
Selamat membaca..
***
“Li ....” Ucap Reiji saat ia dan Malia sudah kembali dalam mobil dan hendak pulang dari gedung hunian jangkung, tempat Reiji membeli sebuah unit apartemen untuknya dan Malia yang akan mereka tinggali, setelah mereka menikah nanti. Malia pun spontan menoleh sekaligus menyahut pada Reiji.
“Ya, Rei?....”
“Aku minta maaf untuk yang tadi, ya?”
Reiji menatap Malia sebelum ia menyalakan mesin mobilnya.
Malia yang paham maksud ucapan Reiji itu pun mengulas senyuman.
“It’s okay, Rei.”
“Kamu ga langsung ngecap aku sebagai cowo brengsek setelah aku cium kamu kayak tadi kan?.”
“Ya enggalah.” Sahut Malia, sembari ia mendengus geli.
“Makasih ya? ....” Ucap Reiji.
“Kembali kasih ....” Sahut Malia.
Reiji pun tersenyum kecil kemudian.
“Dan maaf juga udah bikin kamu sampe batuk tadi.”
“Reijiiii!!....” Cebik Malia yang langsung mendaratkan beberapa pukulan ringan di lengan Reiji yang terkekeh geli melihat wajah Malia yang merona malu.
**
Satu bulan menjelang pernikahan
“Ish, Liaa .... Lo beruntung banget sumpah!” Itu celetukan dari salah seorang rekan kerja Malia yang berbarengan untuk pulang bersamanya dan beberapa rekan kerja Malia yang lain.
Sejak Reiji datang menjemput Malia ke kantornya untuk pertama kali, Malia langsung diserbu para rekan kerjanya yang kepo saat ia datang ke kantor yang penasaran perihal Reiji.
Bagaimana tidak penasaran, jika Malia yang mereka kenal adalah anggota Jojoba, tahu-tahu didatangi laki-laki yang mengaku, bahkan lebih ke mengumumkan jika laki-laki tampan itu adalah tunangan Malia.
“Iya nek, lu pake amalan apa sih bisa dapet itu kang mas paketan lengkap begitu?”
Sebuah celetukan terdengar lagi dari mulut rekan kerja Malia yang lain. Beberapa perempuan rekan kerja Malia itu selalunya heboh jika melihat laki-laki yang sudah beberapa kali menjemput Malia saat jam pulang kantor itu.
“Amal ma’ruf nahi munkar!” Cetus Malia yang terkekeh saja melihat kelakuan para rekan kerja perempuannya yang selalu heboh asal Reiji menjemputnya. Atau kadang datang saat jam makan siang, untuk sekedar makan siang bersama Malia, saat akan berangkat atau telah selesai bertugas di udara.
“Amal woi!....” Salah seorang rekan kerja Malia menimpali, lalu mereka yang bersama Malia, berikut Malia-nya sendiri pun, ikut tergelak bersama rekan-rekan kerja yang sedang berjalan bersama dengannya itu.
“Eh iya Li, jangan lupa tanyain itu sama ayang beb lo, masih ada ga pilot yang kayak dia itu?....” Satu rekan kerja perempuan Malia iseng bertanya, sebelum Malia menghampiri Reiji yang sudah menunggunya di lobi gedung perkantoran tempatnya bekerja dengan menggunakan seragam pilotnya.
“Mohon maaf ya emba-emba, yang kayak gitu very limited edition, dan bulan depan udah sah jadi milik sayaaahhh ....” Canda Malia yang membuat para rekan kerjanya kemudian terkekeh geli.
******
“Lama ya?” Ucap Malia yang kini sudah berada dihadapan Reiji yang sedang menunggunya itu, setelah berpisah dengan para rekan kerjanya.
“Ga kok.”
Reiji menyertai senyuman setelah ia menyahut pada Malia. Malia pun membalas senyuman Reiji dengan seutas senyuman darinya.
“Ya udah, yuk?” Ajak Reiji dan Malia mengangguk.
Reiji pun segera meraih tangan Malia, dan membuat jari-jari mereka saling terpaut, lalu berjalan berdampingan untuk keluar dari lobi dalam gedung perkantoran tempat Malia bekerja.
__ADS_1
*****
Author’s POV
Hubungan Reiji dan Malia menjelang sebulan lagi pernikahan mereka itu kian membaik, kian nampak seperti pasangan pada umumnya. Hanya saja, tetap Reiji merasa jika Malia belum mencintainya sebagaimana dirinya pada Malia.
Malia baru sebatas membuka hatinya saja untuk Reiji.
Namun Reiji tak mempermasalahkan hal tersebut sampai gimana-gimana.
Hanya kadang Reiji bertanya-tanya sendiri, apa gerangan yang membuat Malia sulit untuk mencintainya.
Apa di mata Malia dirinya belum cukup baik kah?. Atau dirinya bukan tipe Malia?. Seperti itu kira-kira pertanyaan yang sering muncul dalam benak Reiji tentang Malia yang Reiji rasa belum mencintainya.
Author’s POV off
***
“Oh iya Rei ....”
Malia membuka pembicaraan saat ia dan Reiji kini sudah berada dalam mobil Reiji.
Reiji pun segera menoleh.
“Iya, Sayaanggg? ....”
Malia sontak mendengus geli mendengar sahutan Reiji dengan wajah konyol sok imutnya yang dibuat-buat.
“Lebay....” Tukas Malia.
Reiji pun terkekeh kecil.
“Ya udah mau ngomong apa tadi?” Tanya Reiji.
“Kenapa dengan apartemen kita?”
“Engga apa-apa, Cuma mau tau aja soal perabot yang udah lengkap disana”
“Kenapa, ada yang kamu ga suka?.... Atau ada yang kurang?” Ucap Reiji.
“Engga kok, udah cukup....” Sahut Malia. “Kan aku bilang aku suka. Pake banget malah.”
“Jadi kamu mau nanyain apa?”
“Mau nanyain soal perabot lengkap di apartemen itu kamu yang beli sendiri?”
Reiji menggeleng. “Aku beli udah fully furnished....”
Malia pun manggut-manggut.
“Makanya aku ajak kamu waktu itu buat melihat-lihat kali ada yang mau kamu rubah, atau mungkin kamu tambah.”
Reiji menyambung ucapannya.
“Ya kalo memang ada yang mau kamu rubah atau tambah, atau ada yang ingin kamu ganti bilang aja Li.”
Reiji kemudian mengusap pelan pucuk kepala Malia.
“Kan aku sering bilang, jangan sungkan sedikit pun sama laki-laki yang bulan depan jadi suami kamu ini. Apapun yang mau kamu buat dengan apartemen kita itu, kamu punya hak penuh untuk itu.” Tutur Reiji. “Kan kamu ratunya Li.”
“Iya,” jawab Malia dan ia pun tersenyum hangat.
Reiji pun mengulas senyuman sembari mengacak pelan rambut Malia, sebelum ia menarik tangannya untuk kembali pada perseneling dan kemudi.
__ADS_1
“Makasih, ya Rei.”
“Makasih aja?” Celetuk Reiji sambil melirik Malia.
“Oh sekarang pake pamrih niihhh?? ....”
“Ya siapa tau ada yang mau bilang makasih sambil pegang tangan apa elus pipi aku gitu??”
Reiji tersenyum geli.
“Kasian ini pipi belum pernah dielus sama tangannya Neng Lia.”
Lalu Reiji melirik Malia.
“Canda Lia sayang ....”
Reiji mencubit kecil dan gemas pipi Malia.
“Serius banget sih kamu jadi cewe....” Kekeh Reiji. Namun kekehannya langsung terhenti saat....
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Reiji dari bibir wanita yang duduk di kursi penumpang depan sampingnya.
“Makasih calon suami.”
*
Hari pernikahan
Sudah tiba pada masanya, hari dimana Malia dan Reiji akan disatukan dalam suatu hubungan sakral yang namanya pernikahan.
Dua insan yang akan menikah itu berikut seluruh keluarga mereka, sudah berada di sebuah Ballroom Hotel dimana acara ijab kabul dan resepsi pernikahan akan dilangsungkan.
Malia sudah nampak anggun dan cantik dalam balutan kebaya pengantinnya.
Wanita yang sebentar lagi berstatus sebagai istri dari Reiji Shakeel itu masih duduk di ruang rias, dan sedang mendapatkan sentuhan akhir dari MUA yang merias wajah Malia.
Dua mama nampak sumringah, selain rona bahagia melihat Malia yang cantiknya dirasa paripurna dalam balutan busana pengantin untuk akad nikahnya dan Reiji, saat keduanya sedang menyambangi Malia di salah satu bagian Ballroom yang disediakan dan kini digunakan sebagai kamar rias untuk calon mempelai wanita.
Tak hanya dua mama, namun Avi pun sama sumringah dan bahagianya, melihat Malia yang akan segera menjadi kakak iparnya itu. Sementara para papa, menemani si calon mempelai pria, yang sudah bersiap untuk melantunkan kalimat akad di meja ijab kabul.
Reiji.
Yang mana orangnya nampak sedikit gelisah. Tapi, alih-alih ditenangkan, malah Reiji sedang diledek oleh papanya dan papa Malia, juga beberapa kerabat dekat mereka.
Meski sebal, tapi Reiji cukup terhibur juga, hingga rasa gugup yang sempat menghinggapi dirinya kemudian hilang. Dan fokus Reiji kemudian teralih, saat Pembawa Acara memberitahukan jika calon mempelai wanita akan memasuki ruangan.
Didetik dimana Reiji spontan berdiri dari duduknya. Dan hati Reiji berdesir bahagia, meletup-letup tak karuan.
Membuat Reiji seolah tersihir oleh pesona Malia yang kini sudah berada di hadapannya, namun Reiji tetap bergeming di tempatnya.
“Kamu cantik banget Lia....” Ucap Reiji pelan dan tangannya hendak terulur untuk sampai ke wajah Malia. Tapi ....
“Aw!”
Suara aduhan yang diekori ringisan dari mulut Reiji sontak terdengar, bersamaan dengan tangannya yang kembali jatuh dengan kasar karena kepretan maut dari seorang wanita paruh baya.
Siapa lagi kalau bukan Mama Alice, ibu kandungnya Reiji yang mendelik pada putra sulungnya yang menunjukkan gelagat ingin mengecup kening Malia.
“Halalin dulu! Ngebet banget pengen megang-megang sama encup-encup!”
*
__ADS_1
Bersambung ...