WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 250


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


REIJI


“Orang kami akan menemanimu. Dan sudah ada juga orang kami yang sudah on the way pergi ke Villa itu untuk melihat situasi..“ Adalah yang Tuan Alvarend katakan padaku, menanggapi permintaanku untuk mendapatkan alamat villa tempat Lia berada sesuai dengan informasi yang mereka sampaikan padaku.


Aku memang sedikit memaksa, karena aku sungguh khawatir jika si bibit pebinor baj*ngan itu melakukan hal yang tidak senonoh pada Lia. Ya Allah, aku sungguh tidak dapat membayangkannya.


Makanya aku ingin cepat – cepat menyusul Lia.


“Kami tau kau gusar, tapi kau tidak bisa bertindak gegabah. Pria yang terobsesi dengan istrimu itu mungkin bukan kriminal kelas kakap yang pernah mencari masalah dengan keluarga kami. Tapi kau tidak bisa meremehkan orang gila, karena keselamatan istrimu taruhannya.“


Tapi kemudian, salah seorang ayah angkat Tuan Alvarend berbicara. Dan ucapannya itu kemudian membuatku terdiam, menelaah pria paruh baya yang kiranya seusia dengan papaku dan papa mertuaku itu.


Ucapannya soal Irsyad yang terobsesi pada Lia, menimbulkan penyesalan yang teramat sangat di dalam hatiku. Namun juga, aku sedikit bertanya-tanya dalam hati.


Apa benar sampai seperti itu?


Si bibit pebinor itu begitu terobsesi pada Lia?


Tapi jika dengan kondisi saat ini, rasanya benar jika si bibit pebinor bajingan itu memang terobsesi pada Lia.


Buktinya, si Irsyad sampai menculik Lia begini. Ah, Ya Allah. Seharusnya aku lebih peka tentang sikap si Irsyad itu dari sejak ia memberikan foto – foto yang kemudian aku tahu jika tanggal dari foto – foto itu telah si bajingan itu rekayasa.


Dan aku akan lebih waspada dalam menjaga keselamatan Lia.


-----


Setelah ini aku akan bertanya pada salah satu bodyguard yang bekerja pada keluarga bosku ini, tentang gaji seorang bodyguard. Karena rasanya aku akan mempekerjakan satu orang bodyguard untuk menyertai Lia kemanapun dia pergi keluar, saat aku sedang bertugas.


Dari gaji yang aku terima sebagai pilot pribadi dari sebuah keluarga bernama Adjieran Smith ini sih, rasanya aku sanggup mempekerjakan kalau hanya satu bodyguard saja untuk Lia.


Atau bahkan dua bodyguard. Karena tidak mungkin gaji mereka sampai ratusan juta setiap bulannya seperti aku bukan?


“Beberapa orangku akan menyertaimu.”


Suara Tuan Alvarend membuatku terfokus padanya lagi.


Aku yang sempat menolak tawaran Tuan Alvarend mengenai orang-orangnya yang akan menyertaiku pergi ke tempat Lia berada, pada akhirnya menganggukkan kepala.


Selain Tuan Alvarend pasti punya alasan dengan bersikeras untuk menyertakan beberapa orangnya untuk menemaniku, setidaknya aku menghargai niat baik Tuan Alvarend termasuk keluarganya yang membantuku sampai ke tahap ini.


“Baiklah Tuan..”


Aku berujar kemudian seraya mengangguk.


Dan setelahnya, salah seorang pria yang aku ketahui adalah juga orang kepercayaan Tuan Alvarend selain dari pria yang bernama Kafeel, berdiri dari duduknya.


“Kita berangkat sekarang, Pak Reiji?..”


**


Reiji langsung mengangguk, ketika pria yang wajahnya agak ke arab-arab-an itu bicara padanya. Sambil Reiji menyahut. “Iya, Pak Ammar—“


“Tapi mohon maaf, kalau aku tidak dapat ikut serta bersamamu, Rei..”

__ADS_1


Suara bos muda Reiji terdengar saat Reiji menanggapi pertanyaan yang juga sebuah ajakan dari salah satu orang kepercayaan keluarga yang mempekerjakannya sebagai pilot pribadi----bernama Ammar itu.


“Tidak apa-apa, Tuan. Sampai dengan ini, anda, berikut anda-anda juga, Tuan Jeff, Tuan John, Pak Kafeel, termasuk anda, Pak Ammar..” tanggap Reiji pada bos mudanya itu, sekaligus menatap santun bergantian pada empat laki-laki lain yang ia sebutkan. “Sudah sangat membantu saya.”


Lima orang laki-laki yang Reiji sebutkan tadi, sama-sama menarik sudut bibirnya.


“Anak buah kami yang sudah berjalan ke tempat di mana istrimu berada, akan langsung menyisir tempat itu untuk memastikan lebih jelas tentang keberadaan istrimu. Andai ada sesuatu yang mengancam istrimu, mereka akan bergerak lebih dulu.”


Satu ayah angkat dari bos muda Reiji kemudian mendekati laki-laki itu sambil menepuk-nepuk pelan pundak Reiji untuk menenangkan.


Reiji mengangguk dan mengulas senyuman, serta mengucapkan terima kasihnya pada salah satu laki-laki yang Reiji ketahui adalah ayah angkat dari bos mudanya itu.


‘Gue berharap Lia baik-baik saja, saat anak buah Tuan Alva dan keluarganya yang udah jalan duluan itu memastikan keberadaannya..’


Monolog Reiji penuh arti dalam hatinya.


‘Kalau sampai Irsyad telah berlaku amat sangat kurang ajar pada Lia, sumpah demi apapun, gue akan langsung menghabisinya!’


Lalu Reiji membatin dengan geram. Setelahnya, suara bos muda Reiji terdengar lagi. Reiji pun memperhatikan bos mudanya itu yang bicara pada salah satu orang kepercayaannya yang bernama Ammar.


“Jangan lupa bekali dia, Am.”


Reiji sedikit tertegun. ‘Bekali dia?—‘


“Baik, Tuan—“


‘Dia itu, gue maksudnya? Tapi ‘bekali’ itu maksudnya apa?—‘


“Saya berikan langsung, atau mengajaknya untuk memilih?—“


“Rei,” panggil bos mudanya Reiji sambil memandang pada suami Malia itu yang sedang bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.


“Ya, Tuan Alva?” sahut Reiji kemudian, sambil memandang ke arah bos mudanya itu yang kemudian bertanya,


“Apa kau paham soal senjata?”


**


Reiji sudah berada di dalam mobil bersama beberapa orang yang merupakan anak buah dari satu keluarga yang mempekerjakannya sebagai pilot pribadi.


“Eum, Pak Ammar—“


“Ya, Pak Rei?—“


“Apa ini perlu?“ tukas Reiji sambil memandangi satu benda yang ada di tangannya.


Sebuah senjata api jenis pistol, yang diberikan Ammar padanya, tak lama setelah bos muda Reiji itu bicara soal ‘memberikan bekal’.


Orang kepercayaan bos muda Reiji yang duduk di sampingnya itu kemudian mengulum senyuman selepas Reiji berujar, sambil sedikit menyodorkan senjata api yang ada di tangannya itu.


Reiji agak awam dengan senjata api.


Tahu, beberapa jenis senjata api dari game ponsel yang sering ia mainkan, namun tidak pernah memegang senjata api tersebut secara langsung.


Dua jenis senjata yang pernah Reiji pegang seumur hidupnya adalah, senjata dalam permainan paintball berisikan peluru cat. Dan satu lagi, adalah ‘senjata’ Reiji sendiri yang sejak menikah seringkali Reiji ‘tembakkan’ ke Malia, ‘pelurunya’.


“Apa dia seberbahaya itu sampai harus menyiapkan pistol begini?..”

__ADS_1


“Perlu atau tidak perlu, berbahaya atau tidak. Yang perlu Pak Reiji ingat adalah, Tuan Alva dan keluarganya memegang prinsip, ‘berjaga-jaga’..”


“Begitu, ya?—“


“Iya,” tukas Ammar. “Bahkan adik-adik lelaki Tuan Alvarend terkecuali tuan muda paling kecil, pun sudah dibekali oleh pistol masing-masingnya—“


“Wow.”


“Atas nama keluarga mereka pernah beberapa kali mengalami sasaran kejahatan, semua pewaris muda keluarga Tuan Alva juga sudah dibekali dengan cara menggunakan senjata, termasuk para gadis, selain ibu mereka.”


‘Lebih wow lagi,’ takjub Reiji, namun dalam hatinya kini. ‘Ni positif gue kerja sama keluarga mafia keknya.. Ah sebodolah!.. Yang penting mereka bisa bantu gue selamatkan Lia.’ Monolog Reiji dalam hati setelahnya.


Lalu Reiji menggenggam pistol yang diberikan kepadanya, sambil ia perhatikan senjata api jenis glock yang ada di tangannya itu----yang mana senjata api yang termasuk ke dalam kategori senapan semi otomatis tersebut, Reiji ketahui dari sebuah game ponsel yang sering ia mainkan.


“Anda tahu cara menggunakannya, Pak Rei?..” tanya Ammar yang memperhatikan gerak-gerik Reiji yang memandangi senjata api di tangannya itu.


“Iya, tau..”


Reiji menjawab pertanyaan Ammar.


‘Insya Allah.’


**


Reiji sedikit mengernyit ketika mobil yang ditumpanginya bersama beberapa orang dari keluarga yang mempekerjakannya itu, memasuki sebuah gedung perkantoran yang cukup terbilang megah. “Eum—“


“Ya, Pak Reiji?” tukas Ammar yang merasa jika Reiji hendak berbicara padanya. “Anda ingin mengatakan sesuatu?..” tanya Ammar kemudian.


Reiji mengangguk. “Iya,” jawab Reiji setelahnya. “Mohon maaf sebelumnya, tapi kenapa kita ke gedung ini, Pak Ammar?—“


“Untuk mempersingkat waktu agar cepat sampai ke Bogor.”


Reiji sedikit mengernyit lagi, namun kali ini Reiji tak melontarkan pertanyaan.


‘Mempersingkat waktu kenapa mesti mampir ke gedung perkantoran begini?—‘


“Mari Pak Rei.”


Ammar berkata saat mobil yang pria itu tumpangi dengan Reiji di sampingnya, telah sampai di pelataran lobi sebuah gedung perkantoran.


Reiji langsung mengangguk mengiyakan, lalu mengikuti langkah Ammar yang menuntunnya menuju ke sebuah lift yang terlihat khusus pada lantai di lobi utama gedung.


‘Apa mereka punya lorong waktu atau ini lift adalah prototypenya pintu Doraemon?’ batin Reiji yang orangnya mengikuti langkah Ammar dalam diam, atas dasar ucapan pria berwajah agak-agak timur tengah itu mengatakan soal mempersingkat waktu.


Reiji tetap bungkam. sampai dengan pintu lift terbuka setelah Reiji dan beberapa orang bosnya masuk ke dalam lift tersebut yang berhenti di bagian paling atas gedung perkantoran tempat Reiji berada saat ini.


Dan di atap gedung tersebut telah terparkir sebuah helikopter yang muat sampai empat penumpang selain pilot dan co pilot.


Baru kemudian Reiji paham tentang mempersingkat waktu yang pria bernama Ammar itu katakan.


‘Ah ya ampun, kenapa gue ga sampe kepikiran kalo itu keluarga biang sultan punya heli?..’ Reiji membatin lagi. ‘Jangan-jangan kapal selem sama tank pun mereka pun punya.’


***


Bersambung..


Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi para reader yang merayakannya.

__ADS_1


Mohon Maaf Lahir dan Batin.


__ADS_2