WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 171


__ADS_3

Selamat membaca...


***


MALIA


Kalaupun dia ada, turun sebentar. Aku di parkiran apartemen kamu. Kangen.


Aku termangu di tempatku saat aku membaca chat terbaru dari Irsyad.


Oh Tuhan.


Apa – apaan Irsyad ini? ....


Apa dia tidak mendengar perkataanku padanya kemarin tentang ada hati yang aku jaga?.


Bahkan rasanya aku juga mengatakan dengan gamblang padanya kemarin jika aku ingin menjaga hati suamiku.


Tapi kenapa dia mengirimkan chat seperti ini padaku?.


Memang makna ‘kangen’ itu tidak melulu terporos pada kerinduan yang dimiliki antar lawan jenis atau sepasang kekasih.


Aku dan Avi juga kerap kali berkata saling ‘kangen’ jika kami bertelepon atau berchat ria.


Atau jika aku menghubungi mama dan papaku, kata ‘kangen’ itu akan terselip pada ucapan kami.


Bahkan juga jika aku bertelepon ria dengan mama mertuaku.


Kata ‘kangen’ akan terselip jika lama kami tidak bertemu, atau tidak saling bicara di telepon.


Tapi ini, Irsyad.


‘Kangen’ yang seperti apa yang dia maksud?..


Dan lagi, apa maksudnya Irsyad sudah ada di parkiran gedung apartemen tempat tinggalku dan Rei?.


Untuk apa Irsyad sampai begitu?..


Sepertinya harus aku tegaskan lagi pada Irsyad soal keputusanku yang sudah memilih Rei sesuai dengan hatiku.


Aku perlu membahas ini dengan Rei tidak ya?..


Ah!


Haish, apa Irsyad standby dengan ponselnya?..


Hingga sekarang, baru beberapa saat aku membaca chatnya dia sedang menghubungiku.


----


Aku menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan, lalu menggeser tombol berwarna hijau di layar ponselku.


Irsyad yang menyapaku lebih dulu.


“Iya Kak?” ucapku setelah Irsyad menyebut namaku.


“Lia, kamu sakit?..” tanya Irsyad dengan nada suara yang kutangkap sedang khawatir.


Lalu percakapanku dan Irsyad berlangsung selama beberapa menit.


“Engga Kak, aku sehat-sehat aja.”


“Lalu kenapa kamu ga ngantor?..”


“Kok Kak Irsyad tau aku ga ngantor hari ini?”


Aku berpura-pura tidak tahu jika aku sudah mendapatkan info dari temanku yang mengatakan perihal kedatangan Irsyad ke gedung perkantoran tempatku bekerja, siang tadi.

__ADS_1


“Eum itu, tadi aku kebetulan ada urusan yang searah sama kantor kamu. Jam tigaan waktu janjiannya. Jadi aku pikir aku bisa mampir dulu ajak kamu makan siang, Lia..”


“Oh..”


“Memang temen kamu ga kasih tau kamu kalau ketemu aku di lobi?” tanya Irsyad dan aku berdusta sekali lagi padanya.


“Engga ada sih-“


“Oh..”


Untuk sesaat, aku dan Irsyad sama-sama terdiam.


“Eng-“


“Oh iya Li, ngomong-ngomong, turun sebentar ya? Aku bawain sushi buat kamu-“


“Eum Kak-“


“Kenapa? Ada suami kamu dideket kamu?-“


Lagi-lagi Irsyad memotong ucapanku.


“Iya..”


“Oh-“


“Kak-“


“Kamu turun sebentar aja masa ga bisa? Biasanya kamu gampang-gampang aja pergi dari dia, buat nemuin aku, Lia.”


“Kak dengerin aku. Tolong jangan diungkit lagi tentang hal itu-“


“Tapi memang begitu adanya kan? Kalo sejak aku kembali, kamu akan selalu dengan senang hati menemui aku-“


“Iya itu benar-“


“Ga bisa Kak. Karena aku lagi ga ada di apartemen,” potongku.


“Oh ya?....”


“Iya,” jawabku.


“Kamu lagi dimana memangnya?”


“Sedang pergi sama suami aku....”


“Tumben?-“


“Kak, jujur aku sedikit ga nyaman dengan ucapan Kakak barusan.”


“Yaa....” aku menangkap jika Kak Irsyad menjadi sedikit kikuk di seberang sana.


“Memang, selama Kakak muncul lagi aku selalu mengiyakan ajakan Kakak untuk bertemu. Tapi itu sebelum aku menyadari sesuatu....” lanjutku.


“Apa?....”


“Kalau aku sudah mencintai suami aku, Kak.”


***


“Jadi aku mohon dengan sangat, Kakak mengerti akan hal ini.... Rasanya aku sudah mengatakan dengan jelas pada kakak kemarin perihal ini. Jadi mohon Kakak mengerti, aku udah ga bisa lagi sembarangan menemui Kakak seperti selama ini....“


Tak ada sahutan dari Irsyad kala Malia menegaskan dengan gamblang apa yang ingin Malia katakan pada lelaki dari masa lalunya itu.


Hanya hembusan nafas Irysad saja yang samar terdengar di telinga Malia.


“Meski kita hanya bertemu sekedarnya untuk makan siang dan sebagainya, aku menyadari jika itu salah.... Salah karena aku wanita bersuami. Dan suamiku itu.... harus aku jaga hatinya.”

__ADS_1


“.........”


“Karena aku sudah yakin jika aku mencintainya, Kak....”


Helaan nafas panjang dan berat kemudian terdengar oleh Malia dari seberang telepon.


“Seperti yang pernah aku bilang, aku juga ga mau memutuskan silaturahmi antara kita, karena bagaimanapun hubungan pertemanan kita baik selama ini, meskipun Kakak pernah menghilang.”


“.........”


“Tapi tetap, aku harus menjaga hati suami aku Kak, dengan menjaga jarak dan pergaulanku, tidak hanya pada Kakak, tapi juga pada lelaki lain.... Dan tolong, jangan lagi seperti ini, sampai datang ke apartemenku....”


“.........”


“Aku ga mau suamiku sampai salah paham, Kak. Jadi mohon Kakak mengerti....”


“Begitu ya?....”


Irsyad berucap lirih di seberang sambungan teleponnya dengan Malia itu.


“Iya. Aku minta maaf, jika Kakak tersinggung. Tapi aku harap, Kak Irsyad paham posisiku.”


“Lia-“


“Dan sekali lagi maaf, aku harus mengakhiri sambungan telepon kita sekarang.”


“Sebentar Lia.”


“Iya Kak, kenapa?-“


“Bisa kita bertemu sekali lagi?”


“Aku belum tau, Kak-“


“Please?....”


“Aku harus tanya suami aku dulu.”


****


“Yuk, Kak. Assalamua’laikum....”


Klik.


Tanpa menunggu Irsyad membalas salamnya, Malia langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan lelaki dari masa lalunya itu.


‘Kok gue malah tegang ngomong sama Irsyad barusan?....’


Malia membatin, setelah dia menghela nafasnya panjang. Lalu buru-buru meraih ponsel Reiji yang orangnya minta Malia untuk sekalian mengambilkan, lalu membawakannya pada Reiji yang sedang menonton di lantai bawah rumah orang tua Malia tersebut.


“Telfonan sama siapa?”


“Astagfirullah!”


Malia terkesiap kaget, karena tahu-tahu Reiji sudah ada dihadapannya saat ia telah berbalik, sehabis mengambil ponsel Reiji.


“Kok kaget gitu?.... Apa ada sesuatu?....”


“Engga, ada apa-apa kok, Rei....”


“Terus kamu habis telfonan sama siapa barusan? Kayaknya agak lama? Dan serius, sampe muka kamu tegang begitu?-”


“Itu....”


*****-


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2