WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 187


__ADS_3

Selamat membaca...


***


REIJI


“Yang?”


Aku menyusul Lia ke kamar kami kala fajar yang terang telah datang.


Seperti yang aku memang rencanakan selain aku memang tidak merasa mengantuk sama sekali, aku terjaga sampai azan subuh tiba, yang setelah suara azan dari toa Masjid yang ada di komplek Malia itu berakhir aku membangunkan Lia untuk subuh berjamaah-walau tega ga tega sih sebenarnya.


Tadinya jika memang Lia sulit dibangunkan, maka aku akan biarkan saja Lia dengan tidurnya.


Aku tinggal telepon si Andra, dan kasih alasan apa kek buat meminta ijin agar Lia tidak ngantor hari ini.


Toh besok weekend juga. Anggap aja harpitnas.


Tapi ternyata Lia bangun dengan mudah saat aku membangunkannya.


Meski aku sempat tanyakan, apa dia tetap ingin berangkat kerja atau tidak. “Iya, mau. Aku ada meeting proyek hari ini.” Yang mana itu jawaban Lia selepas aku bertanya.


Ya sudah, aku hargai keinginannya.


Jadi biarkan Lia mandi dengan tenang lalu kami subuh berjamaah, sementara aku sudah lebih dulu mandi besar sebelum azan subuh berkumandang.


Dan setelah ibadah berjamaah, aku berleha-leha sebentar. Lalu bergegas pergi ke dapur dalam rumah orang tuaku dan membuatkan saja sekalian sarapan yang tadi hendak dibuatkan oleh si Bibi.


Sambil menunggu Lia selesai mandi dan bersiap untuk ke kantor, jadi aku pikir baiknya aku melakukan sesuatu yang dapat membuatku melupakan kantukku sampai Lia berangkat ke kantor.


Tapi ya jikapun Lia memintaku untuk mengantarnya nanti, pun akan aku iyakan. Walaupun aku sih yakin, Lia tidak akan membiarkanku untuk itu dengan alasan aku pasti cape dan itu berbahaya kalau aku sampai menyetir mobil sebelum aku beristirahat dengan cukup.


Lihat saja moodku nanti lah.


Jika tau-tau aku ingin mengantar Lia, ya aku akan paksakan untuk mengantar bagaimanapun caranya. Urusan nanti kalau Lia sampai memberengut sepanjang jalan.


Well, ngomong-ngomong soal Lia, kenapa dia belum turun juga ya?...


Nasi goreng dengan campuran daging ayam dari sate yang Lia beli semalam sudah rampung aku buat, tidak hanya untukku dan Lia, tapi juga untuk si Bibi dan si Mamang penjaga rumah-tapi Lia belum kelihatan juga batang hidungnya.


Aku putuskan untuk menyusul Lia saja pada akhirnya ke kamar kami yang ada di rumah mertuaku itu.


Dan kutemukan Lia sedang duduk di meja rias, namun tidak melakukan apa-apa.


Selain sepertinya Lia sedang melamun juga? ...


Apa ada sesuatu?. Karena sudah lama sepertinya Lia yang suka melamun itu sejak perjodohan kami tidak aku lihat lagi selepas ia menawarkan komitmen serta mengatakan sudah mencintaiku.


Apa kembalinya Lia yang suka melamun itu, ada hubungannya dengan si bibit pebinor? ...


****


Malia yang tak kunjung turun ke lantai bawah rumah orang tuanya itu membuat Reiji yang sudah selesai membuatkan sarapan akhirnya menyambangi lagi kamarnya dan Malia yang ada di rumah orang tuanya tersebut.


“Yang?”


Reiji memanggil Malia, yang orangnya nampak melamun duduk di kursi meja rias dalam kamar mereka di rumah mertuanya Reiji itu.


Membuat Reiji meneleng samar seraya tersenyum, karena ia menyadari sang istri yang tengah melamun di hadapan cermin meja riasnya itu.


***


Suara Reiji membuyarkan lamunan Malia. Dimana setelah suara Reiji menyapa telinganya, Malia langsung saja terkesiap. Kemudian langsung spontan memandang ke arah cermin yang menampakkan pantulan diri Reiji yang sedang berjalan mendekatinya.


“Rei ..”


Malia berucap seraya memutar duduknya hingga membelakangi cermin meja rias dan berdiri setelahnya.


***


MALIA


Aku terkesiap ketika mendengar suara Rei ketika aku sedang melamun selepas beres dandan.


“Rei ..”


Dimana aku spontan menyebut nama Rei dan segera memutar tubuhku, serta berdiri langsung setelahnya.


“Lagi mikirin apa, hm? ..”


Rei bertanya sembari memandangiku, seperti sedang mencari tahu.


“Ga lagi mikirin apa-apa –“


“Kok bengong? –“


“Siapa yang bengong? –“


“Ya kamu.”


Rei berucap.


“Ih aku ga bengong ya.”

__ADS_1


“Iya...”


“Engga ya.”


“Nah duduk diem sambil ngeliatin kaca tanpa bergerak apa namanya kalo ga bengong?”


“Aku lagi ngecek make-up aku apa ada yang kurang...” dustaku pada Rei, yang memang aku sedang bengong sesaat tadi.


Rei tersenyum sambil menarikku dengan tangannya yang mendorong pelan pinggang belakangku. “Kamu ga ada kurangnya, Yang –“


“Kata kamu...” tukasku, tersenyum pada Rei yang tetap tersenyum lalu menjawil pelan hidungku.


“Emang kamu lagi nungguin pujian dari laki-laki lain?”


Reiji menatapku penuh selidik, dan aku terkekeh kecil.


“Cemburu? –“


“Oh jelas.”


Rei memangkas ucapanku.


“Aku jadi curiga, kamu dandan kayaknya totalitas gini? –“


“Ya dandan memang harus totalitas kelles. Kalo ga totalitas yang ada alis aku dah zig-zag bentuknya...”tukasku.


Rei terkekeh kecil. “Ya udah, ayo sarapan –“


“Kamu yang masak? –“


“Yep –“


“Kenapa ga Bibi aja yang masak?”


“Lagi pengen aja masakin buat istri.”


Hatiku selalu menghangat dibuat Rei, selain rasa tak enak sih karena seharusnya dia yang istirahat sekarang malah menungguku selesai dandan dan memasak pula untukku.


“Sorry ya?” ucapku kemudian.


“Sorry buat apa?” cetus Rei.


“Ya udah ngerepotin kamu gini, Rei.”


“Aku ga ngerasa direpotin –“


“Tapi sampe ribet masak? –“


“Masak nasgor doang ga ada ribetnya, Neng Lia....” Rei mencubit gemas hidungku.


“Makasih ya?”


Aku mengecup pipi Rei dan berterima kasih pada suami idaman itu.


Rei tersenyum lalu dengan cepat menangkup wajahku, kemudian menyambar bibirku-lalu menciumku sedikit memburu, lalu berucap dengan menatapku dengan pandangan sayu.


“Ga usah kerja ya hari ini?...”


Aish, alamat ini sih.


---


“Janji deh nanti aku pulang cepet...”


Aku berucap sambil mengulum senyuman pada Rei yang mukanya agak ditekuk karena aku menolak dengan halus permintaannya untuk tidak bekerja hari ini.


“Ya harus itu –“


“Nah ya udah, jangan cemberut gitu si...”


Aku menggoda Rei dengan mencubit gemas pipinya.


“Lagian ga paham banget suaminya kangen juga –“


“Nah suaminya aja nafsuan banget jadi orang –“


“Idih, kayak sendirinya ga nafsuan aja,”tukas Rei sambil memandangku dengan tatapan yang seperti sedang meledekku. “Yang lewat tengah malem tadi melorotin handuk aku siapa coba, hm?”


Wajah memberengut Rei sudah hilang, ganti  menjadi wajah dengan mode super jahil.


“Terus jongkok dan mai-hmmphh!! –“


“Diem ga?!” sergahku sambil membekap mulut Rei yang hendak membeberkan aibku di pagi buta tadi.


“Malu nih ye? –“


“Ish!”


“Mantep banget Neng Lia sedotannya!”


“Reiji Shakeel! Astagaaa!!...”


Aku sampai memekik saking tak percaya mendengar ucapan vulgar dari makhluk yang berlabel suami itu.

__ADS_1


“Dijaga mulutnya ish!” ketusku dengan berbisik tajam. “Ini bukan di apartemen kita tau ga?!”


Lalu aku mencebik sambil  bersedekap untuk menuruni tangga.


Sementara Rei tergelak tanpa akhlak.


***


“Mau kemana?“ tanya Reiji pada Malia yang menjeda sarapannya, lalu berdiri dari duduknya.


“Ke kamar ambil tas, biar abis sarapan langsung jalan...”


“Udah kamu duduk aja, terusin makannya. Aku aja yang ambilin tas kamu. Aku udah selesai kok ini –“


“Ga apa-apa aku aja yang ambil tas aku. Dari tadi kamu aku repotin terus...”


“Ck!” decak Reiji. “Aku ga ngerasa direpotin. Sama suami sendiri masih sungkan aja –“


“Iya maaf,” tukas Malia.


“Ya udah, taro dimana tas kamu?” tanya Reiji setelah berdiri dari duduknya.


“Ada di atas tempat tidur kalo ga salah.”


Malia lekas menjawab pertanyaan suaminya itu.


“Ya udah. Aku ambilin tas kamu dulu –“


“Thanks ya, Rei,” ucap Malia seraya tersenyum.


“Diabisin nasi gorengnya –“


“Iya ...”


***


“Ini tas kamu, Yang –“


“Thanks ya, Rei ...”


Malia menerima tasnya dari tangan Reiji ketika suaminya itu telah kembali ke ruang makan yang berada di rumah kedua orang tuanya tersebut.


“Iya, sama-sama,” balas Reiji yang nampak merogoh saku celananya. “Sama ini nih, ponsel kamu –“


“Eh, iya –“


“Untung aku liat pas aku mau ambil handphone aku –“


“Iya, makasih ya, Rei ...”


“Yang ...”


Reiji memanggil Malia, sambil ia duduk kembali di tempat duduknya di meja makan sebelum ia mengambilkan tas milik Malia di kamar mereka.


Malia yang sudah menyelesaikan makannya, dan kini sedang meneguk air putih dalam gelas itu menyahut pada Reiji dengan deheman. “Kenapa, Rei? ...” ucap Malia kemudian, setelah ia selesai minum.


“Ada yang mau aku tanyain –“


“Soal? –“


“Handphone kamu bener lowbat? ...”


Malia yang tengah membuka tas kerjanya itu, spontan menghentikan kegiatannya setelah mendengar pertanyaan Reiji.


“Eem, iya ...” jawab Malia dengan menganggukkan kepalanya samar. “Ke, napa-emangnya? ...” lalu Malia bertanya dengan nada suara yang terdengar ragu sambil melirik ponselnya.


“Ga apa-apa sih.”


Reiji mengulas senyuman.


“Hm –“


“Tapi aku heran,” ucap Reiji lagi.


“Heran kenapa, Rei?”


Malia yang tadinya sedang menyibukkan diri dengan mengecek isi tas kerjanya itu spontan bertanya selepas Reiji mengatakan dirinya sedang keheranan.


“Kamu bilang handphone kamu lowbat –“


“Iya, memang ...” tukas Malia dan Reiji menipiskan bibirnya.


“Tapi kok kamu ga charge itu handphone? –“


“Ya –“


“Setau aku kalo handphone kamu lowbat, kamu tuh kalang kabut dan buru-buru charge itu handphone ... tapi ini kamu diemin aja ...“


Reiji berucap santai.


“Jadi aku heran. Handphone kamu beneran lowbat, atau sengaja kamu matiin itu handphone kamu karena ada sesuatu? -”


***

__ADS_1


Bersambung ......


__ADS_2