WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 94


__ADS_3

Selamat membaca....


***


MALIA


Apa yang sedang terjadi denganku dan Reiji saat ini membuatku ingin kembali ke saat dimana aku belum mengetahui soal Reiji yang pernah menyimpan rasa cintanya untuk Irly.


Kembali ke saat dimana Irsyad belum muncul kembali ke dalam kehidupanku.


Bahkan aku berharap jika aku tidak pernah melihat kotak biru milik Reiji dan membongkar isinya, hingga pemicu rasa penasaranku tentang Reiji dan Shirly tidak pernah aku lihat.


Tidak pernah iseng mau membaca buku koleksi Reiji, agar aku tidak pernah menemukan foto Shirly yang tergores lambang cinta di belakangnya, hingga membuatku berpikir jika Reiji kiranya sama denganku.


Belum move-on dari masa lalu.


Hingga menciptakan kemelut dalam otakku, yang membuat diriku menjadi menahan diri untuk mengingkari janjiku pada Reiji untuk membuka lebar-lebar pintu hatiku agar Reiji dapat masuk dengan mudah.


Membuatku menjadi merasa dikhianati, meskipun Reiji sudah berkali-kali meyakinkanku jika perasaannya pada Shirly sudah sepenuhnya hilang.


Sudah juga aku mencoba untuk mempercayainya, tapi pada kenyataannya aku entah kenapa sulit untuk mempercayainya.


Ya itu, karena aku menyamakan Reiji denganku.


Aku yang sulit melupakan Irsyad dan terbelenggu atas perasaanku pada laki-laki dimasa laluku itu. Lalu, pada akhirnya hal tersebut membuatku berpikir jika Reiji sama saja denganku.


Reiji yang katanya hanya menganggap Shirly sebagai temannya-sahabatnya, tidak lebih dari itu, membuatku menjadi kian ragu setelah aku tahu jika mereka masih berhubungan.


Yah, walau masuk akal juga sih sesuai dengan yang Reiji katakan padaku. Dia dan Shirly masih berteman. Jadi wajar saja kalau masih berhubungan. Tapi entah kenapa hal itu menjadi alibiku untuk menjadi kesal pada Reiji.


Membuatku melupakan janjiku menjadi istri yang baik untuk Reiji.


Dan keadaan itu, kian berlarut setelah aku kembali bertemu Irsyad. Rasanya semakin larut, dengan sikap Irsyad yang membuatku ambigu kala kami bertemu lagi setelah beberapa tahun tidak bertemu, bahkan hilang komunikasi.


Irsyad yang aku merasa melihat tatapan terluka dalam sorot matanya, kala ia mengetahui jika aku telah menikah.


Serta alasan dirinya kembali lagi ke Jakarta yang membuatku cukup terkejut, karena dia resign dari pekerjaan di Perusahaan impiannya yang berada di London.


Lalu soal ‘kejutan’ untukku yang Irsyad bahas, membuatku mengurungkan niat untuk mengurungkan niatku mengubur dalam-dalam tentang seorang Irsyad dalam hatiku.


Meski sampai detik ini, Irsyad tidak mengatakan kejutan apa sebenarnya itu.


Membuatku berpikir dan bertanya dalam hatiku ini, mungkinkah kembalinya Irsyad ke Jakarta itu untukku?.


Karena setelah sekian lama, lalu ia menyadari perasaannya padaku, bahwasanya Irsyad mencintaiku.


Dan kembalinya Irsyad ke Jakarta saat ini sampai resign dari tempat kerja impiannya itu, karena Irsyad ingin bersamaku.


Pada akhirnya, dugaan-dugaanku tentang kembalinya Irsyad itu membuat hati dan pikiranku menjadi kacau. Membuat aku menjadi lupa dan malas mengingat atas janji untuk menjadi istri yang baik bagi Reiji.


Kehadiran Irsyad bagai sebuah dukungan bagiku yang meragukan ucapan Reiji yang katanya sudah mencintaiku itu.


Yang berujung sebuah penolakan dariku pada Reiji, akibat kesalku yang hadir gara-gara aku mengingat lagi soal perasaan yang pernah Reiji punya untuk Shirly.


Tapi aku tidak menampik, jika ada rasa bersalah dalam relung hatiku pada Reiji.


Reiji yang terlihat marah jika aku mengungkit tentang Shirly, dan untuk pertama kalinya dia berkata dengan nada tinggi padaku itu sepertinya menyimpan kecewanya padaku, dan aku sekilas melihatnya dalam sorot mata Reiji.


Tapi aku sama sekali tidak merasa tersinggung karena Reiji berbicara dengan nada tinggi padaku seperti itu.


Mungkin, sebab aku ‘tau diri’.


Tau diri, pada diriku ini yang berhati labil.


Labil, karena masih terbelenggu akan masa lalu.


Ah Tuhan, rasanya aku ingin kembali ke saat sebelum Irsyad aku temui lagi setelah aku menikah dengan Reiji.


Kalau perlu, aku ingin agar Irsyad tidak pernah kembali ke Jakarta, atau datang menemuiku lagi.


Lalu aku, tidak perlu merasa untuk tidak enak menolak ajakan Irsyad untuk ‘mengobrol’, yang pada akhirnya sesi ‘mengobrol’ yang aku pikir hanya sekedar ‘saling menyapa’ karena telah lama tidak bertemu, menjadi macam jadwal rutinku belakangan ini.


Yang aku pikir sesi ‘mengobrol’ ku dengan Irsyad adalah hanya ‘saling menyapa’ lalu kemudian berpisah dan menjalani hidup masing-masing, ternyata berkelanjutan. Irsyad sudah beberapa kali mengajakku untuk bertemu.


Pernah menimbang untuk menolak, tapi pada akhirnya aku tak kuasa menolak ajakan Irsyad untuk kembali bertemu.


Dan sialnya, hatiku merasa senang sekali saat bertemu lagi dengan Irsyad..


Oh Rei, aku kesal mengetahui kalau dia dan Shirly masih berteman dan berhubungan baik.

__ADS_1


Sementara aku sendiri?....


---


Ingatan pada kenangan soal Reiji berputar di otakku.


Sejak aku mengenal Reiji, aku menghormatinya sebagai seorang kakak lelaki.


Terbiasa dengan pembawaan Reiji yang nampak kalem dan tak banyak bicara. Namun, ia kerap kali memberikan nasihat-nasihat padaku dan Avi.


Yah, meski kadang dengan sikap yang menyebalkan.


Tapi aku, tetap menghormatinya.


Dan setelah kami menjadi suami istri, setelah persoalan perasaan spesial Reiji dimasa lalu pada Shirly, kemudian aku menjadi bersikap seolah sentimen pada Reiji, ia berlaku seperti dulu jika ia sedang menasehatiku dan Avi dengan gayanya yang terkesan cuek.


Apa yang Reiji katakan padaku perihal permasalahan masa lalunya dan Shirly ini, aku akui memang seharusnya dapat aku terima, dapat aku pikirkan dengan logika.


Sayangnya, Irsyad sudah membuat logika-ku seolah hilang sekarang. Membuatku tak mau mendengar atau memahami lagi penjelasannya terkait hubungannya dengan Shirly.


Tepatnya, aku menghindar. Merasa, jika memang kesalahan sebenarnya ada padaku. Hingga argumen-argumen Reiji seolah membuatku takut untuk menyadari jika aku sudah menikah, dan seharusnya hubunganku dengannya akan kembali baik setelah saling berbicara dari hati ke hati.


Tapi sisi hatiku yang lain menolak, berontak, untuk tidak mau duduk berbicara dengan Reiji agar hubunganku dengannya baik lagi.


Aku memang pengecut. Tapi sepertinya lebih kepada, aku-hatiku, sedang dikuasai oleh sesuatu yang kian hari aku rasa nyata disetiap harinya sejak Irsyad hadir kembali dalam hidupku.


Bagaimana ini?....


Bagaimana harus aku katakan pada Reiji, jika aku.... masih mencintai laki-laki lain.


---


Dari nasihat yang pernah aku dapat dari kedua orang tuaku, bahwasanya permasalahan dalam rumah tangga jangan sampai dibawa keluar dari tempatnya, yakni rumah – tempat dimana suami istri bersama.


Biarkan masalah itu tetap berada disana, dan harus segera diselesaikan juga di tempatnya.


'Rumah' ku dan Reiji.


Yakni apartemen yang aku tinggali bersama laki-laki yang telah menjadi suamiku itu, dalam kurun waktu empat bulan ini.


Tapi masalahnya, apa yang terjadi diantara aku dan Reiji, bukanlah persoalan rumah tangga – menurutku.


Hatiku.


Yang kemudian Reiji kena imbasnya. Hubunganku dan Reiji dalam hal ini.


Aku bukannya ingin meng-kambing-hitamkan Irsyad.


Tapi kekacauan pikiran, terutama hatiku, memang karena dirinya.


Ditambah Irsyad yang sudah resign dari pekerjaannya di London, kini sedang merintis karirnya di Jakarta.


Irsyad sibuk. Aku yakin itu.


Tapi tidak seperti dahulu saat dia sedang ‘sibuk’, kali ini dia tidak ‘mengabaikan-ku’ disela kesibukannya itu.


Irsyad kerap kali mengajakku untuk bertemu, sekedar makan atau minum kopi dan mengobrol.


Membuat seolah malaikat dan iblis sedang ada di hatiku, dan berperang. Dan yah, rasanya aku yang membuat iblis menang, disela rasa bersalah-ku yang pergi berduaan saja dengan laki-laki yang bukan suamiku.


Meskipun aku dan Irsyad hanya sekedar bertemu di restoran atau kedai kopi kekinian. Dan entahlah apa Irsyad sadar jika yang dia ajak janjian untuk bertemu adalah istri orang.


Karena kami selalu hanya berdua saja bila mengatur janji untuk bertemu.


Meski di tempat ramai, tetap saja ini mirip dengan yang namanya kencan kan?.


Dan istri orang ini, menerima saja ajakan Irsyad untuk bertemu dan pertemuan kami, hampir menjadi agenda rutin.


Hingga aku sampai meninggalkan Reiji di apartemen, dengan alasan aku yang ingin sendiri.


Padahal...


***


“Hei.”


“Hei Kak Irsyad. Udah nunggu lama?”


Malia menyapa Irsyad yang langsung berdiri dari duduknya, kala Malia sudah sampai di hadapan laki-laki itu dalam sebuah Restoran Jepang di bilangan Timur Jakarta.

__ADS_1


Bukan di Restoran Sushi yang dulu sering Malia dan Irsyad datangi, saat masih sangat akrab.


“Aku seneng kamu masih mau terima ajakan aku lagi buat ketemuan gini, Li ...” ucap Irsyad setelah Malia duduk di kursi yang bersebrangan dengannya.


“Hmm.... gimana ya? –“


Malia menyahut, sambil sejenak menggantung kalimatnya


“Ga tega nolaknya.”


Dan Irsyad tersenyum lebar.


‘Ga mau nolak lebih tepatnya ...’


Malia berucap di dalam hatinya.


Kemudian Malia menampakkan seutas senyumnya pada Irsyad.


“Suami kamu kasih ijin?....”


Ringan Irsyad bertanya.


‘Entah Rei kasih ijin atau engga, yang jelas aku meninggalkannya begitu saja di apartemen untuk pergi menemui kamu, Irsyad ...’


Monolog Malia dalam hatinya.


“Kasih ..”


Lalu, mulut Malia berdusta.


“Syukurlah kalau dia kasih kamu ijin buat ketemu aku ---” Malia hanya tersenyum tipis saja mendengar ucapan Irsyad barusan.


“Aku pikir pengantin baru biasanya lagi asik-asiknya kasmaran...” Irsyad lalu berkata yang sepertinya adalah bermaksud untuk berguyon.


Namun senyuman tipis Malia menjadi senyuman kecut, yang tidak Irsyad sadari, karena laki-laki itu sepertinya berkelakar asal, karena ia sambil membaca buku menu saat mengeluarkan kelakarnya untuk Malia itu. ‘Kalau seperti itu, ya ga mungkin aku ada disini sama kamu, Irsyad.’


Malia membatin.


‘Kamu sendiri apa sadar kalau yang kamu ajak ketemuan beberapa kali dalam minggu ini, adalah istri orang?...’


Pertanyaan Malia untuk Irsyad yang hanya ia cetuskan dalam hatinya saja.


“Li? ..”


Suara Irsyad memanggil Malia yang nampak sedang melamun itu.


Yang langsung menarik Malia dari lamunannya dan dengan segera menanggapi panggilan Irsyad padanya barusan.


“Ya?” tanggap Malia.


“Ada apa?”


Irsyad sontak bertanya.


“Ga ada apa-apa kok.”


Malia menjawab dengan menampakkan seutas senyuman, agar nampak wajar.


Seyogyanya, pikiran Malia kini selain sedang mempertanyakan kesadaran Irsyad mengajaknya bertemu yang sudah beberapa kali, Malia juga sedang mempertanyakan suatu hal pada dirinya sendiri.


“Oh iya Li---“


Irsyad kembali memanggil Malia yang langsung menolehkan kepalanya yang sedikit tertunduk karena sedang melihat buku menu itu, pada Irsyad yang hendak lagi mengajaknya bicara.


“Ya, Kak?” tanggap Malia.


Dan setelahnya, Irsyad langsung melontarkan pertanyaan yang membuat Malia menjadi bingung bagaimana untuk menjawabnya.


“Ngomong-ngomong soal suami kamu yang kasih ijin kamu buat ketemu aku yang notabene temen cowok-mu, memang kamu sudah cerita soal kita-tentang pertemanan kita di kampus dulu? ...”


***


Bersambung....


Terima kasih bagi kalian yang masih setia baca.


Salam enjoy.


Emaknya Queen.

__ADS_1


__ADS_2