WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 278


__ADS_3

Selamat membaca....


❇❇❇❇❇❇❇❇


“Lia!”


Adalah Avi yang berseru ketika Malia telah memasuki unit apartemennya dan Reiji.


“I miss you, Bestie! ..”


Malia menyambut Avi yang berhambur kepadanya.


Sementara Reiji membiarkan saja dua sahabat itu saling sapa dengan berpelukan sebentar, tanpa Reiji berkomentar sedikitpun.


Lalu Reiji meletakkan kunci mobil pada tempatnya, dan langsung meloyor ke kamarnya dan Malia.


“Lo oke kan, Neng? Ada luka – luka ga badan lo?”


Avi langsung bertanya sambil menelisik Malia dengan agak panik, setelah sesi berpelukan mereka selesai.


“Gue oke aja, Vi. Mood gue yang ga oke.”


Malia sedikit menyampaikan keluhannya, dan Avi langsung tersenyum paham.


“I know ( Gue tau ) ..” jawab Avi penuh arti. “Gue udah denger ceritanya kenapa elo sampai berakhir diculik sama laki-laki dari masa lalu lo yang ternyata psyco itu.”


Malia yang tadinya nampak sedikit merungut, kemudian tersenyum kecil setelah mendengar ucapan Avi. “Sampe mana dia cerita sama lo?”


Lalu Malia melontarkan pertanyaan pada Avi yang nampak hendak ingin menjawab Malia --- namun urung ketika merasakan eksistensi Reiji yang sudah keluar dari kamarnya dan Malia, di tempat Avi dan Malia tengah masih berdiri saat ini.


“Gue udah order makanan, kalian pasti juga belum makan malem kan? Yuk makan sekarang? Mumpung masih anget, belum lama dateng itu makanan....”


Dan Avi memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraannya dan Lia sebelumnya.


Dengan mengajak Malia dan Reiji untuk makan bersama.


Selain memang Avi yang sudah merasa lapar, namun memilih menunggu Malia dan Reiji pulang lalu makan bersama dengan keduanya.


****


Merasa malas untuk makan bersama dengan Reiji, Malia kemudian mengatakan kalimat yang secara langsung mengandung makna penolakan atas ajakan Avi.


Sementara Reiji, sudah mengambil tempat di salah satu kursi meja makan.


Dan sudah juga nampak bersiap untuk menyantap makanan yang telah dibeli dan ditata Avi di atas meja makan, tanpa Reiji berucap sepatah kata pun.


“Ya elah keburu dingin itu makanan kelar lo mandi.....“ sahut Avi atas ucapan Malia yang mengatakan ingin mandi terlebih dahulu sebelum makan.


****


“Lo nginep ya, Vi?....“


Malia memecah keheningan di sesi makannya bersama Reiji dan Avi, dengan mengajak Avi bicara.


“Terus gue tidur dimana, Neng?” jawab Avi dengan santai.


“Ya sama gue lah di kamar,” sahut Malia tanpa berniat meminta ijin pada Reiji.


“Nah itu Pak Suami?”


Avi menanggapi ucapan sahutan Malia sambil menggerakkan dagunya ke arah Reiji yang makan dalam diam.


“Santai dia sih. Kan punya tempat bobo cadangan?“ sahut Malia dengan melontarkan cibiran, berikut keremehan sikapnya pada Reiji.


‘Hhh.’


Dan Reiji yang mendengar kalimat cibiran Malia itu, langsung berkesah berat dalam hati.


Avi paham emosi Malia karena sang kakak yang membohongi sahabat berikut kakak iparnya itu.


Tapi dihadapkan pada suami istri yang sedang perang dingin, Avi jadinya canggung sendiri.


“Lo nginep aja Vi....”


Reiji lalu bersuara, sambil ia berdiri dari duduknya.


Kemudian Reiji pergi dari area meja makan menuju ruang serbaguna.


****


Malia yang menahan kesalnya karena sejak Reiji menjemputnya di kantor, ingatan tentang Reiji yang menafkahi Shirly bahkan sampai ia dan Reiji menikah, serta Avi yang merasa canggung karena aura perang dingin diantara kakak lelaki dan sahabat yang merangkap kakak iparnya --- selanjutnya makan dalam diam.


Namun beberapa menit berikutnya, tanpa Malia menghabiskan makannya karena sudah menjadi tak berselera, kemudian pamitan pada Avi untuk pergi ke kamar duluan. “Gue naro tas dulu ke kamar ya Vi?....” kata Malia. “Sekalian gue mau mandi---“


“Oke bestie,” tukas Avi yang mencoba bersikap santai di depan Malia, setelah sempat merasa canggung karena sikap Malia dan Reiji satu sama lain beberapa saat yang lalu.


“Lo abisin tuh ya semua makanan?---“


“Gilingan!.... lo pikir gue apaan ngabisin makanan segini banyak?....”


Malia mengulum senyumnya setelah mendengar penuturan Avi yang setengah sewot namun tidak serius sewot.


“Ya emang makan lo banyak---“


“Dih, kek sendirinya engga aja....”


Malia terkekeh kecil kemudian. Avi pun ikutan.


“Gitu senyum. Jangan merungut aja. Males gue liatnya---“


“Tapi tetep cakep kan gue?....”


“Cakep darimana kalo muka lo kusut banget gitu?....”


Malia terkekeh kecil sekali lagi, “Ya udah, gue mandi dulu ya?”


Yang pamitnya Malia barusan, langsung diiyakan oleh Avi yang masih melanjutkan makannya sampai Malia masuk --- lalu keluar lagi dari dalam kamar dengan membawa pakaian ganti.


‘Gue perlu nyamperin Bang Rei ga ya mumpung Lia lagi mandi?.... ah tapi nanti gue ga denger Lia selesai mandi terus gue masih ngomong sama Bang Rei terus ada omongan yang Lia tangkep sepotong terus dia salah paham??? malah berabe urusan.’


Avi lalu membatin saat Malia telah masuk ke dalam kamar mandi.


‘Ga usah dulu deh. Tapi nanti kalo Bang Rei manggil, ya gue samperin.... kali dia mau curhat?’


Avi bermonolog lagi dalam hatinya, sambil melanjutkan makannya.


****

__ADS_1


Avi memilih menunggu Malia selesai mandi dengan duduk dan menonton tivi di ruang santai apartemen Malia dan Reiji sambil juga asyik dengan ponselnya, setelah ia selesai membereskan makanan bekas makannya serta bekas makan Malia dan Reiji yang tidak dihabiskan oleh keduanya.


Meja makan sudah rapih, berikut bekas peralatan makan pun sudah Avi cucikan namun belum ia bereskan ke tempatnya, karena masih berada di rak tirisan cucian piring. “Vi.” Avi langsung menoleh saat ia mendengar suara Malia memanggilnya.


“Bentar bentar Neng. Ini Ayang Marco telpon....”


Avi yang hendak panggilan Malia sebelumnya, malah langsung menginterupsi kala sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya.


Malia tersenyum sambil ia mengangguk.


“Ya udah gue ke kamar duluan ya? Lo langsung masuk aja kalo udah selesai....”


“Oke!” jawab Avi tanpa suara pada Malia sambil mengangkat jempolnya, lalu langsung menanggapi orang yang menghubunginya ke ponsel.


‘Eh, si Rei masih di ruang serbaguna apa udah di kamar jangan-jangan?’


Malia membatin selepas Avi menjawabnya. Sambil Malia melirik ke arah kamarnya dan menjeda langkah.


‘Kayaknya kalo ada Rei di dalem, Avi pasti ngasih tau. Dan lagi pintu masih kebuka kayak tadi pas gue keluar dari kamar buat mandi....’


****


****


MALIA


Yakin jika Rei tidak sedang berada di kamar kami, aku lanjut mengayunkan langkahku untuk masuk ke dalamnya sambil menunggu Avi selesai bertelepon ria. Yang aku tebak pasti itu adalah telepon dari kekasihnya.


Dan yah, Rei memang tidak ada di dalam kamar kami itu.


Lalu sambil menunggu Avi, aku mengambil ponsel dari dalam tasku.


Kemudian aku merebahkan diriku di atas ranjang dalam kamarku dan Rei di apartemen kami.


Berselancar di dunia maya, hanya untuk iseng saja. Termasuk iseng stalking akun medsos Rei.


Ingin tahu, ada apa di sana.


Apa ada postingan terbaru dari si bibit pelakor sialan itu yang di tag ke akun medsos Rei?


Dan oh sungguh kebetulan, ternyata ada. Sebuah foto yang di tag ke akun Rei oleh si bibit pelakor sialan itu.


Ada empat foto, jika aku lihat bulatan di bawah foto yang di tag ke akun sosmed Rei itu, foto yang berisikan beberapa orang yang aku tengarai adalah para sahabat Rei bersama suamiku dan si bibit pelakor itu tentunya.


Lalu ada caption yang sama pada dua foto yang membuatku mendengus geli dan sinis disaat yang bersamaan.


“Friendship is everything.”


Aku malas untuk melihat lagi dua foto yang lain, tapi jariku tidak sinkron dengan keinginanku.


Dan nyatanya seharusnya aku memang tidak menggeser layar pada ponselku untuk melihat foto berikutnya, karena setelahnya aku meradang.


Tak ada caption, tapi dua foto itu membuatku geram.


Yang satu bak keluarga bahagia berisikan ayah ibu dan seorang anak.


Dan yang terakhir membuatku jijik.


Karena di sana hanya ada gambar diri Rei dan si bibit pelakor itu yang terlihat dekat.


Yang mana ingin rasanya aku bangkit dari posisiku dan melabrak Rei meski bukan dia yang memposting foto tersebut.


Gatal juga tanganku ingin membubuhkan komentar di bawah foto untuk mempermalukan si Shirly itu.


Memberinya cap sebagai perempuan gatal yang mengejar suami orang di medsos, pasti akan memberikannya sangsi sosial.


Karena memang satu kata itu, yakni ‘Pelakor’ begitu sensitif bagi para perempuan warga +62.


----


Aku sedang menimbang-nimbang untuk menuliskan komentar dan menyempilkan cibiranku di kolom komentar aku medsosnya di bibit pelakor sialan bernama Shirly yang terbuka bebas itu untuk sekedar menyentilnya.


Walau tak banyak followernya aku lihat, tapi aku yakin jika aku menuliskan sesuatu yang berbau penunjukkan dirinya yang mengganggu keharmonisan rumah tangga orang di kolom komentar empat foto yang ia tag ke akun medsos Rei itu --- rasa malu, akan si Shirly itu dapatkan.


“Woy!”


Namun sebelum aku sempat menjalankan niatku, Avi sudah menghempaskan tubuhnya di sampingku.


“Liat apaan?....” tanya Avi setelah ia menegur sambil merebahkan dirinya di sampingku, dan aku langsung memperlihatkannya apa yang sebelumnya aku lihat.


“Nih---“


“Lo abaikan aja si.”


“Hm---“


“Mungkin karena sebelumnya Bang Rei deket banget sama dia dan anaknya, jadi kalo sekarang Bang Rei memutuskan pertemanan sama dia, tuh cewe rada syok.”


Avi bertutur setelah ia melihat foto pada akun sosmed Reiji yang aku tunjukkan pada sahabat merangkap adik iparku itu.


“Dan ngajak ribut gue....”


Aku menukas ucapan Avi yang kemudian terkekeh.


“Ajak gue ya?....” cetus Avi setelahnya, dan aku terkekeh kecil bersama dengan Avi juga.


----


Avi yang posisinya kini tengkurap sambil memandangku yang masih memperhatikan layar ponselku dimana laman akun medsos Rei masih terpampang disana, kemudian berkata, “Actually ya, Neng. Gue ngerasa ga enak sama Bang Rei ngejajah tempat tidurnya gini meski dia Abang gue.”


“Ya abis gimana, gue lagi alergi banget sama dia.”


Aku langsung menanggapi ucapan Avi, dengan masih menahan geram melihat foto terakhir yang di tag si bibit pelakor itu ke akun sosmed Rei.


Lalu Avi langsung menjawabku, “Yaa kalo soal itu gue paham deh. Tadi Bang Rei udah cerita sih ke gue soal lo yang menghindari dia karena mergokin dia yang bohong sama lo dan malah ada di apartemen sahabat perempuannya itu terus berakhir dengan elo yang diculik sama si Irsyad....“


----


“Udah sih ngapain lo pelototin terus itu foto, Neng?! Bikin lo panas sendiri yang ada.”


Avi lalu merampas ponselku dari tanganku.


“Lagian ya---“


“Vi....” sambarku saat Avi tengah ingin bicara lagi.


“Hm?....” sahut Avi cepat, dan aku langsung menatapnya.

__ADS_1


“Lo masih mau ga sahabatan sama gue kalo gue resign jadi kakak ipar lo?”


“Ngaco lo!”


Tanggapan Avi sambil ia menoyor kepalaku.


****


****


“Jangan mengambil keputusan dibawah pengaruh emosi, Neng.” Avi lanjut bicara.


“Ya istri mana yang ga emosi kalo suaminya nafkahin perempuan lain di belakang mereka?---“


“Maksud lo?---“


“Lo bilang Rei udah cerita sama lo?---“


“Ya cerita soal dia yang ngebohongin lo terus ingkar janji sampe lo dateng ke apartemennya si Shirly itu terus sempet ribut juga. Then ya itu sampe Bang Rei nyelamatin lo dari si psikopat Irysad....”


“Cuma itu?---“


“Emang ada cerita apa lagi?---“


“Dia ga cerita kalo dia nafkahin itu perempuan setiap bulannya, dan terakhir abang lo yang ‘baik hati’ itu ngasih si Shirly duit 300 juta?”


Mata Avi langsung membola setelah mendengar ucapan Malia yang barusan, dimana Malia mengangguk lalu menceritakan semua yang ia ketahui berkaitan dengan satu fakta itu.


“Itu beneran?!---“


“Masa gue fitnah suami gue sendiri yang udah gue terima keberadaannya dan gue udah nyimpen perasaan juga sama dia?---“


“Wah ga beres Bang Rei kalo gitu sih!---“


“Eh, Vi!” seru Malia yang agak terkejut melihat Avi yang bergegas bangkit.


“Bang Rei!” seru Avi yang sudah keluar dari kamar Reiji dan Malia. Dimana Reiji tak lama keluar dari ruang serbaguna dalam unit apartemennya dan Malia itu.


*****


“Lo beneran nafkahin si Shirly itu tiap bulan bahkan setelah lo nikahin Lia?!....”


Avi langsung mencecar kakak lelakinya itu saat Reiji muncul dengan ekspresi heran sebelumnya selain terkejut mendengar seruan Avi yang memanggilnya.


“Lo apa---“


“Aku ga masalah kalau kamu mau curhat sama Avi tentang keburukan aku. Tapi kalau memang kamu mau menyuarakan ketidaksenangan kamu, ngomong langsung ke aku.” Namun sebelum Avi bicara lagi, Reiji keburu bicara sambil memandang fokus pada Malia yang berada di belakang adiknya itu.


Dimana Malia langsung memajukan kakinya satu langkah, lalu membalas ucapan Reiji.


“Aku bukan curhat sama Avi soal keburukan kamu ya?! Tapi kenyataan soal abangnya yang nafkahin janda sialan nan murahan bertopeng sahabat itu!”


Sengit jawaban Malia pada Reiji, karena merasa Reiji berkata tajam padanya. Serta Malia menangkap pandangan Reiji yang seolah tidak senang, atas dasar pikiran Malia yang menduga jika Reiji tidak senang karena mengira jika Malia membicarakan Shirly juga dengan merendahkan perempuan itu pada Avi.


“Sahabat.... Cih!.... Mana ada laki yang cuma-cuma ngasih sahabatnya 300 juta kalo ga ada embel-embel di belakangnya....”


“Maksud kamu apa?....“ cetus Reiji dengan ekspresi ketidak senangan di wajahnya yang kian kentara.


****


Lalu kesengitan kata dan aura berikut sikap kian kentara di antara Malia dan Reiji dalam pandangan Avi, yang kembali kini merasa kikuk sendiri melihat kesengitan itu. selain Avi merasa tidak enak juga, karena mengira kesengitan itu timbul karena dirinya yang menghampiri Reiji untuk membahas tentang kakaknya yang suka memberikan Shirly uang ditiap bulannya itu setelah menikah dengan Malia.


Avi ingin menengahi, namun Malia langsung menyambar tepat saat dirinya ingin berkata untuk menenangkan Malia dan Reiji setelah kakak lelakinya itu menanyakan maksud ucapan Malia sebelumnya.


“B---“


“Laki-laki yang enteng banget ngasih duit ratusan juta ke perempuan tanpa embel-embel pinjeman, cuma satu kenyataannya! Itu perempuan sialan yang namanya Irly, sahabat yang merangkap gundik kamu---“


“Jaga ucapan kamu Lia!”


Dan semakin sengit serta horor saja bagi Avi pertikaian kata tajam dan sikap tidak terima diantara Malia dan Reiji, dikala untuk yang pertama kalinya Avi mendengar kakaknya itu mengeluarkan bentakan.


Dimana bentakan Reiji itu diselimuti dengan tatapan ketidaksenangan Reiji pada Malia yang tajam dan menusuk.


Bahkan Reiji mengarahkan dengan tajam juga telunjuknya pada Malia. Hingga membuat Avi membatin frustasi.


‘Duh berabe ini urusan!’


Yang mana ‘berabe’ yang cetuskan Avi dalam hatinya, kemudian terjadi.


“Oke! Mu-lai hari ini, aku akan jaga ucapan aku ke kamu Reiji Shakeel. Dan untuk itu, kamu harus ceraikan aku. Ga cuma ucapan aku juga akan jaga jarak dari kamu.”


Membuat Avi sontak terkejut mendengar ucapan Malia yang penuh emosi membalas bentakan Reiji padanya.


Dan nampak juga Reiji tertohok dengan ucapan Malia yang menyinggung soal perceraian itu.


Reiji yang terlihat tertohok setelah mendengar ucapan Malia yang membalas ucapannya dengan menyertakan embel – embel minta cerai, langsung terdiam.


Namun nyatanya tidak melakukan hal yang sama seperti Reiji.


Alih – alih berhenti, Malia malah merepet dan mencecar sambil memandang tajam pada Reiji.


“Mumpung ada Avi. Dia bisa jadi saksi. Talak aku sekarang. Dan jangan khawatir, aku ga minta harta gono – gini. Supaya kamu bisa kasih si j**ang bernama Shirly itu sebanyak – banyaknya uang kamu! Karena aku ga sudi berbagi dengan janda sialan itu! Pun ga sudi punya suami yang dari awal nikah udah membawa jejak masa lalunya, membagi perhatian yang seharusnya buat istri dengan sahabat perempuannya, membohongi aku dengan tanpa dosa, ingkar janji. Dan dua kali kamu bentak aku! Dan selalu gara – gara dia! Si Shirly Sialan itu! Persetan dengan cinta diantara kita! TALAK AKU SEKARANG!”


Malia bahkan berteriak di ujung kalimatnya dengan wajah penuh amarah menatap pada Reiji, yang memandangi Malia dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sementara Avi melotot selain ia syok setelah mendengar repetan Malia.


****


“Kenapa diem?! Talak aku sekarang! Perlu aku ambilin Qur’an?---“


“Stop Neng!” putus Avi. “Liat gue!---“


“Talak aku! Bebas kamu mau ngasih itu sundel uang suka – suka kamu! Sekalian minta bonus servis ranjang sama dia---“


“LIA!”


Teriak Avi untuk menghentikan Malia yang di matanya udah mulai ngaco itu.


“Udah ya?....”


Avi lanjut bicara, namun dengan telah melembut kini sambil menangkup wajah Malia dan menatapnya lamat – lamat.


“Jangan larut sama emosi lo. Ke kamar yuk? Tenangin diri lo dulu.... yuk?---“


“Lo ga usah nginep di sini malam ini, Vi....” sambar Malia. “Lo balik,” kata Malia lagi. “Dan gue ikut lo---“

__ADS_1


******


Bersambung.......


__ADS_2