
Selamat membaca...
***
Beberapa hari berlalu, dari sejak insiden Irsyad yang menemui Reiji lalu memberikan foto – fotonya dengan Malia yang telah Irsyad manipulasi tanggal – tanggalnya.
“Ini ga khawatir para fansnya Pak Reiji Shakeel protes nih gara – gara kamu posting foto mesranya kita begini terus – terusan? -----“
“Mereka ga ada hak buat protes ...”
Reiji menukas ucapan Malia.
“Coba aja ada yang nyinyir sama kamu di kolom komen postingan foto kita. Aku abisin dia di sosmed sampe dia minta maaf ke kamu.” Reiji lanjut berucap sambil dirinya mendorong sebuah troli besi, dimana ia dan Malia sedang berada di sebuah supermarket.
“Du ilah, segitunya -----“
“Ya harus segitunya,” tukas Reiji. “Aku ga akan tinggal diam kalo ada orang yang rese sama urusan hidup kita, apalagi kalo sampe ada yang ngatain kamu -----“
“Nanti dibilang cowo lemes loh? -----“
“Ga peduli soal itu sih ... cowo yang bener, suami ----- terutama, apalagi istrinya itu perempuan yang dia cinta banget – banget, mana rela kalo sampe istrinya dihina orang. Terlebih, kalo istrinya dibidik laki – laki lain,” cerocos Reiji.
***
Malia memicingkan matanya.
Reiji yang menangkap ekspresi Malia itu kemudian mendengus geli.
“Ga ada maksud nyindir, oke?”
“Kirain ...”
Malia sedikit merungut.
Dan Reiji tersenyum sembari mengacak pelan rambut Malia yang kemudian pinggangnya ia tarik dengan pelan lalu Reiji selipkan Malia diantara dirinya dan troli supermarket yang sedari tadi ia dorong itu.
Lalu Reiji membawa Malia yang berada dalam kukungannya yang terlihat posesif itu mendorong troli belanjaan mereka.
Posisi yang kiranya membuat keduanya nampak mesra dalam pandangan orang – orang yang berada di supermarket yang sama dengan Reiji dan Malia. Yang mana dari segelintir orang itu kiranya membatin, 'Bikin ngiri aja -"
***
“Kenapa?” tanya Reiji yang melihat gelagat Malia yang sedang berjalan di depannya itu sambil mendorong troli menyusuri lorong – lorong supermarket sambil melihat – lihat barang – barang yang tersusun rapih pada tray dalam supermarket tersebut.
“Malu tau kayak gini.”
Malia menjawab pelan.
Reiji mengernyitkan dahinya.
“Malu kenapa? ...” Lalu Reiji bertanya pada Malia yang nampak sedikit salah tingkah itu.
“Ya posisi kita gini –“
“Kenapa dengan posisi kita?”
“Ya kayak gini.”
Malia mendesis pelan kemudian.
__ADS_1
“Kesannya kita sok mesra banget.”
“Memang kita mesra aja kan bawaannya?”
“Ya tapi jangan begini amat. Aku risih ih diliatin orang – orang begitu, Rei.”
“Biarin ... Biar pada ngiri itu orang – orang –“
“Rei!”
Malia memekik tertahan seraya ia melongo karena Reiji tanpa segan mengecup pipinya sampai sempat menahan bibirnya di pipi Malia sedikit lama.
Setelahnya Malia menepak pelan dada Reiji yang orangnya malah terkekeh geli, melihat istrinya yang menjadi sedikit salah tingkah itu karena perbuatan Reiji yang membuat orang – orang yang kebetulan ada di dekat keduanya jadi mesam – mesem.
***
REIJI
Aku merasa terhibur sekali melihat rona malu – malu Lia yang salah tingkah karena sikap mesraku padanya di sebuah supermarket tempat kami sedang berbelanja bulanan. Selain terhibur, memang aku menyukai wajah Lia jika sudah seperti itu. Well, tidak hanya suka --- aku memujanya.
Tidak hanya wajah berikut ekspresinya, tapi aku memuja semua yang ada di dalam diri Lia. Meski disaat Lia masih menjadi seorang yang naif dan labil atas bayang – bayang cinta masa lalunya. Yang kemudian membuatnya menjadi gamang atas hubungannya denganku selama beberapa waktu. Dan kegamangan itu menciptakan sebuah masalah yang sempat hadir diantara kami beberapa hari yang lalu.
Namun begitu, kami sudah menyelesaikannya dengan sangat baik. Aku percaya pada Lia yang menjelaskan sebuah kecurigaan yang sempat aku rasakan padanya karena beberapa lembar foto yang diberikan padaku secara langsung oleh laki – laki yang pernah sangat Lia puja dimasa lalunya. Tak aku lihat sedikit pun kebohongan di mata Lia kala ia mengklarifikasi foto – foto tersebut, dan aku percaya sepenuhnya pada Lia.
Karena saling menjaga kepercayaan juga merupakan kunci untuk sebuah hubungan suami istri yang harmonis bukan? ..
Lagipula Lia berkali – kali menekankan jika ia sungguh – sungguh sudah mencintaiku, dan akupun tak menemukan gelagat kebohongan dari pengakuan Lia itu. Jadi sudah, aku memfokuskan diriku ini untuk kehidupan rumah tanggaku yang harmonis bersama Lia.
Dimana untuk mewujudkan hal itu, aku dan Lia akan lebih sering menghabiskan waktu untuk melakukan segala hal bersama.
Selain, aku tidak ingin Lia pergi ke satu tempat di luar apartemen, atau rumah orang tua kami serta kantornya sendirian. Namun bukan berarti aku mengekang Lia untuk menghabiskan waktu luang bersama teman – temannya.
Bukan apa, hanya mencegah jika satu kejadian dimana si bibit pebinor itu tahu – tahu muncul dihadapan Lia lagi dan membuat satu rencana atas kejadian yang bisa saja dia manipulasi lalu menyuruh orang untuk mengambil foto kebersamaannya dengan Lia lagi seperti yang pernah terjadi sebelumnya jika tidak ada aku atau orang lain yang kenal dengan Lia saat si bibit pebinor itu datang kehadapan Lia.
Tapi bicara tentang satu racun itu, membuat tanganku yang sedang mengukung Lia sambil mendorong troli untuk membeli beberapa barang untuk stok makanan dan minuman di apartemen kami --- membuat tanganku gatal untuk mencari ponselku dalam salah satu saku yang ada di dalam pakaian yang sedang aku kenakan sekarang ini.
-----
“Kenapa?” Lia sontak bertanya, ketika tanganku menjauh dari troli.
“Ga apa - apa. Cuma mau ambil ini ..” jawabku setelah memegang ponselku.
“Oh ..”
Begitu saja tanggapan Lia.
Yang langsung aku rengkuh pinggangnya dengan satu tanganku dan kami berjalan bersisian dimana Lia yang jadinya mendorong troli, karena satu tanganku sedang sibuk dengan ponselku.
Ada yang ingin lagi aku cek seperti halnya tiga hari yang lalu.
Bukan aku sengaja – sengaja ingin mencari keributan meskipun rasa geramku pada orang yang room chatnya denganku sedang aku cek ini belum hilang sama sekali, selain aku masih penasaran.
Penasaran pada keaktifan seseorang yang membuatku geram itu disalah satu aplikasi mobilitasnya. Dan selalu saja geramku seolah bertambah jika melihat foto profilnya.
“Ck! –“
“Kenapa?”
Lia sontak bertanya lagi sambil ia menatapku lebih fokus sekarang.
__ADS_1
Mungkin karena ia mendengar decakanku dengan wajahku yang nampak sebal.
Aku mengulas senyumanku kemudian pada Lia.
“Bukan hal yang penting sih –“
“Tapi? ..”
***
Malia menukas ucapan Reiji yang wajahnya sedang nampak sebal di mata Malia itu ketika ia memperhatikan sang suami menatap layar ponselnya lalu berdecak.
“Ga ada tapi.”
“Cuma? ..” tukas Malia.
Reiji mendengus geli, “Tapi apa cuma apa bedanya sii? -”
“Ya abisnya kamu kayak lagi sebel sama sesuatu pas lagi liat ponsel?”
“Dikit ..”
“Sebel kenapa sih?”
Reiji menghela nafasnya pendek selepas Malia bertanya, lalu menunjukkan apa yang tadi ia lihat di layar ponselnya.
***
MALIA
Aku spontan mengarahkan mataku ke layar ponsel Rei saat dia mengajakku untuk melihat apa yang sepertinya membuat suamiku itu berdecak sebal.
“Nih ..”
Rei berucap sambil menyodorkan ponselnya padaku, dengan ia yang kemudian merangkul bahuku dan menyandar manja di kepalaku.
“Masih juga belum aktif itu nomornya si bibit pebinor brengsek itu.”
Rei berkata lagi, dan aku mengulas senyuman padanya seraya memandang dirinya yang juga sedang memandangku.
Lalu aku berkomentar. “Mungkin memang udah ga dia aktifin Rei? –“
“Hm ..”
“Toh waktu terakhir dia nemuin aku tiba – tiba terus ada yang foto aku sama dia kan, seinget aku dia pamit mau balik entah ke London atau New York –“
“Tapi besokannya dia masih nemuin aku ..” tukas Rei.
“Ya mungkin abis itu dia langsung cus?”
“Semoga aja cusnya ke akherat.”
Dan aku melongo selain terperangah, setelah mendengar Rei mengucapkan sebaris kalimat barusan itu.
Oh Rei .. Gara – gara aku, dia jadi seorang yang menyimpan dendam begini walau hanya pada Irsyad aja ..
*****
Bersambung .....
__ADS_1
Terima kasih masih setia .....