“Pindah tempat yuk?....” sambungnya. “Aku kayaknya agak-agak lapar....”


“Iya boleh.” Aku mengiyakan.


Lalu Kak Irsyad tersenyum lagi, kemudian kami sama-sama berdiri dari tempat duduk kami.


“Mau makan dimana?...” ucap Kak Irsyad seraya bertanya padaku.


“Bebas aja, Kak.”


Aku membebaskan Kak Irsyad untuk memilih restoran yang akan menjadi tempat kami makan nanti.


Karena otakku masih sedang sibuk memikirkan kenapa Kak Irsyad sampai resign dari tempat kerja impiannya.


Apa karena .... Aku?.


---


Aku cukup kaget setelah melihat waktu di arloji pada pergelangan tanganku.


Waktu sudah agak malam dan aku lupa memberitahu Reiji soal ‘acaraku’ ini.


Aku sudah coba menghubungi Reiji setelah dari Kedai Kopi.


Tapi panggilanku tak terjawab. Dan saat aku ingin mengiriminya pesan chat, taksi yang mengantarku telah sampai di Lobi Mal tempat temu janjiku dengan Irsyad.


Dan aku jadi urung mengirimi pesan chat pada Reiji. Dan kupikir, nanti aku akan coba menghubungi Reiji lagi atau mengiriminya pesan chat saat aku telah bertemu Irsyad.


Tapi nyatanya, saat bertemu dengan Irsyad, aku seolah lupa pada Reiji.


Aku pikir nanti saja saat di Restoran aku akan coba lagi menghubungi Reiji atau mengiriminya pesan chat, karena Irsyad mengajak makan.


Tapi ternyata, Irsyad yang katanya sedikit agak lapar itu malah mengajakku nonton.


Nostalgia, kata Irsyad.


Karena aku sudah menikah, jadi mungkin tidak ada kesempatan lagi untuk mengajakku keluar nonton selain hari ini.


Dan aku, menerima ajakan Irsyad untuk menonton di bioskop Mal tersebut.


Menghubungi Reiji pun, aku lupakan.


Tapi ketika kucek ponselku, tidak ada juga panggilan atau pesan chat dari Reiji yang sekedar bertanya tentang keberadaanku.


Apa Rei masih di bandara?-pikirku.


Karena ada sedikit masalah yang Rei bilang tadi di pesannya yang memberitahukan sepertinya dia tidak bisa menjemputku, nyatanya trouble itu tidaklah sedikit?.


Sampai Rei bahkan tidak sempat menghubungiku.


Atau dia ....


Juga sepertiku saat ini?.


Sedang sedikit ‘terlena’ oleh ‘masa lalu’ nya.


Mungkinkah, seperti aku yang sedang bersama Irsyad sekarang ini, Reiji pun sedang bersama, Shirly?.


****


Bersambung....


Terima kasih untuk kalian yang masih setia baca dan nunggu update-an karya ini.


Mohon maaf dua hari kemarin kosong update, karena sedang fokus ke karya othor yang lainnya, yang masih on going juga, sehubungan dengan ‘kejar target’.


Terima kasih sekali lagi, dan harap maklum.


Loph Loph,


Emaknya Queen.

__ADS_1


__ADS_2