WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 134


__ADS_3

Terima kasih masih setia.


***


Selamat membaca...


***


REIJI


“M-mau apa?....” Lia tergagap kemudian, saat aku mulai berjalan mendekatinya kembali sambil membuka kaitan ikat pinggangku.


“Mau nyipratin kamu lah.”


Aku menyeringai sambil terus menatap Lia, sambil membuka celana panjangku.


Dan Lia memalingkan wajahnya, dengan menggigit bibir bawahnya. Nampak kikuk.


Lalu memalingkan wajahnya saat hanya tinggal pengaman segitigaku yang hanya tertinggal di tubuhku saat ini.


“Ga pake air tapi.”


Aku berkata penuh arti sambil tersenyum geli melihat ekspresi kikuk Lia yang malu-malu empus, saat aku menurunkan segitiga pengamanku, hingga aku telah polos sepenuhnya.


“Udah sering liat, udah ngerasain berkali-kali juga, suka keenakan malah, masih malu aja –“


Lalu aku menggodanya lagi, dan Lia langsung melotot tajam padaku. Tapi sebentar saja ia melotot tajam padaku.


Lia langsung memalingkan wajahnya yang aku yakin sedang merona sekarang, terlihat dari telinga putih Lia yang sedikit nampak memerah.


Salah tingkah, karena saat matanya melotot tajam kepadaku, mau tidak mau ia juga melihat tubuh polosku, dimana ‘si bona’ milikku pun pasti-sengaja atau tidak, Lia lihat juga.


“Malu-malu embe.” Ledekku. “Liat, liat aja. Pegang juga boleh.”


Dimana wajah Lia kian merona, aku yakin itu kala melihat semburat kemerahan di telinga juga pipi dari wajahnya yang berpaling dariku itu kian kentara.


Rasanya bahagia sekali bisa menggoda Lia habis-habisan seperti ini dan membuatnya salah tingkah. “Ga mau coba pegang?” godaku dengan lebih vulgar pada Lia.


“Masuk ke bathtub sekarang!”


Perintah tajam lalu terlontar dari mulut Lia.


Aku terkikik dengan tingkah Lia itu.


Dimana Lia masih memalingkan wajahnya yang dekat dengan ‘si bona’ milikku, sambil menunjuk ke arah air dalam bathtub.


Tapi aku tidak langsung menuruti keinginan Lia yang menyuruhku untuk masuk di bathtub yang sama dengannya dalam kamar mandi kami itu.


“Rei! Ish! Denger ga sih?!”


Lia berseru.


“Masuk ke bathtub cepetan! ..”


Kembali Lia melontarkan perintah.


“Ga ada malu-malunya!” seru Lia lagi.


Dan aku kian geli saja melihat tingkah Lia yang kikuk setengah mati sepertinya itu.


“Bintitan nanti aku ih!”


Aku tidak bisa menahan untuk tidak tergelak geli setelah mendengar ucapan Lia barusan.


Dan tak lama kemudian aku mengikuti apa yang Lia perintahkan padaku, untuk masuk ke dalam bathtub.

__ADS_1


“Udah masuk ini suaminya ke dalem bathtub, terus mau diapain?-“


“Tuh di atas kepala kamu kan ada selang shower? Ambil, terus mandi!”


Lia yang duduk bersebrangan denganku di dalam bathtub itu mendelik dan menggerakkan kepalanya ke arah shower yang memang ada di atasku, dimana kran untuk mengisi bathtub ada di bawahnya, dan membuatku tidak bisa menyandarkan punggungku di dinding bathtub.


“Nah berendem gini gimana mandinya? ---“ ucapku.


Dan Lia langsung mendesis sebal. “Yang nyuruh kamu berendem siapa? ---“


“Yah kamu tadi yang nyuruh aku masuk bathtub.”


“Aku nyuruh masuk, bukan ikutan berendem! .. Tapi masuk bathtub terus guyur itu badan kamu di bawah shower ---“


“Oohhhh ..” Akupun bangkit dari posisiku. Dan aku terkikik lagi kala Lia memekik.


“Rei ih!” pekik Lia.


“Yah tadi kamu bilang aku suruh berdiri trus mandi di bawah shower. Gimana sih?”


Aku masih saja ingin menggoda Lia saat ini, padahal ‘si bona’ juga sudah mulai ikutan berdiri.


Dan Lia nampak gemas kesal sendiri. Mungkin merasa serba salah posisinya sekarang, karena aku yang menggodanya dengan membalikkan kata-kata istriku yang sedang malu-malu empus itu.


“Ya udah terusin mandi sana.” Kata Lia kemudian.


Sambil Lia merungut hendak bangkit dari posisinya.


Yang mana aku tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi.


Mangsa udah didepan mata, masa dilepasin gitu aja?.


“Mau kemana, hm? ..”


Aku dengan cepat sudah mengukung longgar Lia di dalam bathtub.


“Y-aa mau keluar dulu dari bathtub—“ jawab Lia tergugu. “Ka-mu kan, mau mandi? –“


“Terus? ---“


Aku terus menyoroti netra Lia.


“Y-aa abis kamu mandi, baruu aku bilas badan aku.”


Lia menyahut, sambil menatapku ragu-ragu.


“Terus aku dianggurin gitu?---“ aku masih mengunci Lia dengan tatapan dan kukungan longgarku.


Lia menggigit bibirnya, yang membuatku tak tahan untuk langsung menyambar bibir yang sedari tadi seolah sedang menggodaku saat Lia merungut dan bersungut sebal padaku.


Tidak lama, hanya menghisap bibir Lia sebentar saja, lalu aku lepaskan dengan lembut dan perlahan. Aku hanya menggoda Lia saja sebenarnya, dengan berlaku sebagai suami yang mesum.


Semata-mata hanya ingin melihat ekspresi Lia jika aku goda dengan sedikit berlebihan.


Memang, hasrat kelakianku sudah menggebu melihat tubuh polos Lia yang kian seksi saat basah.


Tapi tetap, aku tidak mau memaksa Lia untuk bercinta denganku setiap kali darah kelakianku berdesir ingin dipuaskan.


Dari sejak Lia mengatakan ingin kembali pada komitmennya, aku memang memberikan sinyal-sinyal untuk mengajak Lia bercinta selama itu.


Namun aku juga tidak akan melanjutkan jika Lia menampakkan gelagat penolakan, yang Alhamdulillahnya, sejak malam sebelum acara Family Gathering yang diadakan oleh owner  dan keluarganya Maskapai tempatku bekerja, sinyalku untuk mengajak bercinta, selalu disambut baik oleh Lia.


Tapi ya aku masih memiliki sedikit keraguan, juga rasa penasaran yang kerap kali urung aku tanyakan pada Lia.


Tentang apakah sudah tumbuh cinta di dalam hatinya untukku atau belum?.

__ADS_1


Sedikit naif mungkin. Karena hubunganku dan Lia yang sudah sangat baik ini baru berlangsung hampir dua minggu.


Hanya keajaiban rasanya jika Lia sudah mencintaiku dalam waktu secepat itu.


“Kamu bilas aja duluan, nanti aku mandi habis kamu.”


“.....”


“Kamu bisa masuk angin kalo kelamaan berendem.”


**


Malia terpaku saat Reiji menyambar bibirnya, lalu menghisap dengan lembutnya bibir bawah Lia.


Dimana Lia sudah menerka, bagaimana lanjutan dari ciuman Reiji barusan itu.


Apalagi mereka berdua sudah berada di dalam bathtub, dengan Reiji yang mengukungnya, plus tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh masing-masing.


Namun sikap Reiji setelah mencium lembut bibirnya itu, membuat Malia jadi memperhatikan wajah Reiji lamat-lamat yang tersenyum padanya setelah ***** lembut bibirnya sebentar saja.


Wajah dengan ekspresi yang selalu Reiji tunjukkan saat Malia kembali menyuarakan komitmen dan janjinya pada Reiji, sebagai istri seorang Reiji Shakeel. Seorang Pilot eksotis yang masuk dalam kategori menawan.


Wajah yang sorot matanya sudah menampakkan kilatan gairah, namun masih teduh menatap, menunggu persetujuan. Sebegitunya Reiji pada Malia. Yang sabar dan banyak mengalahnya, meski kadang Reiji suka asik sendiri dengan hobinya.


Reiji yang tidak pernah memaksakan kehendaknya pada Malia, seegois apapun Malia memperlakukannya.


“Kamu udah makan?” tanya Reiji setelah ia menyuruh Malia untuk segera membilas dirinya.


“Aku nunggu kamu Rei.” Jawab Malia.


Dimana Malia masih berada diposisinya.


“Ya udah. Kamu bilas duluan, aku cek makanan kalau udah dingin banget, biar aku panasin dulu.”


Reiji mengecup kening Malia setelah berucap barusan.


“I love you ...” ucap Reiji setelah ia mengecup kening Malia, lalu bergegas untuk keluar dari dalam bathtub.


“Rei,” panggil Malia. “I think I already love you ( Aku rasa aku sudah mencintai kamu ) –“


Didetik setelahnya, Reiji membeku.


“So, I love you too ...” ucap Malia seraya ia tersenyum sambil mengusap satu pipi Reiji.


Membuat Reiji semakin membeku dan lidahnya seolah kelu.


‘Ini gue halusinasi apa gimana?—‘ batin Reiji yang tak percaya yang sedang terjadi sekarang.


“Ih malah bengong! ... ucapin makasih kek apa ---“


“Ulangi, Yang? ... ulangi yang kamu bilang tadi ...” sambar Reiji. “Takutnya aku cuma halusinasi.”


Membuat Malia merasa miris dengan sikap Reiji padanya ini.


Hingga Malia merutuki dirinya sendiri karena sudah begitu egois pada Reiji.


“Kamu, udah ada disini, Reiji Shakeel ---“


Malia menunjuk dada kirinya.


“Bukan lagi sekedar sayang.. tapi cinta ---“


Dan Reiji tak kuasa untuk tidak terharu sampai menghambur untuk memeluk Malia erat-erat.


**

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2