WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )

WAKTU ( Untuk Sebuah Rasa )
CHAPTER 196


__ADS_3

Selamat membaca...


Terima kasih masih setia.


***


“Aku mau kamu jujur sama aku, Yang ..”


Ucapan tersebut yang keluar dari mulut Reiji, ketika ia dan Malia telah duduk bersama di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga di unit apartemen mereka --- selepas Reiji menjemput Malia di tempat istrinya itu bekerja.


Yang mana, seharusnya Reiji dan Malia katakanlah ada kencan malam ini --- namun rencana itu dibatalkan secara sepihak oleh Reiji karena satu hal yang membuat hati Reiji rasa tak nyaman, hingga keputusan membatalkan kencannya dan Malia ia putuskan begitu saja.


Karena Reiji ingin segera membahas dan menuntaskan hal yang mengganggu kenyamanan hatinya dengan Malia, selain Reiji ingin memastikan sesuatu.


“Soal? ..”


Malia kontan segera melontarkan pertanyaan, menanggapi ucapan Reiji sebelumnya.


“Kamu selama ini, hanya berpura – pura udah cinta aku?”


Dimana jawaban yang dikeluarkan dari mulut Reiji membuat Malia terkejut.


Malia mengernyit, dan ada rasa sedikit tersinggung dalam hatinya atas pertanyaan Reiji yang menyiratkan kecurigaan selain sebuah keraguan.


‘Kok tau – tau Rei ngomong begitu?’ tanya Malia dalam hatinya yang juga merasa sedikit heran.


Dan ia hendak menanggapi ucapan Reiji yang terdengar sedang ragu dan mencurigainya itu tanpa ada angin dan hujan --- menurut Malia.


“Karena aku mendapatkan ini ..”


Namun sebelum Malia mengeluarkan suara untuk melayangkan protes selain bertanya mengapa Reiji mempertanyakan soal jika Malia hanya berpura – pura mencintainya, Malia dibuat terkejut lagi oleh Reiji kala Malia melihat beberapa foto yang kemudian Reiji letak dan jejerkan di atas meja di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga di unit apartemen mereka tersebut.


“Tanggal yang terbaru, waktu aku tugas ke Medan beberapa hari yang lalu-“


Reiji berucap lagi setelah selesai meletak dan menjejerkan beberapa foto yang ia keluarkan dari sebuah amplop coklat, yang ia selipkan di pinggiran sandaran lengan sofa tempatnya duduk sebelum Reiji menjemput Malia di tempat kerja istrinya itu.


“Rei, ini-“ gugu Malia.


“Kamu ada main dengan dia dibelakang aku selama ini-“


‘Oh Tuhaaaan-‘


Malia berkesah dalam hatinya, sambil ia memperhatikan foto – foto yang ada di atas meja.


Dimana foto – foto tersebut menggambarkan bentuk kemesraan antara Malia dan Irsyad, jika dilihat dari foto – foto tersebut yang hanya ada Malia dan Irsyad saja di dalamnya, pada kesemua foto.


Namun jika dibilang Malia dan Irsyad nampak mesra di dalam foto – foto yang ditunjukkan Reiji pada Malia itu sebenarnya tidak juga.


Karena tidak ada pose yang gimana – gimana, bahkan sekedar berpelukan.


Hanya memang ada foto dua tangan dari orang yang berbeda, yang saling menggenggam erat.


Dimana satu tangan itu, Reiji kenali memang tangannya Malia --- jika dilihat dari jam tangan yang dipakai pada tangan tersebut, yang Reiji kenali sebagai jam tangannya Malia.


Sementara satu tangan lain, bukan tangannya. Karena tangan yang menggenggam Malia itu tidak sekokoh tangannya.


Dan lagi, Reiji memang tidak pernah merasa pernah mengambil foto saling menggenggam tangan dan menunjukkan tangan saja dengan Malia.

__ADS_1


“Engga Rei, engga!-“


Malia langsung menyanggah dengan cepat tudingan Rei soal dia yang ada ‘main’ dengan laki  - laki dalam foto, yang adalah Irsyad.


Sambil Malia menggeleng juga beberapa kali dengan cepat.


“Lalu foto – foto ini?” tanya Rei pada Malia kemudian.


“Aku bisa jelaskan,” jawab Malia pada Reiji. “Tapi darimana kamu dapat foto – foto ini?” lalu Malia bertanya kemudian. “Jawab Rei, bagaimana kamu bisa punya foto – foto ini?”


“Orang yang ada di dalam foto kamu itu sendiri yang memberikannya ke aku ----“


“Hah?!”


Malia terperangah mendengar jawaban Reiji barusan.


***


“Irsyad, nemuin kamu, Rei? ..” tanya Malia selepas ia terperangah mengetahui jika Irsyad sampai berani menemui Reiji.


“Iya ..”


Reiji menjawab tenang pertanyaan Malia barusan.


“Kapan? ----“


“Tadi pagi sepulang aku mengantar kamu ke kantor ----“


“Astaga ..” kesah Malia.


“Jadi apa foto – foto itu asli? ..” tukas Reiji.


“Iya .. Ini semua asli, Rei.”


“Jadi benar?”


Reiji langsung bertanya.


“Kalau kamu yang bilang udah cinta sama aku adalah bohong?”


Kemudian tudingan keluar dari mulut Reiji.


“Engga Rei ..” Malia menggeleng. "Engga. Soal itu aku ga bohong .."


Lalu Malia menghela nafasnya dengan sedikit berat sekali lagi.


Reiji masih terus memperhatikan gerak-gerik Malia.


“Lalu foto-foto ini? ..”


Kemudian Reiji kembali mengajukan pertanyaan pada Malia yang menarik lurus sudut bibirnya.


****


“Boleh aku geser ke deket kamu, Rei?”


Malia meminta persetujuan Reiji untuk pindah duduk ke sisi suaminya yang duduk di sofa terpisah dengannya.

__ADS_1


“Silahkan ----“


“Makasih, Rei ..”


Malia berucap sambil berpindah tempat.


Lalu Malia memposisikan dirinya duduk berhadapan dengan Reiji.


****


Diraihnya kedua tangan Reiji oleh Malia, yang kemudian Malia genggam dengan erat.


“Aku harap kamu percaya sama aku, Rei ..“


Sambil Malia menatap Reiji lekat.


“Percaya kalau aku yang bilang udah jatuh cinta ke kamu itu memang seperti itu adanya.” ucap Malia lagi.


Lalu Malia menundukkan kepalanya.


“Kalau soal foto-foto ini, aku bingung bagaimana dan dari mana menjelaskannya ke kamu. Meski memang, ga ada rekayasa sama sekali dalam foto –foto itu ..“


“.......”


“Foto-foto itu ada saat aku kembali bertemu dengan Irsyad selepas kita menikah ..”


Malia melirik pada foto-foto yang ada di atas meja pada ruang tamu yang merangkap ruang keluarga pada unit apartemennya dan Reiji.


“Saat aku masih merasa ga terima dengan perjodohan kita, saat aku masih gamang hingga aku menjadi naif disaat aku kembali bertemu dengan dia yang waktu itu aku berpikir kalau aku masih mencintainya ..”


Lalu Malia kembali menatap pada Reiji, yang masih terus memperhatikannya. Lalu Malia menarik nafasnya pendek, dan menghembuskannya dengan sedikit berat.


“Jadi ya kamu juga tahu sisa ceritanya,” ucap Malia. “Dan aku berfoto beberapa kali dengan Irsyad saat kami bertemu.”


Lalu Malia melepaskan genggaman tangannya pada Reiji, sambil ia juga merubah arah duduknya dan meraih satu foto yang tadi sempat ia angkat.


“Foto – foto ini semua benar .. Aku ingat memang pernah berfoto seperti ini dengan Irsyad .. Tapi ada yang janggal dengan foto ini Rei ----“


“Janggalnya? ..”


Malia sontak menoleh ke arah Reiji yang juga sudah merubah arah duduknya seperti Malia yang melempar senyum pada Reiji setelah suaminya itu menukas ucapannya seraya bertanya.


“Terserah ya kamu mau percaya atau engga .. Karena aku juga ga bisa membuktikan kalau omongan aku benar sehubungan aku udah ga punya copy foto – foto ini di ponsel aku .. Tapi ya aku bener – bener berharap kalau kamu bisa percaya omongan aku ini, Rei ----“


“Jelasin kalau begitu.”


Reiji menukas.


“Aku bisa menilai kamu jujur dengan penjelasan kamu atau engga, dengan hanya melihat gestur tubuh kamu.”


Malia mengulas senyuman seraya mengangguk, selepas mendengar ucapan Reiji barusan.


“Ini .. Foto ini ..”


Malia kemudian berkata sambil mendekatkan pada Reiji, satu foto yang telah ia pegang.


*******

__ADS_1


Bersambung .....


__ADS_2