
Selamat membaca....
***
Malia dan Reiji kini telah berada dalam kamar yang akan mereka jadikan ruang serbaguna.
Kalau dibilang serbaguna, ya ga serbaguna-serbaguna amat, karena ruangan itu sebenarnya dikhususkan untuk menyimpan buku-buku Reiji dan action figures koleksinya Reiji.
Ada sedikit ruang yang di ciptakan untuk berolahraga kecil di sebuah sudut kamar tersebut, yang nantinya mungkin akan digelar matras diatasnya, berikut beberapa barbel tangan dengan berat yang berbeda.
Selebihnya ya itu, untuk buku-bukunya Reiji yang menurut Malia banyak banget, sementara kata Reiji ini Cuma sebagian aja dari yang dia punya, yang kesemuanya itu tersimpan dengan apik di kamarnya, dan di perpustakaan kecil dalam rumah orang tua Reiji.
Malia seyogyanya juga suka baca, namun melihat buku-buku koleksi Reiji yang banyak banget, ditambah ga ada yang tipis, karena tebel semua.
Belum lagi buku impor, bahkan yang ejaannya menggunakan bahasa Inggris baku. Dan melihat itu, rasanya Malia jadi merinding sendiri.
Itu baru buku.
Belum action figure koleksi Reiji yang sama banyak dengan buku koleksi Reiji yang dia bawa ke apartemennya dan Malia.
Yang memang dari dulu Malia tahu, kalau selain buku, Reiji itu suka banget sama yang namanya ngumpulin action figure. Cuman kenapa dibawa juga ke apartemen yang jadinya begini, menuh-menuhin dan karena buku-buku serta action figure Reiji itu, makanya kamar yang seharusnya jadi kamar tamu, dijadikan ruangan barang-barang yang kebanyakan milik Reiji.
Tapi ya sudahlah, Malia ga mau ambil pusing.
Toh ini apartemen yang ia dan Reiji tinggali sekarang, juga Reiji yang beli.
Yang penting bagi Malia, apartemennya dan Reiji yang merupakan tempat tinggalnya dan Reiji ini, selalu rapih adanya. Dan ga keliatan sumpek juga.
***
“Ini action figures bukannya udah ada raknya sendiri di rumah Papa Tino sama Mama Alice, ya Rei?” tanya Malia iseng.
Malia dan Reiji kini sedang mulai memasukkan barang-barang ke dalam kamar yang akan mereka jadikan ruang serbaguna itu, setelah lantainya yang tadi sudah dipel oleh Reiji sudah kering.
Reiji yang mengepel, karena Malia yang menyapu. Padahal Malia tidak masalah jika ia juga yang harus mengepel itu lantai ruangan yang tidak besar. Namun Reiji tidak membiarkannya. ‘Berbagi tugas yang adil’ - kalo kata Reiji.
“Iya emang ada...” jawab Reiji, yang
“Trus ngapain kamu bawa kesini?..”
“Selain kamu, ya itu action figures pemuas batin aku, Yang.”
Reiji berucap tanpa tedeng aling-aling, kemudian ia menunjukkan wajah konyolnya pada Malia.
“Enak aja aku disamain sama action figure!” protes Malia yang sudah mendudukkan dirinya di atas lantai dan membuka kontainer plastik yang berisi barang-barang Reiji, yang orangnya sedang menata letak dua rak.
Tuk! Satu action figure juga Malia sambit ke arah kaki Reiji yang baru saja selesai menselaraskan letak rak. Reiji yang merasakan sesuatu yang dilempar ke kakinya itu pun segera merunduk, setelah sempat terkekeh mendengar protes kecilnya Malia yang tidak terima disamakan dengan action figure.
“Aduh, Lia sayaaangg ... jangan main lempar-lempar ini action figure, sayangku Malia....”
Reiji segera mengambil satu action figure koleksinya yang tadi dilempar Malia yang mencebik remeh kemudian.
“Langka tau ga ini?” ucap Reiji lagi.
“Ilah, Cuma pajangan gitu doang!” ketus Malia. “Di sopeh juga banyak yang jual!”
Reiji mendengus geli sembari mendekat pada Malia yang duduk di lantai dan dihadapannya ada satu kontainer plastik berisikan action figure yang tersimpan apik dalam kotaknya masing-masing.
“Lia, sayangku, istriku, di sopeh emang banyak yang jual action figure, tapi yang kamu lempar ini, termasuk yang ada di dalem ini kontainer, kalo aku jual bisa dapet satu motor, bahkan ada lebihnya buat kamu beli tahu gejrot segerobak, plus gerobak-gerobaknya sekalian.”
“Masa??..” remeh Malia.
“Cek aja coba kalo ga percaya. Ini yang barusan kamu lempar, sekarang harganya udah hampir lima juta.”
“Masa sih Rei?”
Malia terperangah.
“Cek aja kalo ga percaya nih si akang betmen keluaran tahun 2004 harganya udah hampir lima juta. Sementara waktu aku beli, masih sekitar satu, hampir dua juta lah ...”
“Seriusan?!” Malia kenapa jadi sumringah.
“Hmm ...” Reiji manggut-manggut. “Ini itung-itung investasi, Yang, selain hobi.”
“Kalo ini satu, anggep deh empat juta .. berarti ini total kalo di jual, satu.. dua..” Malia jadi khusyu menghitung action figure dalam kontainer plastik dihadapannya.
Membuat Reiji mendengus geli melihat ekspresi Malia saat ini.
“Uwaw, hampir lima puluh juta, Rei?!” Mata duitan Malia berbinar.
Reiji manggut-manggut sembari mengulum senyumnya.
“Wuih mantep! Bisa dapet tas emba celin original dua biji!” ucap Malia dengan semangat. “Jual gih Rei!”
Setelahnya Reiji tergelak selepas mendengar ucapan Malia. “Dasar cewe!” cetus Reiji. “Dikit-dikit barang-barang branded aja yang ada di otaknya, sama duit!”
“Ya namanya juga cewe. Wajar kalo matre!”
“Cewe matre, cewe matre, ke laut aje!” celoteh Reiji, Lalu ia dan Malia sama-sama terkekeh.
“Ketara banget jadulnya, kalo tau itu lagu.”
Timpalan Malia, lagi-lagi membuat Reiji terkekeh bersama sang istri.
“Berarti kalo semua koleksi action figure kamu dijual bisa beli rumah ya, Rei?”
“Halah!”
**
Reiji sudah mulai mengatur buku-buku miliknya ke dalam rak. Malia juga ikut membantu, sambil saling berkordinasi dengan Reiji, karena bagaimana Reiji menyusun bukunya, Malia memang tidak tahu.
Apa sesuai genre, atau sesuai nama penulisnya. Alhasil, Malia hanya mengambilkan buku dari dalam kontainer, lalu ia oper ke Reiji yang menyusunnya kemudian.
__ADS_1
“Ini buku-buku yang kamu bawa kesini belum kamu baca emangnya ya, Rei?..” tanya Malia disela kegiatan Reiji menyusun buku-buku bacaannya.
“Kalo yang lagi kita rapiin ini, udah aku baca semua justru,” jawab Reiji. “Tapi karena ini buku-buku favorit aku, makanya aku bawa kesini.”
“Ini semua nih, buku-buku setebel ini udah kamu khatamin?!” tanya Malia lagi. Dan Reiji mengangguk.
“Udah ada yang aku baca dua sampe tiga kali malah,” jawab Reiji dan Malia cukup terperangah.
‘Gila, buku setebel ini, dan rata-rata pake bahasa Inggrisnya herih poter udah dia baca berkali-kali?!’
Malia membatin takjub.
‘Kalo gue, udah mimisan kayaknya!’
Malia membatin lagi.
‘Mendingan gue disuruh meriksa angka laporan keuangan kantor deh!’
*
Reiji telah selesai menata dan menyusun buku-buku bacaan koleksinya. “Eh iya Yang, bukannya kamu juga punya koleksi novel ya? ..” tanya Reiji.
“Bukan koleksi. Cuma punya beberapa aja,” jawab Malia.
“Ya udah mana?” tanya Reiji lagi. “Sorry, aku baru keingetan. Didalem situ?”
Reiji menunjuk satu dus berbentuk kado yang tak seberapa besar milik Malia.
“Sini aku susunin,” tawar Reiji. Namun Malia menggeleng.
“Ga aku bawa,” ucap Malia. “Ini isinya foto-foto sama beberapa pajangan doang.”
“Foto-foto apa?” tanya Reiji, sembari mendekat pada Malia.
“Macem-macem..” jawab Malia.
“Ya udah coba keluarin dulu, biar diatur sekalian,” kata Reiji, dan Malia mengiyakan.
Kemudian Malia mengeluarkan semua isi yang ada di dalam kotak miliknya sembari menyortirnya bersama Reiji, memilah-milih mana yang sekiranya akan didahulukan untuk dipajang.
Foto-foto pernikahan Malia dan Reiji sudah terpasang lebih dulu di ruang tamu serta kamar mereka. Beberapa foto-foto bulan madu mereka pun sudah juga ada beberapa yang dicetak dan dipajang.
Sisanya masuk album foto, buat dipamerin sama tamu yang datang ke apartemen mereka. Selain tentunya disimpan, untuk suatu saat Reiji dan Malia sendiri yang mungkin akan kembali membuka album foto-foto mereka sendiri, selain album foto keluarga.
Sambil menunggu, mungkin akan ada satu album foto lagi yang menyusul.
Album foto yang Reiji sudah bayangkan untuk ia buat sebagai satu port folio, apabila nanti Malia sudah mengandung, lalu melahirkan bayi, buah cinta mereka. Album foto untuk keluarga kecilnya dan Malia.
**
Kini Malia telah membawa kotak kontainer plastik yang berisikan action figure ke dekat Reiji.
“Terus ini action figurenya mau taro dimana?” tanya Malia pada Reiji yang masih berdiri didekat Rak, tempat buku-buku miliknya telah tersusun rapih.
“Nih, di tempat yang udah aku kosongin spacenya.”
“Ya boleh dong, Yang,” jawab Reiji. “Masa ga boleh?”
“Ya kali kamu udah punya aturan sendiri nyusun ini action figure kamu,” ujar Malia. “Kan biasanya kalo kolektor-kolektor action figure atau kolektor-kolektor lainnya, punya sudut pandang estetik sendiri buat koleksi mereka?”
Reiji pun tersenyum kemudian, sembari ia meletakkan tangannya di atas kepala Malia lalu menggoyangkannya pelan. “Kan sekarang aku udah ga hidup sendiri?” ucapnya. “Jadi aku akan melibatkan kamu dalam segala hal yang menyangkut diri aku.”
Reiji menyambung ucapannya.
“Itupun kalo kamu mau.”
Dimana Malia juga menarik sudut bibirnya. Tersenyum pada Reiji, kemudian Malia mengangguk.
“Dan aku harap kamu juga begitu, Yang. Melibatkan aku dalam segala hal yang menyangkut diri kamu.”
Reiji menatap Malia dengan menarik tipis sudut bibirnya.
“Iya, Rei..” jawab Malia, pada Reiji menatapnya dengan tatapan, dimana ada seberkas harap disana.
***
Reiji dan Malia telah selesai merapihkan kamar yang kini telah menjadi ruangan serbaguna mereka.
Keduanya kemudian meloloskan helaan nafas lelah bersama namun lega dan puas setelah melihat jika ruangan tersebut sudah rapih tertata.
Merasa puas atas hasil dari kerjasama tim yang baik sepasang suami istri, hingga kamar yang tadinya berantakan dan ukurannya lebih kecil dari kamar pribadi mereka itu kini sudah sangat rapih tertata, dan nampak lebih luas dari ukurannya.
“Mantul!”
Reiji berkomentar sembari meletakkan tangannya di pinggang.
“Keren juga hasil karya kita nge-desain ini ruangan ya, Rei?..” Malia ikut berkomentar.
“Betul sekali. Tos dulu dong!”
Reiji mengangkat tangannya untuk melakukan tos telapak tangan dengan Malia yang langsung disambut istrinya itu dengan antusias.
“Ya udah yuk kita istirahat?..” ajak Reiji yang langsung merangkul pundak Malia, untuk mengajaknya keluar dari ruangan yang sudah selesai mereka rapihkan dan tata itu. “Abis istirahat kita manja-manjaan deh.”
“Palang merah, Rei! Palang merah! Enam hari lagi inget!.. Ampun deh!”
Malia pun berkesah, sembari memutar bola matanya malas.
“Lagian ga mikirin ‘itu’ satu hari ga bisa apa?.. Heran, doyan banget!”
Malia mencibir dan Reiji terkekeh.
“Ya gimana ga doyan. Orang enak!”
__ADS_1
Kemudian Reiji berseloroh santai tanpa dosa.
“Dasar!” seru Malia yang langsung berjalan mendahului Reiji menuju pantri.
***
“Mau pergi ke rumah orang tua kamu hari ini juga?..” tanya Reiji yang mendekati Malia di pantri.
Istrinya itu sedang membuatkan minuman dingin untuk mereka berdua. “Hmm, liat nanti deh, Rei..” jawab Malia. “Abis bebenah gini kayaknya aku mager deh..”
“Ya udah terserah kamu aja kalo aku sih, Yang..”
“Seperti biasa kan?”
Reiji dan Malia sama-sama mendengus geli.
“Ya of course seperti biasa pastinya,” sahut Reiji. “Terserah istriku tercinta..”
“Gombal!” ketus Malia.
Sembari ia berlalu dari hadapan suaminya itu.
“Mau kemana, Yang?”
“Mandilah, gerah plus lengket banget badan aku rasanya.”
“Ikuuuttt!!!!..”
“Apaan sih ah!”
Tentu saja Malia langsung memberikan protesnya sambil berjalan cepat meninggalkan suaminya yang mesum banget kalo lagi berduaan itu.
“Mau cuciin tampon aku emang?!” Malia melirik sinis pada Reiji yang mengekorinya sampai di depan pintu kamar mandi.
“Hmm, kenapa engga? Yang penting bisa liat kamu telanjang..”
Tentu saja jawaban Reiji membuat Malia melongo dibuatnya.
“Gila ih!”
Didetik berikutnya Malia meletakkan telapak tangannya di wajah Reiji dan mendorong pelan wajah suaminya itu, lalu dengan cepat Malia membuka pintu kamar mandi, dan menutupnya dengan cepat juga.
Sementara Reiji yang masih berada di depan pintu kamar mandi itu tergelak geli.
Reiji senang sekali menggoda istrinya itu, karena jika sedang sebal, wajah Malia nampak begitu menggemaskan baginya. Rasa pengen nyosor aja bawaannya - kata Reiji.
***
Reiji kemudian pergi ke kamarnya untuk merebahkan dirinya di atas ranjang setelah Malia masuk ke dalam kamar mandi lalu menguncinya.
Reiji masih mengulum senyumnya karena habis menggoda Malia, yang selalu membuat dirinya senang kalau sukses membuat Malia sewot. Lucu aja muka Malia kalo lagi sewot.
Dan kadang kalo Malia sewot campur malu, pasti ada semu kemerahan yang membuat Reiji menjadi kian gemas pada Malia. Yang kalau Malia tidak sedang datang bulan, sudah pasti akan Reiji ‘serang’.
“Loh, ga jadi mandi?” tanya Reiji yang baru saja merebahkan dirinya di atas ranjang dan tahu-tahu Malia muncul di kamar. “Apa mau minta aku temenin mandinya?..”
“Apaan sih, orang aku lupa ambil handuk!.”
“Emang handuk yang di kamar mandi?..”
“Udah aku turunin sekalian di Laundry kemaren..”
Malia menjawab sambil lalu, dan ia berjalan menuju walk in closet.
Sementara Reiji masih rebahan di atas ranjang.
“Kita masih punya stok handuk bersih kan ya, Rei?..”
Malia setengah berteriak dari dalam walk in closet.
“Masih banyak!”
Reiji menyahut dari tempatnya.
“Taro dimana sih, Rei?. Kok aku ga nemu ya?..” seru Malia.
“Di partisi yang sebelah kanan atas kayaknya!” seru Reiji juga.
“Eh Rei, itu kotak apa deh yang ada di pojok rak sepatu kamu?.. buku-buku kamu bukan?..” ucap Malia yang keluar dari walk in closet dan berdiri di batas pintunya.
“Kotak apa?..” tanya Reiji.
“Itu yang dusnya warna biru.”
Reiji menautkan alisnya, sedang mengingat-ingat.
“Aku ambilin ya?”
Suara Malia terdengar lagi, bersamaan orangnya yang masuk kembali ke dalam walk in closet.
“Alamak!”
Reiji ingat tentang dus biru yang ditanyakan Malia barusan.
Reiji pun dengan secepat kilat bangkit dari ranjang menuju walk in closet.
“Jangan dibuka!”
Suara Reiji yang berseru memberikan larangan saat Malia telah mengeluarkan kotak biru persegi berukuran medium dari sudut lemari bagian bawah itu sampai mengendik saking kaget.
Reiji dengan cepat meraih kotak tersebut dan menjauhkannya dari Malia. Tentu saja selain kaget, Malia langsung mengerutkan dahinya.
“Apa yang kamu sembunyikan dari aku dalam kotak itu, Rei?..”
__ADS_1
***
Bersambung ....