
Selamat membaca....
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
“BERHENTI JADI LAKI-LAKI MUNAFIK REI! DAN AKUI AJA KALAU DIA ADALAH ANAK HARAM KALIAN!”
Teriakan Malia menggema di satu kamar apartemen.
PLAK!
Lalu suara nyaring telapak tangan yang menyapa satu sisi pipi dengan keras langsung terdengar.
“IR!”
“KAMU SILAHKAN MENGHINA AKU SESUKA HATI KAMU, TAPI JANGAN PERNAH KAMU MENGHINA ANAK AKU!”
Bersamaan dengan Reiji yang memekik kencang karena Shirly yang menampar Malia, didetik yang sama Shirly melontarkan kalimat dalam nada bentakan ke arah Malia yang sudah kian mengetat wajahnya, serta telah mengepalkan tangannya dengan cukup kuat.
“Kalau aku mau, dari dulu.. Aku, yang mengisi posisi kamu sebagai istri Reiji—“
“Udah, Ir..”
Reiji mengangkat tangannya pada Shirly, lalu memberikan tatapan yang seolah mengatakan agar saat ini Malia jangan diprovokasi.
🍂🍂
“Gue ga terima dia hina Argan, Rei!..”
“Gue ngerti..”
“Apa lo bilang?..”
Suara Malia terdengar ketika Reiji sedang menanggapi Shirly.
“Yang, udah—“
“Ulang yang lo bilang tadi—“
“Aku bilang udah Yang, ayo kita pulang..”
Reiji berdiri diantara Shirly dan Malia yang sudah bergerak maju mendekati Shirly.
Malia kemudian menggerakkan kasar tubuhnya yang sudah didekap Reiji.
“Dan lo, terlalu lancang buat tampar gue dengan tangan murahan lo itu—“
“Yang Stop!”
Malia langsung menatap tajam suaminya itu ketika Reiji berbicara dengan nada yang meninggi padanya, dimana Malia menilai jika Reiji membentaknya dan terkesan melindungi Shirly.
Katakanlah jika Malia cemburu buta.
Tapi melihat sikap Reiji yang Malia nilai membentaknya karena Shirly, ditambah ucapan Shirly sebelum Reiji menampakkan protesnya setelah Shirly menampar Malia lalu mengadu tentang rasa tak terima karena Malia telah menghina anaknya --- dan Malia pun tak terima jika Shirly menamparnya, jadi yang sedang tersulut dalam diri Malia kian tersulut adanya.
Dan atas namanya emosi, semua hal yang di rasa, salah saja adanya di mata Malia saat ini.
Jadi, ketika tangan Malia terhenti di udara karena Reiji menahan tangannya dengan menyergah menggunakan nada tinggi padanya --- lagi – lagi Malia merasa tak senang hati dan kembali menatap Reiji dengan tajam.
“Bawa istri kamu ini pergi dari sini, Rei!.. dan pastikan dia jangan sampai lagi menginjakkan kakinya di sini! Aku heran, kalau kamu sampai menikahi perempuan yang ga bisa jaga mulutnya—“
“Ga bisa jaga mulut, lo bilang?..”
Sesungguhnya, seorang istri yang sedang tersulut emosinya, janganlah di provokasi.
🍂🍂
Karena bila hal itu dilakukan, maka seperti inilah yang terjadi..
“AAAAKKHHH!!!!..”
Pekikan Irly terdengar nyaring ketika saat satu tangannya yang hendak menampar Irly terhenti di udara karena Rei menahannya, atas nama Malia yang tidak terima itu, menggunakan tangan lainnya yang dengan cepat memukul wajah Shirly dengan tas kerjanya.
Refleks,
Lalu saat perhatian Reiji yang amat terkejut itu teralih, Malia mendorong kasar tubuh suaminya itu dengan cepat dan dengan cepatnya juga Malia menghampiri Shirly yang terjerembab ke atas ranjangnya setelah wajahnya kena hantaman tas kerja Malia yang diayunkan dengan kuat oleh si empunya.
“YANG!”
“IBU!”
“MAMIII!”
Teriakan tiga orang sontak terdengar ketika Malia yang sudah menghampiri Shirly itu melanjutkan apa yang tadi tertahan.
“LO PIKIR LO SIAPA BISA TAMPAR GUE SEENAKNYA, HAH?!”
PLAK!
Tangan Malia sampai juga akhirnya ke pipi Shirly yang kini ia duduki, mengembalikan tamparan Shirly padanya tadi.
__ADS_1
Bahkan Reiji tidak keburu sampai menahan Malia melakukan hal itu.
“GUE GA BISA JAGA MULUT LO BILANG??? LO YANG HARUSNYA JAGA SIKAP PEREMPUAN MURAHAN!”
PLAK!
“YANG UDAH!”
Teriakan Reiji sambil mencoba mengangkat tubuh Malia dari Shirly yang sudah keluar air matanya lalu melindungi wajahnya dengan kedua tangannya.
“MAMIII!!!”
Malia masih menahan tubuhnya di atas Shirly dimana Reiji kerepotan sendiri, akibat tangan Malia sudah menjambak rambut Shirly sekarang.
Malia seperti hilang akal.
Meski ia tidak memergoki Reiji sedang melakukan perzinahan.
Namun atas nama emosi, Malia yang seumur hidupnya menjauhi keributan, kiranya saat ini bisa menjadi perempuan yang penuh kebar-baran.
Reiji mencoba melepaskan cengkraman kuat tangan Malia di rambut Shirly dibantu oleh art Shirly yang tadi masuk untuk mengambil anak majikannya secara inisiatif atas keributan yang terjadi di dalam kamar majikannya itu.
“MAMIII!!!” Anak lelaki Shirly pun sudah menangis menjadi-jadi lebih dari sebelumnya, meraung memanggil ibunya.
“Hentikan Yang!”
Bruk!
“AAA!...”
"ARGAN!"
Di detik dimana Malia menghentikan aksinya secara otomatis ketika suara teriakan Reiji ia dengar.
“LIA!”
Yang kemudian menyebut namanya dengan nada suara meninggi, dan terdengar sebagai bentakan di telinga Malia.
“ARGAN!”
Dimana suara teriakan menyebut nama anak lelaki Shirly itu terdengar bersahutan kemudian, sehabis Malia menepis tangan-tangan yang memegang tangannya yang ingin menghentikan aksinya pada Shirly.
Yang mana hal itu karena --- tanpa Malia sadari, tangannya yang tadi coba diraih oleh beberapa orang yang ada di dalam tempat yang sama dengannya itu --- mendorong tubuh ringkih anak Shirly yang terdorong hingga kepalanya membentur dinding tempat tidur cukup keras.
“Kamu keterlaluan Lia!” Reiji memekik kencang pada Malia sambil menghampiri anak lelaki Shirly itu.
“Kepala Argan sakit?”
Shirly yang sudah dilepaskan oleh Malia yang bangkit spontan dari posisinya karena bentakan Reiji padanya, sudah juga beringsut mendekati anaknya yang kini sudah dalam pelukan Reiji.
Sementara Malia terpaku di tempatnya.
Tak ada maksud Malia menyakiti anak kecil yang menangis hebat dan sedang ditenangkan Reiji bersama Shirly, dimana art Shirly kemudian bergegas dari kamar setelah Reiji memintanya mengambilkan sesuatu yang entah apa --- Malia tak ambil perhatian akan hal itu.
Yang menjadi perhatian Malia sekarang adalah justru pemandangan di depannya, yang lagi-lagi membuat hati Malia tidak nyaman --- dimana tiga orang itu betul – betul seperti keluarga kecil dimana ayah dan ibu kompak menenangkan anak mereka yang sedang menangis. “Puas kamu?...”
Lalu rasa tercubit hati Malia, ketika dengan masih mendekap anak yang memanggil Papi padanya itu --- Reiji berucap ketus dengan melemparkan pandangan yang tak bersahabat pada Malia.
Lalu mengalihkan perhatiannya pada anak lelaki Shirly yang kini sudah kembali Reiji bawa ke dalam pangkuannya dengan nampak memeriksakan keadaan anak itu.
“Ininya Argan sakit ga?...” Yang Reiji tunjuk dada kiri anak itu.
Setelahnya Malia tidak mau tahu.
BLAM!
Karena Malia segera keluar dari kamar Shirly tanpa disadari oleh dua orang dewasa yang terlihat mengkhawatirkan seorang bocah laki-laki layaknya sepasang orang tua.
Lalu melangkah lebar-lebar keluar dari apartemen Shirly yang Malia tutup dengan keras pintunya. Di detik di mana, “Lia—“
🍂🍂
Malia sudah mencapai lift yang sama yang tadi dia naiki. Lorong di area lift tersebut sepi, dan pintu lift pun terbuka selang beberapa detik setelah memencet tombolnya. Dan Malia pun masuk dengan cepat ke dalam lift yang sepersekian detik setelahnya, pintu lift tersebut langsung tertutup.
Tak sempat tahu --- karena Malia tidak lagi menoleh ke belakang selepas ia keluar dari unit apartemen Shirly, bahwasanya jika ada seseorang yang tengah mengejarnya tak lama setelah Malia menutup cukup keras pintu apartemen Shirly hingga menimbulkan suara. Dimana orang tersebut tiba di depan lift yang telah menutup dan sedang bergerak ke bawah.
Reiji lah yang mengejar Malia.
“Ck!”
Yang kemudian berdecak, karena tak sampai waktu untuk mengejar Malia yang Reiji yakini ada di dalam lift yang sedang bergerak turun itu.
🍂🍂
REIJI
Apes!
Kata yang tepat untukku saat ini.
__ADS_1
Kena tulah sepertinya, karena tidak jujur pada istri.
Menyesal?...
Pasti.
Namun yang namanya penyesalan pasti datang terlambat.
Dengan serentetan kata – kata, ‘harusnya, andainya’ dan sebagainya.
Yang mana balasan untuk kata – kata itu adalah ‘percuma’. Karena sudah keburu kacau adanya.
Posisiku. Dalam hal ini.
Yang sudah sembunyi – sembunyi menemui Shirly dibelakangnya, walau tanpa ada embel – embel selingkuh.
Namun aku yakin betul, jika Lia berpikir seperti itu sekarang. Setelah ia memergokiku berada di apartemen Shirly --- terlebih berada di dalam kamar sahabat perempuanku itu, sekalipun ada Argan di dalam kamar tersebut.
Tapi pasti Lia sudah berpikir macam – macam.
Dan lagi, jika aku ingat – ingat, Shirly duduk agak dekat denganku kala Lia membuka pintu kamar Irly tadi.
Bagaimana tidak macam – macam kalau Lia berpikir jika Argan adalah anakku dan Shirly yang kami sembunyikan. Ya Tuhan!
Sampai sejauh itu Lia berpikir?... Bahkan sampai Lia menghina Argan.
‘Anak haram’.
Begitu Lia menyebut Argan.
Yang mana sangat terkejut sekali aku mendengar dua kata itu keluar dari mulut Lia.
Dan semoga saja Argan tidak ambil perhatian atas hinaan Lia itu dan bertanya pada Irly perihal apa itu anak haram.
Aku rasanya tidak tega membayangkan bagaimana wajah Argan jika dia paham apa itu anak haram.
Haish Lia... kenapa dia bisa menjadi sekasar itu?
🍂🍂
Reiji meyayangkan sikap Malia yang ia nilai cukup kasar, ditambah sampai berbuat kekerasan fisik pada Shirly yang memang menampar Malia duluan atas dasar tidak terima ketika Malia menghina anaknya.
Namun kiranya Reiji sadar diri, bahwasanya --- jika ada yang mau disalahkan atas sikap Malia pada Shirly dengan segenap emosi, adalah dirinya sendiri.
Karena yang namanya kebohongan itu ga ada benarnya, sekalipun dengan alibi demi kebaikan. Karena yang namanya kebohongan itu bisa berkembang biak, bahkan mungkin bisa membuat kecanduan.
Beranak pinak tanpa henti, terbuai dalam kebohongan itu jika tidak ketahuan, lalu melakukannya lagi dan lagi. Lalu setelah ketahuan, barulah menyesali diri. Terlebih, jika situasi dan kondisi menjadi kacau. Menyalahkan diri sampai mengutuk diri sendiri pun akan dirasa percuma.
Apalagi, kalau Reiji dihadapkan pada situasi seperti ini.
“Lia, please terima panggilan aku. Atau seengganya jawab chat aku...”
Yang Reiji suarakan ketika ia sedang menyetir setelah ia mencoba menyusul Malia dengan menyusuri tangga darurat, namun tidak sampai ketemu dengan Malia yang cepat sekali menghilangnya.
Sepanjang perjalanannya, Reiji tak henti mencoba menghubungi ponsel Malia yang aktif --- namun Malia sama sekali tidak mau menjawab panggilannya. Begitu juga satu dua chat yang Reiji kirimkan. Dibaca, tapi tidak ada balasan sama sekali.
Lalu pesan suara Reiji kirimkan, ketika posisinya tidak memungkinkan untuk mengetik dan mengirimkan pesan chat pada Malia. Namun pesan suara itu tidak berubah centangnya.
Mungkin Malia malas mendengar suaranya.
Begitu pikir Reiji. Yang kemudian tak lagi mencoba menghubungi Malia via panggilan telepon, chat atau pesan suara.
Jadi Reiji gaspol saja menuju apartemennya dan Malia. Sambil menyiapkan diri untuk menghadapi emosinya Malia yang Reiji perkirakan juga sedang meluncur ke apartemen mereka, lalu Malia akan mencecarnya di sana.
Atau bahkan akan melontarkan caci maki padanya.
Biarlah, tidak apa.
'Telen aja nanti kalau Lia mencaci maki gue.'
Yang Reiji katakan dalam hatinya.
Kemudian Reiji bergerak dengan cepat keluar dari mobilnya yang langsung ia bawa ke tempat parkiran yang terdekat dengan lantai tempat unit apartemennya dan Malia berada setelah sampai di gedung apartemen tempat tinggalnya dan Malia itu, lalu berjalan dengan langkah lebar – lebar agar lekas sampai ke unit apartemennya dan Malia.
Bersiap juga, mungkin saat membuka pintunya, sambutan yang berupa sambitan dari ragam barang sampai ke wajahnya. 'Tapi apa iya sampe sebegitunya Lia akan meluapkan emosinya ke gue?'
Yang Reiji pikirkan, karena mengingat bahwasanya Malia punya sisi bar - bar. Dimana kebar-baran Malia itu Reiji saksikan dengan mata kepalanya sendiri di apartemen Shirly tadi.
Menghela nafasnya dengan agak berat di depan pintu unit apartemennya dan Malia sejenak, sambil Reiji menekan beberapa angka di piranti yang ada di dinding samping pintu unit apartemennya.
Apapun sikap dan perlakuan Malia padanya saat mereka bertemu di dalam nanti, Reiji akan menerimanya saja. Reiji pun langsung membuka pintu yang telah ia bebaskan kuncinya dengan angka sandi setelah rasanya ia siap untuk berhadapan dengan Malia.
Hanya saja, ketika telah membuka pintunya, tempat tinggalnya dan Malia itu masih mati lampu ruang depannya.
Antara Malia langsung masuk ke kamar mereka ketika sampai dan mengabaikan acara menyalakan lampu ruang depan, atau Malia memang tidak ada di apartemen mereka itu.
🍂🍂🍂🍂
Bersambung....
__ADS_1