
Terima kasih masih setia.
***
Selamat membaca...
***
REIJI
Walau sudah – katakanlah sering melihat tubuh polos Lia, namun selalu saja aku tidak dapat mencegah diriku untuk tidak menelan air liurku saat melihat Lia berbaring pasrah tanpa busana di hadapanku.
Aku menatap Lia lekat, sambil aku mempreteli sendiri pakaianku hingga tubuhku pun sama polosnya dengan Lia. Aku sudah terbakar, dan ingin segera melakukan penyatuan dengan Lia karena sudah agak lama aku tidak mendapatkan ‘hak’ ku sebagai suami beberapa waktu belakangan ini.
Jangankan bercinta atau ciuman di bibir, kecupan di pipi pun sudah tidak aku dapatkan dari Lia sejak ia merajuk karena ia mengetahui fakta tentang perasaanku di masa lalu pada Irly, dan ditambah lagi kehadiran laki – laki si bibit pebinor yang bernama Irsyad itu.
Bicara tentang si bibit pebinor itu, sebenarnya aku sedikit was – was.
Meskipun aku akan mendapatkan kenikmatan dalam beberapa saat ke depan, namun pikiran negatifku mengatakan jika sebenarnya Lia pasrah dan sok agresif padaku hanya demi melindungi laki – laki itu.
Tapi tidak, aku tidak ingin larut dalam pemikiran negatifku itu. Toh aku juga tidak menemukan sorot keterpaksaan di manik Lia yang sedang menatapku sayu ini. Dimana matanya kemudian terpejam saat aku mulai membombardirnya dengan cumbuan sensual.
Jadi, tidak akan aku sia-siakan hal itu.
Toh, Lia dan seluruh tubuhnya adalah hak-ku.
---
Tubuh Lia menggeliat seksi saat cumbuan sensualku kian membabi buta di tubuhnya.
Dan setiap hal itu terjadi, aku menatap Lia dengan mendamba, menikmati rona wajahnya yang memerah karena diliput gairah.
Sesuatu yang membuatku kian tak tahan, untuk segera melakukan penyatuan dengan Lia. Dimana kurasakan tubuh Lia menegang - seperti selalunya, setiap kali aku sudah bersiap untuk melakukan penyatuan dengannya.
Dan Lia pasti akan spontan melengkungkan tubuhnya, setiap kali aku menghentak walau dengan ritme yang pelan. Aku menatap wajah Lia yang aku puja dalam penyatuan kami, yang sesekali terpejam matanya ketika aku menghentak sedikit keras.
Lalu aku akan tergoda untuk ‘menggantung’ nya.
Bukan apa, karena bagiku Lia terlalu nikmat, dan aku tidak ingin selesai dengan cepat setiap kali main ‘kuda – kudaan’ dengan Lia di atas ranjang.
__ADS_1
Tapi untuk yang kali ini, aku berpikir jika Lia hanya tergolek pasrah saja tanpa memberikan perlawanan, aku akan menyudahi permainan tanpa memanjang-manjangkan waktuku menggempur Lia.
Pikiran negatif sempat bertengger lagi di otak ku tentang alasan kesediaan Lia yang bersedia untuk bercinta denganku. Jika Lia tidak ingin aku sampai menyakiti si bibit pebinor itu. Selain, aku sungguh tidak berharap jika Lia malah membayangkan jika pria itulah yang sedang ‘memacu’ nya saat ini.
Sial sekali jika begitu-pikirku.
Tapi apa Lia sampai sebegitunya?.
Aku tidak tahu sebesar apa kadar cinta Lia pada si bibit pebinor itu, memang.
Tapi aku rasa Lia tidak akan sampai segila itu membayangkan pria lain di otaknya yang kadang skeptis itu saat ini, dimana aku sedang menguasai tubuhnya.
Aku merasakan rematan pelan di kedua lenganku saat aku sedang melamun negatif tentang Lia saat ini, dan aku seketika tersadar jika aku sempat melamun kala Lia bersuara.
“R,ei? –“ panggil Lia dengan suaranya yang sudah parau, dan mataku langsung disuguhkan oleh wajah Lia dengan mata yang menatapku sayu.
Dan aku baru ‘ngeh’ kalau aku sedang berhenti ‘memacu’ Lia dibawahku. Dan tunggu, barusan yang aku dengar Lia melirihkan namaku. Itu berarti jika Lia sadar betul, bahwa akulah yang sedang berbagi kenikmatan dunia yang tiada tara nikmatnya ini denganku.
Ya, aku!. Reiji Shakeel-suaminya Malia Leonard.
“Kena,pa? –“ tanya Lia sedikit terbata sambil menatapku dengan nampak sedikit heran.
Ditengah pergerakkanku aku mengurai ciumanku dan Lia, lalu aku pandangi Lia yang sudah nampak ‘berantakan’ namun seksi menggoda di mataku. Masih ada sekelebat pikiran negatifku tentang kesediaan Lia untuk bercinta denganku saat ini, jadi aku masih kiranya penasaran dan mencari jawaban atas prasangkaku itu ditengah kenikmatan yang sedang aku rasakan.
Tak lama, rasa penasaranku kemudian hilang, pikiran negatifku terbang dan hanya nikmat saja yang aku rasakan. Kala Lia melakukan perlawanan di bawah sana, selain suara desahannya yang mengudara lebih sering dari sebelumnya, kala aku memacunya semakin intens, dan kakinya erat mengunci pinggangku.
“Who am I (Siapa aku), Lia?” tanyaku dimana aku semakin mempercepat hujamanku. Lia pun mengernyit disela desahannya yang terus menggema di kamar kami. “Answer, Liaa..”
Aku berucap dalam geramanku menahan nikmat disaat aku terus bergerak cepat dan intens tanpa jeda. Ria memekik nikmat sambil meremat lenganku saat aku lebih memperdalam hujamanku yang tanpa jeda.
“R-Rei..” jawab Lia lirih. "Reiji---"
Dan aku merasakan Lia mencengkramku lebih kuat, yang mana aku tahu jika Lia hampir sampai pada pelepasannya.
“Say it again (Katakan sekali lagi)!”
“Akh!. Rei! –“ Lia memekik lagi kala aku sedikit menyentak di bawah sana. Lalu Lia semakin memekik kencang.
Lia benar – benar sudah di ujung pelepasannya. Aku yakin itu. Aku kian mempercepat hujamanku. “Dan aku siapamuuu? –“
__ADS_1
“S, sua-mi-kuu –“
Tubuh Lia bergetar di bawahku.
“Akh, Reii ..” sambil Lia memekik lagi, namun kali ini pekikannya seolah tertahan dan kakinya lebih erat mengunci pinggangku, bersamaan dirinya yang erat memelukku.
Aku puas.
Penasaranku terjawabkan. Gundah dan gusarku hilang, dan fokusku kini hanya pada diriku dan Lia saja dalam pergulatan panas kami saat ini.
Lia sudah sampai pada pelepasannya, sementara aku belum. Dan belum ingin juga menuntaskannya.
Lia yang sudah mengurai pelukan eratnya dariku itu telah merebahkan kembali dirinya ke atas permukaan ranjang dan kuncian kakinya di pinggangku mulai mengendur.
Kubiarkan sejenak Lia meraup oksigen dan menetralkan nafasnya. Namun tak lama, karena aku tak sabar untuk merasakan kembali kenikmatan dalam sesi bercintaku dengan Lia ini.
Lia yang matanya sempat terpejam dengan nafasnya yang tersengal itu, kemudian kembali membuka matanya, kala aku kembali menggerakkan tubuh bagian bawahku yang masih menyatu dengan miliknya.
“I love you, Lia..” ucapku pada Lia, ditengah aku yang kembali menghujamnya. Lia menatapku dan ia menggigit bibir bawahnya sendiri sambil menatapku sayu.
Setelahnya Lia nampak terkejut ketika aku membuatnya bangkit dengan mendorong punggung telanjangnya.
Hingga Lia berada di atas pangkuanku dan kami masih berada dalam penyatuan. Aku yang haus atas kenikmatan yang aku dapatkan dari sesi bercinta dengan istriku ini, sungguh tak ingin cepat – cepat menyelesaikan sesi bercinta kami sekarang ini.
Selain aku ingin Lia tak memikirkan apapun lagi, walau hanya saat ini saja, selain pada diriku. Aku kembali mencumbui Lia yang berada di pangkuanku sekarang ini, dan semakin bersemangat, kala kudengar alunan ******* halus Lia mulai terdengar lagi.
Semangatku kian menyala, bersamaan dengan hatiku yang bahagia, kala disela ******* halus Lia itu, ia menyebut namaku dengan seringnya. Dan senangku menjadi tak terhingga, kala Lia mengambil alih sesi bercinta kami sekarang.
Selain gairah sudah menyelimutiku dengan hebatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, hatiku ikut menghangat, karena aku dipertemukan lagi dengan ‘Lia’ ku di awal pernikahan kami.
Lia yang malu – malu namun kemudian mampu mengimbangiku dan kami berbagi kenikmatan dengan adil dan saling memuaskan. Aku tak lagi banyak berkata kala Lia sudah bergerak naik turun di atasku.
Hingga sampai aku sudah rasanya hampir sampai pada puncak pelepasanku, begitu juga Lia yang hendak sampai pada pelepasannya yang kedua – aku kembali menghempaskan pelan tubuh Lia di atas permukaan ranjang, kemudian mempercepat gerakan.
Sampai disaat gelombang dahsyat itu datang menggulung seluruh tubuhku yang kemudian kejang macam terkena serangan ayan ringan, dan Lia pun sama. Lalu aku ambruk di atas dada Lia yang sedang kembang kempis itu. Yang rasanya akan membuatku hanya mengistirahatkan diriku sebentar saja untuk memulai lagi dari awal hal indah yang hakiki nikmatnya itu, yang baru saja aku dan Lia selesaikan.
**
Bersambung..
__ADS_1