WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 211


__ADS_3

Selamat membaca....


****************


MALIA


"Berhenti menghina Irly, Yang. Dia ga seburuk itu.."


Heh!


Ngejaga banget harga diri itu perempuan si Rei.


Untuk itu, Demi Tuhan aku kesal! Banget! Karna bisa-bisanya Rei ngebelain banget itu sahabat perempuannya yang aku cibir dengan tajam.


Dan aku tidak terima Rei menunjukkan sikap seperti itu tentang si Shirly itu di depanku.


Aku tersinggung.


Tapi aku tidak sampai meledak dengan berteriak pada Rei bahwasanya aku tidak terima dengan sikapnya yang terlihat begitu menjaga harga diri sahabat perempuannya itu, bahkan di hadapanku


“Sorry, keceplosan. Gue ga ada maksud buat ngatain simpenan lo itu, Reiji---Shakeel ...”


Jadi begitu saja aku menunjukkan rasa tersinggung dan ketidakterimaanku pada Reiji yang membela si Shirly itu.


Selain aku menutup pintu kamarku dan Rei dengan membantingnya amat keras setelah aku mengatakan kalimat super sinisku tadi.


--


Seumur-umur aku menikah dengan Rei walau belum lama juga pernikahanku dengannya berjalan, namun baru ini rasanya aku dibuat kesal setengah mati oleh Rei sampai rasanya aku sangat geram.


Ya kesal plus geram sama si Rei, tapi kesal dan geramku itu lebih-lebih lagi sama si Shirly.


Apa sih kelebihan perempuan itu sampai Rei menjaga banget harga dirinya, bahkan di depanku.


Gue nih istri lo, Rei!


Bukannya meredam emosi gue, lo malah meninggikan dia yang katanya cuma sahabat lo?!


Masih ada rasa lo sama dia jangan – jangan! Dan bullshit aja yang katanya lo udah cinta mati sama gue!


Ah ya Tuhan, emosinya akuu....

__ADS_1


Rasa ingin aku datangi itu si Shirly dan kumaki – maki agar dia menjauh dari Rei.


Karena gara – gara dia, Rei sempat membentakku walau tidak keras, termasuk juga langsung minta maaf.


Namun tetap saja aku tidak terima sikap Rei yang seperti itu padaku. Bahkan aku yang katakanlah mengarah pada perselingkuhan dengan Irsyad saat aku sedang dekat – dekatnya dengan lelaki itu dulu, tidak sampai membentakku walau aku tahu Rei lumayan geram dengan kelakuanku.


Tapi si Shirly itu bisa membuat hal itu Rei lakukan padaku.


Dasar bibit pelakor. Ugh!


--


Entah sudah berapa kali aku mengumpat dari sejak aku keluar dari kamarku dan Rei lalu masuk ke kamar mandi.


Ingin sekali aku mandi air dingin untuk menyejukkan kepalaku yang panas ini, termasuk ingin menyelusupkan air es ke dalam hatiku yang sama panasnya dengan kepalaku sekarang.


Sayangnya itu tidak mungkin bisa aku lakukan.


Aku tidak bisa menyelusupkan air es ke dalam hatiku, dan aku rasanya malas sekali untuk mandi – meskipun tubuhku terasa agak lengket karena aku habis ‘berolahraga’ dengan Rei beberapa saat yang lalu.


Walhasil, aku hanya bisa menahan gemuruh kesal di dalam hatiku ini. Ya pada Rei, sekali lagi---terlebih pada si bibit pelakor itu. Biar saja mulai sekarang sahabat perempuan Rei itu aku sebut begitu, karena sudah enggan rasanya aku menyebut nama itu perempuan!


****


Lalu Malia menghembuskan nafasnya sedikit berat sambil melirik pintu kamar mandi tempat ia berada di dalamnya itu saat ini.


Malia enggan sebenarnya untuk keluar dari kamar mandi lalu bertemu dengan Reiji.


Karena kesal Malia belum hilang pada Reiji atas sikap suaminya itu yang ia nilai membela Shirly dihadapannya. ‘Tapi masa iya gue tidur di sini?’


****


‘Eh!’ Malia terkesiap dalam hati ketika ia membuka pintu kamar mandi.


“Yang....”


Dimana ada Reiji yang berdiri tepat di hadapan Malia ketika ia membuka pintu kamar mandi dalam unit apartemennya dan Reiji itu.


‘Males amat gue ngomong sama dia sekarang....’ batin Malia sambil ia melengos dan melewati Reiji begitu saja, tanpa lagi mau menatap suaminya itu setelah sempat memandang Reiji sebentar kala Malia terkesiap melihat Reiji ada di depannya ketika ia membuka pintu.


Sementara Reiji menghela nafasnya frustasi karena sikap Malia padanya.

__ADS_1


****


REIJI


BRAKK!


Sekali lagi kudengar suara pintu yang tertutup dengan sangat keras ketika Lia telah keluar dari kamar kami dengan menutup pintu kamar kami itu dengan kerasnya sampai membuatku sempat terkejut.


Entah itu pintu kamar mandi atau pintu ruang serbaguna yang ada di dalam unit apartemen kami tersebut, namun yang jelas aku yakin bukan pintu utama mengingat pakaian yang Lia kenakan.


Ah tapi tidak, siapa tahu karena kesal Lia tak ingat dengan pakaiannya yang sedang ia kenakan saat ini.


Aku buru-buru mengejarnya. Selain aku khawatir Lia lupa dengan pakaian yang ia kenakan lalu pergi keluar dari unit apartemen begitu saja saking ia ngambek, aku memang harus segera mengejar Lia---karena dengan sikapnya yang membanting pintu dengan keras, Lia bukan hanya sekedar ngambek sekarang.


--


Aku sudah berdiri di depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat setelah aku keluar dari kamarku dan Lia untuk mengejar dan menenangkan Lia.


Yang mana memang kamar mandi kami itu, yang aku cek pertama kali perihal keberadaan Lia setelah keluar dari kamar dengan keadaan yang sangat kesal.


Dimana tanganku yang sudah hampir meraih knob pintu kamar mandi kami itu kemudian tergantung saat aku mendengar sayup-sayup suara kucuran air dari dalamnya.


Selain aku mendengar  suara sesuatu yang dilempar di dalam kamar mandi, yang kupikir pasti Lia sedang melepaskan kekesalannya dengan melempar sesuatu dengan sembarang walau tidak sampai aku dengar suara benda yang pecah dengan keras.


Jadi aku urung untuk membuka pintu kamar mandi kami itu, dan memilih untuk menunggu Lia keluar dari dalam kamar mandi. Yang mana hal itu aku putuskan dengan cepat, agar aku tidak menambah kekesalan Lia saat ini padaku bukan karena aku takut kena lempar barang dan sebagainya---tapi lebih kepada memberikan dulu Lia sejenak waktu untuk menyejukkan hatinya yang aku sangat yakini sedang begitu tersulut emosi.


Dan ya, memang nampak sekali jika Lia emosi serta sangat buruk moodnya.


Karena ketika pintu kamar mandi terbuka lalu ia sempat terlihat kaget sesaat sambil memandangku, Lia langsung saja melengos dan melewatiku tanpa bersuara atau menoleh sekali lagi padaku---termasuk mengabaikan panggilanku.


Membuat hatiku jadi tak menentu.


Dan semakin tak menentu saat ketika aku raih tangannya, Lia lalu bilang,


“Malam ini gue ga mau tidur seranjang sama lo....”


Mampus kan gue?!


***


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2