
Selamat membaca....
***
“Kamu ada penerbangan jam berapa hari ini Rei?” tanya Malia kala ia dan Reiji telah bangun dari tidur mereka.
Malia kini sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor tempatnya bekerja, dan Reiji baru saja selesai mandi.
“Memang semalem aku belum bilang ya?” Reiji yang sedang berpakaian itu balik bertanya.
“Belum,” jawab Malia yang sedang duduk di meja rias dan sedang mencatok rambutnya.
“Hari ini harusnya aku off, tapi kemarin ingat kamu mau beberes kamar sebelah besok, jadi kemarin aku langsung buat permohonan untuk tuker jadwal sama pilot yang lain.”
Malia hanya ber oh ria.
“Jadi besok kamu off total?”
“Iya.” Jawab Reiji. “Masa aku tega ngebiarin istri aku beberes sendirian?” celoteh Reiji.
Reiji kemudian menghampiri Malia selepas ia selesai berpakaian di walk-in-closet.
“Sini, aku bantuin? ....” Reiji sudah berdiri di belakang Malia, ia mengenakan pakaian santai.
“Ga usah, udah mau selesai juga,” jawab Malia.
“Ya udah kalo gitu, aku buat sarapan dulu deh, ya?”
“Udah biar aku aja, aku juga udah mau selesai ini,” sergah Malia.
Reiji tersenyum.
“Masih banyak waktu sebelum berangkat,” sambung Malia kemudian.
“Udah, biar aku aja yang bikin sarapan. Kamunya juga udah rapih gini. Nanti kotor malah baju kamu, Yang.”
“Kan ada celemek, Rei.”
“Nyonya Malia .... eh Nyonya Reiji maksudnya ....”
Reiji merundukkan tubuhnya, hingga kepalanya dan kepala Malia menjadi sejajar.
“Dandan aja tenang, tenang, biar suaminya yang tampan, baik hati, pengertian, rajin menabung dan tidak sombong ini, yang bikin sarapan.”
Cup!.
Lalu Reiji mengecup sekilas pipi Malia.
“Oke?” ucap Reiji sembari masih dengan posisi wajahnya yang berdekatan dengan Malia.
Malia pun menarik sudut bibirnya. “Iya udah kalo gitu....” sahut Malia. “Makasih ya?” tambahnya.
Reiji pun balas tersenyum pada Malia.
“Mau sarapan apa?.... roti tangkup biasa, roti bakar, atau sereal, atau apa?”
“Roti tangkup biasa aja,” jawab Malia.
“Ga mau roti bakar aja?” tanya Reiji lagi. Malia menggeleng dengan masih tersenyum.
“Ga usah, repot nanti kamunya....” jawab Malia.
“Mana ada repot sih, Yang. Roti bakar aja.”
“Ya udah terserah kamu.”
Malia menyerahkan keputusan soal sarapan pada Reiji yang kemudian menegakkan tubuhnya.
“Ya udah aku bikinin sekarang ya?”
“Iya ....” sahut Malia seraya mengangguk.
Cup!.
Reiji mengecup pipi Malia sekali lagi sebelum ia keluar dari kamar dan membuat sarapan untuk Malia dan dirinya.
“Mau teh apa kopi, Yang?!”
Reiji berseru di depan pintu kamar yang terbuka.
“Apa aja!” sahut Malia.
“Teh aja ya?!”
“Iya!”
“Oke sip!” tukas Reiji, lalu ia berjalan menjauhi pintu kamar.
Malia kembali fokus pada cermin meja rias, untuk sedikit memoles wajahnya.
“Jangan cakep-cakep dandannya!” seru Reiji, yang orangnya sudah berjalan menuju pantri.
Malia mendengus geli saja mendengar seruan Reiji barusan. Seruan yang selalu Reiji katakan sejak mereka tinggal di apartemen, dan sejak Malia sudah mulai kembali bekerja selepas cutinya habis.
Malia mengoles lip tint nya kemudian. Lalu merapihkan rambutnya, sembari mengecek penampilannya.
Malia juga menyiapkan pakaian dinas Reiji dan mengeluarkannya dari gantungan di dalam lemari mereka yang ada di dalam walk in closet.
Termasuk juga Nav Bag Reiji, yang memang selalu Reiji kenakan setiap kali ia pergi bertugas, untuk menyimpan barang-barang penting miliknya.
Setelahnya Malia mengambil tas kerjanya, dan menyusul Reiji ke pantri. Tak lupa juga Malia membawa serta pakaian kotornya dan Reiji yang telah dirapihkan dalam laundry bag, untuk Malia bawa ke tempat Laundry pakaian yang berada di bagian bawah gedung apartemen mereka.
*
“Oh iya Rei, hari ini kamu ada penerbangan kemana emangnya?” tanya Malia pada Reiji saat mereka hendak mampir dulu ke gerai jasa Laundry pakaian 24 jam yang ada di area gedung apartemen, tempat tinggal mereka, sebelum ke area parkir basement apartemen.
“Surabaya.”
“Jam?....” tanya Malia lagi.
“Sekitar jam satu-an....”
“Hmm..”
“Jam enam atau jam tujuh aku dah balik lagi ke Jakarta kok ..”
__ADS_1
“Ya udah...”
Malia manggut-manggut.
“Oh iya, seragam kamu udah aku keluarin dari lemari. Sama Nav Bag kamu juga udah aku simpen di atas nakas dalem walk in closet,” ucap Malia.
Reiji tersenyum kemudian. “Makasih ya?” Reiji mengusap pelan kepala Malia.
“Sama-sama,” sahut Malia.
“Tapi kayaknya aku ga bisa jemput kamu, Yang,” ucap Reiji kemudian.
“Iya, ga apa-apa.... Nanti aku pulang naik taksi online aja..”
“Atau gini aja, aku anter kamu sampai kantor, nanti kunci mobil kamu yang bawa, jadi kamu pulang pakai mobil, jadi aku aja yang naik taksi online untuk balik kesini habis anter kamu.”
“Repot banget, Rei .....” sahut Malia.
“Ya bukan gitu, Yang,” tukas Reiji. “Aku khawatir aja kalo kamu naik taksi online.”
“Ya ilaah ....” tukas Malia. “Ngapain khawatir sih?. Udah biasa aku juga naik taksi online.”
“Meski gitu, Yang..”
“Udah ah, ga usah dipikirin soal itu. Lagian pas aku pulang juga kondisi jalan masih rame. Udah yuk ah!”
Kemudian Malia menarik Reiji untuk segera menyelesaikan urusan mereka di gerai jasa Laundry pakaian dalam area gedung apartemen, tempat tinggal mereka itu.
*
“Yang, kamu pegang aja ya ini kunci mobil?”
Reiji berucap pada Malia setelah ia telah sampai mengemudikan mobilnya untuk mengantar Malia ke gedung perkantoran tempat istrinya itu bekerja.
“Ga mau ah!”
Malia menolak permintaan Reiji dengan cepat.
“Lagian aku juga lagi males nyetir tau ga?”
Reiji menghela nafasnya pendek.
“Ya udah kalo gitu,” ucap Reiji. “Tapi nanti pas udah selesai kerja, kamu hubungi aku atau kirim chat ya?”
“Iyaa, Reiii.....”
Malia sampai mencubit pipi Reiji saking ia gemas pada suaminya itu yang berlebihan menurut Malia.
Dan Reiji tersenyum karenanya.
Padahal Malia hanya mencubit gemas pipinya, tapi rasanya Reiji sudah bahagia.
“Udah ya? Aku turun sekarang?” ucap Malia kemudian. Reiji pun mengangguk.
“Kiss dulu dong,” pinta Reiji sembari mesam-mesam.
Malia pun mencebik.
“Nanti aja deh di apartemen!” kata Malia.
“Sekarang.”
“Ih, nanti aku terlambat nih!”
Malia merengek, namun ia tidak dapat turun dari mobil karena Reiji menahan lengannya.
“Mau cium aku disini, atau aku ikut turun dan cium kamu di depan lobi?” ancam Reiji. “Pilih mana?” sambungnya.
“Ga dua-duanya!” tukas Malia.
“Ya udah disini aja kamunya kalo gitu.”
“Ish!” Malia mendesis sebal.
Cup!.
Satu kecupan Malia daratkan di pipi sebelah kiri Reiji.
“Dah tuh!”
“Sebelah kanan juga, biar adil.”
Malia mencebik lagi.
Cup!.
“Dah ah!”
“Biar lengkap.”
Reiji menunjuk bibirnya dengan telunjuk.
“Ampuunn!!”
Malia menggeleng sebal pada kelakuan suaminya ini.
Cup!.
Tapi tetap juga Malia mencium bibir Reiji seperti yang suaminya itu minta.
“Nah gitu baru bener. Kan bikin seneng suami dapet pahala.”
“Tau ah!”
“Dah gih sana masuk!”
“Tangan!”
Malia menadahkan tangannya pada Reiji.
Reiji menampakkan senyumnya sembari ia memberikan tangannya pada Malia, yang kemudian mencium tangan Reiji dengan takdzim. Dengan tangan Reiji yang satunya membelai kepala Malia, kala istrinya itu sedang mencium takdzim tangan kanannya.
“Istri solehah emang Nyonya Reiji nih .....”
Reiji meledek sekaligus tersenyum lebar pada Malia.
__ADS_1
“Iya, sayang suaminya mesum!”
Malia membalas dengan cepat ledekan Reiji, dan segera keluar dari dalam mobil, dengan terkekeh kecil.
Reiji pun ikutan terkekeh.
“Assalamu’alaikum!” ucap Malia sembari ia keluar dari mobil.
“Wa’alaikumsalam wahai bidadari surgaku.” Kekeh Reiji.
Malia tersenyum lebar mendengar sahutan Reiji barusan.
“Aamiin!” Malia dan Reiji kompak bersuara.
Reiji tersenyum lebar, sembari ia menyalakan mesin mobilnya untuk pergi kembali ke apartemennya, setelah mengantar Malia pergi bekerja.
Hanya hal kecil dari Malia, candaan receh, yang ditanggapi dengan senyuman dan kekehan Malia.
Tapi lagi-lagi itu Reiji rasa cukup membuat hatinya berbunga-bunga pagi ini.
*
REIJI
Pagi ini aku bahagia.
Interaksiku dengan Malia yang sikapnya sudah mulai lembut dan perhatian padaku, sudah cukup menjadi mood booster baik-ku untuk bekerja hari ini.
Semakin baik lagi, kala aku mendapati sebuah chat dari Malia saat aku telah kembali dari Jakarta, dari tugasku mengemudikan pesawat ke Surabaya.
‘Rei, aku pulang tango nih. Kalo aku susul kamu ke Bandara, boleh ga?’
Demikian bunyi chat Malia yang aku baca. Yang mana, tentu saja aku iyakan dengan segera.
‘Boleh deh ya?. Aku bareng temen yang mau jemput pacarnya. Lagian aku juga udah di jalan juga.’
Pesan kedua dari Malia yang aku baca, yang waktunya telah berselang beberapa belas menit membuatku terkekeh.
Langsung saja aku membalas pesan Malia, setelah aku selesai membaca pesan dari istriku yang sialnya sedang palang merah itu. Aku masih belum benar-benar selesai bertugas, karena setelah melakukan penerbangan aku harus melakukan pemeriksaan teknis pada pesawat, sama seperti sebelum aku melakukan keberangkatan.
Hal wajib yang harus dilakukan dan memang ada dalam job desk seorang pilot, demi keselamatan semua orang.
Jadi aku hanya membalas chat Malia, karena masih ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan.
Setelahnya aku menunggu kedatangan Malia di Bandara dengan perasaanku yang senang tentunya. Dan sambil menunggu kedatangan Malia ke Bandara, seperti biasa aku akan melakukan pengecekan teknis setelah selesai penerbangan.
Tugas rutinku setiap kali aku bekerja. Lalu setelahnya melakukan briefing dengan para kru pesawat yang tadi menyertaiku dalam penerbangan ke Surabaya-Jakarta. Hingga satu jam berlalu, dan aku telah benar-benar selesai bertugas, lalu berjalan turun dari pesawat bersama para kru yang tadi briefing bersamaku, sekaligus mengecek kembali ponselku yang sudah bergetar dari sejak aku sedang melakukan pengecekan teknis dan briefing.
Pasti Malia, pikirku.
Mungkin Malia telah sampai di Bandara dan berusaha menghubungiku.
Tapi ternyata, setelah aku meraih ponsel yang sudah aku nyalakan kembali setelah aku tiba di Jakarta, namun ku senyapkan dan hanya ku setel getar saja sebelum tugasku benar-benar selesai, panggilan itu bukan dari Malia.
Shirly.
Dan kemudian aku mengingat sesuatu.
Yang membuat aku kemudian menepak jidatku.
Aku lupa, jika hari ini aku ada janji temu dengan Shirly.
“Sorry banget ya Ir. Gue beneran lupa ...”
“Yah, gimana ya, gue baru banget sampe dari Surabaya nih Ir.”
“Iya, ga jadi. Gue switch jadi besok, ada urusan sama Lia soalnya...”
“Lia mau nyusulin gue kesini, gue takutnya dia mau ngajak gue kemana gitu. Jadi gue ga bisa janji.”
“Iya udah. Makasih and sorry sekali lagi.”
“Iya nanti gue kabarin ...”
Dan tanpa menunggu lama, aku langsung menghubungi Shirly, setelah aku mengingat jika aku punya janji bertemu dengannya hari ini. yang mana aku menghubungi Shirly untuk membatalkan janji temu kami.
Tentu saja, karena istriku akan datang menghampiriku di tempat kerjaku ini, selain di udara.
Aku sedikit merasa tidak enak pada Shirly sebenarnya, karena janji bertemu kami itu sudah direncanakan sejak dua hari yang lalu.
Dan hanya malam ini kesempatan kami untuk saling bertemu, karena Shirly akan kembali ke Australia besok.
Tapi ternyata Malia punya inisiatif untuk datang ke Bandara dan menghampiriku, menjemputku atau apalah, tentu saja aku harus mengalahkan janji bertemuku dengan Shirly.
Malia istriku, dan tentu saja aku harus lebih mementingkan dirinya daripada Shirly bukan?.
Meskipun Shirly sahabatku, tapi aku pria beristri sekarang. Dan tentunya, sebagai suami, aku harus lebih mementingkan kepentingan istriku.
Karena meski Malia belum mencintaiku, aku akan tetap mendahulukan kepentingannya, bahkan diatas kepentinganku. Satu saja, aku ingin Malia selalu bahagia.
Jadi setiap keinginannya akan aku lakukan, berikan jika memang aku bisa. Walau kadang aku suka gemes sendiri kalo ingat sulitnya Malia untuk mencintaiku. Yang membuatku kadang berpikir, apa ada laki-laki yang Malia cintai, makanya sulit untuknya mencintaiku?.
Apa aku harus bertanya terang-terangan soal itu ya, pada Malia?. Soal apa dia mencintai seseorang dalam hatinya?.
Ah sebodo lah, yang jelas Malia istriku sekarang. Milikku. Yang sekuat tenaga akan aku pertahankan, dari para pebinor diluaran.
Selain aku harus sabar.
Karena orang sabar rezekinya lebar.
Haha!.
Aamiin.
Harus sabar, karena aku sedang terus berusaha.
Dimana aku yakin, jika semua akan indah pada waktunya.
Semoga saja, waktu yang indah untuk hubunganku dan Malia segera datang.
Lalu kisahku dan Malia akan menjadi kisah yang indah tak berapa lama lagi.
Aamiin.
*
__ADS_1
Bersambung ..