WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 151


__ADS_3

Selamat membaca...


***


MALIA


Aku langsung saja melangkahkan kakiku lebar – lebar menuju Lounge kantorku, ketika si Cantik-resepsionis kantor, mengatakan jika Rei ada di sana.


Namun aku tidak menemukan Reiji dalam Lounge seperti kata si Cantik resepsionis kantorku itu, dan itu membuatku was-was. Sungguh aku khawatir-takut bahkan, jika dugaan paranoidku itu menyata gara-gara kedatangan dan pertemuan, serta makan siangku dengan Irsyad tadi.


Aku mengusap kasar wajahku dengan aku yang masih terpaku di Lounge kantorku itu.


Kepanikan melandaku selain rasa was-was dan kekhawatiran.


Tapi untung saja otakku tidak sedang dalam mode lola akibat panikku ini.


Jadi aku segera keluar dari Lounge lalu menutup kembali pintunya, kemudian aku langsung hendak mengeluarkan ponselku untuk menghubungi Rei.


Namun saat aku telah mengeluarkan ponsel dari dalam dompetku,


“Malia –“ aku dengar seseorang memanggilku, yang mana aku tahu pasti siapa yang sedang memanggilku itu.


Pak Andra, atasanku.


“Ya, Pak?” sahutku.


Walhasil, aku jadi menunda untuk menghubungi Reiji dan langsung menanggapi atasanku yang barusan memanggilku itu.


“Ke ruangan saya.”


Duh, ngapain coba Pak Andra memanggilku ke ruangannya disaat aku sedang ingin buru-buru menghubungi Rei?...


“Oke, Pak. Five minutes...” jawabku.


“Sekarang.”


Ish!.


***


Dengan malas-malasan Malia mau tidak mau menuruti permintaan atasannya yang meminta Malia untuk segera datang ke ruangan atasan Malia yang bernama Andra itu.


‘Mau apa sih dia manggil gue ke ruangannya?...’ gerutu Malia dalam hatinya. ‘Perasaan gue ga ada utang laporan sama dia-‘ sambung Malia yang masih menggerutu itu. ‘Jangan-jangan mau ngasih kerjaan lagi nih ya?-‘


Malia menduga-duga.


‘Atau jangan-jangan ada yang mesti gue revisi?. Haishh ..... Baru mau nafas gue.’


****


Rei, kamu di kantor aku?


Meski Malia mengikuti permintaan atasannya yang bernama Andra itu, namun Malia tetap mencuri – curi kesempatan untuk mengirimkan pesan chat ke nomor kontak Reiji.


Lalu Malia menyimpan kembali ponselnya ke dalam dompet miliknya yang selalu ia bawa saat makan siang di kantor setelah ia mengirimkan pesan chat pada Reiji tanpa melihat lagi bagaimana status pesannya.


Baru kemudian Malia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam ruangan atasannya itu.


****


MALIA


“Permisi, Pak Andra ...”


“Masuk Malia –“


Aku melangkah lebih masuk ke dalam ruangan Pak Andra setelah ia mempersilahkanku masuk.


“Ada yang salah sama laporan saya, Pak? ...“ tanyaku pada Pak Andra sambil aku menutup pintu ruangannya tanpa memperhatikan sekeliling ruangannya lagi, karena aku sudah sering bolak – balik ke dalam ruangannya.


Dan perlu dicatat, murni untuk urusan pekerjaan.


Karena kebetulan Pak Andra ini – setahu aku, meskipun kalo soal kerjaan bawelnya minta ampun, tapi ia family man, meskipun usianya kurang lebih sama dengan Rei.


Istrinya sering datang saat makan siang ataupun saat Pak Andra hendak pulang, terkadang istrinya itupun membawa serta anak mereka jika Pak Andra sedang senggang dengan pekerjaannya.


Dan aku tidak pernah mendengar gosip-gosip miring tentangnya yang seliweran di kantor ini.


Mengingat biasanya pria di usia seperti Pak Andra dengan proporsional tubuh serta wajah yang cukup di atas standar, belum lagi ia memang berasal dari keluarga kaya yang memiliki satu gedung perkantoran ini-kebanyakan punya cem-ceman di belakang istrinya.


Tapi sejauh aku  mengenal Pak Andra yang katanya lebih memilih mengurus kantorku daripada Perusahaan utama keluarganya, itu orang boro-boro genit sama karyawan, senyum aja pelit. Kalo ada karyawan perempuan yang pakaiannya-menurut Pak Andra tidak layak dipakai ke kantor, SP melayang.


Ah sabodo lah. Yang penting aku tidak pernah bermasalah dengannya, selain urusan laporan pekerjaan yang ia berikan padaku, yang sering mendapat koreksian darinya, mengingat betapa perfeksionisnya Pak Andra jika menyangkut pekerjaan.


---


“Ada yang salah sama laporan saya, Pak? ...“ tanyaku.


“Engga-“


Pak Andra menjawab santai.

__ADS_1


“Ada kerjaan baru lagi buat saya dan team?-“ Aku pun langsung menembak Pak Andra dengan pertanyaan.


“Engga juga ...”


Pak Andra menjawabku dengan cepat namun santai.


Kelewat santai malah menurutku.


Aneh jadinya.


Melihat Pak Andra seperti itu.


Dia yang biasanya selalu duduk tegak di kursi kebesarannya ketika memanggilku sendiri atau bersama beberapa orang timku ke ruangannya itu, kini berdiri landai menyandar di pinggir meja kerjanya.


Ditambah mukanya santai banget perasaan sekarang ini.


“Trus kalo saya boleh tau, Bapak panggil saya kesini?—“ cetusku. Namun sebelum aku selesai bicara, Pak Andra memotong ucapanku.


“Temen saya mau ketemu kamu ...”


“Te-men, Bapak? ...”


Ada urusan apa temen Pak Andra mau bertemu denganku? ...


“Yap!”


Pak Andra menyahut sambil manggut-manggut. Aku pun memandang heran padanya.


“Dia ada perlu sama kamu katanya-“ sambung Pak Andra.


“Perlu?-“ aku menyahut dengan kening mengerut.


“Hu’um ...”


Aku mengernyit bingung.


“Memang saya ada kenal ya temen Bapak?” tanyaku kemudian.


“Ada,” jawab Pak Andra.


“Namanya? Dan perlunya sama saya? Apa?-“


Malas menanggapi Pak Andra yang bertele-tele, jadi langsung kuborong saja pertanyaan padanya.


Tapi bukan jawaban, melainkan cengiran yang aku dapatkan dari Pak Andra. Namun didetik berikutnya ...


“Namanya Reiji Shakeel ...”


Hah?!.


Suara yang bukan suara Pak Andra.


Suara yang amat sangat aku kenali. “Rei?!”


Aku bahkan sampai memekik, saking aku terkejut.


“Perlunya, mau balas pesan Mba Malia secara langsung.”


Benar-benar Rei yang ada di hadapanku saat ini.


“Iya, sayang, aku di kantor kamu ...”


Aku masih mengerjap-ngerjapkan mataku saat Rei bicara lagi sambil cengengesan.


“Wek, mo muntah gue dengernya.”


Aku dengar celetukan dari Pak Andra yang membuat aku menoleh padanya.


“Jangan sirik.” Rei menimpali celetukan Pak Andra dengan cengengesan. Lalu atasanku itu terkekeh, sementara aku masih kebingungan.


“K-kok? –“


“Bos kamu ini temen aku di club mobil, Yang.”


“Oo,”


Aku pun ber-oh ria saat Rei menjawab kebingunganku.


“Dan suami kamu ini durhaka banget ga ngundang saya.” Pak Andra menimpali ucapan Reiji.


“Memang Pak Andra ga tau kalau suami saya dia?”


Pak Andra menggeleng. “Saya ga terlalu merhatiin siapa nama suami kamu.”


Ah iya, Pak Andra sedang di Amerika waktu aku menikah dengan Rei.


Dan aku memberikan undangan untuk Pak Andra melalui sekertarisnya.


“Waktu kamu nikah juga saya masih di Milwaukee. Dan saya Cuma dapet info dari Nur kalau ada staf yang menikah.”


Iya Pak, saya udah tau.

__ADS_1


“Lagian sejak saya aktif disini juga saya ga pernah ngeliat suami kamu ini jemput kamu,” imbuh Pak Andra. Dan akupun manggut-manggut.


Nah kalau itu memang karena Rei selalu menunggu di lobi bawah, atau di parkiran dalam mobil jika ia menjemputku saat pulang kantor. Dan setiap mengantar, Rei tidak pernah turun dari mobil.


“Memang kalian ga pernah saling contact?”


Aku bertanya sambil menatap Rei dan Pak Andra bergantian.


“Kebetulan udah agak lumayan lama kami lose contact, Yang.” Rei yang menjawab. “Dan aku juga udah ga aktif lagi di club sejak mulai dapet jadwal terbang –“ imbuh Reiji. “Makanya ga kepikiran ngundang Bos kamu ini.”


“Oo ...” aku kembali ber-oh ria sambil manggut-manggut.


“Dunia emang selebar daon kelor ya? –“ celetuk Pak Andra. “Kita tahunan lose contact, taunya salah satu karyawan gue adalah istri lo, Ji –“


Rei terkekeh, dan aku tersenyum saja menanggapi ucapan Pak Andra barusan.


Setelahnya Pak Andra mempersilahkanku dan Rei untuk duduk di sofa dalam ruangan pribadinya itu.


Namun begitu, aku tetap sadar statusku sebagai karyawan di kantor tempatku bekerja ini. “Tapi Rei, aku udah harus balik kerja ini.“


“Kamu lagi longgar kan?” tukas Pak Andra.


“Iya, Pak,” sahutku. “Tapi kan saya ga enak sama yang lain juga, kalau saya ga balik ke meja?”


“Heleh! Paling kamu ngegibah sama anak-anak team kamu kalo lagi longgar gini? Macem saya ga tau aja-“


Akupun terkikik, karena yang Pak Andra bilang bener adanya.


“Ya udah balik sana ke meja kamu.” Rei kemudian bicara padaku, dan aku pun terfokus padanya.


Sebenarnya aku ingin bicara sedikit banyak pada Rei. Tapi berhubung ada Pak Andra, akupun mengurungkan niat untuk bertanya sehubungan dengan keberadaan Rei di kantorku ini.


Rei dateng dari jam berapa?.


Kok ga kasih tau kalo mau dateng ke kantorku di jam segini?.


“Terus kamu?-“ akhirnya pertanyaan itu yang meluncur dari mulutku.


“Aku tungguin sampe kamu selesai kerja-“ jawab Rei pengertian.


Namun aku terkejut mendengarnya.


Iya jelas aku terkejut selain tak tega membiarkan Rei menunggu sampai waktu kerjaku selesai – meski aku bisa pulang teng – go hari ini.


“Masih lama banget loh Rei jam kerja aku selesai,” ucapku, tapi Rei tersenyum.


“Ga apa, demi kamu ... Jangankan nunggu berjam – jam. Nunggu berhari – hari pun aku rela.”


“Aji gile buciinn!!-“


Celetukan keluar lagi dari mulut Pak Andra yang membuat Reiji terkekeh, sementara aku mengulum senyum. Karena wow sekali sih untukku yang tahu bagaimana atasanku bersikap selama ini di kantor, dengan Pak Andra sebagai teman Rei.


Ya walau sedang di dalam ruangan pribadi Pak Andra aja dan hanya ada dia, aku dan Rei di ruangan atasanku ini.


“Pak, ijin ngomong berdua sama Pak Pilot ini ya Pak?” pamitku pada Pak Andra, meski ia sangat santai dan ramah sekarang.


Tapi tetap aku tahu batasan.


Dan meski Pak Andra teman Rei, dia masih atasanku. Jadi aku sadar etika.


“Take your time, Malia-“ sahut Pak Andra, lalu ia mengambil ponselnya. “Saya juga mau telfon ayang babe dulu.”


Wuih, bisa ngocol juga itu orang yang mukanya macam overdosis botok setiap harinya. Saking kelewat kaku.


“Istri atau? –“


Ledekan keluar dari mulut Rei pada Pak Andra.


“Heits, ga cuma lo seorang ya Reiji Shakeel. Laki baik-baik yang ada di dunia ini kalo soal urusan perempuan?! ... Masih ada gue!”


---


Aku hanya mengulum senyum, sementara Rei terkekeh geli selepas mendengar kelakar Pak Andra tadi. Membuat aku jadi sejenak berpikir tentang Rei. Yang kalo menelaah ucapan Pak Andra pada Rei tadi soal ‘Ga Cuma lo seorang ya Reiji Shakeel. Laki baik-baik yang ada di dunia ini soal urusan perempuan.’, menggambarkan jika Rei memang ga punya indikasi genit dengan perempuan-perempuan diluaran.


Aku mengajak Rei sedikit menjauh dari meja Pak Andra, yang orangnya sedang melipir ke jendela kaca besar di salah satu bagian dalam ruangan pribadinya itu dengan ponsel yang menempel di telinganya. Lalu aku berucap pada Rei.


“Kamu ga pulang aja Rei? Bisa istirahat kan di rumah? Aku teng – go kok nanti pulangnya. Lagi longgar banget kerjaan –“


“Ga apa – apa aku tungguin kamu aja –“ potong Rei. “Tanggung udah disini,” sambungnya.


“Tapi –“


“It’s okay.”


“Beneran? ...”


Rei pun manggut – manggut seraya tersenyum.


“Bener,” jawab Rei. “Aku akan tungguin kamu disini. Kecuali kamu ada janji lain selepas pulang kerja kamu nanti.”


Deg!.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2