WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 96


__ADS_3

Selamat membaca....


***


“Kenapa Kakak tampak begitu ingin tahu tentang hidupku sekarang?” tanya Malia yang penasaran.


“Karena aku merasa kalau kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu, Lia ..” jawab Irsyad. Apa aku benar? ..”


“Apa aku perlu menjawabnya?”


“Perlu.”


“Kenapa?”


“Karena jika benar kamu ga bahagia dengannya, berikan aku kesempatan untuk membahagiakan kamu, Lia ....”


Dan sendok berisikan nasi serta daging dan sayuran yang sedang Malia genggam, menggantung di udara.


Dengan mata Malia yang menjadi fokus melihat kepada Irsyad yang sedang tampak serius memandanginya. “Aku ga ngerti maksud Kakak.”


Lalu Malia meletakkan kembali sendoknya yang telah terisi nasi dan dua jenis lauk ke atas sebuah piring kosong yang ada dihadapannya.  Setelahnya, Malia mengambil minuman miliknya yang kemudian ia sesap melalui sedotan.


“Aku yakin kamu ngerti.”


Irsyad bersuara. Namun Malia bungkam, hanya menggerakkan bola matanya saja untuk melihat wajah Irsyad.


Irsyad melipat bibirnya dengan singkat.


“Engga Kak aku emang ga ngerti. Aku ga ngerti kenapa Kakak baru menawarkan untuk memberikan aku kebahagiaan, saat aku udah jadi istri orang ...”


Malia kemudian berucap.


Lalu Malia menampakkan senyumnya. “Yuk terusin makannya, Kak.” Ucap Malia lagi.


Yang kemudian menundukkan kepalanya, menatap pada makanan miliknya, untuk menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.


“Habis ini aku langsung pamit pulang ya? Rei ada penerbangan hari ini soalnya, dan aku harus menyiapkan keperluannya ....”


***


MALIA


Aku menyesal menemui Irsyad hari ini.


Karena alih-alih ingin sedikit me-rileks-kan diriku setelah berdebat dengan Reiji, namun Irsyad malah menambah kekacauan hatiku dengan ucapannya.


“Karena jika benar kamu ga bahagia dengannya, berikan aku kesempatan untuk membahagiakan kamu, Lia ....”


Ya, kalimat Irsyad itulah yang membuat hatiku semakin tidak karuan.


Pertanyaan Irsyad soal apakah aku bahagia bersama Reiji, aku tidak tahu pasti jawabannya.


Yang jelas aku merasa nyaman sekarang ini hidup bersama Reiji, sebagai istrinya.


Well, setidaknya sebelum kisah masa lalu Reiji dan perasaannya pada Shirly aku ketahui. Yang pada akhirnya membangkitkan kenanganku tentang Irsyad dari kuburnya, dan benar-benar bangkit setelah orangnya juga ikut hadir kembali dalam hidupku.


Mungkin, seandainya aku tidak pernah tahu soal perasaan Reiji dimasa lalu pada sahabat perempuannya itu, aku sudah bisa mencintai Reiji sekarang ini, selayaknya Reiji yang telah mengakui sendiri jika ia mencintaiku.

__ADS_1


Dan saat Irsyad datang seperti sekarang ini, aku mungkin tidak akan terlalu gamang. Karena aku sedang benar-benar belajar untuk mencintai Reiji.


Hingga kata yang keluar dari mulut Irsyad yang meminta aku untuk memberikannya kesempatan untuk membahagiakan ku jika aku tidak bahagia bersama Reiji, kiranya tidak mempengaruhiku terlalu-lalu.


Tapi sayangnya Irsyad soal datang di waktu yang tepat sekarang.


Disaat aku kepercayaanku sedang goyah pada Reiji, dan kesal serta prasangka burukku terus kubiarkan meraja.


Karena aku berpikir untuk meminta Reiji meninggalkan Shirly-memutuskan hubungan persahabatannya dengan Shirly.


Tapi apa mungkin Reiji mau melakukannya?.


Entah.


Dan sayangnya, hingga sampai Irsyad datang, aku belum sampai melontarkan permintaanku itu pada Reiji.


Dan sekarang, rasanya aku urung untuk meminta hal itu pada Reiji atau sekedar menanyakan apa dia mau menjauhi Shirly untukku.


Apalagi kalau bukan karena kehadiran Irsyad kembali disaat aku yang labil ini menjadi kian labil?.


Hingga pertimbangan untuk meminta Reiji menjauhi Shirly menjadi suatu tolak ukur bagiku.


Tolak ukur, dimana jika pada akhirnya Reiji mengiyakan permintaanku untuk menjauhi Shirly bahkan sampai memutuskan hubungan dengan sahabat perempuannya itu, disaat sekarang Irsyad hadir lagi, berarti aku harus melakukan hal yang sama.


Memutus pertemananku dengan Irsyad.


Yang mana, disatu sisi hatiku, merasa berat untuk melakukannya.


Lalu kata-kata Irsyad soal ‘membahagiakan ku’ semakin membuat berat.


---


“Engga Kak aku emang ga ngerti. Aku ga ngerti kenapa Kakak baru menawarkan untuk memberikan aku kebahagiaan, saat aku udah jadi istri orang ...”


Pada akhirnya aku mengatakan hal itu pada Irsyad yang membuatnya kemudian terdiam. Akupun tak memberikan kesempatan pada Irsyad untuk berkomentar.


Karena tak berapa lama aku lekas mengatakan,


“Yuk terusin makannya, Kak. Habis ini aku langsung pamit pulang ya? Rei ada penerbangan hari ini soalnya, dan aku harus menyiapkan keperluannya ....”


Ya, aku entah kenapa tiba-tiba teringat pada Reiji. Persepsi apakah aku bahagia dengan Reiji selama empat bulan ini, mungkin harus aku cari jawabnya.


Yang jelas, aku mengingat Reiji, mengingat pelukannya sebelum aku pergi tadi.


Pelukan yang menentramkan, walau hanya sebentar saja sebelum pelukannya itu aku tepiskan.


Lalu Reiji aku tinggalkan begitu saja, demi menemui Irsyad.


Dimana sekilas aku menangkap sebelum aku keluar dari unit apartemen kami, Reiji sedang menatap kepergianku dengan tatapan yang nanar.


Ada rasa yang tidak nyaman memang saat itu, tapi aku tepiskan.


Tapi sebaiknya aku pulang saja sekarang, karena seingatku Reiji memiliki jadwal terbang sore ini.


Sebagai istri, setidaknya, aku tetap harus menjalankan kewajibanku untuk mengurusnya. Setelah beberapa hari ini, saat kesalku mendera, aku mengabaikan menyiapkan keperluan Reiji.


Bahkan tadi aku meninggalkannya tanpa berpikir soal makan siang Reiji yang harusnya aku persiapkan sebelum pergi.

__ADS_1


Sekarang, aku jadi kepikiran. Setidaknya aku harus lekas pulang untuk mengurusi Reiji yang akan pergi bekerja.


Apakah ini  karena sudah ada ‘rasa’ di hatiku untuk Reiji?. Ataukah hanya sebuah refleksi rasa bersalah ku pada suamiku itu, karena pada kenyataannya, secara perlahan aku telah mengingkari janjiku?.


Oh Irsyad, kenapa kamu harus kembali lagi dalam hidupku sih?.


---


Siang telah lewat saat aku berpamitan pada Irsyad yang kemudian mengantarku sampai ke parkiran mobil restoran tempatku dan Irsyad bertemu saat ini.


Kali ini aku menepati ucapanku sendiri, yang langsung beranjak pergi untuk menyudahi makan siangku dengan Irsyad, tak lama setelah aku menyelesaikan makananku yang tidak aku tandaskan.


“Li, soal perkataanku tadi, aku serius. Jadi tolong kamu pikirkan baik-baik. Baik soal ucapanku, juga soal apakah kamu bahagia bersamanya .... Dan kamu tidak perlu terlalu terburu-buru untuk memberikan jawabanmu padaku ....”


Irsyad berbicara saat aku hendak masuk ke dalam mobilku.


Aku mengangguk.


“Oke ....”


Lalu hanya satu kata itu saja yang aku ucapkan pada Irsyad, selain berpamitan sebelum aku masuk ke dalam mobil dan melajukannya untuk segera kembali ke apartemenku dan Reiji.


---


‘Aku berangkat dulu Yang. Tiga atau empat hari lagi aku baru balik ke Jakarta. Setelah itu aku harap kita bisa bicara dari hati ke hati.’


Aku baru membuka ponselku, saat aku telah sampai di apartemen.


‘Sorry aku Cuma kasih info lewat chat. Aku ingin menelepon sebenarnya, tapi mengingat kata kamu tadi kamu sedang ingin sendiri, jadi aku urung untuk menelpon kamu yang mungkin masih enggan bicara dengan aku.’


Dan dua pesan chat dari Reiji itu baru aku baca setelah aku mengetahui jika Reiji sudah tidak ada di apartemen kami. Dan dua pesan itu, Reiji kirimkan kurang lebih satu jam yang lalu. Kira-kira pada waktu itu, aku sedang berpamitan pada Irsyad di parkiran restoran tempat aku dan dia membuat janji temu.


Aku menghela nafasku.


Sedikit banyak aku merasa bersalah karena tidak membantu mengemasi pakaian Reiji yang setahuku akan pergi ke Paris dalam tugasnya kali ini.


Tapi tidak juga menampik, bahwasanya aku sedikit merasa lega sekarang ini.


Mungkin tiga atau empat hari ini, dapat aku pergunakan untuk berpikir.


Memikirkan dua laki-laki yang membuat pikiran dan hatiku tak karuan.


Reiji dan Irsyad.


Suami dan masa laluku.


Dimana salah satunya, harus ditetapkan sebagai pilihan.


Setelah aku menemukan jawaban.


Bahagiakah aku selama ini bersama Reiji?.


Atau aku akan memberikan Irsyad kesempatan seperti yang dia minta padaku hari ini?.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2