WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 175


__ADS_3

Baca dulu sebelum Like/Comment, yah?


Thank you.


***


Selamat membaca...


***


REIJI


“Bangun, Nyonya Reiji! Sholat Subuh.”


Aku masih di Inggris, dan sengaja menyetel alarm di ponselku yang aku atur dengan menyesuaikan waktu Jakarta, agar aku bisa menghubungi Lia di waktu subuh.


Dan kalau aku dengar dari sahutan Lia yang sudah menerima panggilan teleponku itu-dan hanya menyahut dengan deheman, Lia sepertinya belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. “Ayo bangun istriku sayang...”


“Hm –“


“Aku udah di lobi apartemen nih –“


“Hah?!” Aku dengar Lia memekik dari seberang telepon.


Dan aku tebak, pasti dia sudah bangkit dari posisinya sekarang.


“Beneran, Rei?!”


“Hehehe...”


Aku terkekeh dari tempatku.


“Canda-“


“Iihh-“


“Maap.”


Aku berujar kemudian.


“Abisnya kamu susah dibangunin sih?-“


“Aku udah bangun, oke?...” tukas Lia. “Cuma lagi ngumpulin nyawa dulu, baru bener-bener bangun...”


Aku tersenyum saja di tempatku, mendengar ucapan Lia-yang aku bayangkan sambil merungut dengan bibirnya yang mengerucut saat ia bicara.


“Ya udah, maap kalo ngagetin.”


Aku berucap.


Dan aku dengar Lia mendengus dari seberang telepon.


“Dimaapin ga?” tanyaku lembut.


“Untung aku udah cinta. Jadi ya aku gampang aja maapinnya...”


Aku pun terkekeh setelah mendengar jawaban Lia.


“Acih, ya?”


“Oleh-oleh double...”


“Siap Nyonya Reiji.”


*


“Jam berapa sekarang disana, Rei?” tanya Malia ketika rasa malas dan kantuknya lumayan menghilang.


“Sekitar jam sepuluh malem lewat –“


“Hmm.”


Malia berdehem menanggapi jawaban Reiji.


“Terus, kamu lagi ngapain sekarang?...” tanya Malia lagi.


“Nelpon istri,” jawab Reiji.


“Bukan lagi sama istri yang lain, kan?...”


Reiji langsung berdecak mendengar tudingan Malia, yang Reiji tahu tidak serius itu.

__ADS_1


“Tega banget kamu nuduh Akang begitu, Dek!...” sahut Reiji, lalu ia dan Malia sama terkekeh.


“Ya kali? –“


“Ya kali... ya kali...”


Reiji menggerutu, dan Malia mendengus geli dari tempatnya.


“Suaminya lagi kerja buat beli seember berlian ini,” celoteh Reiji. “Malah dituduh yang engga-engga –“


“Ya aku nanya, si?”


Malia membela diri.


“Iya, iya,” tukas Reiji. “Paham kalo sekarang istrinya Reiji pocecip –“


“Terus, masalah? –“


“Ga dong. Malah seneng akunya kalo kamu posesif sama aku, Yang...”


“Dih, aneh. Ada gitu suami yang seneng istrinya posesif?...” timpal Malia.


“Ada...” tukas Reiji. “Aku!“


Malia mendengus geli sekali lagi.


“Ya udah, kamu subuh dulu ya?” ucap Reiji tak lama kemudian. “Nanti kalau memang bisa hubungin aku, hubungin aja ya?”


“Iya,” jawab Malia.


“Love you, Yang.”


“Love you too, Rei.”


*


‘Udah tidur Rei?’


Malia mengetikkan dan mengirimkan chat ke nomor kontak Reiji.


Dimana sesaat kemudian deringan ponsel Malia langsung terdengar.


Sebuah undangan panggilan video dari Reiji yang masuk ke ponsel Malia.


Dan Malia mengulas senyumannya. “Miss you,” Malia berucap dan senyuman Reiji mengembang di layar ponsel Malia.


“Miss you more-“


“Kamu sendirian?”


“Duh masih aja ga percaya ini Nyonya Reiji sama suaminya?”


Reiji mendengus geli kemudian, dan Malia tersenyum saja.


“Bentar...”


Dan didetik berikutnya, kamera dari ponsel Reiji berubah pemandangan.


Kini layar ponsel Malia tidak lagi disuguhi wajah Reiji, melainkan suasana sebuah kamar.


Dimana pemandangan suasana kamar yang terlihat di layar ponsel Malia itu, berpindah titik selepas beberapa detik.


“Percaya sekarang kalo aku sendirian? ...” suara Reiji terdengar, namun wajahnya masih belum kembali terpampang di layar ponsel Malia.


*


Malia terus saja mengulum senyuman, kala Reiji seolah sedang memberikan bukti kesetiaannya, dengan memperlihatkan seluruh sudut kamar tempat suaminya berada itu sekarang.


“Iya aku percaya, Rei ...” kata Malia, selepas Reiji berucap seraya bertanya, kala Reiji juga menunjukkan di kamera ponselnya-kamar mandi dalam kamar tempat Reiji berada.


“Aku ga akan pernah melakukan hal bodoh itu, Yang ...”


Suara Reiji berikut wajahnya, telah kembali terlihat di layar ponsel Malia.


“Iya, Rei – “


“Ga perlu berprasangka.”


“Iyaa.”


Malia menyahut, lalu tersenyum.

__ADS_1


“Just kidding ( Cuma bercanda ) juga, kok? –“


“Jangan lagi ditanyain atau diraguin makanya kesetiaan aku sama kamu, Yang ...”


Malia masih tersenyum, lalu mengangguk setelah Reiji berucap barusan. “Iya maaf.”


“Tunggu aku pulang, yah? –“


“Pasti, Rei ...”


“Ya udah, aku tutup ya? –“


“Iya ...” tukas Malia.


“Btw, mau oleh-oleh apa aja? ...”


“Kamu pulang dengan selamat dan sehat wal afiat itu udah cukup, Rei ...” tulus Malia.


*


MALIA


Pagi ini, aku berangkat ke kantor tanpa menggunakan mobilku.


Aku memilih satu dari deretan taksi yang masih nampak banyak di tempat dimana bagian taksi-taksi itu ditempatkan pada salah satu sudut bagian luar gedung apartemen, tempat tinggalku dan Rei.


Aku menatap jalanan yang aku lalui menuju kantor, dari dalam taksi yang aku gunakan untuk pergi ke kantor dengan senyum yang tak habis-habis rasanya. Mungkin karena aku sudah merasa bahagia sekarang ini bersama Rei.


Dan juga benar-benar tersanjung atas sikap Rei padaku, dimana baik sikap maupun ucapannya selalu menggambarkan jika Rei begitu memujaku. Hal yang aku syukuri di setiap sujudku akhir-akhir ini.


--


Aku lembur hari ini, karena ada proyek baru yang diberikan oleh Pak Andra padaku dan tim.


Sudah juga mengatakan pada Rei jika aku akan lembur, namun chatku belum juga terkirim-terlihat hanya satu centang abu yang belum  berubah dari sejak aku mengirimkan chat tersebut.


Hanya satu kemungkinan, Rei sudah dalam perjalanan di udara untuk kembali ke Indonesia.


Akupun memaklumi hal itu, tanpa ada rasa kesal karena pesanku yang sudah beberapa jam itu belum terkirim juga ke nomor kontak Rei.


Karena jauh hari Rei telah mengatakan padaku, jika dia tidak akan menyentuh ponselnya jika sedang bekerja, sekalipun ada saat aman untuk menggunakan ponsel saat berada di dalam pesawat.


Namun Rei punya prinsip sendiri, dan aku menghargai prinsipnya itu.


Selain, aku tidak mau terlalu ikut campur, jika sudah menyangkut pekerjaan Rei.


Kecuali, jika Rei memintaku untuk ikut campur atau memberikan tanggapan dan pendapat, seperti saat dia ditawarkan menjadi pilot pribadi.


-


Aku memang lembur, tapi tidak sampai terlalu larut, karena timku memutuskan untuk melanjutkannya esok hari. Dan lagi, Pak Andra tidak memburu kami untuk menyelesaikannya dengan sangat cepat.


Namun aku dan dua rekan kerjaku yang terakhir keluar dari ruangan kami, karena aku dan dua rekanku itu-katakanlah memiliki tanggung jawab lebih, dalam setiap proyek yang diberikan oleh Pak Andra pada timku itu.


Gedung perkantoran sudah nampak sangat lengang, namun masih terang.


Biasanya akan digelapkan selepas jam sembilan malam, karena diwaktu sebelum itu, pada beberapa perusahaan yang menjadi merchant di dalam gedung tersebut, masing – masing, well rata-rata. Memiliki karyawan yang kemungkinan besar ada yang lembur disetiap harinya, macam perusahaan tempatku bekerja.


Aku dan dua rekan kerja yang bersamaku, berpisah di luar lobi karena dua rekan kerjaku itu telah ditunggu oleh pasangannya masing-masing, yang sudah menunggu untuk menjemput kedua rekan kerja perempuanku tersebut.


Keduanya menawarkan untuk mengantarku pulang yang mana aku tolak, karena aku tahu persis arah rumah mereka berlawanan dengan letak gedung apartemenku. Dan aku tidak mau membuat mereka repot harus bolak-balik menempuh kemacetan Jakarta hanya demi mengantarku.


Toh hari belum terlalu malam, jadi taksi masih mudah untuk didapatkan. “Tinggal ya, Li? .. Hati-hati lo.”


Ucapan kedua rekan kerjaku, kala mereka telah masuk ke dalam mobil mereka masing – masing yang dikemudikan oleh pasangan mereka.


Akupun menjawab mereka dengan juga membalas lambaian tangan kedua rekan kerjaku itu, serta kalimat pamitan dari pasangan keduanya yang sudah aku kenal.


Dimana saat melihat pasangan dua rekan kerjaku itu, aku jadi teringat pada Rei. Jika Rei sedang tidak bertugas, pasti dia akan menjemputku. Ah jadi kangen kan?...


Bicara tentang Rei...


“Lia,” ada suara bariton yang menyapaku saat aku hendak meminta satpam gedung memanggilkan satu taksi untukku.


Namun sayangnya, suara bariton itu bukanlah milik Reiji.


Melainkan milik...


“Kak Irsyad?...”


***

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2